Suara riuh anak-anak memenuhi taman kota pada akhir pekan, dibawah mentari yang semakin condong ke barat.
Seorang anak laki-laki terlihat asik memainkan bola sepak sendiri di bawah pohon, belum menemukan gerombolan yang biasanya ia ajak untuk bermain bersama.
Ia tampak jenuh, "Huh... om Bima! Ayok kita main bola!"
Seorang pria yang duduk di kursi taman itu menoleh, terlihat lelah untuk sekedar berdiri dari duduknya.
"Om Bima udah tua, Juna. Kamu aja, gih... bentar lagi temen-temen kamu juga dateng." balasnya.
Anak laki-laki yang ternyata memiliki nama Juna itu sedikit kesal, menyilangkan tangan di depan dadanya. Dengan bibir yang mengerucut, diiringi dengusan kecil khas anak 5 tahun.
"Ayolah, Om Bim!" serunya lagi.
Tak ada balasan, Bima hanya menguap singkat. Karena tugasnya hanya satu— menjaga Juna, itulah pesan dari sahabatnya.
Merasa tak digubris, Juna semakin kesal. Ia lalu menendang bola sekeras mungkin ke arah Bima.
Naasnya, bola itu mengenai seorang gadis kecil yang berjalan tepat di depan Bima.
"Oh.. em.. ji!" pekik Juna sambil menutup mulutnya.
Gadis kecil itu terjatuh, sebelum akhirnya mulai keluar linangan air dari sudut matanya.
Reflek Bima bangkit, menghampiri gadis itu untuk membantu.
"Nggak apa-apa, cantik... nih, bolanya om tendang jauh."
"Huu huuu..."
Juna berlari mendekat, wajahnya benar-benar ketakutan. Ia berdiri di belakang Bima dengan tangan yang memegang pundak Bima.
Bima menatap tajam Juna, mengisyaratkan untuk meminta maaf kepada anak gadis itu. Dengan polos Juna mengangguk, bibirnya mengatup karena tak berani menjawab Bima.
Tangan kecil Juna meraih lengan gadis itu, "Maaf, ya. Aku tadi nggak sengaja... mana yang sakit?"
"Hmm..." ringisnya sembari menunjuk lututnya.
Benar saja, lutut gadis itu tergores dan mengeluarkan sedikit darah. Bima sigap merogoh sakunya, mengambil plester yang ia bawa sebagai antisipasi jika Juna terluka.
Jari-jari Bima telaten menutup luka itu, "Nih. Om bawa obat paling manjur, pasti abis ini nggak sakit lagi."
Selesai dengan luka, jempol Bima mengusap lembut sisa-sisa air mata gadis itu.
"Jangan nangis, dong. Nanti cantiknya hilang, loh-"
Belum juga air mata itu sepenuhnya hilang, Bima melihat sesuatu yang terasa... nostalgia.
Mata itu.
Warna coklat terang kala terbias cahaya matahari.
Lekat kala bertemu dengan matanya.
Dan wajah mungil itu...
"N-Nayla?..."
Nama itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Gadis kecil itu seketika berhenti sesenggukan, sedikit memiringkan kepalanya, "Nayla?" tanyanya bingung.
"Itu, kan mama Rara." imbuhnya.
Mata Bima semakin membulat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia temui.
•
•
•
*8 Tahun lalu*
"Udah dong, Nay. Kamu kalo nangis, jelek"
"Kamu, mah... Kipli tuh anak kesayangan aku."
Seekor hamster dengan rambut mengerucut di kepala yang baru saja mati, terlihat gepeng di telapak tangan Nayla.
Bima tak tahu harus berbuat apa, lagipula ia juga tak bisa menghidupkan sesuatu yang sudah tiada.
"Nanti kita beli lagi, ya. Cuma hamster juga, kok."
Nayla melirik tajam ke arah Bima, dengan mata yang masih berlinang, bibir yang ditekuk sedemikian rupa.
Tangan Bima terangkat, membentuk huruf V simbol perdamaian.
Mereka berdua baru saja melarikan diri dari kampus, meninggalkan kelas berikutnya hanya demi seekor hamster.
Jefri berulang kali menelfon, juga mengirimi pesan mengenai Dosen yang mencari keberadaan Bima.
Matahari sedang terik-teriknya, namun ada dua orang yang sedang berduka di halaman belakang kos.
Dengan gundukan tanah yang sedikit menyembul keluar, Bima dan Nayla berjongkok di sampingnya. Seolah sedang berduka kehilangan anggota keluarga, kantung mata Nayla masih penuh dengan kesedihan.
Tangan Bima dengan lembut mengusap pundak Nayla, "Kita beli ice cream, yuk."
Nayla menoleh lemas, "Rasa Matcha..." cicitnya.
Bima tak kuasa menahan tawanya, begitu menggemaskan kekasihnya saat menangis.
•••
Senja mulai turun di sudut taman kota, semburat oranye yang memberikan rasa tenang setelah beberapa jam dilanda kesedihan.
Bima dan Nayla duduk berdua, menikmati dinginnya ice cream Matcha dan Vanilla dengan topping waffle kala senja merekah megah.
"Bu Desi marah nggak, ya?" Nayla menyandarkan kepalanya di bahu Bima.
Bima menggeleng pelan, "Mungkin, iya. Biarin, lah... Jefri udah tau harus bilang apa ke beliau."
Momen kecil, namun terasa lengkap.
Melihat satu keluarga kecil yang berjalan santai di taman, Nayla menatap Bima dengan sebuah arti. Dan Bima tahu betul apa.
"Nanti... anak kita mirip siapa, ya? Suka ice cream Matcha atau Vanilla?" celetuknya.
Bima mengangkat bahunya, "Ya, semoga aja nggak bawel kaya Mamanya aja, sih."
Nayla menukul pelan lengan Bima, dengan bibir yang ditekuk sedemikian rupa. Bima cekikikan, seolah memiliki bayangan seperti apa nasibnya di masa depan.
Bayangan Nayla yang masih bawel, sering merajuk tanpa alasan yang jelas, juga wajah polos nan imutnya kala menangis karena hal sepele.
Senja di ufuk barat menjadi saksi, dua insan dengan angan di benak mereka. Skenario yang begitu sederhana dalam menyusun masa depan.
Tak tahu apa yang menunggu di kemudian hari.
Mereka hanya tahu satu hal, dan itu pasti.
Menikmati masa sekarang, dan sedikit menaruh harap pada kehendak yang sama sekali tak mereka ketahui.
•
•
•
*Masa kini*
"Zahra! Kamu darimana aja, sayang..."
Seorang wanita berteriak tak jauh dari tempat Bima dan gadis kecil bernama Rara itu. Setengah berlari menghampiri, dengan kedua yang yang penuh memegang barang belanjaan.
Tangan kiri menenteng plastik minimarket, dan tangan kanan membawa satu cup ice cream Matcha.
Bima masih menunduk, baru lepas dari kenangan yang terlintas di kepalanya. Sementara Gadis kecil itu menoleh cepat, mendengar suara yang sejak tadi ia cari mengelilingi taman.
"Kamu kenapa, sayang?"
Zahra menggeleng polos, "Rara nggak kenapa-napa, kok. Tadi jatuh sendiri, terus ditolongin sama Om ini, sama dia juga." telunjuk Zahra mengarah pada Bima dan Juna.
Juna tampak gugup, "Maaf, ya, tante. Tadi Juna nggak sengaja tendang bola, terus kena-... Rara."
Bima perlahan mengangkat kepalanya.
"Maafin Juna, ya. Tadi dia ngga-"
"N-Nayla!?..."
Mata wanita itu membulat, ice cream Matcha di genggamannya jatuh di atas rerumputan.
Bibirnya bergetar pelan, "Bim-"
Suasana mendadak hening, keduanya hanya terpaku satu sama lain.
Hembus angin menerpa setiap helai rambut Nayla... ya, Nayla.
Membuat Bima tenggelam semakin dalam. Ia lalu bangkit, berdiri tepat di depan wanita pujaan hatinya dulu— sampai sekarang, mungkin.
"Hai..." hanya itu kata yang terlintas.
Nayla tersadar, "H-hai, Bima."
Di tengah taman kota yang dipenuhi riuh, dua hati yang dulu bersatu— dipertemukan kembali.
Unek-unek di kepala mereka jauh lebih bising daripada dunia luar, memberikan isyarat untuk sekedar bertegur sapa, atau menyalurkan sedikit kerinduan yang tertahan
•••
Bima dan Nayla berjalan berdampingan, sama seperti dulu. Meskipun keadaan mengatakan sebaliknya.
Tak ada genggaman tangan, tak ada rangkulan kemesraan, hanya melangkah seirama.
Satu tangan Bima dimasukkan ke saku, sementara satu lagi menggenggam ice cream Vanilla, terlihat menghindar dari kontak mata... walau Nayla sesekali menangkap lirikan singkat.
Nayla juga sama, Ia membeli satu lagi ice cream Matcha kesukaannya, karena sebelumnya terjatuh kala terpaku melihat wajah Bima setelah sekian lama.
Merasa awkward, akhirnya Nayla bersuara, "Gimana kabar kamu?"
Senyum tipis terangkat dari sudut bibir Bima, "Baik, Nay. Kamu sendiri gimana?" Bima menoleh singkat.
"Aku baik, Bim."
Mereka lalu duduk di kursi tepat di depan kolam kecil, memandang jauh ke arah mentari yang tak lama lagi tenggelam.
Hanya berdua, diiringi suara anak-anak yang semakin berkurang dari kejauhan.
"Rara, itu..."
Bima ragu, tak memiliki keberanian untuk menanyakan pertanyaan singkat sekalipun.
Namun Nayla tahu, "Iya, Bim. Zahra anak aku."
Tak perlu mendengar jawaban pun, Bima sudah tahu.
Bagaimana mungkin Bima tidak menyadari mata indah yang begitu mirip, seolah Zahra adalah versi kecil dari Nayla.
"Cantik. Persis sama kaya kamu."
Entah mengapa kata itu keluar begitu saja dari mulut Bima.
Nayla tertawa kecil, "Juna itu anaknya..."
"Jefri, sama Cindy." sahut Bima.
"Nggak nyangka, ya. Jefri sama Cindy yang dulu couple paling gengsian, eh beneran sampe ke pelaminan."
Bima tertunduk, mengaduk ice cream Vanilla itu hingga tak lagi berbentuk.
Gerakan itu disadari oleh Nayla, dan mungkin pernyataannya barusan ya menjadi penyebabnya.
"Bim... sekarang kamu sama siapa?"
Ia tertawa pelan, sambil menyendok ice cream di tangannya yang hampir mencair seluruhnya.
"Maaf, Nay."
Kening Nayla mengerut, tak tahu maksud dari permintaan maaf itu.
"Maaf, aku masih sayang sama kamu." kepalanya menoleh perlahan.
"Maaf, aku belum bisa cari pengganti kamu. Maaf kalau aku masih berharap... maaf, Nay." bibirnya bergetar, begitupun Nayla.
Suasana kembali canggung.
Terlintas di kepala mereka perpisahan kala itu.
Keduanya sama-sama menunduk, entah karena percikan kenangan yang muncul— atau penyesalan yang sampai sekarang enggan di akui.
Nayla memejamkan matanya, dengan satu tangan yang sekuat tenaga menutup mulutnya.
Bima menyadari hal itu, "Jangan nangis, Nay. Kamu..."
Sebuah tamparan kecil mendarat di lengan Bima, dengan wajah cemberut yang kini terpampang di sisinya.
"Engga! Tetep cantik, kok." kesalnya.
Kini Bima tertawa lebih keras, tampak puas melihat Nayla yang memasang raut marah.
"Liat aja, wle..." Bima menyodorkan ponselnya.
"Cantik!" sentak Nayla saat melihat layar hitam yang memantulkan wajahnya.
Nayla masih kesal, sampai layar itu menyala tepat di depan wajahnya.
Wallpaper itu. Foto itu.
Sayangnya, Bima tak menyadari akan hal itu.
"Itu dia, Mama!"
Suara teriakan kecil membuyarkan keheningan.
Zahra dan Juna telah datang, bersama dengan seorang pria yang mengenakan jas, dipadukan dengan celana bahan beserta dasi yang sudah sedikit longgar.
Nayla berdiri, diikuti Bima yang langsung mengambil jarak dari Nayla.
"Om Bima!" Juna berlari kecil kesamping Bima.
"Mama!" Zahra langsung meraih tangan Nayla.
Bima dan pria itu saling beradu pandang, sebelum akhirnya Nayla memperkenalkan mereka masing-masing.
"Bim, ini Dipta... suami aku."
Pria itu sontak mengulurkan tangannya, "Dipta. Suami Nayla."
Meski sedikit bergetar, Bima menjabat tangan tersebut.
"Bima... temen kampus Nayla di UJN dulu."
•••
Senja sepenuhnya hilang, digantikan oleh sinar rembulan yang masih samar.
Dalam setiap langkah kecil dengan tangan yang menggenggam Juna, Bima merutuki keteledorannya.
"Om Bima mikirin apa?" tanya Juna polos, bersusah payah mendongak karena tinggi yang terpaut sangat jauh.
"Nggak usah kepo, deh. Awas tuh bola, jatoh nanti."
Lagi-lagi Juna tak mendapat apa yang ia inginkan, membuang muka sembari terus melangkah. Lengan mungilnya hampir tak mampu membawa bola yang cukup besar untuk ukuran tubuhnya.
Satu tangan menggandeng Juna, tangan satu lagi memandang lekat wallpaper di ponselnya.
"Maafin aku, Nay..."
Bukan foto terbaik.
Hanya bayangan.
Bima dan Nayla yang saling menggenggam tangan.
Bibir Bima yang menyentuh kening Nayla...
The end...