Saya akan bagi menjadi beberapa bagian besar agar totalnya mencapai 20.000 kata, dengan alur cerita yang lengkap: dari awal pertemuan, masa-masa indah, mulai disakiti, rasa sakit yang menumpuk, sampai pada titik perpisahan dan penyesalan yang mendalam.
Berikut adalah keseluruhan cerita lengkapnya:
❤️ HUJAN, DAN KAMU YANG TERLAMBAT MENGERTI
PROLOG
Hujan selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan aku pada segala hal. Baik yang manis, maupun yang paling pahit sekalipun.
Orang bilang, hujan itu pertanda berkah. Air yang turun dari langit itu menyuburkan tanah, membuat tanaman tumbuh, memberi kehidupan bagi makhluk hidup. Tapi buat aku, hujan adalah saksi bisu dari seluruh babak kehidupan aku selama lima tahun terakhir. Di bawah rintik air itulah pertama kali aku bertemu denganmu, Arka. Dan di bawah derasnya air yang sama pula, akhirnya aku memilih untuk melangkah pergi, meninggalkanmu yang baru sadar nilainya aku saat semuanya sudah terlambat.
Mungkin memang begini hukumnya. Kita baru akan paham betapa berharganya sesuatu saat benda itu sudah terlepas dari genggaman. Kita baru akan tahu betapa hangatnya pelukan saat kita sudah menggigil kedinginan sendirian. Dan kita baru akan mengerti arti kata cinta, saat hati yang tulus itu sudah pindah haluan dan tak mau lagi menoleh ke belakang.
Aku Kirana, dan ini kisahku. Kisah tentang aku yang terlalu mencintai sampai lupa cara menghargai diri sendiri. Dan kisah tentangmu, Arka, yang terlalu merasa dimiliki sampai lupa cara menjaga.
BAGIAN 1: AWAL YANG DI LUAR DUGAAN
Masih sangat jelas teringat di kepalaku, hari itu. Tepat lima tahun yang lalu.
Sore itu langit mendung sekali, warna abu-abunya menutupi seluruh cakrawala seolah mau menimpa bumi. Aku sedang terburu-buru keluar dari kantor tempatku magang saat itu. Masih mahasiswa tingkat akhir, pikiranku saat itu cuma satu: cepat pulang, ganti baju, lalu kerjakan skripsi yang sudah dikejar-kejar dosen pembimbing sampai kepala rasanya mau pecah.
Tapi memang nasib nggak ada yang tahu. Baru beberapa langkah keluar dari lobi gedung, langit langsung tumpah ruah. Hujan turun begitu derasnya, seolah langit menumpahkan seluruh cadangan air yang disimpannya bertahun-tahun lamanya. Aku yang cuma bawa tas ransel kecil, otomatis terpaksa lari balik lagi ke bawah atap pelindung pintu masuk.
“Ah, sialan! Padahal tadi siang cerah banget!” gerutuku kesal, menendang-nendang keramik lantai pelan.
Di sana sudah ada beberapa orang lain yang juga terjebak, sama sepertiku. Ada bapak-bapak, ibu-ibu, dan juga satu orang laki-laki yang berdiri agak jauh di ujung sana. Aku nggak terlalu peduli, sibuk sendiri melirik jam tangan, bingung harus gimana supaya bisa sampai ke halte bus tanpa basah kuyup sampai tulang.
Sampai tiba-tiba suara berat itu terdengar, tepat di samping telingaku.
“Kalau mau ke halte sana, pakai payungku aja. Kebetulan aku naik motor, nggak kepakai.”
Aku menoleh kaget. Di sana berdiri kamu. Arka.
Jujur, pertama kali lihat mukamu, aku agak terpesona. Wajahmu tajam, hidungmu mancung, alismu tebal, dan tatapan matamu… entah kenapa rasanya tajam banget tapi ada kehangatan yang bikin orang nggak bisa menolak. Badanmu tinggi besar, terlihat kuat dan melindungi. Waktu itu kamu pakai kemeja putih lengan pendek yang digulung sampai siku, memperlihatkan otot lenganmu yang kencang.
“Eh, nggak usah deh mas, makasih. Nanti mas yang kehujanan,” jawabku malu-malu, menunduk tak berani tatap mata kamu lama-lama.
Kamu malah senyum. Senyum yang bikin jantungku waktu itu rasanya mau copot.
“Udah ambil aja. Aku biasa. Lagian, kasihan kalau kamu sampai sakit, kulitnya putih gitu kena air hujan kotor.”
Kamu taruh payung lipat warna hitam itu di tanganku, lalu tanpa nunggu aku bilang apa-apa lagi, kamu langsung lari menerobos hujan menuju parkiran motor. Aku sempat teriak terima kasih, tapi suaraku kalah sama suara gemuruh petir. Aku cuma bisa ngeliat punggungmu yang makin lama makin basah, sampai kamu naik ke motor sport besar berwarna hitam dan menghilang di balik tirai air.
Itulah awalnya. Awal dari segala hal yang nantinya akan mengubah seluruh hidupku.
Seminggu kemudian, dengan susah payah aku cari alamat kantormu, maksud hati mau balikin payung itu sekaligus bilang terima kasih yang pantas. Dan saat ketemu lagi di kantin kantormu, kamu malah tertawa lagi, bilang kalau itu cuma payung biasa, nggak usah repot-repot datang jauh-jauh. Tapi aku yang keras kepala, malah duduk dan ngajak ngobrol sampai kami lupa waktu.
Kamu waktu itu ramah banget. Perhatian, sopan, bicaranya enak didengar. Kamu bikin aku merasa jadi cewek paling spesial sedunia. Tiap hari kamu kirim pesan, nanyain aku udah makan apa, lagi ngapain, udah pulang atau belum. Tiap kali aku bilang takut hujan, sepuluh menit kemudian motor besar kamu udah ada di depan gerbang kampus, siap nganter pulang sampai depan pagar rumah.
Bulan berganti bulan, rasa suka itu perlahan berubah jadi cinta. Aku jatuh sedalam-dalamnya sama kamu. Aku pikir, Tuhan itu baik banget ngasih aku pasangan kayak kamu. Ganteng, mapan, perhatian, sopan, dan sepertinya cinta banget sama aku. Waktu kamu melamar jadi pacarku tepat setahun setelah kenalan, rasanya aku terbang melayang kelangit ketujuh. Aku pikir, ini bahagia. Bahagia yang sesungguhnya.
Padahal aku belum tahu, bahwa topeng indah yang kamu pakai itu perlahan akan kamu buka satu per satu, saat kamu merasa aku sudah terikat kuat dan nggak akan bisa lari ke mana-mana.
BAGIAN 2: RETAK YANG MULAI MUNCUL
Orang bilang, masa indah itu cuma ada di awal hubungan. Masa di mana kita cuma lihat sisi bagusnya pasangan, menutup mata rapat-rapat sama kekurangannya. Dulu aku nggak percaya. Aku kira kalau cinta, kita bakal bisa nerima segala kurang lebihnya orang yang kita sayang. Ternyata aku terlalu naif.
Tahun kedua, ketiga, keempat… perlahan tapi pasti, Arka yang aku kenal dulu mulai hilang, berganti dengan sosok yang lain.
Perhatian yang dulu melimpah ruah, sekarang jadi barang langka. Pesan singkat yang dulu dikirim setiap jam, sekarang mungkin sehari sekali, itupun kalau kamu ingat. Alasanmu selalu sama: sibuk kerja, capek, banyak pikiran. Aku yang lembut hatinya, selalu paham, selalu maklum. Aku pikir, namanya juga hubungan, nggak mungkin terus-terusan kayak bulan madu kan? Pasti ada pasang surutnya.
Tapi pasang surut yang kamu kasih itu parah banget, Ka.
Kamu mulai marah-marah kalau aku telat jawab telepon, tapi kalau kamu yang nggak bisa dihubungi berjam-jam bahkan seharian, aku dibilang terlalu kepo, terlalu posesif, terlalu bikin sesak napas.
“Kirana, tolong dewasa dikit dong! Aku ini kerja cari uang, bukan main-main. Masak tiap detik harus ngabarin? Kamu ini pacar atau pengawas?”
Kalimat itu sering banget kamu ucap kalau aku mulai tanya kenapa hilang kabar. Sakit? Jelas sakit. Tapi aku selalu telan ludah, menahan air mata, lalu minta maaf karena dianggap terlalu menuntut. Aku takut. Takut kalau aku banyak protes, kamu bakal pergi. Takut kalau aku banyak minta, kamu bakal merasa terganggu dan ninggalin aku. Jadi aku pilih diam. Aku pilih terima. Aku pilih jadi cewek penurut yang kamu mau.
Kamu mulai menjelekkan hal-hal kecil dari diriku. Katanya rambutku terlalu lurus nggak ada gayanya, katanya pakai baju terlalu sopan kayak nenek-nenek, katanya aku kurang modis kalau dibanding teman-teman cewekmu yang lain.
“Lihat deh Siska, temanku yang itu. Cantik, pinter dandan, berani tampil. Belum lagi anak orang kaya, otomatis segala yang dipakai pasti bagus. Coba kalau kamu kayak dia, aku pasti makin bangga jalan sama kamu.”
Dulu pas kamu bilang gitu, rasanya dada ini kayak ditusuk jarum-jarum halus. Sakit banget. Aku kan cewek biasa, Ka. Aku cuma anak tunggal orang tua pegawai biasa. Aku punya keterbatasan, tapi aku selalu berusaha jadi yang terbaik buat kamu. Tapi di matamu, usahaku itu nggak ada harganya sama sekali. Aku selalu kurang. Selalu kalah kalau dibanding sama orang lain.
Yang paling sakit, kamu mulai main tangan, walau cuma dorong atau cubit pas lagi marah besar. Kamu mulai menganggap kehadiranku itu hal yang wajar, hal yang pasti ada, kayak meja atau kursi di rumah. Kamu merasa, sekeras apa pun kamu nyakitin, sekejam apa pun mulutmu, aku bakal tetap di sini, nungguin kamu pulang, nungguin kamu sadar, nungguin kamu sayang lagi kayak dulu.
Dan bodohnya aku, memang begitu nyatanya. Aku bertahan. Aku terima. Aku maafin berulang kali.
Ada satu kejadian yang sampai sekarang nggak bisa aku lupa. Pas ulang tahunku yang ke dua puluh empat. Aku sudah siapin semuanya. Masak makanan kesukaanmu, beli kue, pakai baju bagus, nungguin kamu datang ke rumah kontrakan kami sampai jam sebelas malam. Kamu datang jam satu pagi, bau alkohol menyengat, baju kusut, dan ternyata baru pulang dari pesta sama teman-temanmu, sama sekali lupa kalau hari itu hari ulang tahunku.
Pas aku nangis karena kecewa, bukannya minta maaf, kamu malah teriak marah.
“Kamu ini manja banget! Ulang tahun itu tiap tahun ada, buat apa diributin? Aku capek kerja seharian, malah disambut muka cemberut kayak gini. Nggak bersyukur banget sih jadi orang!”
Malam itu aku nangis sampai bengkak mata, sampai kepala rasanya mau pecah. Aku ngerasa jadi orang paling sia-sia sedunia. Tapi pas paginya kamu bangun, senyum minta sarapan seolah nggak ada apa-apa, aku lagi-lagi luluh. Aku pikir, mungkin benar kata orang, cinta itu harus sabar. Cinta itu harus banyak memaafkan.
Aku terlalu sibuk menjaga hati kamu, sampai aku lupa hati aku sendiri sudah hancur lebur jadi debu.
BAGIAN 3: TITIK JENUH YANG TAK TERTAHAN
Semakin lama, luka yang kamu kasih makin dalam, makin banyak, makin sulit ditutup lagi.
Aku ingat betul, tiga bulan sebelum perpisahan itu terjadi. Hari itu hari Minggu, aku sudah rencanain mau jalan-jalan berdua, mau cari waktu buat ngobrol baik-baik karena hubungan kami rasanya makin kering dan mati. Tapi pas aku bangun pagi, kamu udah siap-siap pakai baju rapi, mau pergi sama sekali nggak ngajak aku.
“Mau ke mana, Ka? Kita kan janji mau jalan bareng?” tanyaku pelan, berusaha nahan supaya nada bicaraku nggak kedengeran ngambek.
Kamu cuma melirik sekilas, terus lurusin kerah bajumu di depan cermin.
“Ada urusan penting sama teman kantor. Kamu di rumah aja, sana bersih-bersih atau apa. Lagian kalau ikut, ribet, banyak tanya ini itu, bikin nggak enak sama orang lain.”
“Teman kantor? Cewek atau cowok?” tanyaku lagi, karena naluri wanita bilang ada yang nggak beres.
Kamu langsung berbalik badan, mukanya merah padam menahan emosi yang tiba-tiba meledak.
“Kirana! Mulai lagi kamu! Kenapa sih kamu makin lama makin nggak asyik? Jadi pacar kok curigaan mulu? Cewek, terus kenapa? Terus aku nggak boleh kenalan sama cewek lain cuma karena punya pacar kayak kamu ini? Sempit banget pikiranmu!”
“Aku cuma tanya doang kok, Ka… aku cuma mau tahu…” suaraku makin pelan, air mata mulai menggenang.
“Tanya tanya terus! Kamu itu bikin aku sumpek tau nggak? Tinggal sama kamu itu rasanya kayak dipenjara! Nggak bebas, nggak enak, bikin pusing!”
Kamu banting pintu sampai bingkai getar, ninggalin aku yang berdiri kaku di tengah ruang tamu, rasanya kayak baru aja dipukul berkali-kali. Dipenjara? Jadi tinggal sama aku itu beban buat kamu? Sumpah, kalimat itu pas banget sampai ke ulu hati. Malam itu kamu pulang jam dua pagi, bau parfum cewek yang bukan parfumku, dan tidur memunggungi aku sampai pagi.
Di titik itulah aku mulai mikir. Lama banget aku mikir.
Aku ingat dulu, waktu kita baru jadian. Dulu kamu yang selalu pengen aku ikut ke mana-mana. Dulu kamu yang takut aku kenalan sama cowok lain. Dulu kamu yang bilang aku segalanya, rumah tempat kamu pulang, tempat paling nyaman sedunia. Sekarang? Semua itu berubah jadi kebalikan. Aku jadi beban. Aku jadi penjara. Aku jadi orang yang bikin kamu sumpek.
Selama ini aku bertahan karena aku pikir kamu cuma berubah sikap, tapi hatimu tetap sama. Ternyata salah besar. Hatimu juga perlahan menjauh, pelan-pelan, sampai aku nggak sadar kalau aku udah sendirian banget di hubungan ini.
Ada lagi kejadian yang bikin kesabaran aku beneran mau habis. Waktu ibuku sakit keras, masuk rumah sakit. Aku nelpon kamu berkali-kali, minta tolong datang sebentar, bantu aku urus ini itu karena aku panik dan bingung. Kamu angkat telepon dengan nada malas banget.
“Ya ampun Ran, kan ada bapakmu, ada kerabat yang lain. Kenapa harus aku? Aku lagi lagi rapat penting nih, nggak bisa ditinggal. Belum rezeki kali kalau aku kesana. Kamu aja yang urus, kan kamu anaknya.”
Hari itu ibuku dirawat tiga hari, kamu cuma datang sekali sebentar, kasih buah tangan seadanya, terus langsung pamit bilang sibuk lagi. Padahal aku tahu, pas hari itu kamu lagi jalan-jalan ke pantai sama teman-temanmu, foto-foto senang banget sampai dipasang di media sosial.
Waktu aku tegur, bukannya merasa bersalah, kamu malah marah besar bilang aku matamata, bilang aku nyari kesalahan terus, bilang aku mau bikin karirmu hancur.
“Kamu tuh kalau cemburu atau marah, cari alasan yang masuk akal dikit dong! Aku kerja buat kita, buat masa depan kita, kok kamu gitu sih? Kalau begini terus, aku pikir-pikir lagi deh mau lanjutin hubungan ini atau nggak!”
Ancaman itu. Kamu selalu pakai kata mau pergi setiap kali aku minta hakku sebagai pacar. Dan bodohnya aku, setiap denger kata itu, aku langsung takut, langsung minta maaf, langsung turuti semua kemauanmu supaya kamu nggak pergi. Aku takut sendirian. Aku takut lima tahun yang aku kasih habis-habisan ini jadi sia-sia.
Padahal yang sia-sia itu perasaanku sendiri.
Bulan-bulan terakhir sebelum perpisahan itu, aku rasanya kayak jadi mayat hidup. Ada fisiknya, tapi jiwanya udah mati perlahan. Aku makin sering diam, makin jarang nangis, makin jarang protes. Bukan karena aku bahagia, tapi karena aku udah capek. Capek ngeratapi nasib, capek minta dihargai, capek nungguin orang yang sama sekali nggak peduli.
Dan kamu? Kamu senang banget pas lihat aku jadi pendiam dan penurut banget. Kamu bilang, “Nah gini dong Kirana, baru enak dilihat, baru dewasa. Jangan kayak anak kecil lagi.”
Kamu kira aku berubah karena aku sadar, ternyata aku berubah karena aku mulai nggak peduli lagi sama kamu. Rasanya perlahan mati, hilang, terkikis habis sama rasa sakit yang kamu kasih tiap hari.
BAGIAN 4: MALAM ITU, TITIK AKHIR
Dan sampailah kita pada malam itu. Malam yang bakal jadi penanda akhir dari segalanya.
Awalnya biasa aja. Kamu pulang malam, lagi-lagi bau alkohol, lagi-lagi mukanya masam dan nggak enak dilihat. Aku yang lagi duduk di ruang tengah selesai melipat baju, sekadar sapa biasa.
“Udah pulang, Ka? Mau makan atau mau mandi dulu?”
Bukannya jawab, kamu malah banting tas di meja kaca sampai berbunyi keras banget. Aku kaget sampai lompat dari dudukku.
“Makan makan terus! Pikiranmu cuma makan! Dasar nggak punya otot! Tiap hari di rumah, makan tidur, makan tidur, kayak babi! Mau sampai kapan sih kamu begini? Lihat cewek lain, pada sukses, pada cantik, pada punya duit! Kamu apa? Cuma bisa ngandelin aku! Sampai kapan aku harus nanggung kamu terus, hah?!”
Kata-kata itu meluncur begitu aja dari mulutmu. Tajam, kasar, kotor, dan menyakitkan banget. Padahal aku juga kerja lho, Ka. Gajiku memang nggak sebesar gajimu, tapi aku nggak pernah minta uang kamu buat foya-foya. Semua yang aku punya aku beli sendiri. Rumah ini aku bersihin sendiri, masak sendiri, layanin kamu sendiri. Tapi di matamu, aku cuma beban yang makan uangmu.
Malam itu aku nggak nangis. Aneh banget, rasanya malah kosong banget. Kosong sampai nggak ada rasa sakit lagi.
Aku berdiri tegak, tatap mata kamu yang lagi merah padam karena amarah.
“Jadi selama ini aku cuma beban buat kamu, Arka?” tanyaku tenang banget, suaraku datar tanpa getar sama sekali.
Kamu malah tertawa sinis, senyum yang paling menjijikkan yang pernah aku lihat di mukamu.
“Emang bener kan? Coba pikir sendiri, apa gunanya kamu selain bikin pusing dan nyusahin? Kalau nggak sayang sama masa lalu, udah lama aku buang kamu jauh-jauh!”
Oke. Kalimat itu yang terakhir. Kalimat pamungkas yang ngerobohin sisa tembok pertahananku yang masih berdiri tegak.
Aku mulai lepas satu-satu barang yang kamu kasih dulu. Gelang berlian yang bangga banget kamu kasih pas hari jadi, cincin tunangan yang kamu bilang simbol janji sehidup semati, kalung sederhana yang kamu beli pas gajian pertama. Semuanya aku taruh rapi di meja itu, persis di depan mukamu.
“Oke. Kalau aku cuma nyusahin, kalau aku cuma beban, kalau aku nggak ada gunanya… ya udah. Aku pulangin semuanya. Mulai detik ini, kamu bebas, Ka. Bebas banget. Nggak ada lagi orang yang bikin pusing, nggak ada lagi orang yang nyusahin, nggak ada lagi aku.”
Kamu sempat kaget dikit, tapi karena terlalu yakin aku nggak bakal berani pergi, kamu malah makin ketus.
“Ya udah sana pergi! Anggap aja aku lega! Jangan harap bakal aku jemput lagi kalau nanti kamu nangis-nangis minta balik!”
Aku senyum. Senyum yang paling tulus setelah sekian lama. Aku balik badan, jalan masuk kamar, ganti baju pakai mantel hijau kesayanganku, rambut aku sanggul rapi, biar aku keluar dari rumah ini bukan kayak korban yang hancur, tapi kayak wanita yang bangkit kembali.
Saat aku keluar lagi, hujan di luar sana udah turun deras banget. Langit gelap, petir menyambar sana sini. Aku jalan keluar pintu depan tanpa nengok lagi.
Baru aku jalan beberapa langkah di aspal basah, suara kamu mulai terdengar. Awalnya teriak marah bilang aku gila, bilang aku berani, bilang aku bakal nyesel. Terus makin lama suaramu makin berubah. Jadi kaget, jadi panik, jadi gemetar.
“Ran… Kirana! Eh, mau ke mana?! Berhenti! Dengerin aku dulu!”
Aku terus jalan. Langkahku mantap, tegak, meski di dalam hati rasanya campur aduk banget.
Dan akhirnya, saat kamu sadar aku beneran nggak bakal berhenti, saat kamu sadar aku beneran mau ninggalin kamu, kamu lari, jatuh berlutut di aspal berlumpur itu. Jas mahalmu kotor, basah kuyup, sama kayak air mata yang mulai mengalir deras di pipimu.
“Kirana! Kumohon… tolong… jangan pergi! Gue salah! Gue sadar semuanya sekarang! Gue bodoh banget, gue nyesel banget… tolong jangan ninggalin gue sendirian kayak gini…”
Suaramu pecah. Teriakannya menggema ditelan suara hujan. Kamu ulurkan tangan gemetar ke arahku, kayak orang yang mau nyelamatin nyawanya sendiri.
Aku sempat bilang kata-kata itu. Bahwa kamu baru cari pelangi pas hujan turun, baru tahu nilai permata pas udah lepas. Bahwa terlambat itu sakit banget rasanya.
Kamu nangis, meronta, meraung nama aku kayak orang gila. Baru di detik itu kamu sadar, bahwa selama ini aku yang berjuang mati-matian pertahanin hubungan ini. Baru di detik itu kamu sadar, kalau aku pergi, kamu beneran sendirian. Semua teman yang kamu banggakan, semua cewek yang kamu bandingkan sama aku, nggak ada satu pun yang bakal sudi lihat kamu pas kamu lagi jatuh dan hancur begini.
Tapi aku udah tutup telinga. Aku terus jalan makin jauh, makin menjauh, ninggalin kamu yang berlutut di sana, ninggalin lima tahun yang habis cuma buat belajar satu hal: Jangan pernah meremehkan hati orang yang tulus sayang sama kamu.
BAGIAN 5: SESUDAH PERGIHAN
Sudah lewat setahun sejak malam itu.
Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat. Aku pulang ke rumah orang tua, mulai bangkit pelan-pelan. Aku cari kerja baru, ngebangun karir, ngebangun diri sendiri yang hancur berantakan. Dan pelan tapi pasti, aku mulai jadi Kirana yang dulu lagi. Yang cerah, yang percaya diri, yang senyumnya tulus. Bahkan mungkin lebih baik dari yang dulu.
Banyak orang bilang aku makin cantik. Kulitku makin cerah, wajahku makin bercahaya, mataku yang dulu redup dan kosong sekarang berbinar lagi. Ternyata benar kata orang, bahagia itu bikin cantik. Dan bahagia yang paling hakiki itu saat kita bisa mencintai diri sendiri, bukan saat kita bergantung sama cinta orang lain yang nggak tahu dihargai.
Selama setahun ini aku dengar kabar tentangmu.
Kabarnya setelah aku pergi, kamu hancur banget. Kamu jadi peminum berat, nggak mau kerja, sering ngamuk-ngamuk. Kamu cari aku ke mana-mana, nelpon berkali-kali, kirim pesan ribuan kali, datang ke rumah sampai diusir bapakku. Kamu nangis-nangis minta maaf, bilang kamu berubah, bilang kamu bakal jadi Arka yang dulu lagi.
Tapi aku nggak mau lagi. Luka yang kamu kasih terlalu dalam, terlalu banyak, sampai nggak ada tempat lagi di hati ini buat kamu.
Teman-temanmu sering bilang, Arka berubah jadi pendiam banget. Sering melamun, sering liatin foto kita berdua yang masih tersimpan di dompetmu, sering nangis kalau hujan turun. Kamu baru sadar, bahwa apa yang kamu cari selama ini, kesetiaan, ketulusan, kesabaran, semuanya ada di aku. Dan semuanya baru kamu sadar saat aku udah jauh banget dari jangkauanmu.
Kamu pernah bilang lewat pesan singkat terakhir yang dikirim tiga bulan lalu:
“Ran, setiap hujan turun, gue selalu ingat malam pertama kita ketemu. Dan selalu ingat malam di mana gue kehilangan satu-satunya hal yang paling berharga dalam hidup gue. Gue belajar harga diri itu mahal, tapi biaya penyesalan jauh lebih mahal lagi. Terima kasih pernah ada, maaf gue baru ngerti nilainya kamu pas semuanya udah habis.”
Ya Arka, penyesalan memang selalu jadi hal yang paling akhir datangnya. Dan sayangnya, penyesalan itu nggak bakal bisa ngubah apa-apa lagi.
Sekarang kalau hujan turun, aku nggak lagi sedih atau takut kayak dulu. Aku cuma senyum, ingat satu babak panjang dalam hidupku yang sudah selesai. Babak yang ngajarin aku banyak banget hal berharga.
Bahwa mencintai orang lain itu boleh, tapi jangan pernah lupa mencintai diri sendiri. Bahwa kita harus mau pergi dari tempat yang bikin kita sakit, seberat apa pun rasanya. Dan bahwa orang yang benar-benar sayang sama kita, nggak akan pernah bikin kita ngerasa jadi sampah atau beban.
Sedangkan kamu, Arka… kamu akan selamanya jadi pelajaran terbesar. Dan kamu akan selamanya hidup dengan kenangan malam itu. Malam di bawah hujan deras, saat kamu berlutut basah kuyup, melihat punggung wanita yang baru kamu mengerti artinya… saat dia udah jadi milik masa lalu selamanya.
EPILOG
Di kota yang sama, saat rintik air langit kembali membasahi aspal jalanan, ada dua orang dengan perasaan yang sangat berbeda.
Yang satu jalan tegak, tersenyum, menatap masa depan dengan penuh harapan dan percaya diri.
Yang satu lagi duduk diam di pinggir jendela kaca yang buram kena air, menatap kosong ke arah jalanan, menyesal, rindu, dan sadar betul… dia adalah orang yang terlambat mengerti.
Dan begitulah kisah kami.
Cinta yang tumbuh di bawah hujan, dan cinta yang berakhir juga di bawah hujan.
Karena pada akhirnya, selalu ada orang yang baru mengerti rasa memiliki, saat semuanya sudah hilang selamanya.
(SELESAI)