Hujan turun pelan di kaca apartemen lantai dua belas itu. Kota Jakarta terlihat samar dari balik embun jendela. Di dapur kecil, aroma kopi bercampur suara tawa seorang gadis bernama Louis.
“Jethro! Kamu lagi-lagi taruh handuk di sofa!” teriak Louis sambil tertawa.
Dari kamar mandi, Jethro keluar dengan rambut basah dan senyum tengil khasnya.
“Biar ada aroma laki-laki dewasa.”
Louis melempar bantal ke arah wajahnya.
“Bau kaus kaki maksudnya!”
Dan seperti biasa, mereka tertawa bersama.
Tiga tahun mereka bersama. Bukan hubungan yang sempurna, tapi cukup untuk membuat Louis percaya kalau Jethro adalah rumahnya.
Mereka tinggal bersama di sebuah apartemen kecil. Memasak mi tengah malam, berebut selimut saat hujan, menonton film sambil tertidur di sofa, sampai bertengkar soal hal-hal sepele seperti siapa yang lupa beli gas atau siapa yang terlalu lama di kamar mandi.
Louis mencintai Jethro dengan cara paling sederhana.
Menemani saat susah. Mendengarkan saat lelah. Tetap tinggal bahkan ketika keadaan tidak baik-baik saja.
Dan Jethro juga mencintainya. Setidaknya dulu begitu.
Sampai sebuah pekerjaan datang mengubah semuanya.
“Aku diterima di Surabaya.”
Suasana malam itu mendadak sunyi.
Jethro yang sedang bermain game perlahan menoleh.
“Kapan?”
“Bulan depan.”
“Cepat banget…”
Louis menunduk pelan.
“Itu kesempatan besar buat aku, Jeth…”
Jethro diam lama sekali. Wajahnya sulit ditebak.
“Aku ikut senang,” katanya akhirnya, meski matanya tidak benar-benar terlihat bahagia.
Malam itu mereka tidur saling membelakangi.
Bukan karena marah. Tapi karena sama-sama takut.
Hari keberangkatan Louis datang terlalu cepat.
Bandara dipenuhi suara pengumuman penerbangan dan langkah kaki orang-orang. Louis memeluk Jethro erat sekali seolah tidak ingin melepasnya.
“Kita bakal baik-baik aja kan?” suara Louis gemetar.
Jethro mengusap rambutnya lembut.
“Iya.”
“Jangan berubah ya.”
“Kamu juga.”
Louis tersenyum kecil walau matanya sudah merah.
“Aku sayang kamu.”
Jethro mencium keningnya.
“Aku juga.”
Dan pesawat itu membawa Louis pergi.
Awalnya semuanya baik-baik saja.
Mereka video call setiap malam. Mengirim foto makanan. Bertengkar kecil karena cemburu. Lalu baikan lagi.
Tapi jarak perlahan mengubah banyak hal.
Jethro mulai sibuk. Balasan pesannya makin singkat. Telepon malam berubah jadi “aku capek”. Ucapan selamat pagi mulai hilang.
Louis mencoba bertahan.
“Jeth, kamu kenapa akhir-akhir ini?”
“Nggak kenapa-napa.”
“Kamu berubah.”
“Kamu terlalu mikir.”
Dan kalimat itu selalu berhasil membuat Louis diam.
Sampai akhirnya komunikasi mereka semakin renggang.
Dan suatu malam…
Jethro tidak mengangkat telepon sama sekali.
Satu tahun berlalu.
Louis kembali ke Jakarta karena urusan pekerjaan. Kota itu masih sama, tapi rasanya berbeda.
Apartemen yang dulu mereka tinggali kini terasa asing.
Louis berdiri lama di depan gedung itu.
Kenangan datang tanpa izin.
Tentang pelukan. Tentang tawa. Tentang cinta yang dulu begitu besar.
Lalu tanpa sengaja…
Dia melihat Jethro.
Di lobby apartemen.
Bersama seorang perempuan.
Cantik. Tinggi. Berpakaian mewah.
Perempuan itu menggandeng lengan Jethro sambil tertawa manja.
Dunia Louis seperti berhenti.
Jethro menoleh… dan wajahnya langsung pucat.
“Louis…”
Suara itu masih sama. Masih suara yang dulu membuatnya nyaman.
Tapi sekarang justru terasa menyakitkan.
Perempuan di samping Jethro mengernyit.
“Sayang, ini siapa?”
Louis tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan.
“Oh… jadi ini alasan kamu berubah.”
“Louis, aku bisa jelasin—”
“Ternyata gampang ya lupain tiga tahun.”
Jethro terlihat panik.
“Bukan gitu…”
“Terus gimana?”
Air mata Louis jatuh juga akhirnya.
“Aku nungguin kamu, Jeth.”
Suasana lobby mendadak sunyi.
“Aku bela-belain pulang karena masih percaya sama kita…”
Jethro menunduk. Tak mampu menatap matanya.
Dan di situlah Louis sadar.
Hubungan mereka sebenarnya sudah selesai sejak lama. Hanya saja hatinya terlalu takut menerima kenyataan.
Beberapa minggu setelah itu, Louis benar-benar menghilang dari hidup Jethro.
Nomornya ganti. Apartemen lama dijual. Semua kenangan perlahan dibereskan.
Awalnya Jethro terlihat baik-baik saja dengan pacar barunya, Vanessa.
Namun semakin lama, semuanya berbeda jauh dari Louis.
Vanessa tidak suka menemani saat Jethro lembur. Tidak mau mendengar keluh kesahnya. Sering marah jika tidak dituruti.
“Kenapa sih kamu susah banget
dimengerti?” bentak Vanessa suatu malam.
Jethro terdiam.
Dulu… Louis selalu mendengarkan bahkan tanpa diminta.
Saat dia sakit, Louis begadang merawatnya. Saat dia gagal kerja, Louis yang menyemangati. Saat dia tidak punya apa-apa, Louis tetap tinggal.
Dan sekarang…
Jethro baru sadar. Cinta setulus itu ternyata langka.
Sangat langka.
Suatu sore hujan turun deras ketika Jethro tanpa sengaja melihat postingan teman lama.
Foto Louis.
Dia tersenyum mengenakan dress putih sederhana.
Di sampingnya berdiri seorang pria tinggi berwajah teduh.
Captionnya singkat:
“Finally engaged. Happy for you, Louis & Kurt.”
Jethro membeku.
Tangannya gemetar.
Dia membuka foto itu lama sekali.
Louis terlihat sangat bahagia.
Bahagia yang dulu pernah dia miliki… lalu dia sia-siakan sendiri.
Beberapa hari kemudian, Jethro memberanikan diri datang ke sebuah kafe tempat Louis bekerja remote.
Saat melihat pria itu datang, Louis tampak terkejut.
Namun kali ini tatapannya berbeda.
Tidak ada lagi rasa sedih. Tidak ada lagi harapan.
Hanya kenangan.
“Kamu apa kabar?” tanya Jethro pelan.
“Baik.”
“Louis… aku nyesel.”
Louis tersenyum kecil.
Kalimat yang dulu sangat ingin dia dengar. Tapi sekarang sudah terlambat.
“Aku baru sadar nggak ada yang bisa sayang sama aku kayak kamu.”
Louis menatap keluar jendela.
“Hidup emang lucu ya, Jeth.”
Jethro menunduk.
“Aku kehilangan kamu.”
Louis menghela napas pelan.
“Dan aku pernah kehilangan diri sendiri karena terlalu mempertahankan kamu.”
Sunyi.
“Aku tunangan bulan depan,” lanjut Louis lembut.
Jethro tersenyum pahit.
“Kurt ya?”
“Iya.”
“Dia baik?”
Louis mengangguk.
“Sangat baik.”
Ada rasa sesak yang luar biasa di dada Jethro saat mendengarnya.
Namun untuk pertama kalinya… Dia sadar cinta bukan hanya tentang memiliki.
Kadang cinta adalah menerima bahwa seseorang akan lebih bahagia tanpa kita.
Saat Louis berdiri hendak pergi, Jethro memanggilnya sekali lagi.
“Louis.”
Gadis itu menoleh.
“Makasih ya… pernah jadi rumah buat aku.”
Mata Louis sedikit berkaca.
Lalu dia tersenyum tipis.
“Jaga hati orang berikutnya lebih baik dari caramu menjagaku dulu.”
Dan Louis pergi meninggalkan kafe itu.
Meninggalkan Jethro. Meninggalkan masa lalu. Meninggalkan cinta yang pernah begitu besar.
Di luar, hujan mulai reda.
Namun bagi Jethro… Penyesalan itu mungkin akan tinggal jauh lebih lama.
Selesai