Keesokan harinya aku berangkat sekolah seperti biasa.
Tadi malam kami nggak jadi membahas tentang kejadian kemarin,
Karena aku sudah menceritakan semuanya kepada kakak kembar dan Kirana
Kata Kak Lala saat ini belum waktunya.
Kami harus memberi kesempatan kepada Papa untuk merenung dan mengambil keputusan.
Ya semoga saja semua keputusan yang diambilnya itu adalah keputusan yang terbaik.
Oke mari kita lupakan soal itu dan fokus pada presentasi hari ini.
Sejak pagi Lila sibuk mengomeli Ayuni.
Karena Ayuni belum menguasai materi itu.
Tapi memang dasar Ayuni, gadis itu tidak terlalu peduli dengan omelan Lila.
"Eh kau ini gimana Ayuni! kok kamu nggak bisa-bisa sih." Omel Lila
Ayuni mendengus kesal
"Ya kau kan tahu La, otakku seberapa nggak bisa aku langsung memahami secara instan." Kata Ayuni
Lila menarik nafas panjang dan berusaha sabar
"Lalu semalam kau ngapain aja Ayuni!" Tanyanya
"Nonton drakor." Jawab Ayuni dengan wajah tanpa dosa
Aku menggelengkan kepalaku pelan melihat keributan yang sudah menjadi tontonan sehari-hari.
Yah pokoknya setiap hari harus ada keributan, seperti kata Winda "jika satu hari tanpa keributan rasanya ada yang kurang."
Aku melirik Liza, Winda dan Arin yang sibuk mempelajari materi.
Tumben banget mereka bertiga sangat penurut hari ini, tapi bagus sih debatnya nanti aja setelah presentasi.
Hahaha
Aku mengecek jam di ponselku
Ternyata sebentar lagi adalah jam pelajaran Bu Tia.
Aku segera berdiri dan memberitahu Lila dan Ayuni akan berhenti berdebat karena sebentar lagi Bu Tia akan masuk kelas.
Dan benar saja beberapa saat kemudian Bu Tia masuk ke kelas
Setelah kami memberi salam Bu Tia memanggil satu persatu kelompok untuk mempresentasikan tugas yang sudah diberikan.
Kini tiba saatnya giliran kelompok kami maju ke depan.
Sebenarnya aku agak grogi sih, tapi harus berusaha tetap percaya diri.
Untungnya presentasi kami berjalan dengan baik dan sesuai ekspektasi.
Dan kami bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik
Setelah selesai kami kembali ke tempat duduk masing-masing dengan lega.
"Untungnya semua berjalan dengan baik."gumam Lila
Aku mengangguk
"Mudah-mudahan nilai kita bagus." Ucapku
"Aku juga berharap seperti itu." Kata Lila
Setelah semua kelompok maju ke depan. Bu Tia kembali menjelaskan dan mengoreksi beberapa kelompok yang mungkin kurang lengkap.
Tuyul juga mengapresiasi semua murid di kelasnya karena kami bekerja dengan sangat baik.
..........................
Saat ini kami berenam sedang berada di kantin
Karena kami sama-sama belum sarapan dan tidak membawa bekal akhirnya kami makan nasi goreng di kantin.
Karena ini masih jam istirahat pertama dan setelah ini juga jam kosong jadi kami bisa agak sedikit bersantai.
"Nasi goreng ini enak banget." Kata Ayuni
"Apalagi plus telur ceplok." Ucapku
"Makin mantul itu." Kata Winda
Lila tertawa
"Tapi kalau dipikir-pikir nasi goreng segini aja udah enak banget." Katanya "murah lagi."
"Kalau menurutku ini sudah harga standar sih." Ucapku "sesuai lah sama harga."
"Iya, bonusnya ada telur ceplok dan sosis. Wiih mantap banget itu!" Kata Ayuni
Semua tertawa
"Untunglah presentasi hari ini lancar." Kata Lila
Aku tertawa
"Ya walaupun kalian berdua berdebat terus tadi pagi." Ucapku sambil melirik Lila dan Ayuni
Mereka berdua hanya nyengir
"Aku sebenarnya juga mau ikutan, tapi masih nggak punya energi buat berantem." Kelakar Winda
"Yang ada energiku yang habis kalau ngadepin kamu." Komentar Lila
"Ya sudahlah yang penting semuanya udah beres." Kata Liza
Kami semua mengangguk.
Kami berenang melanjutkan mengobrol dan membahas hal lain.
........................
Sepulang sekolah aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang keluarga.
Hari ini Kirana sedang mengikuti bimbingan belajar, sedangkan Andi berada di rumah Oma.
Mama juga masih bekerja.
Tiba-tiba Papa datang dan menghampiriku.
"Kak maaf, Papa tadi membaca buku harianmu, dan Papa sudah baca suratmu… semua kata-katamu… Papa baca pelan-pelan." Ucapnya
Aku hanya mematapnya tanpa mengucapkan kata-kata apapun.
Suasana hening sejenak
Papa menunduk dan menatap lantai.
Aku menghela nafas panjang.
"Papa gak perlu jawab kalau Papa belum siap." Ucapku
Papa menggeleng pelan
"Tidak, Papa harus jawab. Kamu benar… Papa.... menutupinya." Ucapnya sambil menatap wajahku " Papa takut kamu melihat Papa sebagai orang jahat.”
Aku mengerutkan kening heran
"Pa… aku ga butuh Papa jadi orang yang sempurna. Tapi Aku cuma butuh Papa jujur.” ucapku
Papa berlutut di depanku.
Suaranya pecah dan hampir tak terdengar
"Papa salah.... Kejadian itu, chat itu, adalah keputusan b***h yang Papa buat saat hati Papa kosong, dan pikiran Papa kacau."
Aku masih diam selama beberapa saat.
"Papa sadar kan, ini bukan cuma menyakiti Mama?" Ucapku pelan
Papa mengangguk
"Iya.... Sekarang Papa sadar. Dan ketika membaca buku harianmu, Papa semakin sadar bahwa selama ini Papa selalu menyakitimu." Ucapnya "dan Papa baru benar-benar mengerti seberapa dalam luka yang Papa buat.”
Aku melihatnya menahan air matanya dan tangannya bergetar.
Aku menarik nafas panjang
"Kenapa nggak bilang dari awal? Kenapa aku yang harus menemukan semuanya?" Tanyaku
Papa menarik nafas panjang
"Karena Papa pengecut.
Papa ga mau menyangkal, tapi Paoa juga tidak berani jujur." Ada jeda sebentar sebelum Papa melanjutkan ucapannya
"Papa pikir kalau Papa diam, masalah itu akan hilang sendiri."
Aku menggeleng pelan
"Masalah seperti itu nggak akan hilang Pa, dia hanya menunggu untuk ditemukan dan akulah yang menemukannya." Ucapku pelan
Suasana kembali hening selama beberapa saat.
"Papa minta maaf, Kak.
Bukan hanya untuk chat dan perselingkuhan itu…
tapi karena Papa sudah menyakiti membuat kamu merasa kehilangan Papa padahal Papa masih di sini.” kata Papa sambil menggenggam tanganku
Aku menunduk
"Aku nggak tahu gimana caranya untuk kembali mempercayaimu lagi, tapi aku sedang mencoba." Suaraku irih
Papa meremas tanganku
"Papa akan bantu kamu.
Apa pun yang kamu butuhkan, apa pun prosesmu… Papa akan selalu ada dan akan selalu mendukungmu." Ucapnya
Aku tertegun
"I itu janji yang sangat besar Pa." Ucapku
"Kali ini Papa tidak mau berjanji kosong Papa akan perbaiki semuanya." Kata Papa air matanya akhirnya jatuh.
Setetes demi setetes. Sebelum kembali berbicara lagi.
"Kamu pantas punya Papa yang jujur dan bisa kamu banggakan. Dan Papa akan jadi itu lagi… kalau kamu masih mau memberi kesempatan.”
Aku menarik nafas perlahan
"Maaf Pa, aku gak bisa janji sekarang...... Tapi aku nggak menutup pintu karena Papa tetaplah Papaku." Ucapku pelan "tapi untuk kembali percaya lagi....... Sepertinya Aku butuh waktu."
Papa mengelus kepalaku
"Ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan..... Papa akan menunggu " kata Papa
Aku mengangguk.
Malam harinya suasana di rumah agak sedikit berbeda.
Semua yang biasanya sibuk dengan kegiatan masing-masing kali ini berkumpul di meja makan.
Memang kami sangat jarang makan malam bersama
Tapi suasananya sudah mulai berbeda yang awalnya canggung sekarang agak sedikit membaik.
Itu kemajuan yang bagus bukan?
Menurutku sudah bagus ya.
Semua makan dengan tenang tidak ada yang memulai percakapan dan mungkin tidak ada percakapan yang terlalu penting.
Setelah makan malam kami kembali sibuk pada aktivitas masing-masing.
Aku dan Kirana belajar
Mama yang sibuk membersihkan dapur
Papa yang sedang menonton film.
.....................
Saat tengah malam aku terbangun dan hendak menuju kamar mandi karena perutku terasa sakit.
Aku segera menuju kamar mandi.
Setelah selesai aku baru menyadari jika Papa masih duduk di ruang keluarga.
Aku melihat wajahnya memerah bahunya bergetar pelan
Suasana hening menyelimuti ruangan itu.
Aku menatapnya
Ada luka dan kecewa....
Tapi juga ada kerinduan yang tidak pernah hilang.
"Papa." Aku berbisik pelan
Papa mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca dan beliau terlihat rapuh bahkan lebih rapuh dari yang pernah kulihat sebelumnya.
"Iya Kak.... Papa disini." jawabnya
Aku berjalan pelan ke arahnya tanganku terangkat tapi aku merasa ragu dan bertanya pada diriku sendiri apakah Aku masih boleh mendapatkan sebuah pelukan.
"Aku masih sakit..... Tapi Aku butuh Papa." Bisikku pelan
Akhirnya aku berlutut dihadapannya dan memeluknya.
Bukan itu nggak erat karena Aku ragu, dan takut.
Tapi perlahan tubuhnya jatuh dalam pelukanku.
Papa terkejut
Tapi kemudian membalas pelukan itu . Sentuhanya sangat hati-hati seolah-olah tangannya takut menyakitiku lebih jauh.
"Papa minta maaf.... Terima kasih karena kamu masih mau mendekat." Ucapnya
Aku menutup mata dan merasa bahwa air matanya jatuh ke pundakku.
Aku menangis dipelukannya
"Papa.... Aku nggak ingin kehilanganmu, Aku ingin Papa jadi Papa yang kubanggakan." Suaraku pecah yang bergetar.
"Ya Papa akan berusaha menjadi lebih baik yang Papa bisa." Ucapnya
Aku mengeratkan pelukanku sedikit seolah memberi ruang bagi diriku agar tetap kuat, dan sekaligus memberi bagi Papa ruang untuk berubah.
"Aku belum sembuh Pa, tapi pelukan ini setidaknya membuatku tahu setidaknya membuatku tahu bahwa Papa ga pergi." Gumamku
"Papa ga akan pergi, dan Papa ga akan menyia-nyiakan kesempatan ini." Kata Papa
Pelukan itu cukup lama
Tidak ada kata-kata lagi
Yang ada hanyalah dua hati yang sama-sama terluka.
Tapi
Saling mencoba untuk menyembuhkan.
Malan itu terasa panjang
Dan pikiranku masih penuh dengan semua hal yang belum sempat aku paham i
Tadi aku memeluk Papa
Aku nggak tahu keberanian itu datang dari mana
Mungkin.........
Karena aku tak pernah dapetin pelukan itu sedari aku kecil
Atau mungkin......
Jika tadi aku tidak memeluknya aku akan kehilangannya selamanya.
Tapi.....
Pelukan itu membuat perasaanku kacau.
Ada bagian dalam diriku yang ingin menangis lebih keras.
Karena......
Pelukan itu membuatku itu teringat
Bahwa........
Aku masih sayang Papa
Aku masih mencintainya
Bahkan setelah semua luka itu.
Dan rasanya....
Sangat sakit
Sakit banget karena aku ingin marah sebanyak mungkin.
Tapi hatiku malah melembut
Apalagi......
Saat melihatnya menangis...
Seharusnya aku sudah tidur sekarang.
Tapi.......
Aku masih bisa merasakan tangannya yang gemetar saat Papa membalas pelukanku.
Kan suaranya yang pecah saat Papa bilang dia gak akan pergi.
Tuhan
Aku ingin sekali percaya
Tapi..... Ada bagian lain dari diriku masih takut.
Takut kalau besok semuanya kembali hancur.
Takut kalau kepercayaanku kembali disia-siakan.
Takut kalau aku akan kembali terluka.
Namun disisi lain.....
Malam ini adalah pertama kalinya sejak kejadian itu
Aku bisa kembali menarik nafas sedikit lebih lega.
Bukan karena semuanya sudah selesai
Tapi karena setidaknya Papa ga lari.
Setidaknya Papa mau mengakuinya
Setidaknya aku tidak sendirian memperbaiki hubungan ini.
Aku menatap langit-langit kamarku
Dalam hati aku berdoa
Agar aku kuat
Agar Papa kuat
Dan agar keluarga ini masih bisa diselamatkan.
Aku belum tahu apa yang terjadi besok
Atau Minggu depan
Atau bulan depan
Tapi aku yakin
Kalau Tuhan selalu besertaku
Tuhan akan pulihkan keluargaku.
Semoga pelukan tadi adalah awal yang baik.