Malam ini hujan lagi.
Bukan hujan yang membersihkan, tapi hujan yang mengaduk luka lama sampai airnya keruh dan asin di lidah.
Aku duduk di ambang jendela tua, memeluk lutut seperti dulu kau memelukku ketika dingin datang lebih cepat dari janji. Di luar, lampu jalan berkedip lelah, menerangi trotoar basah yang kau pernah lalui dengan langkah tergesa karena takut aku menunggu terlalu lama.
Kau sudah tiada.
Tapi rindu ini tidak ikut mati. Ia tumbuh, seperti akar liar yang merayap di rongga dadaku, mencengkeram setiap hela napas hingga terasa sesak.
Aku masih menyimpan suaramu.
Bukan di ponsel—ponsel itu sudah lama mati, baterainya habis bersama waktumu. Aku menyimpannya di celah-celah ingatan, di nada kau memanggil namaku dengan setengah berbisik saat kau kira aku sudah tertidur.
“Sayang…”
Satu kata itu cukup untuk membuat seluruh dunia menjadi tempat yang aman. Sekarang, satu kata itu menjadi pisau tumpul yang menggores setiap malamku.
Kau bilang kau akan kembali sebelum musim gugur berakhir.
Musim gugur sudah berganti tiga kali. Daun-daun kering yang dulu kita injak bersama kini sudah menjadi tanah, menjadi debu, menjadi bagian dari bumi yang sama tempat kau berbaring.
Hanya aku yang masih berdiri di sini, menjadi patung rindu yang tak pernah selesai menetes.
Kadang aku berbicara pada foto usang di meja.
Aku bilang padamu tentang hari-hariku yang hambar, tentang kopi yang terlalu pahit karena tidak ada tanganmu yang mengaduknya, tentang lagu lama yang tiba-tiba diputar radio dan langsung merobek dadaku.
Kau tidak menjawab. Tapi matamu di foto itu selalu menatapku seperti kau mengerti. Seperti kau memaafkan aku karena belum sanggup melepaskan.
Aku takut melupakanmu.
Takut suatu hari nanti aku bangun dan tidak ingat lagi bagaimana hangatnya telapak tanganmu, bagaimana bau parfummu yang bercampur hujan menempel di leherku.
Maka aku menyimpan semuanya. Surat-surat yang belum sempat kukirim, tiket bioskop lusuh yang sobek di tengah, kaus tua yang masih berbau kau meski sudah kucuci ratusan kali.
Kau tahu apa yang paling menyakitkan?
Bukan kehilanganmu.
Tapi kenyataan bahwa aku harus belajar hidup dengan bagian diriku yang ikut kau bawa pergi.
Aku mencoba mencintai dunia lagi.
Aku tersenyum pada orang lain, aku tertawa di keramaian, aku bilang “aku baik-baik saja” sampai bibirku mati rasa.
Tapi di malam hari, ketika semua suara diam, rindu itu datang. Diam-diam. Tanpa permisi.
Ia duduk di sampingku, memelukku dengan lengan kosong, dan berbisik:
“Dia tidak akan kembali.”
Dan aku menangis.
Bukan karena aku lemah.
Tapi karena mencintaimu adalah satu-satunya hal yang masih membuatku merasa hidup.
Jika suatu hari nanti aku menyusulmu,
biarkan aku datang dengan membawa semua rindu ini.
Biar kau tahu, bahkan setelah kematian memisahkan kita,
aku tetap memilih untuk menunggumu—
di setiap napas, di setiap hujan, di setiap “selamat malam” yang kuberikan pada kekosongan.
Sampai jumpa, kekasihku.
Di tempat di mana waktu tidak lagi berani memisahkan.
Aku merindukanmu.
Lebih dari kemarin.
Kurang dari besok.
---
(Nyahaha, author galauu... 😔 Warn : kata "sayang" itu gak pernah dia ucapin yaa karena author ama dia (udah dead dianya) cuma just friend (karena pas masih kecil udah di tinggal dead)