Di sebuah desa yang tenang dan penuh pepohonan, hiduplah seorang anak laki laki bernama Riko. Rambutnya hitam sedikit berantakan dan matanya selalu berbinar penuh rasa penasaran.
Riko tinggal bersama neneknya di rumah kecil dekat bukit. Orang tua Riko bekerja di kota sehingga ia lebih sering ditemani neneknya setiap hari.
Riko adalah anak yang aktif dan suka bermain. Ia suka berlari di sawah, memanjat pohon mangga, dan menangkap capung di dekat sungai.
Namun, Riko memiliki satu sifat buruk.
Ia sangat mudah bosan.
Kalau melakukan sesuatu sedikit saja terasa sulit, ia langsung menyerah.
Saat belajar menggambar, ia berhenti karena merasa gambarnya jelek.
Saat belajar bermain sepeda, ia marah karena beberapa kali jatuh.
Bahkan ketika membantu nenek menyiram tanaman, ia cepat mengeluh.
“Nek, capek sekali...” katanya sambil duduk selonjoran.
Nenek hanya tersenyum lembut.
“Kalau baru sebentar sudah menyerah, kapan bisa berhasil?”
Tetapi Riko tetap cemberut.
Suatu pagi yang cerah, Riko berjalan menuju bukit belakang desa sambil membawa ketapel kecilnya. Ia berniat bermain sendirian karena teman temannya sedang membantu orang tua mereka di sawah.
Saat berjalan melewati jalan setapak, Riko melihat sesuatu yang aneh.
Ada cahaya warna warni muncul di balik pepohonan.
“Eh? Itu apa?”
Karena penasaran, Riko mengikuti cahaya itu.
Semakin jauh ia berjalan, semakin indah pemandangan di sekitarnya. Bunga bunga bermekaran dengan warna cerah, kupu kupu beterbangan, dan udara terasa sangat sejuk.
Tak lama kemudian, Riko tiba di sebuah taman yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Taman itu sangat indah.
Rumputnya hijau lembut.
Bunganya berwarna warni seperti pelangi.
Di tengah taman ada pohon besar dengan buah buah emas yang berkilau terkena sinar matahari.
“Wahhh...” Riko terpukau.
Tiba tiba terdengar suara kecil dari balik semak.
“Halo!”
Riko terkejut lalu menoleh cepat.
Seekor kelinci putih kecil muncul sambil membawa wortel.
“Aku Lumu,” kata kelinci itu.
Riko membelalakkan mata.
“Kelinci bisa bicara?!”
Lumu tertawa kecil.
“Tentu saja bisa. Ini Taman Pelangi.”
Riko semakin kagum.
Tak lama kemudian, datang hewan hewan lain.
Ada tupai kecil bernama Ciko, burung biru bernama Pipi, dan kura kura tua bernama Momo.
Mereka menyambut Riko dengan ramah.
“Jarang ada manusia datang ke sini,” kata Pipi.
“Kenapa tempat ini tersembunyi?” tanya Riko.
Karena penasaran, Riko mengikuti cahaya itu.
Semakin jauh ia berjalan, semakin indah pemandangan di sekitarnya. Bunga bunga bermekaran dengan warna cerah, kupu kupu beterbangan, dan udara terasa sangat sejuk.
Ada tupai kecil bernama Ciko, burung biru bernama Pipi, dan kura kura tua bernama Momo.
Mereka menyambut Riko dengan ramah.
“Jarang ada manusia datang ke sini,” kata Pipi.
“Kenapa tempat ini tersembunyi?” tanya Riko.
Momo yang bijaksana menjawab pelan,
“Karena taman ini hanya bisa ditemukan oleh anak yang memiliki hati baik.”
Riko tersenyum bangga mendengarnya.
Hari itu, Riko bermain bersama mereka.
Ia membantu Ciko mengumpulkan kacang.
Membantu Pipi mengambil air di sungai kecil.
Dan bermain kejar kejaran bersama Lumu.
Riko sangat bahagia.
Namun saat matahari mulai turun, tiba tiba langit berubah mendung.
Angin bertiup cukup kencang.
Bunga bunga di taman mulai berguguran.
“Ada apa?” tanya Riko panik.
Wajah hewan hewan itu terlihat sedih.
“Pohon Pelangi mulai layu,” kata Lumu pelan.
Riko melihat pohon besar di tengah taman.
Daunnya perlahan berubah kusam.
“Kalau Pohon Pelangi mati, taman ini akan hilang,” ujar Pipi hampir menangis.
Riko ikut sedih.
“Kenapa bisa begitu?”
Momo berjalan mendekat.
“Karena akhir akhir ini tidak ada yang merawat taman ini dengan sabar.”
Riko langsung berkata cepat,
“Kalau begitu kita rawat bersama saja!”
Hewan hewan itu terlihat senang.
Mereka segera bekerja bersama.
Ciko mengumpulkan air.
Pipi membawa biji bunga.
Lumu membersihkan rumput.
Sementara Riko membantu menyiram Pohon Pelangi.
Awalnya Riko bersemangat.
Namun setelah beberapa saat, ia mulai kelelahan.
“Aduh... capek juga.”
Ia duduk di bawah pohon sambil mengeluh.
Lumu mendekat lalu berkata,
“Kalau berhenti sekarang, pohonnya tidak akan sembuh.”
“Tapi aku lelah.”
Momo tersenyum lembut.
“Hal baik memang membutuhkan kesabaran.”
Riko terdiam.
Ia teringat ucapan neneknya selama ini.
Bahwa ia terlalu mudah menyerah.
Riko menarik napas panjang lalu berdiri lagi.
“Baiklah! Aku akan membantu sampai selesai!”
Mereka bekerja hingga malam.
Riko bolak balik mengambil air dari sungai kecil.
Tangannya pegal.
Kakinya lelah.
Tetapi kali ini ia tidak menyerah.
Saat bulan mulai muncul di langit, sesuatu yang ajaib terjadi.
Pohon Pelangi tiba tiba bersinar terang.
Daun daunnya kembali hijau.
Bunganya bermekaran indah.
Bahkan buah buah emasnya bersinar lebih terang dari sebelumnya.
“Berhasil!” teriak semua hewan gembira.
Riko tertawa senang.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena tidak menyerah.
Momo mendekatinya sambil tersenyum.
“Kau sudah berubah hari ini.”
Riko menggaruk kepala malu malu.
“Mungkin sedikit.”
Keesokan paginya, Riko terbangun di dekat bukit desa.
Ia sempat bingung.
Apakah semua itu hanya mimpi?
Namun di sampingnya terdapat satu buah emas kecil dari Pohon Pelangi.
Riko tersenyum lebar.
Sejak hari itu, Riko tidak lagi mudah menyerah.
Ia mulai rajin membantu nenek.
Belajar menggambar dengan sabar.
Dan terus mencoba meski mengalami kesulitan.
Karena ia sadar, sesuatu yang indah hanya bisa didapat oleh orang yang mau berusaha dan tidak mudah menyerah.
Kesimpulan:
Kita tidak boleh mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Dengan kesabaran dan kerja keras, kita bisa mencapai hal yang indah dan membanggakan.