Kue rasa coklat dengan hiasan buah ceri di atasnya. Teksturnya lembut, tingkat kemanisannya pas, dan aroma coklatnya dapat tercium bahkan dari luar toko. Kue tersebut bernama “Happy Cake”.
Banyak orang mengatakan bahwa siapa pun yang memakannya akan merasa senang. Oleh karena itu, kue tersebut menjadi sangat populer di kota kami. Namun, sayangnya harga Happy Cake sangat mahal, sehingga tidak semua kalangan dapat membelinya.
Biasanya, pelanggan yang mengunjungi toko tersebut adalah kaum hartawan atau keluarga terpandang.
“Ibu, aku mau beli kue itu saat ulang tahunku yang ke-13 nanti.”
Aku menunjuk poster besar di pinggir jalan sambil menatap gambar Happy Cake dengan mata berbinar.
“Iya, Nak. Nanti ibu usahakan, ya.”
Aku langsung tersenyum lebar saat mendengarnya. walaupun hanya jawaban sederhana, itu sudah cukup membuatku senang. Sepanjang perjalanan pulang, aku terus membayangkan bagaimana rasanya Happy Cake.
Sesampainya di rumah, aku kembali melihat kalender yang tergantung di dinding ruang tamu. Aku menghitung hari menuju ulang tahunku sambil tersenyum sendiri.
"sebentar lagi..." gumamku pelan.
Hari demi hari aku selalu membayangkan bagaimana rasanya memakan Happy Cake itu. Setiap malam sebelum memejamkan mata bayangan tentang Happy Cake selalu muncul di tiap benakku.
Aku bisa membayangkan bagaimana garpu kecil memotong tekstur lembutnya, dan bagaimana rasa manis coklat itu meleleh di mulutku. Aku menghitung mundur hari menuju ulang tahunku sendiri.
Hingga akhirnya, hari yang kunantikan itu tiba.
Pagi itu, rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Ibu tidak ada di dapur, hanya ada selembar catatan kecil di atas meja makan: "Ibu pergi sebentar karena ada urusan."
Jantungku berdegup kencang. Apakah ibu sedang pergi membeli kue itu? Aku menghabiskan seluruh siang dengan duduk di dekat jendela, menatap ujung jalan, menanti kedatangan ibu.
Matahari mulai tergelincir ke barat, mengubah langit menjadi jingga keunguan. Rasa cemas mulai merayap di hatiku. Baru mulai lampu-lampu jalan mulai menyala, siluet ibu terlihat dari kejauhan.
Langkahnya nampak lelah, bahunya agak turun, dengan kantong plastik kecil di tangannya. Sesampainya ibu di depan rumah, aku bergegas lari menuju pintu dan mendorongnya hingga terbuka.
Saat kulihat wajahnya, keringat membasahi pipinya. Matanya tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan, namun ibu masih tersenyum hangat saat melihatku. Dengan suara lembut, ia menyuruhku masuk dan menunggu di ruang tamu.
Perasaanku bercampur aduk, senang dan sedih mulai muncul bersamaan. Aku hanya bisa menahan air mata yang hampir jatuh saat melihat keadaan ibu.
Beberapa saat kemudian, ibu keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tamu. Ia tersenyum kecil lalu menyuruhku menutup kedua mata. Saat itu aku berpikir, mungkin ini saatnya aku merasakan Happy Cake? Perlahan rasa senang mulai mengalahkan rasa sedih yang sejak tadi mengganggu pikiranku.
Aku segera menutup mata dengan kedua tangan. Terdengar suara kotak yang dibuka perlahan, lalu gesekan korek api yang memecah keheningan malam. Aroma manis cokelat mulai tercium samar-samar di hidungku.
"Sekarang buka matanya."
Saat kubuka mata, di depanku sudah ada sepotong Happy Cake. Hanya sepotong kecil. Namun sebelum aku sempat bertanya apapun, ibu mulai menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara gemetar. Air matanya jatuh satu per satu tanpa bisa ia tahan. Senyumnya tetap ada, tetapi terlihat rapuh.
Aku hanya terdiam sampai lagu itu selesai. Dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menahanku untuk berbicara.
Lalu ibu berkata pelan,
"Ayo makan kuenya, nak. Maaf ibu baru bisa beli sepotong, Tahun depan ibu usahakan lebih baik lagi, ya?"
Mendengar itu, air mataku akhirnya jatuh tanpa bisa kutahan lagi.
"Maaf, Bu..."
Tanpa pikir panjang, aku langsung memeluk ibu dengan erat. Berkali-kali aku mengucapkan kata yang sama. Maaf.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku mengerti...
Bahwa hadiah ulang tahun paling indah bukanlah barang mahal atau kue mewah, melainkan ucapan tulus dari orang tua yang selalu mendoakan kebahagiaan anaknya.