Tringgggg...
Terdengar bunyi bell sekolah yang menandakan berakhirnya waktu pembelajaran. Aku,Rico dan Boy langsung bergegas untuk keluar dari lingkungan sekolah, dan langsung menuju ke rumah Pak Gerung dimana tempat biasanya kami berdiskusi dan membaca buku "kiri" yang disembunyikan digudang belakang pak gerung, karena kami tau saat ketahuan membaca buku "kiri" kami pasti akan dihilangkan, heran padahal kami hanya mempelajari tetapi mereka selalu berasalan bisa menggangu stabilitas negara lah, bertentangan ideologi dan banyak lagi argumen mereka.
Tapi itu tak menurunkan semangat kami untuk terus menambah ilmu agar tidak mudah dibodohi oleh elite elite diluaran sana.
Asri, bersih, sepi dan sunyi, banyak kotoran burung dan dedaunan kering adalah beberapa kata yang bisa menggambarkan kondisi rumah Pak Gerung, Ya tapi mau gimana lagi hanya itu tempat dimana kami bisa membaca "itu" dengan bebas tanpa ada rasa cemas dan was-was berlebihan.
Pak Gerung merupakan seorang laki laki pekerja serabutan, meskipun begitu dulunya katanya ia adalah mantan guru disebuah sekolah yang jaraknya ratusan kilometer dari sini, jika dihitung, kurang lebih 7 bulan lalu kami mengenal Pak Gerung.
ketika itu kami ingin membeli buku disebuah toko didekat rumah Pak Gerung.
Kami mendengar teriakan, dan ketika kami datangi itu adalah suara Rosi Gerung ihsan ya itu nama lengkapnya, ternyata ia sangat takut terhadap kelelawar yang saat itu memasuki gudang rumahnya, dari luar kami menertawakan, tak heran, ketika melihat seorang pria berbadan tegap, penampilan rapi, takut dengan seekor satu ekor cikal bakal batman
"malah ketawa" ucap Pak Gerung dengan nada kesal
"eh iya bg maaf,mau kami bantuin gak bg" sahut Boy
"boleh banget dek, tapi jangan panggil bg lah, sepantaran bapak kalian ini", sambil mengayunkan sapu ke arah kelelawar dibalik kardus penuh buku.
Rico dengan badannya yang berisi kekar dan tinggi melebihi rata rata orang Indonesia, dengan sigap mengangkat kardus itu, hingga kelelawar langsung terbang menabrak kepala Rico,
"eeeehh"
"Gedubrakkkk" suara jatuhnya kardus yang diangkat Rico
sebelum kelelawar itu keluar entah kemana
"Aduh maaf ya bg eh pak jadi berserakan bukunya, hehe" ucap rico sambil menggaruk garuk kepalanya
"Bjirr, ini buku yang mau kita beli kan ges" sahutku
"iya hampir semua buku yang mau kita beli ada disini, banyak banget lagi lihat tuh dikardus lain juga ada" balas dari Boy
"Ohhhh ini tuh buku orang, dulunya dititipin disini, eh orangnya malah meninggal, karena kecelakaan pas mau ngambil bukunya kesini, jadi gak ada yang baca deh, kalau kalian mau baca boleh kok asalkan gak dibawa pulang aja ya, buat ngehargain pemilik aslinya, btw makasih ya udah bantuin tadi" jawab Pak Gerung sambil merapikan kembali buku yang jatuh.
Ya begitulah singkatnya, kami jadi sering datang kerumah Pak Gerung dan beliau pun dengan senang hati nerima kami disini, asalkan cuma baca buku aja gak ngelakuin hal" aneh dan tetep ngehargain privasi Pak Gerung, Oh iya Pak Gerung ini tinggal sendiri, katanya sih istrinya kerja jadi TKW di tiongkok, dan beliau juga gak punya anak karena istrinya infertilitas atau susah punya keturunan gitu lah.
Hampir setiap hari kami datang, setidaknya 4 hari dalam seminggu kami selalu datang, biasanya ya setelah sekolah atau ketika kami lagi gak ada kegiatan aja.
Kami baca buku "kiri" bukan tanpa alasan dulunya ayahku,ibunya boy, dan pamannya Rico sempet jadi aktivis gitu lah, mereka bertiga menyuarakan pendapat, ya walau selalu tidak didengar, tapi sempat bikin heboh karena terbitan film dokumenter karya mereka bertiga, tentang diktator negara dan semacamnya. jadi sifat itu nurun ke kami bertiga dan kebetulan juga kami berteman sebagai teman satu sekolahan.
Ketika kami dirumah Pak Gerung, kami sering mendengar sirine polisi lalu lalang, selain karena memang rumah pak gerung dijalan arah ke kapolsek, saat ini juga "mereka" sangat panik karena beberapa minggu lalu banyak arsip rahasia yang bocor, jadi mereka memburu orang yang menyimpan arsip itu, membaca buku paham kiri, pokonya yang berhubungan ke politik dan mereka terasa terganggu akan mereka bungkam, termasuk kami yang melakukannya, kami sih santai saja ya, karena kami gak sebarkan dan cuma untuk kami pelajari, beda dengan orang yang ditangkap, mereka menyebarluaskan, dan dengan terang-terangan.
Hari berlalu, minggu berlalu, dan tahun pun berganti.
Tepat beberapa hari sebelum hari kelulusan kami, kami bertiga yang memang berencana untuk melanjutkan sekolah kami ke perguruan tinggi di beda wilayah, Rico katanya akan membantu ibunya dulu selama satu tahun, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan, sementara Aku dan Boy memilih universitas yang sama, hanya beda jurusan dan kami bertiga akan membuat sedikit perpisahan di Rumah Pak Gerung.
Hidangan telah kami siapkan untuk besok malam, dan kami pun telah membesihkan, mengecat, dan sedikit renovasi kepada rumah Pak Gerung sebagai tanda terimakasih kami.
Dimalam harinya kami bertiga masuk lewat pintu samping yang biasanya kami lewati setiap ke rumah Pak Gerung. setelah masuk, kami memanggil Pak Gerung yang biasanya ada dikamar untuk bisa datang ke meja yang telah kami siapkan dari hari kemarin, berisi daging mentah untuk dibakar, minuman tidak beralkohol dan yang lainnya,
"Pak Gerunggg, ayo sini makan makan kita" ucap Boy dengan lantang
Setelah 5 kali memanggil kami memutuskan untuk langsung ke kamar Pak Gerung, dalam pikiranku Pak Gerung mungkin sekarang lagi tidur pulas.
"Sreeeeeeeet" bunyi pintu tua yang coba aku buka
baru coba menghidupkan lampu kamarnya tiba tiba
"Brakkkkkkk" seketika mataku buram dan aku hilang kesadaran.
"Hahahaha" terdengar olehku suara tertawa setelah aku bangun dari pingsan,
Aku terikat erat dikursi, digudang milik Pak Gerung dan hanya aku sendri.
Setelah 5 menit terdengar langkah kaki beberapa orang. ya, ternyata itu adalah Boy, Rico, dan Pak Gerung, yang langsung berdiri didekat ku.
Aku mulai terasa agak lega dan meminta mereka untuk melepaskan ikatan ini terlebih dulu.
"bantuin aku, bukain iketan ini", ucapku kepada mereka
"Gila ni orang, belum paham juga lo", Ucap Boy sambil nada merendahkan ku
"hahaha, bisa aja Boy bercandanya" aku tertawa
"ketawa lu bajingan",dengan nada kesal Rico datang kearahku dan melayangkan pukulan tepat diwajahku.
"bruuuuuuk"
Lemas, Aku langsung terdiam dan kesakitan, hidungku berdarah, mataku terasa seperti melebam, terdiam dan coba merenungi kesalahan apa yang aku lakukan kepada mereka.
"Mau gw pukul lagi lo", ucap Rico sambil mengertak ku dengan tangannya
"biar aja Ric, nanti pingsan lagi dia jadi repot kita", Sanggah Pak Gerung sambil menahan rico
Sambil duduk di kursi Pak Gerung ngomong ke Aku
"Bingung kan lo, tenang aja kita gak bakalan sampe ngabisin nyawa orang, ini cuma buat salam perpisahan aja biar lo tau kalau ini semua salah ayah lo itu, sengaja gw lakuin dihari perpisahan lo, biar makin terasa nyeseknya, hahaha", ucap Pak Gerung dengan mengintimidasi.
Pak Gerung duduk disebelahku memberitahuku mengapa semua ini terjadi, dan Rico dengan Boy mennusuk-nusuk aku dengan jarum jaruk kecil yang sangat tajam, dengan kondisi aku masih terikat, sangat menyakitkan, tubuhku terasa di lobangi satu persatu, dan tepat setelah Pak Gerung selesai, cukup dengan sekali pukul Aku dibuat pingsan oleh Rico.
dan besok paginya aku terbangun dirumah ku dengan sekujur badan penuh bekas luka dan bolong bolong, sakit sekali tapi aku tahan dan coba mengobati sedikit tanpa membuat ibuku tau, mereka memakaikan hoodie lengan panjang kepadaku sebelum mengantarku pulang kerumah, karena memang Boy dan Rico sudah kenal dengan Ibuku.
Ternyata semua ini, telah mereka rencanakan, pertemuan ku dengan Boy dan Rico disekolah, Aku bertemu dan baca buku dirumah Pak Gerung, teriakan Gerung saat awal pertemuan kami, bahkan kelelawar dan buku "kiri" yang sengaja dijatuhkan untuk membuatku tertarik pun sudah mereka Rencanakan, dan Semua yang terjadi mereka lakukan, hanya untuk membalaskan dendam mereka ke ayah kepadaku.
Itu semua terjadi dulu saat aku berusia enam tahun, ketika dulu ayahku sebagai otak atau ide utama film yang kontra itu memutuskan mengajak teman-temannya, yaitu Siska ibunya Boy, dan Gerung yang ternyata adalah pamannya Rico, Ayahku sebagai ide utamanya malah tidak mau namanya disebar luaskan dan menjadi buronan, dan malah mengkambing hitamkan dengan menulis serta melaporkan nama Siska dan Gerung sebagai pelaku utama pembuatan film diktator yang bisa membuat golongan atas terusik.
Siska dan Gerung berakhir menjadi tahanan selama beberapa tahun, disana mereka disiksa dan tidak dibiarkan tidur dengan tenang, sementara ayahku malah hidup tenang dan menikmati hasil pendapatan filmnya.
Selama beberapa tahun penyiksaan terjadi terus menerus tanpa henti mereka tahan tetapi beberapa tahun setelahnya Siska atau ibunya Boy tidak sanggup menahan penindasan dan memilih untuk mengkahiri hidupnya.
Sementara itu Gerung dengan perasaan sakit bertubi tubi, mempersiapkan pembalasan dendam nya kepada ayah, namun ketika ia telah bebas ayahku malah menghilang tanpa jejak kami pun tidak mengetahui ayah dimana sampai saat sekarang, dirumah hanya ada aku dan ibuku, Gerung memilihku sebagai objek pembalasan dendamnya, yang terlaksana dengan sempurna dan tanpa membuat aku menyadari sedikit pun dan tidak menaruh kecurigaan kepada mereka.
Minggu berlalu dan sekarang Aku sedang berada dikereta menuju daerah tempat tinggal baru dekat universitasku, universitas yang berbeda dari tempat aku mendaftar dulu, sengaja agar jejakku tidak diketahui mereka, aku tidak memberitahu siapapun mengenai peristiwa mengerikan itu, dan bahkan ibuku pun tidak aku beri tahu.
Kami tinggal dirumah baru yang sederhana dan aku mulai bisa menjalani hidupku lagi,
sebelum akhirnya di hari pertama ke masuk kuliah, aku bertemu dengan mereka lagi, Boy dan Rico mereka melihat ku dengan senyuman yang memiliki maksud terselubung......
TAMAT.