Malam itu hujan turun deras di kota kecil tempat Ave tinggal. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, sementara musik pelan dari sebuah kafe menemani kesunyian malam. Ave duduk sendiri di dekat jendela, menatap layar ponselnya yang sejak tadi tak berhenti menampilkan nama yang sama.
Karan.
Nama yang dulu selalu membuat jantungnya berdebar, kini justru menghadirkan sesak di dada.
“Aku cuma pengen ketemu sekali aja, Ave.”
Pesan itu sudah dibaca berkali-kali, tapi Ave tak berniat membalas. Jemarinya hanya menggenggam cangkir kopi hangat sambil mencoba mengingat bagaimana semuanya bisa berubah seburuk ini.
Dulu, Karan Ardion adalah rumah paling nyaman untuknya. Cowok dengan senyum tenang dan suara lembut itu pernah berjanji tidak akan meninggalkan Ave apa pun yang terjadi. Mereka melewati banyak hal bersama—ulang tahun sederhana, hujan-hujanan di halte, sampai mimpi-mimpi kecil tentang masa depan.
Sampai suatu hari, Kael menghancurkan semuanya.
Bukan karena orang ketiga. Bukan juga karena mereka berhenti saling cinta. Tapi karena Karan memilih pergi saat Ave paling membutuhkan dirinya.
Saat ayah Ave meninggal, Karan justru menghilang tanpa kabar selama berminggu-minggu. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata tenang. Bahkan satu pesan pun tidak.
Dan ketika akhirnya Karan kembali, semuanya sudah terlambat.
“Aku takut menghadapi keadaan waktu itu…” ucap Karan pelan malam terakhir mereka bertemu.
Aver tertawa kecil, pahit.
“Aku juga takut, Kael. Tapi aku tetap tinggal.”
Kalimat itu terus terngiang sampai sekarang.
Ponsel Ave kembali bergetar.
“Aku di luar kafe.”
Napas Ave tertahan. Perlahan ia menoleh ke luar jendela. Di bawah guyuran hujan, Karan benar-benar berdiri di sana. Basah kuyup, memandang ke arah dalam dengan tatapan penuh penyesalan.
Untuk sesaat, hati Ave goyah.
Ia masih mencintainya. Itu kenyataannya.
Namun cinta ternyata tidak selalu cukup untuk memperbaiki sesuatu yang sudah hancur terlalu dalam.
Karan masuk ke dalam kafe dengan langkah ragu. Cowok itu terlihat jauh lebih lelah dibanding terakhir kali mereka bertemu.
“Ave…” suaranya serak. “Aku tahu aku salah.”
Averine diam.
“Aku pikir waktu bisa memperbaiki semuanya. Tapi makin lama aku sadar… aku kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar tulus sama aku.”
Hening.
Suara hujan di luar terasa semakin keras.
“Aku nggak minta semuanya balik seperti dulu,” lanjut Karan. “Aku cuma mau kesempatan kedua.”
Averine menatap wajah lelaki itu lama sekali. Wajah yang pernah menjadi tempat pulangnya. Wajah yang dulu paling ia percaya.
Lalu perlahan, ia tersenyum tipis.
“Karan… semua orang bisa minta maaf.”
Karan menatapnya penuh harap.
“Tapi nggak semua luka bisa diberi kesempatan kedua.”
Tatapan Karan langsung jatuh. Untuk pertama kalinya, cowok itu terlihat benar-benar kalah.
Ave berdiri, mengambil tasnya, lalu meletakkan uang di meja.
“Aku pernah nunggu kamu datang waktu dunia aku hancur,” katanya lirih. “Dan kamu nggak datang.”
Karan menunduk, kedua tangannya mengepal lemah.
“Aku capek mencintai seseorang yang baru sadar kehilangan setelah semuanya terlambat.”
Setelah mengatakan itu, Ave melangkah pergi meninggalkan kafe. Hujan masih turun, tapi entah kenapa malam terasa jauh lebih ringan.
Di belakangnya, Kael tidak mengejar.
Karena akhirnya mereka sama-sama mengerti…
Bahwa dalam hidup, ada kesalahan yang masih bisa diperbaiki.
Dan ada juga kehilangan yang memang tidak pernah diberi kesempatan kedua.
Selesai