Arama bagi para pujangga; Sattajati
Halo, namaku U-6. Aku hanya seorang umat Buddha biasa yang menjalani imannya dengan sebisanya. Ngomong-ngomong, hari ini adalah jadwalku untuk pergi ke vihara (tempat sembahyang umat Buddha).
~
*“♪♪♪♪”* Terdengar suara lantunan sutta Buddha.
“Permisi, Namo Buddhaya, Bhante.”
“Namo Buddhaya. Oh, Mas U-6, ya?”
“Sore, Bhante. Iya, saya mau sembahyang dulu. Permisi, Bhante. Namo Buddhaya.”
“Ya, silakan, silakan, Mas. Dupanya ada di rak, Mas, ambil aja.”
“Ya, Bhante, terima kasih.”
~
Kira-kira seperti itulah kejadian yang kualami setiap kali datang ke vihara ini. Setelah melakukan sembahyang, aku biasanya mendengarkan cerita-cerita dari para Bhante tentang Sang Buddha ataupun tentang Dhamma.
~
“Gimana kabarnya, Mas U-6?” tanya Bhante kepadaku.
“Baik, Bhante, saya selalu baik. Kalau Bhante sendiri gimana kabarnya?”
“Saya juga baik, baik sekali. Hidup di vihara selalu membuat saya merasa tenang dan bahagia.”
“Hahaha... saya setuju soal itu sih, Bhante. Kalau saya bisa tinggal di vihara, pasti enak.”
“Tapi Bhante, saya jadi penasaran, bagaimana cinta bisa muncul kalau seseorang hidup di vihara (menjadi bhikkhu/bhikkhuni)? Apakah seorang Bhante dilarang untuk mencintai?” ujarku pada Bhante. Semoga Bhante mau menjawab pertanyaan tidak berguna ini.
“Pertanyaan Mas U-6 memang suka menarik, ya. Bagaimana kalau saya jawabnya pakai cerita saja, Mas?”
“Boleh, boleh banget, Bhante. Mohon pelajarannya,” hormatku sembari berpose Anjali.
“Baik, saya jawab ya. Cerita ini berjudul: **Sattajati** (Tujuh Kelahiran)."
~
> Suatu ketika, ada seorang perempuan yang menangis di sebuah kuil Buddha. Wanita itu menangis tersedu-sedu di depan patung Sang Buddha. Buddha yang welas asih merasa prihatin dan iba pada wanita malang itu. Lalu, dari alam yang tak terkondisi, Sang Buddha akhirnya mewujud melalui patung perunggu di depan wanita malang tersebut.
> Sang Buddha pun bertanya, “Mengapa engkau menangis? Mengapa engkau bersedih?”
> Wanita yang terkejut dengan kehadiran Sang Buddha itu akhirnya menjawab, “Tathagata, saya kehilangan kekasih saya. Saya ditinggalkan olehnya. Tapi kami masih saling mencintai, mengapa dia harus pergi? Tathagata, tolong bantu saya, tolong persatukan kami lagi,” ujarnya sembari menangis di pangkuan Sang Buddha.
> Namun Buddha tidak mahakuasa, Dia tidak bisa memberikan keajaiban instan begitu saja pada wanita tersebut.
> “Tathagata, Anda pasti punya jalan untuk masalah saya. Tolong beri petunjuk agar saya bisa bersama dengan orang yang saya cintai,” ujar wanita malang tersebut.
> Sang Buddha yang tersentuh dengan ketulusan cinta wanita malang itu akhirnya memberi tahu bahwasanya dalam tujuh kehidupan ke depan, dia tidak akan bisa bersama dengan orang yang ia cintai. Mendengar hal tersebut, sang wanita menangis sejadi-jadinya. Namun, Sang Buddha melanjutkan perkataannya.
> “Benar bahwasanya kalian tidak akan bersama dalam tujuh kehidupan ke depan. Namun, di kehidupan-kehidupan selanjutnya, kalian akan senantiasa bersama dan tidak akan pernah terpisah lagi.”
> Mendengar hal tersebut, si wanita malang merasa sedikit tenang. Walaupun selama tujuh kehidupan tak bisa bersama, namun di kehidupan setelahnya mereka akan senantiasa bersama dalam cinta abadi.
~
“Saya jadi penasaran seberapa besar cinta mereka, sampai-sampai membuat Sang Buddha tersentuh.”
“Cinta mereka itu sebenarnya setipis untaian benang di tengah ngarai, cinta seperti itu bisa putus kapan saja. Sayangnya, cerita ini masih belum selesai. Karena itu, mari kita lanjut ceritanya.”
“Baik, Bhante. Terima kasih atas penjelasannya,” ucapku sambil meminta maaf karena telah memotong cerita beliau.
~
> Singkat cerita, wanita malang itu akhirnya menjalani kehidupan pertamanya. Dalam kehidupan ini, dia lahir sebagai sebuah pohon. Setelah hidup ratusan tahun, akhirnya dia tumbuh menjadi pohon yang kokoh.
> Suatu ketika, di tengah angin yang berembus dari selatan, seekor burung kecil hinggap di salah satu dahan pohon wanita malang tersebut. Dalam hati kecilnya, wanita itu tahu bahwa burung yang hinggap di dahannya adalah perwujudan dari kelahiran kekasihnya pada masa itu. Dengan segala upaya dia mencoba merangkul burung itu, namun apalah daya, sebuah pohon tidak akan bisa bersama dengan seekor burung. Sama seperti yang Buddha katakan, dalam kehidupan ini dia tidak bisa bersama sang kekasih.
....
> Di kehidupan kedua, karena tahu bahwasanya sang kekasih lahir sebagai burung di kehidupan sebelumnya, dia pun memilih untuk lahir sebagai burung agar bisa bersama dengan orang yang ia cintai.
> Namun alangkah sialnya dia, dalam kehidupan ini orang yang ia cintai malah terlahir sebagai seekor ikan yang berenang di aliran sungai. Dua makhluk yang berbeda alam, yang satu di air dan yang lain di langit, bahkan lebih tidak mungkin lagi untuk bersama. Sama seperti yang Buddha katakan, dalam kehidupan ini dia tidak bisa bersama sang kekasih.
....
> Walaupun dia menyadari bahwa dalam kehidupan ketiga ini dia mungkin tetap tidak akan bisa bersama dengan orang yang ia cintai, pada akhirnya dia tetap memilih untuk terlahir sebagai seekor ikan. Tatkala dia mencoba mencari orang yang ia cintai, ia justru dimangsa oleh seekor beruang. Sungguh nahas, bahkan dalam kehidupan ini dia tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya.
> Namun, saat ibu beruang itu hendak memberikan ikan tersebut untuk dimakan oleh anaknya, sang wanita menyadari bahwa anak dari beruang yang telah memangsanya adalah orang yang paling ia cintai. Di saat itu juga, ia menyadari bahwa kekasihnya pun merasakan ikatan yang sama. Namun kembali lagi, dalam kehidupan ini mereka masih tidak akan bisa bersama.
....
> Kehidupan-kehidupan selanjutnya pun berlalu dengan cepat, tak terasa sudah mencapai waktu yang ditentukan. Namun, saat mereka akhirnya bertemu kembali sebagai manusia, sang wanita dan kekasihnya tidak lagi menginginkan untuk bersama...
~
“Tunggu, Bhante. Kalau begitu, untuk apa mereka menjalani tujuh kehidupan itu?”
“Di tujuh kehidupan tersebut, mereka menyadari keberadaan satu sama lain tetapi tidak pernah bisa bersama. Terus, di kehidupan kedelapan, saat mereka akhirnya punya kesempatan untuk bersama, mereka justru menyadari bahwa **cinta mereka sudah sempurna. Dan tanpa bersama pun, mereka sudah saling mencintai.**”
“Begitu ya... Jadi karena tujuh kehidupan itu, akhirnya mereka sadar kalau cinta sejati itu tidak harus memiliki. Makasih , Bhante. Saya jadi paham makna cinta yang sejati.”
*“♪♪♪”* Terdengar suara dering ponsel.
“Sepertinya saya harus pulang. Terima kasih, Bhante. Namo Buddhaya, saya pamit dulu.”
“Ya, Namo Buddhaya, Mas. Hati-hati di jalan.”
~
Aku pun pulang karena istriku menelepon. Walaupun cinta sejati yang sedalam itu belum sepenuhnya kumengerti, tetapi pertemuan hari ini sangat bermakna untuk orang seperti diriku. Mungkin lain kali saat aku pergi ke vihara lagi, aku akan bertanya tentang "cinta yang salah" pada Bhante....