Pagi itu di sebuah kota di Jawa Timur, seorang pria bersiap mengendalikan laju kereta. Pria itu bernama Arjuna, meskipun teman-teman dan orang disekitarnya lebih akrab memanggilnya Juna. Ia adalah seorang masinis yang sehari-harinya melayani rute jarak jauh. Pagi ini, Juna berangkat dari rumahnya tepat pukul 08.00 agar tidak terlambat, sebab ia memiliki jadwal dinas pukul 10.30. Sesampainya di stasiun pukul 08.45, ia segera menuju ruang khusus kru untuk bersantai sejenak sekaligus mempersiapkan diri sebelum mulai bertugas sekitar satu setengah jam lagi.
Beberapa saat kemudian, Juna memutuskan pergi ke supermarket dekat stasiun untuk membeli sebotol kopi sebagai teman mempersiapkan dokumen keberangkatan. Saat hendak kembali ke ruangannya, pandangannya tertuju pada seorang wanita yang rasanya tidak asing.
"Alia?" Kata itu spontan keluar dari mulut Juna. Ia sedikit terkejut melihat teman semasa SMA-nya dulu berada di sana. Juna pun menghampiri Alia yang tampak kebingungan dan hanya berdiri termenung di depan stasiun.
"Alia, kamu sedang apa di sini?" tanya Juna.
Mendengar suara itu, Alia menoleh dengan raut wajah kaget karena ada orang asing yang mengetahui namanya. "Maaf, Anda siapa, ya?" tanya Alia bingung.
Juna tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Aku Juna, teman sekolahmu waktu SMA dulu."
Alia terdiam sejenak, mencoba menggali ingatannya. Tak lama, ia teringat bahwa dulu ia memiliki teman bernama Juna yang berbeda kelas, tetapi sering bertemu karena berada di tempat les yang sama.
"Aku ingat sekarang! Kamu yang biasanya sering les bareng aku, kan?"
"Iya, benar, itu aku," jawab Juna sembari tersenyum.
"Wah, sudah lama sekali kita tidak bertemu, Juna," kata Alia.
"Iya, sudah hampir tujuh tahun berlalu semenjak kita lulus, dan sekarang kita malah tidak sengaja bertemu di sini.
Kamu sendiri sedang ada perlu apa di stasiun?" tanya Juna penasaran.
"Aku mau pergi ke Yogyakarta," jawab Alia singkat. "Aku mau pindah tugas, Jun. Aku sekarang bekerja di salah satu ritel di sini. Kemarin bosku baru saja membuka cabang baru di Yogyakarta, jadi aku diminta ke sana untuk mengurus toko sekaligus mengawasi karyawan baru."
"Wow, hebat! Berarti kamu sekarang sudah jadi orang kepercayaan bosmu, ya?" celetuk Juna.
"Bisa dibilang begitu, sih," jawab Alia dengan rona bahagia. "Lalu, kamu sendiri kenapa ada di sini?"
"Aku sekarang bekerja sebagai masinis, dan di stasiun inilah tempatku bertugas setiap hari," jawab Juna.
Alia terkejut mendengar profesi temannya itu. "Wah, keren banget! Sudah lama kamu kerja di sini?"
"Belum terlalu lama, aku baru tiga tahun disini," balas Juna.
"Eh, tiga tahun itu udah kehitung lama, lho! Apalagi dengan pekerjaanmu yang tanggung jawabnya besar dan kadang enggak ada hari liburnya," sanggah Alia.
Juna hanya tertawa kecil. "Iya deh, terserah kamu aja. Oh ya, kalau mau ke Yogyakarta, lantas kenapa masih berdiri di sini? Masuklah dan tunggu di ruang tunggu."
"Nah, itu dia masalahnya. Aku belum punya tiket," bisik Alia canggung.
"Soalnya baru kali ini aku pergi keluar kota sendirian naik kereta, jadi aku enggak tahu bagaimana cara membelinya."
"Oh, jadi kamu belum tahu cara membeli tiket kereta? Ayo ikut aku, akan kutunjukkan caranya," ajak Juna yang langsung diangguki oleh Alia.
Juna mengantarkan Alia ke depan mesin cetak tiket mandiri di samping ruang tunggu. "Coba sekarang kamu isi data diri, stasiun asal, dan stasiun tujuanmu di layar ini," instruksi Juna.
Alia mengikuti petunjuk tersebut dengan patuh. Setelah mengisi semua data dan menyelesaikan pembayaran, selembar tiket fisik akhirnya keluar dari mesin.
"Akhirnya aku punya tiket! Di sini tertulis KA Malioboro Ekspres. Wah, gimana ya bentuk keretanya nanti?" ucap Alia dengan antusias.
"KA Malioboro Ekspres..." gumam Juna lirih. Ia sedikit terkejut saat melihat nama kereta yang tertera di tiket Alia.
"Juna, kenapa kamu malah melamun?" tanya Alia heran.
"Eh, enggak apa-apa. Aku hanya terkejut karena kereta yang akan kamu naiki adalah kereta yang akan aku jalankan hari ini," jelas Juna.
"Beneran? Berarti kamu akan menjadi masinis ku dan mengantarku sampai ke Yogyakarta?" tanya Alia dengan mata berbinar penuh kegembiraan.
"Iya, hari ini aku yang bertugas memimpin perjalananmu," jawab Juna. Alia merasa sangat senang dan tenang mendengar hal tersebut, seolah rasa khawatirnya pergi seketika.
"Yaudah, sekarang kamu duduklah di ruang tunggu karena jadwal keberangkatannya masih satu jam lagi. Aku harus ke depo untuk mempersiapkan lokomotifnya," pamit Juna.
"Baiklah, terima kasih banyak ya, Pak Masinis," canda Alia.
Sebelum mereka berpisah, Juna sempat berbalik. "Eh, Alia, tunggu sebentar."
"Ada apa, Jun?"
"Nomor teleponmu... apa masih nomor yang dulu atau sudah ganti?" tanya Juna dengan sedikit canggung.
Alia tertawa kecil melihat tingkah Juna. "Oh, kukira ada apa. Masih kok, nomorku masih sama dengan yang dulu dan sampai sekarang tetap aktif."
"Syukurlah. Terima kasih, Al," ucap Juna singkat sebelum akhirnya berjalan menuju depo lokomotif.
Satu jam kemudian, kereta yang dinantikan tiba di jalur stasiun. Dari jendela ruang tunggu, Alia bisa melihat dengan jelas sosok Juna yang sedang mengoperasikan lokomotif tersebut dari kabin masinis. Alia tersenyum lebar.
Saat pengumuman keberangkatan berbunyi, ia segera masuk ke dalam gerbong penumpang. Perjalanan menuju Yogyakarta ini diperkirakan memakan waktu sekitar enam jam lebih. Sepanjang jalan, Alia sibuk mengambil foto pemandangan sawah dan pegunungan dari balik jendela kaca untuk dijadikan kenang-kenangan perjalanan pertamanya.
Waktu berlalu dengan cepat. Setelah menempuh perjalanan selama 6 jam 10 menit, kereta akhirnya melambat dan berhenti sempurna di Stasiun Yogyakarta. Alia turun dari gerbong dan berjalan menuju pintu keluar. Dari kejauhan, ia melihat Juna juga ikut turun dari lokomotifnya.
"Eh, kenapa dia juga ikut turun di sini?" gumam Alia heran, namun Juna berjalan ke arah yang berbeda dan tidak menyadari keberadaannya karena harus menuju ruang kru stasiun.
Saat Alia masih kebingungan, tiba-tiba terdengar suara memanggil namanya dari arah depan. "Kak Alia!"
Alia sedikit terkejut. "Anggi?"
Anggi adalah salah satu karyawan ritel di Yogyakarta yang ditugaskan oleh bos mereka untuk menjemput Alia dan mengantarkannya ke tempat tinggal baru.
"Hehe, maaf ya Kak kalau membuat kaget. Habisnya Kak Alia tadi malah melamun," ucap Anggi sambil tertawa tanpa dosa.
"Iya, enggak apa-apa. Di mana aku akan tinggal selama di sini, Nggi?" tanya Alia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kakak akan tinggal di sebuah rumah yang letaknya dekat dengan toko. Semua biayanya sudah ditanggung penuh oleh bos," jelas Anggi. "Ayo, mobilnya sudah siap di depan."
Sesampainya di rumah tersebut, Alia tampak kagum. "Wow, rumahnya bagus sekali."
"Tentu saja, kan aku yang memilihnya! Lagian lokasinya juga sangat strategis," jawab Anggi bangga.
Setelah selesai membereskan barang-barang ke dalam kamar, Anggi pun berpamitan karena hari sudah mulai malam. "Kak, aku pamit pulang dulu ya. Oh ya, kata bos, Kakak baru mulai masuk kerja lusa saja, jadi besok Kakak bisa istirahat seharian."
"Baiklah, terima kasih banyak ya sudah membantuku hari ini, Anggi," ucap Alia tulus. Anggi melambaikan tangan lalu melesat pergi membelah keramaian kota Yogyakarta.
Malam harinya, tepat pukul 19.30, Alia sedang bersantai di kamarnya sambil menonton televisi. Tiba-tiba ponselnya bergetar menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor Juna.
“Halo Al, selamat malam. Bagaimana rasanya naik kereta tadi? Seru enggak?”
Alia tersenyum lalu mengetik balasan, “Seru sekali! Tadi aku lihat banyak pemandangan bagus, mulai dari sawah sampai pegunungan,” tulisnya sembari melampirkan beberapa foto hasil jepretannya.
Juna membalas dengan cepat, mengekspresikan kegembiraannya. Alia kemudian memanfaatkan momen itu untuk bertanya, “Eh, aku mau tanya sesuatu.
Tadi waktu sampai di stasiun, kenapa kamu juga ikut turun dari lokomotif?”
“Oh, itu. Sebenarnya itu adalah titik pergantian kru masinis. Jadi kalau jam kerja seorang masinis sudah habis di stasiun tujuan, posisi akan digantikan oleh masinis berikutnya untuk rute selanjutnya,” jelas Juna melalui pesan teks.
“Oh, gitu ya. Aku sempat mengira ada masalah pada kereta sampai kamu harus turun,” jawab Alia paham.
Mereka pun lanjut mengobrol lewat pesan singkat, saling bertukar cerita masa lalu hingga larut malam. Hingga pada satu pesan, Juna mendadak menuliskan sesuatu yang membuat jantung Alia berdegup kencang.
“Alia, aku ingin kita bisa terus terhubung seperti ini. Mungkin dulu waktu SMA kita jarang me ngobrol langsung, tapi sekarang aku mau kita bisa lebih sering komunikasi.”
“Eh, kenapa tiba-tiba kamu mengirim pesan seperti ini, Jun?” tanya Alia bingung.
Ponsel Alia bergetar lagi, menampilkan pesan yang cukup panjang dari Juna.
“Sebenarnya, aku udah menyukaimu sejak kita masih SMA dulu, Al. Tapi waktu itu aku merasa belum punya modal apa-apa untuk deketin kamu. Jadi, aku mutusin untuk menahan perasaan itu sambil berharap suatu saat nanti ketika aku udah kerja mapan, aku bisa ketemu lagi denganmu.”
Alia tertegun membaca pesan itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa selama masa sekolah dulu, ada seseorang yang diam-diam menaruh hati padanya. Apalagi sosok itu adalah Juna yang selalu terlihat biasa saja saat mereka bertemu di tempat les.
Belum sempat Alia membalas, pesan berikutnya dari Juna kembali masuk.
“Pertemuan kita di depan stasiun kemarin adalah hal paling membahagiakan bagiku.
Aku ingin jadikan ini sebagai awal yang baru untuk kita. Aku tahu rasanya aneh mengungkapkan ini lewat pesan, jadi apa besok kita bisa ketemu langsung?"
"Kebetulan besok aku sedang libur tugas dan masih ada di Yogyakarta.”
Dengan perasaan gugup yang menjalar, Alia membalas, “Iya, boleh. Kebetulan besok aku juga belum mulai bekerja. Kita ketemu di mana?”
“Kita ketemu di taman kota dekat ritel tempatmu kerja aja. Aku lihat di sana ada taman yang suasananya sangat bagus.”
“Baiklah, kalau begitu kita ketemuan di sana jam 09.00 pagi ya,” jawab Alia mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
“Terima kasih banyak, Alia,” tutup Juna di akhir obrolan mereka. Alia meletakkan ponselnya, lalu berbaring di kasur sambil menatap langit-langit kamar dengan sejuta pertanyaan di benaknya hingga akhirnya ia tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya pukul 09.00 pagi, Alia sudah tiba di taman kota yang dijanjikan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan Juna. Tak butuh waktu lama, ia melihat seorang pria sedang duduk di bangku kayu dekat air mancur.
"Juna," panggil Alia memastikan.
Pria itu menoleh. "Eh, Alia! Sebelah sini," lambai Juna sembari mempersilahkan Alia duduk di sampingnya.
Kini mereka mengobrol secara langsung tanpa sekat layar ponsel. Juna kembali mengumpulkan keberaniannya untuk menjelaskan maksud dari pesannya semalam.
"Alia, sebenarnya intinya adalah aku udah lama nyimpan perasaan ini. Sejak SMA dulu, aku selalu berharap ada keajaiban yang buat kita ketemu lagi agar aku bisa mengatakannya langsung padamu," ucap Juna dengan tatapan serius.
Sebelum Alia sempat merespons, Juna dengan lembut menggenggam jemari tangan Alia. "Alia, maukah kamu menjadi kekasihku, dan menjadi teman hidupku untuk selamanya?"
Alia tersentak. Ia benar-benar tidak siap menerima pernyataan cinta yang begitu mendalam dan langsung. Keheningan sempat tercipta di antara mereka untuk beberapa saat.
"Alia... kamu tidak apa-apa?" tanya Juna cemas melihat Alia yang hanya terdiam.
"Eh, iya... aku enggak apa-apa," jawab Alia terbata-bata. Ia menarik napas dalam-dalam untuk mengusir rasa gugupnya, lalu menatap mata Juna. "Aku mau, Jun. Aku mau jadi kekasihmu."
Wajah Juna seketika berubah menjadi sangat cerah. Tanpa bisa membendung rasa bahagianya, ia langsung membawa Alia ke dalam pelukannya. "Terima kasih banyak, Al. Terima kasih karena udah menerima aku. Aku berjanji akan jaga kepercayaan ini dengan sangat baik. Apa yang udah menjadi milikku, enggak akan pernah aku lepaskan," ucap Juna penuh keyakinan.
"Sama-sama, Jun. Semoga kali ini aku enggak mengambil keputusan yang salah," bisik Alia yang masih menyisakan sedikit ketegangan di hatinya.
"Aku jamin, kamu enggak akan pernah menyesal denagn keputusan ini, Alia," tegas Juna meyakinkan kekasih barunya itu.
Setelah hari yang penuh kujutan di taman tersebut, hubungan mereka berdua mengalir semakin dekat dari hari ke hari. Hingga tanpa terasa, satu tahun pun berlalu dengan cepat. Juna akhirnya secara resmi datang melamar Alia ke hadapan kedua orang tuanya, dan lamaran tersebut disambut dengan restu penuh.
Alia tersenyum bahagia di hari pertunangan mereka. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa momen kebingungannya di depan stasiun setahun lalu, ternyata merupakan awal dari takdir manis yang menuntunnya pada cinta sejati yang telah menunggunya sejak masa remaja.