Bab 1
“Liana: Reinkarnasi Sang Mawar Dendam”
Hujan turun deras malam itu.
Petir menyambar langit kota Arvendale, sementara seorang gadis berdiri di tepi balkon mansion megah keluarga Valerian. Rambut hitam panjangnya basah terkena hujan, gaun putih yang dikenakannya dipenuhi noda darah.
Namanya Liana Valerian.
Putri pertama keluarga bangsawan paling berpengaruh di kerajaan.
Namun malam itu, semua kemewahan itu tidak berarti apa-apa.
Karena orang yang paling ia percaya… baru saja mengkhianatinya.
“Kenapa…?” suara Liana bergetar menahan tangis.
Di depannya berdiri seorang pria berambut pirang dengan mata dingin bak es.
Ciel.
Tunangan sekaligus cinta pertamanya.
Pria itu menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Karena kau terlalu lemah, Liana.”
Ucapan itu menusuk lebih tajam dari pedang mana pun.
Di samping Ciel berdiri Serena, adik angkat Liana yang selama ini selalu bersikap manis di depannya.
Namun kini gadis itu tersenyum puas.
“Kakak terlalu bodoh mempercayai semua orang,” ucap Serena pelan.
Tubuh Liana gemetar.
“Aku selalu menganggapmu keluarga…”
“Dan itulah alasan kau kalah.”
Ciel mengangkat pedangnya.
Di bawah mansion, para ksatria keluarga Valerian sudah berpihak pada Serena. Bahkan ayah Liana sendiri berdiri diam tanpa membelanya.
Dunia terasa runtuh.
Liana sadar.
Sejak awal… mereka memang ingin menyingkirkannya.
Karena kekuatan sihir miliknya dianggap kutukan.
Karena ramalan kuno mengatakan bahwa “Putri bermata merah akan membawa kehancuran.”
Padahal selama hidupnya, Liana hanya ingin dicintai.
Ia rela mengorbankan segalanya demi keluarganya.
Namun balasannya hanyalah pengkhianatan.
Ciel melangkah mendekat.
“Selamat tinggal, Liana.”
Pedang itu menusuk dadanya.
“AAAKH—!”
Darah mengalir deras.
Tubuh Liana jatuh berlutut.
Air matanya bercampur hujan.
Sakit.
Dingin.
Hampa.
Di detik terakhir hidupnya, ia memandang semua orang yang pernah ia cintai.
Tak ada satu pun yang menolongnya.
Tak ada.
Liana tertawa pelan.
Tawa putus asa.
“Kalau aku diberi kesempatan lagi…”
Matanya perlahan tertutup.
“Aku akan menghancurkan kalian semua.”
---
Gelap.
Sangat gelap.
Liana merasa tubuhnya melayang di ruang kosong tanpa akhir.
Sampai sebuah suara terdengar.
“Apakah kau ingin kembali?”
Liana perlahan membuka mata.
Di depannya berdiri seorang wanita berjubah hitam dengan mata emas bercahaya.
“Siapa kau…?”
“Aku penjaga waktu.”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Dendammu begitu besar hingga waktu menolaknya untuk lenyap.”
Liana mengepalkan tangan.
“Aku ingin kembali.”
“Dan jika kesempatan itu membuatmu berubah menjadi monster?”
“Aku tidak peduli.”
Tatapan Liana dipenuhi kebencian.
“Aku ingin mereka merasakan rasa sakit yang sama.”
Wanita berjubah hitam mengangkat tangannya.
“Kalau begitu… bangkitlah sekali lagi.”
Cahaya merah menyelimuti tubuh Liana.
Dan dalam sekejap—
---
“Hah?!”
Liana terbangun sambil terengah-engah.
Ia langsung memegang dadanya.
Tidak ada luka.
Tidak ada darah.
Ruangan di sekitarnya terlihat familiar.
Kamar mansion Valerian.
Tubuh Liana membeku.
“Ini…?”
Pintu kamar terbuka.
Seorang pelayan masuk sambil membawa teh.
“Nona Liana? Anda baik-baik saja?”
Liana menatap pelayan itu dengan mata melebar.
Pelayan ini…
Sudah mati tiga tahun lalu.
Tangannya gemetar saat melihat kalender di meja.
12 Februari.
Tahun 982.
Empat tahun sebelum kematiannya.
Liana menahan napas.
“Aku… kembali?”
Kenangan masa lalunya berputar di kepala.
Pengkhianatan.
Rasa sakit.
Kematian.
Semua terasa begitu nyata.
Perlahan, ekspresi wajahnya berubah dingin.
Kalau ini benar-benar kesempatan kedua…
Maka kali ini ia tidak akan menjadi gadis lemah seperti dulu.
Tidak akan lagi mempercayai siapa pun.
Tok.
Tok.
Pintu kembali diketuk.
“Masuk.”
Ciel muncul dari balik pintu dengan senyum lembut yang dulu selalu membuat jantung Liana berdebar.
“Liana, ayahmu meminta kita turun makan bersama.”
Dulu, Liana pasti akan tersenyum malu melihatnya.
Namun sekarang—
Yang ia rasakan hanyalah jijik.
Tatapan mata Liana membuat Ciel sedikit bingung.
“Ada apa?”
Liana tersenyum tipis.
Senyum yang berbeda dari sebelumnya.
“Tidak ada.”
Ia berdiri perlahan.
“Aku hanya baru sadar… wajahmu sangat menjijikkan.”
Ciel terdiam.
Liana melewatinya begitu saja.
Sementara di dalam hatinya, api dendam mulai menyala.
Permainan mereka baru dimulai.
---
Hari-hari berikutnya berubah drastis.
Liana mulai bertindak berbeda.
Ia tidak lagi mengikuti Serena ke mana-mana.
Tidak lagi tersenyum manis pada keluarga.
Tidak lagi bergantung pada Ciel.
Sebaliknya…
Ia mulai mengumpulkan informasi.
Tentang semua orang yang mengkhianatinya di kehidupan sebelumnya.
Dan semakin ia menyelidiki…
Semakin besar kebenciannya.
Ternyata sejak awal Serena memang berencana merebut semuanya.
Kasih sayang keluarga.
Warisan.
Bahkan Ciel.
Semua itu sudah direncanakan sejak lama.
Namun kali ini Liana tahu segalanya.
Ia tidak akan kalah lagi.
Di malam hari, Liana diam-diam pergi ke perpustakaan terlarang keluarga Valerian.
Tempat itu menyimpan sihir kuno yang dilarang kerajaan.
Dulu ia takut mempelajarinya karena ingin menjadi putri sempurna.
Namun sekarang…
Ia tidak peduli lagi.
Debu beterbangan saat ia membuka buku hitam tua.
“Blood Magic…”
Sihir yang menggunakan emosi negatif sebagai sumber kekuatan.
Dan semakin besar dendam seseorang…
Semakin kuat sihir itu.
Liana tersenyum dingin.
Cocok sekali untuknya.
Saat ia menyentuh buku itu—
BRRAAKK!!
Energi merah meledak memenuhi ruangan.
Mata Liana berubah merah terang.
Suara bisikan terdengar di telinganya.
“Kami akan memberimu kekuatan…”
“Sebagai balasan…”
“Berikan kami kehancuran.”
Namun Liana tidak takut.
Ia malah tertawa.
“Baik.”
---
Beberapa minggu kemudian, perubahan Liana mulai disadari semua orang.
Ia menjadi jauh lebih pintar.
Lebih tenang.
Dan entah kenapa… aura menakutkan mengelilinginya.
Suatu hari di ruang makan, Serena pura-pura menjatuhkan teh panas ke tangan Liana.
Sama seperti kehidupan sebelumnya.
Dulu Liana hanya diam dan meminta maaf.
Namun sekarang—
Saat Serena mendekat sambil berpura-pura panik, Liana langsung menangkap pergelangan tangannya.
“Ka-Kak Liana?”
Tatapan merah Liana membuat Serena merinding.
“Kau pikir aku tidak tahu?”
“Apa maksud Kakak?”
Liana tersenyum tipis.
“Lain kali kalau ingin mencelakaiku… lakukan dengan lebih rapi.”
Serena membeku.
Untuk pertama kalinya, ia merasa takut pada Liana.
Sementara ayah mereka hanya mengernyit.
“Liana, jangan bicara kasar pada adikmu.”
Liana menatap pria itu.
Ayah yang membiarkannya mati di kehidupan sebelumnya.
“Adik?”
Ia tertawa kecil.
“Lucu sekali.”
Setelah itu ia pergi begitu saja dari ruang makan.
Meninggalkan suasana sunyi mencekam.
---
Malamnya, Ciel menemui Serena.
“Ada yang aneh dengan Liana.”
Serena menggigit bibir.
“Aku juga merasa begitu…”
“Tatapannya berbeda.”
Ciel terdiam.
Entah kenapa ia merasa tidak nyaman.
Seolah gadis yang mereka kenal sudah menghilang.
Dan yang tersisa hanyalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
---
Sementara itu, Liana berdiri di depan cermin kamarnya.
Mata merahnya memantulkan cahaya gelap.
“Kalian mulai takut?”
Ia tersenyum perlahan.
“Itu baru permulaan.”
Di kehidupannya dulu, Liana terlalu baik.
Terlalu naif.
Namun sekarang…
Ia akan menjadi mimpi buruk mereka.
---
Festival kerajaan tiba beberapa bulan kemudian.
Di kehidupan sebelumnya, malam festival adalah awal kehancuran Liana.
Karena malam itu Serena menjebaknya sebagai pengguna sihir terlarang.
Akibatnya seluruh kerajaan mulai membencinya.
Namun kali ini…
Liana sudah menunggu momen itu.
Ballroom kerajaan dipenuhi bangsawan.
Lampu kristal berkilauan indah.
Semua orang memandang Serena yang tampil anggun dengan gaun emas.
“Lady Serena benar-benar cantik.”
“Dia jauh lebih cocok menjadi pewaris keluarga Valerian.”
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas.
Dulu ucapan seperti itu menyakitinya.
Sekarang tidak lagi.
Liana masuk ke ballroom dengan gaun hitam elegan.
Seluruh ruangan langsung terdiam.
Aura dingin yang ia pancarkan membuat semua orang sulit berpaling.
Bahkan Ciel tanpa sadar terpaku menatapnya.
Serena mengepalkan tangan.
Kenapa…
Kenapa Liana terlihat jauh lebih bersinar?
Acara dimulai.
Dan seperti kehidupan sebelumnya—
Serena diam-diam menyuruh seseorang menyimpan kristal sihir hitam di kamar pribadi Liana di istana.
Nanti kristal itu akan ditemukan dan Liana dituduh mempelajari sihir terlarang.
Rencana sempurna.
Setidaknya… itu yang Serena pikirkan.
Karena beberapa menit kemudian—
“AAAAAH!!”
Jeritan terdengar dari lantai dua.
Semua orang panik.
Saat para ksatria masuk ke kamar Serena…
Mereka menemukan kristal sihir hitam di bawah tempat tidurnya.
Wajah Serena langsung pucat.
“Bu-bukan aku!”
Raja berdiri marah.
“Lady Serena Valerian… jelaskan semua ini!”
“Aku dijebak!”
Serena langsung menatap Liana.
Namun gadis itu hanya tersenyum sambil meminum teh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya…
Serena sadar.
Liana mengetahui semuanya.
---
Setelah insiden itu, reputasi Serena hancur.
Walaupun akhirnya ia dibebaskan karena kurang bukti, para bangsawan mulai curiga padanya.
Sementara Liana semakin dipuji.
Namun Liana tidak puas.
Belum.
Ia ingin menghancurkan mereka perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Sampai mereka merasakan keputusasaan yang sama.
---
Suatu malam, Liana pergi ke taman belakang mansion.
Di sana ia bertemu seorang pria bertopeng hitam.
Pemimpin organisasi bawah tanah Raven.
Dulu organisasi itu adalah musuhnya.
Namun sekarang…
Ia ingin memanfaatkannya.
“Menarik,” ucap pria itu sambil tersenyum tipis.
“Putri bangsawan ingin bekerja sama dengan penjahat?”
Liana menatapnya tenang.
“Aku hanya ingin kekuasaan.”
“Dan balas dendam?”
Liana diam sejenak.
“Ya.”
Pria itu tertawa kecil.
“Aku menyukaimu.”
Mereka pun membuat perjanjian.
Dengan bantuan Raven, Liana mulai membangun kekuatan di balik layar.
Ia membeli informasi.
Mengendalikan politik.
Bahkan diam-diam menghancurkan bisnis keluarga bangsawan yang mendukung Serena.
Semua berjalan sempurna.
Terlalu sempurna.
Sampai suatu hari—
“Liana.”
Suara Ciel menghentikannya.
Mereka berada di balkon istana.
Angin malam berhembus pelan.
“Ada apa?” tanya Liana dingin.
Ciel menatapnya lama.
“Aku merasa… kau berubah.”
“Tentu saja.”
“Kenapa?”
Liana tertawa kecil.
“Karena akhirnya aku membuka mata.”
Ciel menggenggam tangannya.
“Kalau ada yang membuatmu sakit, kau bisa cerita padaku.”
Sentuhan itu membuat Liana teringat malam kematiannya.
Pedang.
Darah.
Pengkhianatan.
Tatapannya langsung berubah dingin.
BRAK!!
Liana menepis tangan Ciel dengan kasar.
“Jangan sentuh aku.”
Ciel terkejut.
Liana melangkah mendekat perlahan.
“Dengar baik-baik.”
Suara gadis itu begitu dingin hingga membuat udara terasa membeku.
“Aku lebih memilih mati daripada mempercayaimu lagi.”
Jantung Ciel berdegup aneh.
Untuk pertama kalinya…
Ia merasa kehilangan sesuatu yang berharga.
---
Beberapa bulan kemudian, kerajaan mulai kacau.
Banyak bangsawan jatuh bangkrut secara misterius.
Rahasia kelam mereka tersebar.
Aliansi politik hancur.
Dan semua itu adalah ulah Liana.
Namun tak seorang pun menyadarinya.
Di balik semua kekacauan itu, Liana terus tersenyum tenang seperti boneka cantik.
Sampai akhirnya Serena tak tahan lagi.
“KAK LIANA!!”
Serena masuk ke kamar Liana dengan wajah marah.
“Kau yang melakukan semua ini, kan?!”
Liana duduk santai sambil membaca buku.
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Berhenti pura-pura!”
Air mata Serena mulai jatuh.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?!”
Liana perlahan menutup bukunya.
Tatapan merahnya menatap Serena lurus.
“Kenapa?”
Ia berdiri perlahan.
“Bukankah kau melakukan hal yang sama padaku di kehidupan sebelumnya?”
Tubuh Serena membeku.
“Apa…?”
Liana tersenyum.
“Aneh ya? Rasanya seperti aku pernah mati sekali.”
Wajah Serena langsung pucat pasi.
Karena untuk sesaat…
Ia merasa ucapan itu bukan lelucon.
Liana mendekat hingga Serena mundur ketakutan.
“Kau ingin tahu sesuatu?”
Bisikan Liana terdengar menyeramkan.
“Aku mengingat semuanya.”
“Tidak mungkin…”
“Aku mengingat bagaimana kalian membunuhku.”
Serena gemetar hebat.
Tatapan mata Liana sekarang benar-benar seperti monster.
“Ka-kak…”
“Tapi jangan khawatir.”
Liana tersenyum manis.
“Aku belum akan membunuhmu.”
“Karena penderitaanmu baru dimulai.”
---
Hari demi hari, kondisi Serena semakin hancur.
Orang-orang mulai menjauhinya.
Ayah mereka marah besar karena reputasi keluarga rusak.
Bahkan Ciel mulai menjaga jarak.
Serena yang dulu selalu dipuja kini menjadi bahan hinaan.
Dan semua itu membuatnya perlahan gila.
Sementara Liana…
Semakin kuat.
Blood Magic miliknya berkembang pesat.
Ia bahkan mulai mendengar bisikan roh-roh gelap setiap malam.
Namun ia tidak peduli.
Selama bisa membalas dendam, ia rela kehilangan kemanusiaannya.
---
Suatu malam, kerajaan diserang monster dari utara.
Seluruh ksatria kewalahan.
Api memenuhi kota.
Jeritan terdengar di mana-mana.
Dan di tengah kekacauan itu…
Liana berdiri di atas menara istana sambil menatap kota terbakar.
Pria bertopeng Raven muncul di belakangnya.
“Kau bisa menghentikan semua ini.”
“Aku tahu.”
“Tapi kau memilih diam?”
Liana tersenyum tipis.
“Kerajaan ini membiarkanku mati.”
Matanya memantulkan api.
“Jadi kenapa aku harus menyelamatkannya?”
Namun saat itu—
Seorang anak kecil menangis di bawah reruntuhan.
“Tolong… ibu…”
Tubuh Liana membeku.
Kenangan masa lalunya muncul.
Dulu ia juga pernah memohon pertolongan.
Namun tak ada yang datang.
Tangannya gemetar.
Ia bisa saja pergi.
Membiarkan semuanya hancur.
Itulah yang ia inginkan sejak awal.
Tapi…
Kenapa dadanya terasa sesak?
Akhirnya Liana menghela napas panjang.
“Dasar merepotkan.”
BRUUAAAKKK!!
Energi merah meledak dari tubuhnya.
Seluruh langit berubah gelap.
Monster-monster langsung berhenti bergerak.
Para ksatria terkejut.
“Apa itu?!”
Liana melayang di udara dengan mata merah menyala.
Aura mengerikan memenuhi kerajaan.
“Lenyaplah.”
Dalam satu gerakan tangan—
Semua monster hancur menjadi abu.
Sunyi.
Seluruh orang terpaku menatapnya.
Takut.
Takjub.
Dan sejak malam itu…
Nama Liana dikenal seluruh kerajaan sebagai “Penyihir Mawar Merah.”
---
Namun kekuatan sebesar itu punya harga.
Semakin sering menggunakan Blood Magic, emosi manusia Liana perlahan menghilang.
Ia mulai sulit merasakan kebahagiaan.
Kasih sayang.
Bahkan kesedihan.
Yang tersisa hanya dendam kosong.
Suatu malam, wanita penjaga waktu muncul lagi.
“Kau semakin dekat menjadi monster.”
Liana tersenyum kecil.
“Aku sudah tidak peduli.”
“Kalau begitu setelah balas dendammu selesai… apa yang tersisa untukmu?”
Pertanyaan itu membuat Liana terdiam.
Ia tidak punya jawaban.
Karena selama ini ia hidup hanya demi kebencian.
---
Beberapa minggu kemudian, Serena akhirnya melakukan tindakan nekat.
Ia bekerja sama dengan musuh kerajaan untuk membunuh Liana.
Malam itu mansion Valerian dipenuhi api.
Para pembunuh menyerang dari segala arah.
Namun—
Mereka bahkan tak bisa menyentuh Liana.
Dengan sihir merahnya, gadis itu membantai semuanya tanpa ekspresi.
Darah memenuhi lantai.
Jeritan menggema.
Dan di tengah semua itu, Serena jatuh terduduk ketakutan.
“Monster…”
Liana berjalan perlahan mendekatinya.
Gaun hitamnya dipenuhi darah.
“Benarkah?”
Serena menangis histeris.
“Maafkan aku… tolong…”
Liana berhenti di depannya.
Dulu ia sangat ingin mendengar permintaan maaf ini.
Namun sekarang…
Hatinya kosong.
“Lucu sekali.”
Ia mengangkat dagu Serena.
“Kenapa kau baru menyesal setelah kalah?”
Serena gemetar hebat.
“Ka-kak… aku takut…”
Tatapan Liana dingin.
“Aku juga takut waktu kalian membunuhku.”
Air mata Serena jatuh deras.
“Aku mohon…”
Liana terdiam beberapa saat.
Lalu perlahan—
Ia menurunkan tangannya.
“Pergilah.”
Serena membeku.
“Apa…?”
“Aku tidak ingin mengotori tanganku lagi.”
Serena langsung kabur sambil menangis.
Sementara Liana berdiri diam di tengah lautan darah.
Anehnya…
Ia tidak merasa puas.
Sama sekali tidak.
---
Beberapa hari kemudian, kabar mengejutkan tersebar.
Serena bunuh diri.
Seluruh kerajaan gempar.
Namun saat mendengar berita itu—
Liana hanya diam.
Tak ada rasa senang.
Tak ada kemenangan.
Kosong.
Sangat kosong.
Ia akhirnya sadar.
Balas dendam tidak mengembalikan apa pun.
Tidak menghapus rasa sakitnya.
Tidak membuatnya bahagia.
Yang tersisa hanyalah kehampaan.
Malam itu Liana pergi ke balkon mansion.
Tempat ia mati di kehidupan sebelumnya.
Angin dingin berhembus pelan.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Ciel datang dengan wajah lelah.
“Aku tahu semuanya.”
Liana tidak menoleh.
“Oh?”
“Aku tahu Serena menjebakmu dulu.”
“Lalu?”
Ciel mengepalkan tangan.
“Aku menyesal.”
Liana tertawa kecil.
Tawa pahit.
“Penyesalanmu tidak berarti apa-apa.”
“Aku tahu.”
Ciel menatapnya sedih.
“Tapi… kalau bisa, aku ingin memperbaiki semuanya.”
Liana akhirnya menoleh.
Tatapan mata mereka bertemu.
Dulu Liana mungkin akan memaafkannya.
Namun sekarang semuanya sudah terlambat.
“Kau tahu hal paling lucu?”
“Apa?”
“Aku pernah sangat mencintaimu.”
Suara Liana begitu tenang.
“Sampai rela mati demi dirimu.”
Ciel membeku.
“Tapi sekarang…”
Mata merah Liana terlihat kosong.
“Aku bahkan tidak bisa merasakan apa pun lagi.”
Untuk pertama kalinya, air mata jatuh dari mata Ciel.
Namun Liana hanya menatapnya datar.
Karena hatinya sudah mati sejak lama.
---
Beberapa bulan kemudian, Liana meninggalkan kerajaan.
Ia menyerahkan seluruh kekuasaan keluarga Valerian pada pemerintah kerajaan.
Orang-orang mencoba menghentikannya.
Namun keputusan gadis itu tidak bisa diubah.
Sebelum pergi, wanita penjaga waktu muncul sekali lagi.
“Apakah dendammu sudah selesai?”
Liana menatap langit senja.
“Kurasa iya.”
“Dan sekarang?”
Liana tersenyum tipis.
Kali ini senyumnya terasa lebih tulus.
“Aku ingin hidup untuk diriku sendiri.”
Wanita itu mengangguk pelan.
“Bagus.”
Tubuhnya perlahan menghilang.
“Kesempatan kedua bukan hanya untuk membalas dendam.”
“Melainkan untuk menemukan hidup baru.”
Liana memejamkan mata.
Angin lembut menerpa rambutnya.
Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasinya…
Dadanya terasa sedikit ringan.
Perjalanannya belum selesai.
Lukanya mungkin tidak akan pernah benar-benar sembuh.
Namun setidaknya…
Ia tidak lagi hidup hanya demi kebencian.
Dan di bawah langit merah senja itu—
Liana melangkah masa depan baru.
To Be Continued