Desa kecil itu selalu ramai menjelang magrib. Anak-anak berlarian di jalanan berbatu, ibu-ibu duduk di teras sambil membersihkan sayur, dan suara ngaji dari surau kecil terdengar bersahutan dengan azan.
Di desa itu tinggal seorang gadis bernama Nadira.
Bukan santri. Bukan anak kyai. Hanya gadis desa biasa yang membantu ibunya berjualan gorengan di depan gang menuju pondok pesantren terbesar di kecamatan.
Setiap sore, Nadira selalu melihat para santri berlalu-lalang.
Dan di antara mereka… ada satu orang yang diam-diam membuat jantungnya berdebar.
Namanya Gus Farhan.
Putra kedua pemilik pondok.
Wajahnya tenang, tatapannya dingin, jarang bicara, dan hampir tak pernah tersenyum. Bahkan para santri sendiri segan padanya.
“Gus Farhan tuh serem ya…” bisik salah satu pembeli.
Nadira hanya tersenyum kecil sambil membungkus bakwan.
Serem bagi orang lain.
Tapi entah kenapa, bagi Nadira, lelaki itu justru terlihat menenangkan.
Mungkin karena setiap lewat, Gus Farhan selalu menundukkan kepala sopan pada ibunya.
Mungkin karena diam-diam Nadira pernah melihatnya membantu seorang kakek memperbaiki sepeda di pinggir jalan.
Atau mungkin… karena cinta memang tak pernah butuh alasan.
---
Hari-hari berikutnya, Nadira mulai sering memperhatikan Gus Farhan.
Kalau ada pengajian besar, ia pura-pura membantu ibunya lebih lama agar bisa melihat lelaki itu lewat.
Kalau mendengar suara motornya dari kejauhan, jantungnya langsung kacau.
Dan setiap malam sebelum tidur, Nadira selalu menertawakan dirinya sendiri.
“Mana mungkin gus pondok suka sama penjual gorengan…”
Namun perasaan tetaplah perasaan.
Tak bisa disuruh pergi.
---
Suatu sore hujan turun deras.
Jalanan depan pondok mendadak sepi. Nadira buru-buru mengangkat dagangan agar tak kehujanan.
Saat sedang kesulitan menutup gerobak, seseorang tiba-tiba memegang ujung terpal dari sisi lain.
“Pegang sini.”
Nadira membeku.
Gus Farhan.
Lelaki itu membantu tanpa banyak bicara. Bajunya ikut terkena hujan, tapi wajahnya tetap datar seperti biasa.
“Makasih, Gus…”
“Hm.”
Cuma itu jawabannya.
Setelah selesai, Gus Farhan hendak pergi. Tapi sebelum melangkah, ia melihat tangan Nadira yang kemerahan karena terkena air panas minyak.
“Obati.”
“Hah?”
“Lukanya.”
Lalu ia pergi begitu saja.
Nadira menatap punggungnya sambil memegangi dadanya sendiri.
“Ya Allah… bisa-bisanya cuma disuruh obatin luka aku udah salting begini…”
---
Sejak hari itu, Nadira makin jatuh hati.
Tapi ia sadar diri.
Perbedaan mereka terlalu jauh.
Karena itu, Nadira memilih menyimpan perasaannya sendiri.
Sampai suatu hari…
Seorang lelaki datang membeli gorengan menjelang malam.
Wajahnya mirip Gus Farhan, tapi jauh lebih hangat. Senyumnya ramah, matanya teduh, dan cara bicaranya santai.
“Tempe mendoannya lima, Mbak.”
Nadira mengangguk cepat.
Baru kali itu ia melihat lelaki tersebut.
“Panjenengan kakaknya Gus Farhan ya?”
Lelaki itu tertawa kecil.
“Ketahuan?”
“Iya… mirip.”
“Saya Faris.”
“Nadira.”
Sejak malam itu, Gus Faris jadi sering datang ke warung gorengan.
Kadang membeli kopi.
Kadang cuma duduk sebentar sambil menemani ibu Nadira ngobrol.
Berbeda dengan adiknya yang dingin, Gus Faris mudah akrab dengan siapa saja.
Dan tanpa Nadira sadari…
Tatapan Gus Faris kepadanya perlahan berubah.
---
“Sampean suka Farhan ya?”
Pertanyaan itu membuat Nadira tersedak teh.
“Hah?!”
Gus Faris tertawa pelan.
“Keliatan.”
Wajah Nadira langsung merah.
“Maaf…”
“Kenapa minta maaf?”
“Soalnya… nggak pantes aja.”
Gus Faris terdiam beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalau hati suka seseorang, nggak pernah ada kata pantes atau nggak.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tapi entah kenapa… mata Gus Faris terlihat sedih saat mengucapkannya.
---
Beberapa minggu kemudian, Nadira memberanikan diri memberikan kotak makanan untuk Gus Farhan.
Isinya sederhana.
Nasi, ayam kecap, dan sambal buatan ibunya.
Namun sebelum sempat diberikan, ia mendengar percakapan dua santri.
“Gus Farhan bentar lagi dijodohin sama anak kyai dari Jombang.”
Deg.
Langkah Nadira langsung berhenti.
Dadanya terasa sesak.
Malam itu ia pulang lebih cepat dan menangis diam-diam di kamar.
Bukan karena cemburu.
Tapi karena akhirnya ia sadar…
Sejak awal memang tak ada tempat untuknya.
---
Esok sorenya, Gus Faris datang lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Nadira menangis di depannya.
“Aku lucu ya, Gus…”
“Kenapa bilang begitu?”
“Aku cuma penjual gorengan tapi berani suka sama orang kayak Gus Farhan.”
Gus Faris diam.
Lalu pelan-pelan ia berkata,
“Kalau aku yang suka sama kamu… lucu juga nggak?”
Nadira langsung menatapnya kaget.
Hening.
Hanya suara hujan kecil di luar warung.
Gus Faris tersenyum tipis, meski matanya menyimpan kecewa.
“Aku udah berusaha nggak jatuh hati.”
“Tapi gagal.”
Nadira membeku.
Untuk pertama kalinya, ia sadar…
Selama ini ada seseorang yang selalu memperhatikannya.
Seseorang yang datang bukan karena lapar.
Bukan karena ingin membeli gorengan.
Tapi karena ingin melihatnya.
---
“Aku tahu,” lanjut Gus Faris pelan, “hati kamu masih ke Farhan.”
“Dan aku nggak mau maksa.”
“Tapi kalau suatu hari kamu capek berharap sama orang yang nggak bisa kamu gapai…”
Ia menatap Nadira lembut.
“Datanglah ke orang yang dari awal memang berjalan ke arahmu.”
Air mata Nadira jatuh lagi.
Bukan karena sedih.
Tapi karena baru kali itu ada seseorang yang mencintainya dengan begitu tulus.
Dan anehnya…
Kehangatan itu perlahan mulai mengalahkan rasa kagumnya pada lelaki dingin bernama Farhan.
Karena ternyata…
Dicintai dengan sederhana jauh lebih indah daripada mengejar seseorang sendirian.
Malam setelah pengakuan itu, Nadira tidak bisa tidur.
Ucapan Gus Faris terus terngiang di kepalanya.
> “Datanglah ke orang yang dari awal memang berjalan ke arahmu.”
Ia membolak-balik badan di kasur tipisnya sambil memegangi dada sendiri.
Perasaannya kacau.
Selama ini ia terlalu sibuk mengejar bayangan Gus Farhan sampai tidak sadar ada seseorang yang diam-diam menjaganya dari dekat.
Dan yang membuat Nadira makin bingung…
Ia tidak membenci perhatian itu.
---
Hari-hari berikutnya, Nadira malah jadi canggung setiap bertemu Gus Faris.
Kalau biasanya mereka bisa ngobrol santai, sekarang Nadira lebih sering salah tingkah sendiri.
“Tehnya kebanyakan gula.”
“Eh?! Astaga—”
“Bercanda.”
Nadira langsung manyun.
Gus Faris tertawa pelan melihat ekspresinya.
“Sampean lucu kalau gugup.”
“Gus Faris…”
“Iya?”
“Jangan godain saya terus.”
“Kalau nggak digodain, nanti ada yang ngambil.”
Nadira langsung salah tingkah sampai hampir menjatuhkan gelas.
Dan dari kejauhan…
Seseorang memperhatikan mereka diam-diam.
Gus Farhan.
Tatapannya datar seperti biasa.
Tapi entah kenapa, langkahnya berhenti lebih lama dari biasanya.
---
Malam itu, untuk pertama kalinya Gus Farhan masuk ke warung gorengan sendirian.
Nadira sampai bengong.
Biasanya lelaki itu hanya lewat.
“Tempe dua.”
“Oh… iya…”
Nadira buru-buru membungkus pesanannya.
Suasana jadi canggung.
Sangat canggung.
Karena selama ini Nadira selalu membayangkan momen bisa bicara berdua dengan Gus Farhan.
Tapi sekarang justru dadanya tidak lagi seberdebar dulu.
“Dengar-dengar Gus mau dijodohkan…”
Ucapan itu keluar begitu saja.
Gus Farhan terdiam.
“Siapa bilang?”
“Santri pondok ngomong begitu.”
“Belum tentu.”
Nadira mengangguk kecil.
Lalu hening lagi.
Sampai akhirnya Gus Farhan berkata pelan,
“Kak Faris sering ke sini?”
“Iya…”
“Dia suka kamu.”
Nadira membeku.
Gus Farhan menatapnya tenang.
“Dan dia nggak pernah serius ke perempuan sebelumnya.”
Jantung Nadira berdetak aneh.
“Aku tahu.”
“Kalau begitu jangan bikin dia nunggu terlalu lama.”
Setelah mengatakan itu, Gus Farhan pergi begitu saja.
Meninggalkan Nadira yang berdiri mematung sambil memegang bungkus gorengan.
Untuk pertama kalinya…
Lelaki yang selama ini ia sukai justru mendorongnya menuju orang lain.
Dan anehnya, hati Nadira tidak sesakit yang ia bayangkan.
---
Beberapa hari kemudian, pondok mengadakan pengajian besar.
Warung ibu Nadira ramai sekali malam itu.
Nadira sibuk melayani pembeli sampai tak sadar tangannya terkena cipratan minyak panas.
“Ah!”
Baru saja ia meringis, seseorang langsung menarik tangannya cepat.
“Mana lihat.”
Nadira terdiam.
Gus Faris berdiri di depannya dengan wajah panik.
“Sampean tuh kalau kerja suka ceroboh.”
“I-ini cuma sedikit…”
“Sedikit kata siapa?”
Gus Faris meniup pelan tangannya yang kemerahan.
Dan bodohnya…
Jantung Nadira malah berdebar lebih keras dibanding saat bersama Gus Farhan dulu.
Karena perhatian kecil itu terasa nyata.
Hangat.
Dekat.
Tidak seperti cinta diam-diam yang hanya bisa dipandangi dari jauh.
---
Malam semakin larut.
Setelah pengajian selesai dan warung mulai sepi, Gus Faris membantu Nadira membereskan kursi-kursi plastik.
“Capek?”
“Lumayan.”
“Besok jangan jualan dulu.”
“Nanti ibu sendirian.”
“Aku bantu.”
Nadira tertawa kecil.
“Gus pondok bantu jualan gorengan?”
“Kenapa? Malu?”
“Bukan gitu…”
“Kalau buat kamu, aku nggak malu.”
Kalimat itu membuat Nadira diam cukup lama.
Angin malam berembus pelan membawa aroma tanah basah setelah hujan.
Dan di bawah lampu jalan yang redup…
Nadira akhirnya berkata lirih,
“Kalau aku belajar buat buka hati…”
Gus Faris menatapnya perlahan.
“Sampean mau nunggu?”
Senyum Gus Faris kali ini begitu lembut.
“Dari awal juga aku nggak ke mana-mana.”
Air mata Nadira hampir jatuh lagi.
Tapi kali ini bukan karena kecewa.
Melainkan karena akhirnya ia sadar…
Kadang seseorang hadir bukan untuk membuat kita jatuh cinta sekeras mungkin.
Melainkan membuat kita merasa pulang.
Dan malam itu—
Untuk pertama kalinya, Nadira mulai berjalan ke arah orang yang sejak awal selalu berjalan ke arahnya.