Notifikasi yang Hilang
Hujan turun pelan malam itu. Suara rintiknya memantul di jendela kamar Vellan yang sedikit terbuka. Lampu kamar remang-remang, sementara layar ponselnya menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi wajah gadis itu.
Grup kelasnya sedang ramai.
“WOI KALIAN MAIN ROBLOX GAK?”
“Seru banget sumpah.”
“Map horornya bikin jantungan.”
“Vel pasti cocok main game beginian.”
Vellan mendecakkan lidah kecil sambil tertawa sendiri.
“Apa sih bagusnya kotak-kotak gitu…” gumamnya.
Namun rasa penasaran tetap menang.
Besoknya, saat jam istirahat, Bulan langsung duduk di sebelahnya.
“Jadi download gak?” tanya Bulan semangat.
“Udah sih…”
“Nah kan. Bilang aja penasaran.”
Tesa ikut menyahut sambil membuka bekalnya.
“Hati-hati aja Vel. Biasanya yang awalnya cuma coba-coba malah jadi penghuni tetap Roblox.”
“Lebay,” jawab Vellan sambil tertawa.
Namun ternyata ucapan Tesa benar.
Awalnya Vellan hanya bermain dengan teman sekolah dan adiknya. Mereka mencoba berbagai map aneh yang kadang membuat mereka tertawa sendiri.
Sampai suatu malam, Vellan masuk ke sebuah map bernama “Taman Musim Gugur”.
Map itu berbeda.
Tidak ramai.
Tidak berisik.
Hanya ada pohon-pohon berwarna jingga, bangku taman, daun yang terus berjatuhan, dan lampu jalan kecil yang membuat suasana terasa hangat.
Map itu dibuat khusus untuk orang-orang mengobrol.
Dan malam itu, seseorang menghampirinya.
Avatar laki-laki berbaju hitam duduk di bangku sebelahnya.
“Sendirian?”
Vellan menoleh.
Username-nya sederhana.
*Barra.*
“Iya,” jawab Vellan.
“Nunggu temen?”
“Enggak juga.”
“Berarti sekarang udah ada temennya.”
Vellan tertawa kecil.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa menyenangkan.
Sejak malam itu, mereka mulai sering bermain bersama.
Awalnya hanya ngobrol ringan.
Tentang sekolah.
Tentang game.
Tentang makanan favorit.
Tentang hal-hal random yang sebenarnya tidak penting, tapi terasa menyenangkan saat dibahas bersama.
Setiap malam, Vellan selalu menemukan Barra di map yang sama.
Kadang mereka duduk di bangku taman virtual sambil melihat avatar orang lalu-lalang.
Kadang mereka berjalan mengelilingi map tanpa tujuan.
Kadang hanya diam sambil mendengarkan musik dari voice chat.
“Vel.”
“Hm?”
“Kamu kalau ngomong pelan gini mirip orang ngantuk.”
“Aku emang ngantuk.”
“Tidur sana.”
“Enggak mau.”
“Kenapa?”
“Karena nanti gak ngobrol sama kamu.”
Barra tertawa kecil.
Dan sejak saat itu, Vellan mulai menyukai suara tawa itu.
Hari-hari mereka perlahan berubah menjadi kebiasaan.
Pulang sekolah → mandi → makan → online → cari Barra.
Sesederhana itu.
Bahkan Bulan mulai sadar perubahan sahabatnya.
“Vel.”
“Hm?”
“Kamu lagi senyum-senyum sendiri liatin hp.”
“Enggak.”
“BOHONG.”
Tesa langsung merebut ponsel Vellan.
“WOI BALIKIN.”
Namun sebelum Vellan mengambilnya kembali, Tesa sudah membaca isi chat terakhir.
Barra : “Jangan tidur malem-malem terus bocil.”
Tesa langsung menatap Vellan penuh arti.
“OHHHH.”
“Apaan sih?!”
“Online relationship ya?”
“MANA ADA.”
Namun pipi Vellan sudah memerah.
Dan semua itu semakin terasa nyata… sampai Barra tiba-tiba menghilang.
Tidak ada kabar.
Tidak ada chat.
Tidak ada notifikasi.
Hari pertama, Vellan masih santai.
Hari kedua, ia mulai mengecek Roblox terus-menerus.
Hari ketiga, ia mulai merasa aneh.
Seminggu.
Barra benar-benar hilang.
Dan untuk pertama kalinya, Vellan sadar seseorang yang bahkan belum pernah ia temui bisa membuatnya merasa kehilangan.
Di saat itulah Vellan bertemu Max.
Max berbeda dari Barra.
Dia lebih ramai.
Lebih berisik.
Lebih agresif.
Kalau Barra seperti malam yang tenang, Max seperti pesta yang tidak pernah diam.
“Vel ayo map dance.”
“Enggak bisa dance aku.”
“Tenang aku jago.”
“Halah.”
“Serius. Aku bisa ngajarin.”
Mereka jadi semakin dekat.
Max selalu ada setiap Vellan online.
Dan perlahan, rasa sepi karena Barra mulai tergantikan.
Sampai suatu malam Max berkata:
“Vel.”
“Apa?”
“Kita pacaran aja yuk.”
Vellan terdiam.
Jujur saja, ia tidak benar-benar cinta.
Tapi Max selalu ada.
Dan saat itu, Vellan hanya ingin merasa ditemani.
“Yaudah…”
“SERIUS?”
“Iya.”
Max langsung heboh sendiri di voice chat.
“WOI GUE DITERIMA.”
Vellan tertawa kecil.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Karena tepat seminggu kemudian…
Barra kembali.
Malam itu Vellan sedang duduk bersama Max di Taman Musim Gugur.
Tiba-tiba sebuah avatar familiar muncul di depan mereka.
Barra.
Vellan langsung diam.
Barra juga diam beberapa detik.
Lalu ia mengetik pelan.
“Oh…”
Vellan merasa jantungnya turun.
“Barra…”
“Jadi kamu udah punya pacar sekarang.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa terasa dingin.
“Aku pikir kamu gak balik lagi…”
Barra tidak langsung menjawab.
“Maaf waktu itu aku sibuk.”
“Gapapa…”
“Harusnya aku ngabarin.”
Max yang sedari tadi diam akhirnya menyela.
“Ini siapa?”
Barra menjawab sebelum Vellan sempat bicara.
“Temen lama.”
Dan sejak malam itu semuanya berubah.
Barra mulai jarang bermain dengan Vellan.
Tak lama kemudian, Barra datang bersama seorang perempuan bernama Berry.
Berry cantik, ceria, dan sangat dekat dengan Barra.
Awalnya Vellan berpikir mereka hanya teman.
Namun suatu malam Barra berkata santai:
“Aku sama Berry jadian.”
Entah kenapa hati Vellan terasa aneh mendengarnya.
Padahal dia juga punya Max.
Namun rasa sesak itu tetap ada.
Hari-hari berlalu dan akhirnya mereka semua menjadi satu circle:
Vellan.
Max.
Barra.
Berry.
Wiee.
Gian.
Mereka selalu bermain bersama setiap malam.
Kadang mereka bermain di map gunung sambil membuat api unggun virtual.
Kadang mereka bermain di map dance dan menertawakan gerakan avatar yang absurd.
“GIAN WOI JANGAN LOMPAT-LOMPAT DI MEJA.”
“INI ART.”
“ART DARI MANA KEPALA LO.”
Semua tertawa.
Untuk pertama kalinya, Vellan merasa punya tempat baru.
Tempat yang selalu ia tunggu setiap malam.
Namun seperti daun musim gugur yang akhirnya jatuh satu per satu…
Circle itu perlahan hancur.
Awalnya karena Gian.
Wiee menangis di voice chat malam itu.
“Dia selingkuh…”
“Gian serius?” tanya Vellan kaget.
Namun Gian hanya diam.
Dan malam itu Wiee keluar dari grup.
Setelah itu hubungan Vellan dan Max mulai memburuk.
Max berubah.
Ia mulai sering memaksa Vellan melakukan hal-hal yang membuatnya tidak nyaman di game.
“Cuma roleplay doang kali.”
“Aku gak suka.”
“Kamu baper banget.”
“Ini bukan soal baper.”
Max malah tertawa.
“Yaelah kayak anak kecil.”
Malam itu Vellan marah besar.
“Aku gak nyaman sama kamu.”
“Terus?”
“Kita udahan aja.”
Dan hubungan mereka selesai begitu saja.
Kini tinggal bertiga:
Vellan.
Barra.
Berry.
Namun ternyata hubungan Barra dan Berry juga tidak baik-baik saja.
Mereka terlalu sering bertengkar.
Berry keras kepala.
Barra juga sama.
Suatu malam Barra tiba-tiba mengajak Vellan bermain berdua.
Mereka kembali ke Taman Musim Gugur.
Tempat awal semuanya dimulai.
“Capek,” kata Barra pelan.
“Berantem lagi?”
“Iya.”
“Karena apa?”
“Hal kecil.”
Vellan hanya mendengarkan.
Barra bercerita panjang malam itu.
Tentang hubungan mereka.
Tentang rasa lelahnya.
Tentang bagaimana ia merasa tidak dipahami.
Dan Vellan tetap menemani sampai hampir pagi.
Malam-malam seperti itu semakin sering terjadi.
Sampai akhirnya Barra dan Berry putus.
Dan setelah semua itu…
Perasaan lama muncul kembali.
Suatu malam Barra berkata pelan:
“Vel.”
“Hm?”
“Kayaknya… aku nyaman sama kamu.”
Vellan diam.
Jantungnya berdegup cepat.
“Aku juga.”
Dan malam itu, di tengah daun-daun virtual yang terus berguguran, mereka resmi bersama.
Namun hubungan itu tidak diterima semua orang.
Berry marah besar.
Ia menganggap Vellan merebut Barra.
Banyak orang mulai membenci mereka.
“Pelakor virtual.”
“Temen makan temen.”
“Gak punya malu.”
Vellan membaca semua itu sambil menahan tangis.
Namun Barra selalu menenangkannya.
“Biarin aja.”
“Tapi mereka jahat…”
“Aku tetep sama kamu.”
Dan Vellan percaya.
Barra memang selalu ada.
Mereka menjalani hari-hari seperti pasangan pada umumnya.
Main bersama.
Tidur di voice call.
Mengirim tiktok lucu.
Bahkan saling mengirim hadiah.
Barra sering membelikan Vellan item game.
Vellan juga pernah mentransfer uang di hari Valentine.
Barra membalasnya saat hari raya.
Mereka saling effort.
Saling menjaga.
Suatu malam Barra berkata:
“Aku sebenarnya sering nahan diri.”
“Kenapa?”
“Karena umur kita beda.”
“Emang kenapa?”
“Kamu masih 18.”
“Terus?”
“Aku gak mau aneh-aneh sama kamu.”
Vellan tersenyum kecil.
Barra melanjutkan pelan.
“Kadang aku malah nganggep kamu kayak adik.”
Kalimat itu terdengar hangat.
Dan membuat Vellan semakin percaya bahwa Barra berbeda.
Namun semua berubah saat Barra bertemu teman-teman barunya:
Yeon.
Gara.
Lien.
Mereka selalu bermain bersama.
Setiap hari.
Setiap malam.
Bahkan kemudian mereka membuat komunitas game sendiri.
Barra sibuk mengurus semuanya.
Dan sejak saat itu…
Waktu untuk Vellan perlahan hilang.
Chat mulai dibalas lama.
Ajakan bermain sering ditolak.
“Lagi meeting komunitas.”
“Lagi event.”
“Nanti ya.”
“Nanggung.”
Vellan mencoba mengerti.
Tetap mengirim pesan setiap pagi.
“Pagi Barra.”
“Jangan lupa makan.”
“Semangat hari ini.”
Namun lama-lama ia lelah berbicara sendiri.
Apalagi Barra mulai sangat sering bermain map “Fish It”.
Hampir setiap malam.
Tanpa Vellan.
Sampai akhirnya Vellan diam-diam keluar dari komunitas.
Dan Barra marah besar.
“Kenapa keluar?”
“Aku capek…”
“Capek apaan?”
“Aku ngerasa gak dianggap lagi.”
“Kamu lebay.”
Kalimat itu menusuk Vellan.
“Aku cuma kangen kamu yang dulu…”
Namun Barra malah menghilang selama seminggu.
Tidak membalas chat.
Tidak online bersama.
Tidak peduli.
Dan lagi-lagi Vellan yang meminta maaf lebih dulu.
“Maafin aku…”
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Barra akhirnya luluh.
Mereka kembali seperti biasa.
Atau setidaknya… mencoba.
Namun awal tahun baru membawa masalah lain.
Barra bergabung ke grup keluarga virtual.
Di sana ada Lily sebagai ibunya.
Dan Vira sebagai kakaknya.
Mereka sangat dekat.
Terlalu dekat menurut Vellan.
Suatu malam Vellan mengajak Barra bermain map horor.
“Main yuk.”
“Males takut.”
Namun beberapa menit kemudian, Barra malah online bermain map horor bersama Vira.
Sekali.
Dua kali.
Tiga hari berturut-turut.
Dan malam keempat, Vellan akhirnya tidak tahan.
“Kamu berubah.”
“Apalagi sekarang?”
“Kamu selalu ada buat mereka.”
“Mereka cuma temen.”
“Tapi aku ngerasa kehilangan kamu…”
Barra terdiam lama.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Vel… kita beda agama.”
Vellan diam.
“Kita juga beda pulau.”
“Aku tahu.”
“Aku takut hubungan ini gak akan berhasil.”
Air mata Vellan jatuh malam itu.
“Kalau kita sama-sama mau… pasti bisa.”
Dan untuk kesekian kalinya, mereka bertahan.
Namun bulan Maret datang membawa masalah baru.
Barra kembali berubah.
Dingin.
Jauh.
Chat Vellan sering diabaikan.
Kadang cuma dibaca.
Kadang tidak dibalas sama sekali.
Saat Vellan membahasnya, Barra malah marah.
“Kamu overthinking terus.”
“Aku cuma pengen diperhatiin…”
“Aku juga punya hidup.”
Lalu Barra menghilang lagi beberapa hari.
Dan lagi-lagi Vellan yang membujuk.
Bulan sampai berkata:
“Vel… kamu gak capek terus ngejar orang?”
Vellan tersenyum kecil.
“Capek.”
“Terus kenapa masih bertahan?”
Karena Vellan terlalu mencintainya.
Bulan April menjadi titik terburuk.
Mereka putus karena masalah agama.
Barra menyerah.
Namun Vellan tetap memperjuangkan hubungan mereka.
Sampai akhirnya mereka balikan lagi.
Dan Vellan pikir semuanya akan membaik.
Ternyata tidak.
Bulan Mei datang membawa akhir yang sebenarnya.
Suatu malam Barra mengirim pesan panjang.
“Mama aku baca chat kita.”
“Terus?”
“Mama gak setuju hubungan kita.”
“Karena agama?”
“Iya… sama beda pulau.”
Vellan menangis malam itu.
Namun entah kenapa, hatinya merasa ada yang aneh.
Beberapa hari kemudian semua akun media sosialnya diblokir.
Instagram.
TikTok.
WhatsApp.
Semuanya.
Namun Vellan masih punya akun lain.
Dan dari akun itulah ia melihat kebenaran.
Di TikTok Barra ada sebuah foto.
Foto dirinya bersama perempuan lain di dunia nyata.
Caption-nya sederhana.
“Kesayangan.”
Saat itu juga semuanya runtuh.
Bukan hanya hubungan mereka.
Tapi juga kepercayaan Vellan.
Selama ini Barra berbohong.
Alasan beda agama.
Beda pulau.
Mamanya tidak setuju.
Semua hanya alasan untuk menutupi kenyataan bahwa ia sudah memiliki orang lain.
Malam itu Vellan menangis sendirian.
Menatap layar ponsel yang kini terasa asing.
Tidak ada lagi:
“Pagi.”
“Udah makan?”
“Main yuk.”
Tidak ada lagi notifikasi favoritnya.
Tidak ada lagi Taman Musim Gugur.
Tidak ada lagi Barra.
Dan untuk pertama kalinya setelah delapan bulan…
Vellan benar-benar sendirian.
Namun hidup tetap berjalan.
Perlahan Vellan kembali ke kehidupan nyatanya.
Kembali tertawa bersama Bulan dan Tesa.
Kembali menikmati hari tanpa menunggu seseorang online.
Kembali tidur tanpa berharap notifikasi muncul.
Dan suatu malam, saat hujan turun seperti pertama kali semuanya dimulai…
Vellan membuka Roblox lagi.
Ia masuk ke Taman Musim Gugur.
Map itu masih sama.
Daunnya masih berguguran.
Bangkunya masih ada.
Lampunya masih hangat.
Namun kali ini Vellan tersenyum kecil.
Karena akhirnya ia sadar…
Tidak semua orang yang datang untuk tinggal.
Beberapa hanya datang untuk menjadi pelajaran.
Dan dari Barra, Vellan belajar bahwa hubungan virtual bisa terasa sangat nyata… tetapi cinta tidak akan bertahan tanpa kejujuran, komunikasi, dan usaha dari kedua sisi.
Karena sekeras apa pun seseorang bertahan…
Hubungan tidak akan berhasil jika hanya diperjuangkan sendirian.