Aku lahir dan tumbuh di rumah yang tidak pernah benar-benar tenang, selalu ada suara-suara yang membuatku takut setiap malam. Ayah dan ibu seperti dua kobaran api yang saling membakar. Tidak ada yang berusaha menjadi air.
Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami alasan mereka bertengkar. Aku tidak tahu apa yang salah dalam hidup mereka, Mungkin tentang uang, mungkin tentang hidup yang tidak berjalan sesuai rencana, atau mungkin tentang luka yang mereka simpan terlalu lama hingga berubah menjadi amarah.
Malam menjadi waktu yang paling kubenci. Hampir setiap malam aku terbangun karena suara bentakan yang menembus gorden sebagai penutup untuk kamarku. Aku berpura-pura tidur, Padahal di balik selimut, aku menahan tangis dan menutup telinga sekuat tenaga. Anehnya, suara mereka tetap berhasil masuk, seolah tidak ada tempat yang cukup aman untuk bersembunyi. Dadaku terasa sesak, kepalaku berdenyut hebat, dan tubuh kecilku hanya mampu meringkuk sambil menunggu semuanya berakhir.
Namun pertengkaran itu tidak pernah benar-benar berakhir. Esok malamnya terjadi lagi, lalu malam berikutnya, dan malam setelahnya. Orang-orang bilang manusia akan terbiasa dengan apa pun jika mengalaminya cukup lama. Aku tidak pernah berhasil membuktikan teori itu. Bertahun-tahun hidup di tengah pertengkaran justru membuatku semakin sensitif terhadap segala hal yang berhubungan dengan mereka. Jika dulu aku merasa sakit ketika mendengar mereka bertengkar, lama-kelamaan aku bahkan ketakutan hanya karena mendengar langkah kaki mereka mendekati kamar. Tubuhku selalu bersiap menghadapi sesuatu yang buruk, bahkan ketika tidak ada apa-apa yang terjadi.
Ada satu malam yang masih kuingat dengan jelas hingga sekarang. Pertengkaran mereka jauh lebih hebat dari biasanya. Suara bentakan memenuhi rumah seperti badai yang mengamuk tanpa arah. Aku duduk di sudut kamar dengan kedua telinga tertutup rapat, tetapi suara itu tetap terdengar. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk kepalaku secara bersamaan. Dalam keputusasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh seorang anak kecil, aku menghantamkan kepalaku ke dinding berkali-kali. Aku berharap rasa sakit itu bisa mengalihkan perhatianku dari suara mereka. Namun tidak ada yang berubah. Aku tetap menangis sendirian, dan mereka tetap saling melukai dengan kata-kata yang tidak kupahami.
Tidak seorang pun mengetahui kejadian malam itu, tidak ada yang peduli, tidak ada orang tua yang menahan dirinya untuk tidak bertengkar terlalu besar karna takut anaknya terbangun. Di dalam luka itu, Satu-satunya tempatku bercerita hanyalah sebuah boneka beruang putih kecil bernama Jiku.
Boneka ini pemberian dari ibuku. saat kita pergi ke pasar barang bekas, aku melihat boneka yang dijual oleh seorang nenek, aku sangat menyukainya dan ibu membelikannya. Waktu itu, walau bekas, boneka ini masih terlihat bagus. Karna waktu sudah berlalu lama sekali, sekarang boneka ini sudah menyusut, sudah tidak empuk lagi. Walau begitu aku masih sangat menyukainya.
Setiap malam aku memeluknya erat dan menceritakan semua hal yang tidak bisa kusampaikan kepada siapa pun. Aku bercerita tentang rasa takutku, tentang keinginanku memiliki keluarga yang normal, dan tentang harapanku agar suatu hari rumah ini menjadi tempat yang nyaman untuk pulang. Lucunya, semakin besar aku tumbuh, semakin aku merasa bahwa Jiku jauh lebih hidup daripada manusia-manusia di sekitarku.
Seiring bertambahnya usia, aku mulai memahami penyebab pertengkaran mereka. Masalah ekonomi ternyata menjadi sumber utama dari hampir semua kemarahan yang memenuhi rumah kami. Kekurangan uang, tagihan yang menumpuk, dan kehidupan yang tidak berjalan sesuai harapan, perlahan mengubah ayah dan ibu menjadi dua orang asing yang saling menyalahkan.
Aku tidak terlalu mengingat isi pertengkaran mereka, tetapi ada satu kata yang selalu muncul di akhir setiap pertengkaran, "cerai". Aku tidak tahu sudah berapa ribu kali kata itu melintas di telingaku, terlalu banyak hingga mustahil dihitung.
Rumah yang kehilangan arti rumah.
Sekolah menjadi satu-satunya tempat yang aku suka, di sana aku bisa bernafas, di sana aku bisa melupakan rumah walau hanya sesaat. Aku suka belajar, sangat suka belajar, aku suka bau buku, aku suka pena yang menari di atas kertas. Belajar membuatku menjadi hidup.
Untuk pertama kalinya aku merasa memiliki masa depan.
Aku punya mimpi.
Aku ingin terus belajar.
Aku ingin membaca lebih banyak buku.
Aku ingin mengenal dunia yang lebih luas daripada rumah sempit yang penuh pertengkaran itu.
Namun hidup rupanya memiliki rencana lain. Kondisi ekonomi menghentikan langkahku sebelum sempat berlari. Tidak ada uang, tidak ada dukungan, tidak ada jalan.
Mungkin aku terlalu serakah dalam meminta, aku sudah lulus SMK. Lalu aku berdoa lagi dengan sungguh-sungguh. Mungkin itu doa paling tulus yang pernah kuucapkan. "Aku cuma ingin belajar. Jurusan apa saja tidak apa-apa. Aku hanya ingin kuliah."
Aku menunggu jawaban.
Hari demi hari.
Bulan demi bulan.
Tahun demi tahun.
Namun langit tetap diam.
Seolah tidak pernah mendengar apa pun.
Orang tuaku mengatakan aku harus bekerja, Mereka bilang kuliah tidak akan mengubah hidup kami, mereka bilang keluarga membutuhkan uang, mereka bilang mimpi bisa ditunda. Padahal yang mereka minta bukan menunda.
Melainkan mengubur.
Aku bekerja. Setiap pagi bangun. Setiap hari menjalani rutinitas yang sama. Namun tidak pernah sekalipun aku mencintai pekerjaanku.
Karena hatiku masih tertinggal di ruang kelas yang tidak pernah bisa kumasuki lagi.
Aku iri, melihat teman-temanku mengenakan almamater, membawa buku, mengeluh tentang tugas kuliah, membicarakan dosen. Aku iri pada hal-hal yang bagi mereka biasa saja.
Karena bagiku itu adalah mimpi.
Aku ingin membaca buku lagi, aku ingin menulis catatan lagi. aku ingin melakukan hal yang kucintai. Aku ingin belajar.
Bukankah itu permintaan yang sederhana?
Aku pernah berkata kepada ayah bahwa aku ingin kuliah.
Ia mengangguk.
Katanya boleh.
Namun kata "boleh" ternyata berbeda dengan dukungan.
Ia tidak membantu, ia tidak bertanya tentang pendaftaran, tidak bertanya tentang biaya, tidak bertanya tentang mimpiku.
Seolah-olah keinginanku hanyalah angin yang lewat sebentar lalu hilang.
Gajiku habis untuk membantu membayar utang keluarga. Aku bekerja tanpa tabungan, tanpa masa depan yang jelas, tanpa langkah yang mendekatkanku pada mimpiku.
Dan suatu malam, setelah hari yang panjang, aku duduk sendirian di kamar, memeluk jiku yang sudah tua dan kusam.
Lalu untuk pertama kalinya aku tidak berdoa.
Aku menggugat.
"Tuhan..."
"Apa aku tidak pantas bahagia?"
"Tuhan, apa aku meminta terlalu banyak?"
"Aku hanya ingin rumah yang tenang."
"Aku hanya ingin orang tua yang saling mencintai."
"Aku hanya ingin belajar."
Tangisku pecah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengakui sesuatu yang selama ini kusimpan sendirian.
Aku lelah.
Menjadi kuat setiap hari, menanggung beban yang tidak pernah kupilih, menyaksikan mimpi-mimpiku perlahan mati.
Aku marah karena aku sudah berusaha bertahan selama ini, tetapi rasanya tak seorang pun melihat perjuanganku.
Tidak ayah.
Tidak ibu.
Bahkan langit pun seolah berpaling.
Di sudut kamar yang sunyi, aku memeluk jiku lebih erat.
Lalu berbisik pelan kepada kegelapan.
"Tuhan... jika suatu hari nanti kebahagiaan memang ada untukku, tolong jangan datang terlambat."
Karena aku tidak tahu berapa lama lagi hatiku mampu menunggu.
_TAMAT_
Story by Yiyi.