England
London City
01:39 PM
LONDON NEWS (LN)
Reporter
“Sebuah insiden pembunuhan terjadi di salah satu hotel ternama di kota London. Peristiwa ini menewaskan dua orang korban. Menurut keterangan saksi mata, salah satu korban memasuki hotel dalam keadaan mabuk dan sempat membuat keributan. Ia bahkan menyerang dan menewaskan salah satu pegawai hotel sebelum akhirnya dirinya dibunuh oleh seorang pria tak dikenal. Suasana sempat ricuh hingga kedatangan pihak kepolisian. Saat ini, pelaku masih dalam pengejaran.”
“Pesan untuk seluruh warga London agar selalu berhati-hati di mana pun Anda berada, karena musibah tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Saya, Elena Bexxa, pamit undur diri. Selamat beristirahat.”
Suasana di St. Victoria Imperial Hotel, lokasi terjadinya insiden pembunuhan, saat ini dipenuhi oleh warga yang datang untuk menyaksikan kejadian tersebut. Suara sirene ambulans terdengar bersahut-sahutan ketika para korban segera dievakuasi dan dibawa ke rumah sakit untuk proses autopsi, disusul oleh beberapa petugas kepolisian yang turut mengawal proses tersebut.
Sementara itu, polisi yang berada di lokasi mulai memasang garis kuning di depan tempat kejadian perkara agar tidak ada siapa pun yang dapat memasuki area tersebut selama proses penyelidikan berlangsung. Mereka juga mengerahkan anjing pelacak untuk menelusuri jejak pelaku.
Satu jam berlalu sejak penyelidikan dimulai. Dari hasil pemeriksaan di lokasi, polisi menemukan barang bukti yang diduga digunakan pelaku dalam aksinya, yaitu sebuah pisau berlumuran darah dan palu. Selain itu, ditemukan pula barang bukti lain yang diduga milik pelaku, yakni sebuah kalung yang terjatuh di lokasi kejadian saat insiden berlangsung.
ST. GEORGE’S ROYAL HOSPITAL
Setibanya ambulans di rumah sakit, para perawat segera membawa korban ke ruang autopsi untuk diperiksa. Sesampainya di sana, mereka langsung menyiapkan peralatan bedah untuk memeriksa tubuh korban.
“Detail hasilnya akan saya jelaskan setelah proses autopsi selesai dilakukan.” — Dr. Edward Hawthorne
Dokter dan perawat mulai memeriksa seluruh bagian luar tubuh korban pertama. Ditemukan sayatan pisau di area leher serta beberapa luka tusuk di bagian perut yang cukup dalam. Sementara itu, pada korban kedua ditemukan luka memar di wajah dan luka di bagian belakang kepala yang diduga akibat hantaman benda keras.
Dokter kemudian membuat sayatan berbentuk huruf T dari area dada hingga perut. Proses ini dilakukan untuk memeriksa bagian dalam tubuh korban. Ia mulai mengeluarkan organ-organ dalam untuk diperiksa secara detail satu per satu.
Pada korban kedua, prosedur yang sama juga dilakukan. Di bagian kepala ditemukan luka memar yang mengindikasikan adanya cedera pada otak.
Setelah seluruh organ dikeluarkan, dokter masuk ke tahap penimbangan organ untuk mendeteksi kondisi fisik, penyakit tersembunyi, atau bukti cedera yang tidak terlihat secara kasat mata. Karena tidak ditemukan masalah pada organ dalam lainnya, proses dilanjutkan ke tahap berikutnya. Dokter mengambil sampel cairan tubuh korban seperti darah dan urine untuk mendeteksi keberadaan racun, alkohol, atau penyakit tertentu.
Pada korban pertama, ditemukan kadar alkohol yang cukup tinggi, dengan hasil pemindaian menunjukkan 56%. Selain itu, juga terdeteksi kandungan narkoba dengan tingkat sekitar 87%.
Setelah seluruh pemeriksaan selesai, dokter mengembalikan organ-organ ke dalam tubuh korban dan menjahitnya kembali. Jenazah kemudian dimasukkan ke dalam kantung jenazah dan dibawa ke ruang jenazah untuk menunggu pihak keluarga melakukan pengambilan.
“Setelah pemeriksaan dilakukan, kami menemukan memar serius pada bagian otak korban kedua yang diduga disebabkan oleh hantaman benda tumpul berkekuatan besar. Sementara itu, hasil toksikologi pada korban pertama menunjukkan kadar alkohol dan narkotika yang cukup tinggi di dalam tubuhnya. Selain itu, tidak ditemukan kerusakan pada organ-organ vital lainnya. Untuk saat ini, kedua jenazah telah dipindahkan ke ruang morgue dan akan menjalani uji konfirmasi lanjutan di laboratorium besok pagi.” — Dr. Edward Hawthorne
“Biarkan aku mengambil sidik jari para korban. Kita perlu mengidentifikasi mereka secepat mungkin dan menghubungi pihak keluarga.” — Cop. Arthur Blackwood
“Silakan, Chief. Jenazahnya berada di meja nomor 08 dan 09.” — Dr. Edward Hawthorne
Sang kepala polisi kemudian berjalan menuju ruang jenazah untuk melakukan identifikasi terhadap para korban. Lorong menuju ruangan itu terasa sunyi dan dingin, cukup untuk membuat bulu kuduk Arthur meremang.
Sesampainya di depan pintu morgue, Arthur mendorongnya perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Aroma formalin yang menyengat segera memenuhi indera penciumannya begitu ia melangkah masuk, membuat napasnya terasa berat sejenak.
Tanpa membuang waktu, Arthur mulai mencari kedua jenazah tersebut. Ia mengenakan sarung tangan latex sebelum mengambil sidik jari para korban, berharap identitas mereka bisa segera ditemukan.
“Sialan! ruangan ini membuatku mual.” — Cop. Arthur Blackwood
Setelah mengambil sidik jari para korban, Arthur tanpa sengaja menyenggol sebuah kereta mortuari di sampingnya. Benturan kecil itu membuat kain putih yang menutupi jenazah di atasnya tersingkap perlahan.
Arthur terkejut saat pemandangan mengerikan itu terlihat jelas di hadapannya. Kondisi jenazah tersebut sangat mengenaskan. Tubuhnya dipenuhi luka parah, sementara kepalanya telah terputus dari lehernya
“Oh, tuhan, keluarkan aku dari mimpi buruk ini.”
Arthur menatap jenazah itu dengan wajah pucat sebelum kembali bersuara pelan.
“Kenapa kepalanya belum dijahit kembali?” — Cop. Arthur Blackwood
Ia segera bergegas meninggalkan tempat mengerikan itu dan kembali ke mobilnya untuk menuju lokasi pembunuhan.
Petir mulai menggelegar di langit, disusul hujan deras yang turun tanpa ampun. Arthur memacu kendaraannya lebih cepat, berusaha segera tiba di tujuan. Namun, derasnya hujan membuat pandangannya kabur tertutup air.
Karena kesulitan melihat jalan, Arthur mencoba membuka sedikit jendela mobilnya dengan harapan dapat melihat lebih jelas. Namun nahas, ban mobilnya kehilangan kendali di jalan yang licin. Kendaraan itu oleng, Arthur mencoba berkali-kali menginjak pedal rem berharap ia bisa mengurangi kecepatannya, namun. Terlambat, mobil yang di kendarai Arthur tergelincir dan terbalik beberapa kali sebelum akhirnya berhenti dalam keadaan hancur.
Tubuh Arthur terjebak di dalam mobil yang ringsek. Napasnya tersengal, darah mengalir dari pelipisnya, sementara suara hujan terus menghantam kaca yang retak. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Arthur menggenggam kalung di lehernya. Di dalam liontin kecil itu terdapat foto istri dan anaknya.
Tatapannya melemah. Untuk yang terakhir kalinya, ia menatap wajah keluarga yang paling ia cintai sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya di tengah malam yang dingin dan penuh hujan.
Dari arah belakang lokasi mobil Arthur terbalik, tampak sosok seorang pria berdiri di tengah hujan. Bayangannya samar tertelan gelap malam, namun kehadirannya cukup untuk menimbulkan satu kesimpulan mengerikan, kecelakaan itu bukanlah kebetulan. Semua telah direncanakan.
Pria itu memperhatikan mobil yang hancur beberapa saat untuk memastikan targetnya benar-benar tewas. Setelah itu, ia berbalik dan menghilang ke dalam derasnya hujan, meninggalkan jasad Arthur yang tak lagi bernyawa.
Sementara itu, hujan terus mengguyur kota London tanpa henti, termasuk hotel tempat pembunuhan terjadi. Setelah para petugas kepolisian selesai menyelidiki lokasi kejadian dan bersiap meninggalkan area, sebuah mobil van hitam tiba-tiba berhenti di depan hotel.
Pintu van terbuka perlahan. Tiga pria bertubuh besar keluar dengan mengenakan topeng hitam. Tanpa peringatan, mereka langsung menembaki para polisi yang berada di sekitar lokasi.
Suara rentetan peluru memecah malam. Para petugas yang tidak siap langsung berjatuhan satu per satu. Warga yang berada di sekitar lokasi panik dan mencoba melarikan diri, namun pria-pria bertopeng itu menembaki siapa pun yang mereka lihat tanpa belas kasihan. Dalam waktu singkat, jalanan di depan hotel berubah menjadi lautan darah.
Di tengah kekacauan itu, salah satu polisi berhasil berlindung di balik mobil patroli setelah peluru mengenai kakinya. Ia menahan rasa sakit sambil berusaha tetap sadar. Dari balik kendaraan, ia melihat salah satu pria bertopeng masuk kembali ke dalam hotel membawa sebuah tas hitam.
Beberapa detik kemudian, naluri buruk langsung menghantam pikirannya.
“Bom…” gumamnya pelan dengan napas memburu.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia memaksa tubuhnya merangkak menjauh dari area hotel. Baru beberapa meter ia bergerak, ledakan besar tiba-tiba mengguncang malam.
BOOOOMM!!!
Api raksasa melahap bangunan hotel, menghancurkan kaca-kaca di sekitar lokasi dan melemparkan pecahan puing ke jalanan. Gelombang ledakan itu menghantam tubuh polisi tersebut hingga terpental ke sisi jalan. Telinganya berdenging keras, sementara tubuhnya dipenuhi luka akibat serpihan kaca dan puing bangunan.
Meski begitu, ia masih hidup.
Dengan tubuh gemetar dan penglihatannya yang mulai kabur, ia kembali merangkak menuju mobil patroli miliknya yang masih bisa digunakan. Dengan susah payah ia berhasil masuk ke dalam mobil, lalu menginjak pedal gas untuk pergi meninggalkan lokasi sebelum para penyerang kembali.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hujan masih turun deras menutupi jalanan malam London. Namun di tengah perjalanan, dari kejauhan ia melihat sebuah mobil terbalik di pinggir jalan.
Ia menghentikan mobilnya perlahan. Meski kakinya terluka parah dan tubuhnya dipenuhi luka akibat ledakan, nalurinya sebagai polisi membuatnya tetap turun untuk memeriksa keadaan. Dengan langkah terpincang-pincang, ia mendekati mobil yang hancur itu.
Namun saat melihat ke dalam kendaraan, wajahnya langsung berubah pucat.
Di sana, terbujur jasad Arthur dalam keadaan mengenaskan.
Pria itu terdiam. Dadanya terasa sesak saat menyadari bahwa teman sekaligus rekannya itu telah tewas.
“Tidak!!! Arthur!!!” — Dp. James Morgan
Suara teriakan itu pecah di tengah derasnya hujan. James jatuh berlutut di samping mobil yang hancur, napasnya memburu saat melihat jasad rekannya terbujur tak bernyawa.
Air mata perlahan mengalir di wajahnya, bercampur dengan air hujan yang terus mengguyur tanpa henti. Rasa duka dan kehilangan menyelimuti dirinya begitu dalam. Arthur bukan hanya rekan kerja baginya, tetapi juga sahabat yang telah melewati banyak kasus bersama.
Dengan tubuh yang masih dipenuhi luka akibat ledakan, James memaksa dirinya tetap tegar. Ia membuka pintu mobil yang ringsek, lalu dengan susah payah mengangkat jasad Arthur dan membawanya ke mobil patroli miliknya.
Saat sedang mengangkat tubuh Arthur, sebuah benda kecil tiba-tiba terjatuh dari saku celananya dan membentur aspal basah.
James menunduk dan mengambil benda tersebut. Sebuah mesin sidik jari tipe standalone mini.
Dengan tangan gemetar, ia menekan tombol daya untuk memastikan benda itu masih berfungsi atau tidak. Layar kecil pada perangkat itu menyala redup, menandakan mesin tersebut masih bekerja dengan normal.
James terdiam sejenak menatap alat itu, seolah sadar bahwa benda kecil tersebut mungkin menyimpan sesuatu yang sangat penting tentang kasus ini.
Setelah memastikan jasad Arthur berada di dalam mobil, James segera masuk ke kursi pengemudi. Meski tubuhnya lemah dan darah terus mengalir dari lukanya, ia tetap menginjak pedal gas dan melaju menuju rumah sakit di tengah hujan malam London yang semakin deras.
Ia kembali menuju rumah sakit tempat Arthur sebelumnya mengambil sidik jari korban pembunuhan di hotel tersebut.
Dengan kondisi tubuh yang penuh luka dan kaki yang masih berdarah akibat tembakan, James berjalan terpincang-pincang memasuki rumah sakit. Wajahnya pucat, napasnya berat, sementara tetesan air hujan masih membasahi pakaian dan tubuhnya. Namun, di tengah rasa sakit yang terus menghantam tubuhnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, mengungkap siapa dalang di balik semua kejadian mengerikan itu.
“Perawat!!!” teriaknya
Ia berteriak memanggil perawat untuk segera membawa jasad temannya ke ruangan autopsi.
Empat jam telah berlalu saat Arthur di bawa masuk ruang autopsi, dokter keluar untuk mengabarkan kepada James tentang kondisi Arthur.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Tuan Arthur mengalami benturan keras pada bagian depan kepala yang menyebabkan tulang tengkoraknya pecah. Cedera tersebut mengakibatkan pendarahan hebat pada area otak, dan itulah penyebab kematiannya. Dalam beberapa saat, jasad Tuan Arthur akan dipindahkan ke ruang jenazah.” — Dr. Edward Hawthorne
Mendengar penjelasan itu, hati James terasa hancur. Ia terduduk lemas di kursi lorong rumah sakit, seakan tidak mampu menerima kenyataan bahwa sahabatnya benar-benar telah tiada.
Pikirannya dipenuhi kenangan tentang Arthur, semua kasus yang pernah mereka tangani bersama, tawa kecil di sela pekerjaan, hingga janji untuk pulang dengan selamat setelah menyelesaikan kasus ini. Kini semuanya berakhir tragis.
Dengan tangan yang gemetar, James perlahan mengambil ponselnya dari saku jaketnya. Napasnya terasa berat saat ia mencari nomor keluarga Arthur. Beberapa detik ia hanya menatap layar ponsel itu dalam diam, seolah berusaha mengumpulkan keberanian untuk menyampaikan kabar buruk tersebut.
Akhirnya, pada esok harinya ia menghubungi keluarga Arthur untuk memberitahu kan kabar kematiannya.
END