Kedamaian yang Palsu
Gambar di dinding itu selalu terasa berbeda.
Awalnya, itu hanyalah sebuah cetakan kanvas murah yang dibeli Elias di toko barang bekas. Dia menyukainya karena sederhana sebuah padang rumput hijau yang luas, bukit gandum yang keemasan, dan sebuah peternakan tua di kejauhan.
Dua pohon cemara berdiri tegak sebagai penjaga, dan seekor domba hitam kecil sedang merumput di dekatnya.
Langitnya berwarna biru pucat dengan awan putih seperti sapuan kuas. Itu adalah pemandangan pedesaan yang menenangkan, tempat pelarian dari apartemennya yang pengap di kota.
(#1 painting on Instagram @cuxuru)
Namun,
kedamaian itu perlahan mulai memudar.
Elias adalah seorang penulis yang menderita kecemasan parah. Dia membutuhkan kesunyian, tetapi kesunyian itu sering kali dipenuhi oleh suara-suara di kepalanya sendiri.
Dia mulai menatap gambar itu selama berjam-jam, mencari kenyamanan.
Perubahan itu kecil pada awalnya.
Bukankah domba hitam itu sedikit lebih dekat ke pohon kemarin?
(#2 painting on Instagram @cuxuru)
-
Minggu-minggu berlalu.
Kecemasan Elias memburuk, Dia jarang meninggalkan apartemennya.
Suara-suara di kepalanya menjadi lebih keras, makin memburu pikiran nya.
Dia menemukan dirinya semakin sering berdiri di depan gambar, seolah-olah dia bisa masuk ke dalamnya.
Suatu malam,
saat keheningan malam terasa begitu berat, dia mendengar sesuatu, Bukan suara di kepalanya.
Itu adalah suara samar, seperti desir angin di padang rumput... di dalam apartemennya.
Dia menatap gambar itu.
Pemandangan itu tampaknya bergerak.
Awan tidak lagi statis, mereka perlahan-lahan bergeser, Pepohonan cemara tampak bergoyang.
Dan domba hitam itu... domba itu menatapnya.
(#3 painting on Instagram @cuxuru)
Hati Elias berpacu.
Dia menutup matanya rapat-rapat.
"Ini tidak nyata" bisiknya.
"Ini hanya dalam pikiranku"
Saat dia membuka matanya, semuanya diam kembali. Tapi perasaannya sudah berubah. Kehadiran sesuatu yang jahat mulai merayap keluar dari kanvas.
(#4 painting on Instagram @cuxuru)
-
Kecemasannya berubah menjadi paranoia. Dia mulai merasa diawasi, bahkan ketika dia tidak menatap gambar itu.
Dia mulai melihat bayangan di sudut matanya-bayangan yang menghilang saat dia melihat langsung ke sana.
Pemandangan di Bukit Solace mulai menampakkan kegelapan yang lebih dalam. Langitnya menjadi lebih biru kelabu, awannya lebih berbentuk seperti cakar yang siap mencengkeram.
Peternakan tua itu sekarang tampak runtuh, seolah-olah sesuatu telah menghancurkannya dari dalam.
Dan bayangan peternakan itu tidak lagi hanya bayangan, itu adalah kehitaman yang pekat dan hampa.
Domba hitam itu menghilang.
(#5 painting on Instagram @cuxuru)
Suatu hari,
Elias sedang duduk di kursinya, mencoba menulis, ketika dia merasakannya lagi. Kehadiran di sudut ruangan, Dia memutar kepalanya dengan cepat.
Itu ada.
Di sudut kanan bawah gambar, di mana sebelumnya hanya ada padang rumput hijau yang kosong, sekarang ada makhluk.
Itu adalah bayangan hitam yang tak berbentuk, lebih pekat daripada bayangan di peternakan.
Dan di tengah bayangan itu... sebuah mata, Bukan mata biasa.
Sebuah mata spiral tunggal, putih pekat, berputar perlahan. Itu tidak berkedip.
Itu menatapnya dengan intensitas yang mengerikan, penuh dengan kebencian dan pengetahuan tentang rahasia tergelap Elias.
(#6 painting on Instagram @cuxuru)
Elias tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Mata spiral itu memukau, melumpuhkannya dengan teror murni. Dia merasa seluruh hidupnya, semua ketakutannya, semua penyesalannya, ditarik ke dalam spiral itu.
Dia mencoba berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Dia mencoba melarikan diri, tetapi tubuhnya tidak mau bergerak, Mata itu semakin besar. Bayangan itu mulai merayap keluar dari kanvas, menjalar ke dinding, ke lantai.
"Elias..." Sebuah suara terdengar, bukan di kepalanya, tapi di dalam ruangan. Itu adalah suara yang dalam, serak, seperti suara angin di padang rumput yang hancur.
"Kamu selalu ingin melarikan diri..."
Tiba-tiba, sebuah kekuatan yang tak terlihat menariknya. Dia bukan lagi berdiri di apartemennya. Dia melayang, ditarik ke dalam gambar.
(#7 painting on Instagram @cuxuru)