Namaku Yuki Mikumura. Aku hanyalah seorang siswi SMA yang sering dianggap bodoh, nyaris tak paham apa-apa tentang pelajaran di sekolah. Hampir setiap kali ada ulangan, nilai yang kuterima selalu berwarna merah, seolah itu adalah warna yang sudah menjadi takdir bagiku.
Namun, di balik semua kekuranganku itu, ada satu hal yang membuatku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.
Aku memiliki dia.
Orang yang sangat kucintai.
Kekasihku yang kini sedang terbaring lemah di rumah sakit, berjuang melawan penyakit yang perlahan merenggut hidupnya sedikit demi sedikit.
Banyak orang mungkin akan bertanya padaku, mengapa aku masih tetap setia berada di sisinya? Mengapa aku tidak pergi mencari seseorang yang lebih sehat, lebih kuat, atau mungkin seseorang yang mampu memberiku masa depan yang lebih baik?
Jawabannya sederhana.
Karena cinta bukan tentang tetap bertahan hanya saat semuanya baik-baik saja.
Aku bukan perempuan yang tega meninggalkan seseorang hanya karena keadaan berubah. Aku juga bukan orang yang menilai cinta dari fisik, uang, atau apa yang bisa diberikan seseorang kepadaku.
Bagiku, keberadaannya saja sudah cukup.
Setiap kali aku melihat wajahnya dan senyum tipis yang selalu ia paksakan untukku, hatiku terasa tenang. Seolah seluruh rasa lelah, takut, dan sedih dalam hidupku menghilang begitu saja.
Entah kenapa…
Senyumnya selalu terasa seperti rumah bagiku.
Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya.
Tanpa dia, mungkin aku hanyalah seseorang yang kosong.
Seseorang yang kehilangan arah untuk pulang.
Pagi itu sama seperti biasanya.
Aku berangkat ke sekolah dengan langkah pelan dan hati yang terasa berat. Sesampainya di kelas, aku duduk di sudut ruangan sambil memandangi langit di luar jendela.
Aku tidak benar-benar mendengarkan pelajaran.
Pikiranku terus tertuju padanya.
Aku teringat masa-masa sebelum penyakit itu datang menghancurkan semuanya.
Kami pernah berjalan bersama di pinggir pantai sambil tertawa ketika ombak membasahi kaki kami. Kami pernah pergi ke taman bunga yang luas, melihat bunga-bunga bermekaran sambil saling mengambil foto konyol. Kami juga sering menghabiskan waktu hanya dengan duduk bersama, menonton film, atau berbicara tentang hal-hal kecil yang sekarang terasa sangat berharga.
Saat aku sedih, dia selalu ada untukku.
Saat dia terpuruk, aku juga selalu berada di sampingnya.
Kami saling menguatkan satu sama lain.
Dan kenangan-kenangan itulah yang sekarang menjadi harta paling berharga dalam hidupku.
Karena itu…
Aku akan tetap berada di sisinya sampai kapan pun.
Aku sangat mencintainya.
Dari lubuk hatiku yang paling dalam.
“TETAPI…”
Hari itu semuanya berubah.
Saat aku datang menjenguknya ke rumah sakit, aku terkejut melihat kondisinya. Tidak seperti biasanya, dia terlihat begitu segar dan penuh semangat. Wajah pucatnya kini dipenuhi senyuman hangat.
Begitu melihatku datang, dia langsung menghampiri dan memelukku erat.
Aku membeku.
Di dalam hatiku, rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu.
Aku senang melihatnya kembali tersenyum seperti dulu.
Namun entah kenapa…
Hatiku terasa tidak tenang.
Aku membalas pelukannya sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
Tak lama kemudian, kedua orang tuanya datang. Ibunya tersenyum bahagia melihat putranya yang tampak sehat kembali, tetapi aku bisa melihat mata itu…
Mata seorang ibu yang sedang menahan kehancuran.
Ayahnya hanya diam sambil mendengarkan penjelasan dokter.
Suasana di ruangan itu terasa aneh.
Hangat, tetapi juga menyakitkan.
Beberapa saat kemudian, ayahnya menghampiriku perlahan.
“Nak… terima kasih ya, kamu selalu datang menjenguk anak saya dan terus menemaninya.”
Beliau tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya.
“Kamu anak yang kuat… tetaplah bersama dia… walaupun dia…”
Kalimatnya terhenti.
Air mata jatuh dari matanya.
Aku hanya bisa menunduk sambil menjawab pelan,
“Iya, Om…”
Belum sempat suasana menjadi lebih berat, dia tiba-tiba datang menghampiriku dengan senyum cerahnya.
“Yuki, nanti malam kita pergi ke festival kembang api, yuk?”
Aku sedikit terkejut.
Sudah lama sekali kami tidak pergi bersama seperti ini.
Namun tanpa berpikir panjang, aku langsung mengangguk.
“Iya… ayo.”
Saat itu, hatiku terasa sangat bahagia.
Untuk sesaat, aku lupa tentang penyakitnya.
Aku hanya ingin menikmati malam bersamanya.
Sore harinya, aku datang ke rumahnya.
Ayahnya membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk karena putranya masih bersiap-siap.
Aku duduk di ruang tamu yang sunyi.
Lalu ayahnya duduk di sampingku dan mulai menjelaskan sesuatu dengan suara berat.
Dan di situlah…
Duniaku runtuh.
Beliau menjelaskan bahwa kondisi putranya bukan membaik.
Dia sedang mengalami terminal lucidity.
Keadaan di mana seseorang yang sakit parah tiba-tiba terlihat sehat, bahagia, dan penuh energi sebelum akhirnya meninggal dunia.
Dadaku terasa sesak.
Aku tidak bisa berpikir.
Tanganku gemetar hebat.
Namun sebelum air mataku jatuh, dia datang menghampiriku sambil tersenyum hangat.
“Ayo pergi, Yuki.”
Dan malam itu…
Kami pergi ke festival bersama.
Festival itu ramai dipenuhi suara tawa, permainan, dan aroma makanan hangat.
Kami membeli takoyaki, bermain permainan festival, dan berjalan bersama seperti pasangan biasa.
Dia tertawa begitu lepas.
Sampai terkadang aku lupa bahwa malam itu mungkin adalah malam terakhirnya.
Aku terus berpura-pura kuat.
Aku mengikuti semua kemauannya sambil menyembunyikan rasa takut di dalam hatiku.
Atau mungkin…
Aku hanya belum siap kehilangan dirinya.
Beberapa menit sebelum pertunjukan kembang api dimulai, kami pergi ke tempat rahasia kami.
Sebuah bukit kecil penuh rerumputan yang selalu kami datangi setiap festival musim panas.
Kami berbaring berdampingan sambil menatap langit malam.
Angin malam berhembus pelan.
Suasana terasa tenang.
Terlalu tenang.
Aku sedang menatap bintang ketika tiba-tiba dia bangkit dan menatap wajahku dalam diam.
Tatapannya lembut.
Namun penuh kesedihan yang selama ini ia sembunyikan.
Lalu…
Dia menciumku.
Aku membeku.
Jantungku terasa berhenti sesaat.
Setelah itu, dia tersenyum kecil sambil berkata pelan,
“Hahaha… Yuki, kamu mencoba menyembunyikan penyakitku dariku supaya aku tidak khawatir, ya?”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu selalu seperti itu. Selalu memikirkan perasaan orang lain dibanding dirimu sendiri.”
Aku hanya bisa diam.
Karena dia benar.
“Aku mau berterima kasih sama kamu… karena selama aku sakit, kamu selalu ada di sisiku.”
Dia menggenggam tanganku erat.
“Saat aku takut… saat aku kesakitan… kamu tidak pernah meninggalkanku.”
Air mataku mulai jatuh.
“Bahkan di hari terakhir hidupku… kamu masih ada di sini bersamaku.”
Hatiku hancur mendengar kalimat itu.
Aku langsung menangis di pelukannya.
“Jangan ngomong begitu… jangan…”
Namun dia hanya memelukku hangat sambil membelai kepalaku perlahan.
Dan tepat saat kembang api pertama mulai memenuhi langit malam…
Aku menangis dalam pelukan orang yang paling kucintai.
Aku melihat kembang api bersamanya sambil menggenggam erat tangannya.
Langit malam dipenuhi cahaya warna-warni yang meledak satu per satu di atas kami.
Namun anehnya…
Malam itu terasa sangat sunyi bagiku.
Dia bersandar pelan di bahuku.
Tangannya perlahan mulai terasa dingin.
Tetapi aku tetap menggenggamnya erat.
Aku takut kehilangan dirinya.
Aku menoleh ke arahnya.
Dia masih tersenyum kecil sambil menatap langit.
Senyuman yang selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali.
Lalu dengan suara yang sangat pelan, dia berkata,
“Indah ya…”
Aku mencoba tersenyum sambil menahan tangis.
“Iya… indah banget.”
Dia menggenggam tanganku sedikit lebih erat untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih… untuk semuanya, Yuki.”
Dadaku terasa sesak.
Aku ingin memintanya untuk tetap hidup.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak sanggup hidup tanpanya.
Namun tidak ada satu kata pun yang bisa keluar dari mulutku.
Karena jauh di dalam hatiku…
Aku tahu malam ini akan menjadi perpisahan kami.
Kembang api terakhir mulai menghiasi langit malam.
Cahayanya menyinari wajahnya yang damai.
Dan tepat pada tanggal 5 November…
Di bawah langit festival yang dipenuhi cahaya kembang api…
Orang yang paling kucintai mengembuskan napas terakhirnya di sampingku.
Tangannya perlahan terlepas dari genggamanku.
Aku membeku.
Duniaku terasa berhenti.
Aku menatap wajahnya dengan mata yang bergetar hebat.
Berharap semua ini hanyalah mimpi buruk.
Namun dia tidak lagi membuka matanya.
Tidak lagi tersenyum kepadaku.
Tidak lagi memanggil namaku.
Air mataku jatuh tanpa henti.
Aku memeluk tubuhnya erat sambil menangis di tengah ramainya festival yang masih terus berjalan.
Seolah dunia tidak peduli bahwa seseorang yang sangat berarti bagiku baru saja pergi selamanya.
Dan malam itu…
Bersamaan dengan hilangnya cahaya kembang api terakhir di langit…
Sebagian dari diriku ikut pergi bersamanya