PARA PEMAIN:
— Dewi Tyasari + Lee Kwang-Soo.
— ⛩️🏮C16(Lisaa-px🍀 + Kenshi Yonezu.
—————————————————
— Dewi Tyasari • (Tangisan Dihari Pernikahan).
#FLASHBACK ON.
***
"Dewi maukah kamu menikah denganku ?"
"Iya. Aku mau ."
Dewi tak bisa untuk tidak membendung perasaan bahagianya. Matanya berkaca-kaca dan menutup mulutnya dengan kedua tangan karena tak percaya dengan apa yang barusan Ia dengar dari seorang Lee Kwang-soo, yang merupakan kekasihnya yang selama ini telah menemaninya selama 2 tahun terakhir.
Lee Kwang-soo sendiri adalah orang pertama yang berani mengajaknya berpacaran di depan umum. Dan hal itu sukses membuat Dewi membulatkan kedua matanya tak percaya atas tindakan Kwang-soo padanya.
.
Bagaimana tidak ?
.
Kwang-soo tiba-tiba mengajaknya berpacaran disaat Dewi sendiri tidak mengenal laki-laki itu. Dewi yang mendapat sorakan dukungan dari orang-orang disana membuatnya merasa sedikit malu. 'Wajahku pasti sudah memerah sekarang.. Haih dasar pipi kurang bersyukur.' umpatnya sendiri di dalam hati.
Bayangkan saja saat dirinya berada di sebuah perpustakaan umum. Lalu tiba-tiba di datangi seseorang yang sendirinya sendiri tidak mengenal siapa orang itu dan tiba-tiba malah menyatakan perasaannya di depan Dewi.
..
Dan hal itu kembali terjadi padanya saat Kwang-soo mengajaknya untuk menikah dengannya di depan umum. Saat itu Dewi tidak tau akan mendapatkan kejutan yang hampir saja membuatnya jantungan tak bernafas karena ulah kekasihnya. Karena malam itu Kwang-soo hanya mengatakan ingin makan malam saja.
#FLASHBACK OFF.
***
Dan pada hari ini adalah hari spesial bagi Dewi. Karena hari ini merupakan hari kebahagiaan untuk Dewi dan juga Kwang-soo. ( Hari Pernikahan ).
Dewi terlihat sangat cantik dengan balutan Gaun putih yang Ia kenakan saat ini. Dan menampilkan betapa anggunnya dirinya saat memakai gaun pernikahan. Yang juga sebentar lagi akan menyandang status istri dan marga seorang Lee Kwang-soo.
..
Dewi menunggu calon suaminya datang karena tadi pagi mereka berdua datangnya tidak bersamaan. Karena Kwang-soo masih ada suatu pekerjaan yang mengharuskannya menyelesaikan tugas pekerjaan tersebut.
1 jam telah berlalu Dewi menunggu kedatangan Kwang-soo. Namun belum menandakan adanya tanda-tanda calon suaminya. Dewi dibuat resah saat ponsel calon suaminya sudah tidak dapat dihubungi.
"Kwang-soo, kamu dimana ?" tanya Dewi pada dirinya sendiri.
Kekhawatiran Dewi semakin menjadi-jadi saat dirinya mendapat sebuah panggilan dari seseorang tak dikenal. Dewi awalnya sedikit ragu untuk mengangkat panggilan tersebut. Takut-takut terjadi sesuatu yang tak di inginkan, Namun akhirnya Ia memberanikan diri untuk mencoba mengangkatnya.
"Halo, selamat siang! "
"Siang. "
"Apakah benar ini dengan saudari Dewi Tyasari ?"
"Be-benar. Ini saya sendiri. "
"Begini. Saya ingin menyampaikan bahwa saudara Lee Kwang-soo mengalami kecelakaan tabrak lari yang mengakibatkan saudara Kwang-soo meninggal ditempat kejadian.. Saya harap anda bisa ke rumah sakit XXXXX untuk mengurus pengambilan jenazahnya!. "
Degh~~
Dewi menjatuhkan ponsel yang Ia pegang. Dirinya ambruk ke lantai dan menangis sejadi-jadinya. "Tidaaaak!! Kwang-soo. "
>>>>
"Tidak mungkin!!" Dewi menutup mulutnya tak percaya, dirinya menangis histeris lantaran melihat seseorang yang dicintainya selama 2 tahun terakhir telah berbaring tak bernyawa di sebuah rumah sakit.
"Aarrrrrghh. Tidaaaak Kwang-soo tidak mungkin pergi. Dia mencintaiku, dia sudah berjanji akan menikahiku hari ini. Dia tidak akan meninggalkanku.. Kwang-soo bangun!! Bangun brengsek!! kau tidak boleh mengingkari janjimu." teriak Dewi dengan memukul-mukul dada sang kekasih yang mungkin sudah tak dapat Ia dengar..
"Aku mohon, Kwang-soo bangunlah!! "
Habis..
***
Next >>>>
___________________________________
***
— ⛩️🏮C16(Lisaa-px🍀 • (Aku bersamamu).
..
"Papa sudah bilang sebelumnya, jangan pernah berpacaran dengannya!! Dia itu hanya laki-laki miskin yang tidak akan menjamin kebahagiaanmu. Sekarang apa? Kau malah dihamili olehnya?!! " Bentakan sang papa membuat Lisa tak dapat menahan tangisannya.
"Maafkan, Lisa yah. Maafkan Lisa. " Lisa menghampiri sang papa untuk memohon maaf atas apa yang telah terjadi padanya. Lisa juga tak menginginkan hal ini terjadi, ini semua diluar kendalinya.
"Sekarang gugurkan janin itu !!"
Lisa menggeleng cepat! Ia tak menyetujui dengan keputusan sang ayah. "Tidak ayah!! Aku tidak mau! janin ini tidak bersalah. "
"Janin itu mungkin memang tidak salah Lisa. Tapi jika janin itu terus berada di dalam perutmu, Maka keluarga kita yang akan menanggung malu. KAU TAU!. "
"Hiks.. maafkan Lisa ayah." Lisa bersujud di kaki sang ayah agar sang ayah mau memaafkannya dan mau menerima janin yang Ia kandung. Namun harapannya tak sesuai dengan yang diharapkannya.
"Gugurkan kandungan itu!! Atau pergi dari sini!!"
"Yah, Apa yang ayah katakan ?"
"Diam kamu Sali !!"
"Tapi ini keterlaluan ayah, Lisa gak salah apa-apa. ini hanya diluar kendalinya mereka."
"AYAH MENYURUHMU DIAM !!" bentak sang ayah kepada Sali anak pertamanya. Sali mungkin tak pernah perduli dengan apapun yang terjadi di keluarganya. Tapi ini menyangkut sang adik Lisa. Meskipun Sali selalu bersikap tak acuh pada adiknya tapi dia juga tidak akan tinggal diam jika ayahnya telah melakukan perkataan di luar batas.
"Ayah, keterlaluan! Lisa ayo kakak antar kamu ke kamar ."
Sali mencoba mengangkat Lisa dan mengantarkannya ke dalam kamar agar ayahnya tak semakin kesal. Tapi uluran tangan Sali terhenti saat sang ayah berucap kembali.
"Lisa. Kau pilih mempertahankan janin itu, atau keluar dari sini ."
"Yah !"
"Tidak apa-apa kak. Sudah !"
Lisa berdiri dari duduknya, mengusap air mata yang selalu jatuh di pipinya. Lisa menarik nafasnya pelan, Ia sudah siap untuk mengambil keputusannya.
"Aku memilih untuk keluar dari sini !"
"Dek. Apa yang kamu katakan? Gak ada yang boleh keluar dari rumah ini !"
"Jadi kau memilih untuk mempertahankan anak haram ini? eoh ?" ucap sang ayah.
"Ayah! Cukup! Hentikan omongan tidak masuk akal ini! Lisa adalah anggota keluarga kita! Bagaimana mungkin ayah mengusirnya seperti ini! " siapa lagi yang berani berseru seperti ini jika bukan Sali anak pertama keluarga itu.
"A-ayah, aku akan pergi. Maafkan kebodohanku. Tapi aku benar-benar tidak bisa membunuh janinku sendiri ."
Begitu banyak keberanian yang harus Lisa kumpulkan untuk mengatakan kalimat demikian dengan tanpa diselingi isakkan. Mungkin jika Lisa pergi, keluarganya tidak akan merasa sedikitpun kehilangan. Terlebih ayahnya.
Sedangkan bayinya? dia hanya memiliki Lisa. Mana mungkin Lisa membiarkan calon bayinya pergi dari dunia ini. Bagaimana bisa Ia melepaskan tanggung jawab nya begitu saja. Lisa tidak bisa.
...
Sali terus menerus membujuk ayahnya dan menahan Lisa. Tapi telinga Lisa hanya penuh akan ketakutan jika akan terjadi hal buruk pada calon bayinya. Dia tidak mendengarkannya. Dia tuli saat itu juga dan hanya mampu menyeret kakinya untuk mengemasi barang-barangnya.
"Apakah aku mengizinkanmu untuk membawa barang-barang dari rumah ini ?"
Lisa mematung. Itu artinya Ia harus pergi begitu saja?
Untuk detik ini tentu saja Lisa tidak memiliki alasan untuk menolak. Dia tidak punya hak. Jadi dia hanya mengangguk dan berjalan keluar rumah yang telah menjadi tempat bernaungnya selama delapan belas tahun.
"Lisa! " seseorang menahan tangannya. Siapa lagi jika bukan Sali.
"Kakak ." panggil Lisa lirih.
Sali tahu betapa hancurnya Lisa saat ini. Dan betapa Lisa tidak bisa berdiri seorang diri. Itu mustahil. Lisa hanya seorang bocah berusia delapan belas tahun. Yang belum paham apapun soal dunia berjalan.
"Pastikan kau pulang, Mengerti !"
'Pulang ? Apa Lisa masih memiliki 'rumah' untuk saat ini ? Dia tidak tahu. Dia benar-benar tidak tahu apapun saat ini.
Karenanya Ia tidak mengangguk atau menggeleng, melainkan hanya tersenyum singkat dan berlari ke luar rumah. Secepat yang Ia bisa. Sehingga Ia tidak harus terlalu lama merasa sakit. Berjalan dan terus berjalan. Tidak tahu kemana Ia akan pergi.
"Hahhh... Hahhhh"
Lisa akhirnya menghentikan langkahnya di sebuah taman. Ia duduk di sana. Menunduk dalam dan kembali menangis. Tidak peduli suaranya terdengar seolah akan pecah. Dia tidak peduli. Karena ini sangat sulit. Dan sangat sakit untuknya.
Tubuhnya yang sangat lemas tiba-tiba saja tersentak, dan detik berikutnya Ia merasakan tubuhnya berada dalam pelukan seseorang.
Aroma tubuh orang yang memeluknya terasa tidak asing. Dan saat menghirup aroma itu, Lisa tahu bahwa Ia tidak harus menghadapi semua ini seorang diri. Lisa balas memeluk orang itu. Menenggelamkan kepalanya dan mulai menangis hebat. Tidak menahan isakkan maupun air matanya. Bahkan saat suaranya teredam di dalam pelukan, itu masih mampu terdengar sangat memilukan.
***
Tidak ada yang lebih semenyedihkan dari pemandangan ini. Bahkan orang yang sedang dengan erat memeluknya turut tiada mampu berkata-kata. Hanya memeluk Lisa, membelai rambutnya, meredam tangisnya. Sambil diam-diam menyalahkan dirinya sendiri.
"Jangan menangis lagi.. Aku di sini, aku bersamamu, mengerti? " jemari itu mengangkat wajah Lisa yang pucat.
"Kenshi.. Aku takut ." lirihnya dengan nada bergetar.
"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik ."
Dia adalah Kenshi Yonezu.. Ayah dari anak yang sedang dikandungnya saat ini. Kekasihnya Lisa. Dan mungkin satu-satunya orang yang masih bisa Ia percaya saat ini.
SELESAI.
****
Cerita ini spesial untuk kalian berdua karena tidak di satukan dengan cerita kemaren.. Maaf jika ceritanya tidak bagus. Semoga kalian suka.