Bab I - Kota Hampir Mati
Langit sore di Kota Arunika selalu terlihat muram. Matahari tenggelam perlahan di balik gedung-gedung tua yang catnya mulai mengelupas, meninggalkan warna jingga pucat seperti luka lama yang belum sembuh.
Di salah satu sudut kota itu, seorang pemuda bernama Raka berdiri di halte bus sambil memandangi jalanan yang basah oleh hujan. Jaket hitam lusuh yang dikenakannya tidak cukup menahan dingin.
Sudah hampir dua tahun ia hidup sendirian.
Ayahnya meninggal karena sakit paru-paru, sementara ibunya pergi meninggalkan rumah tanpa kabar setelah terlilit hutang.
Kini hidup Raka hanya berisi rutinitas yang membosankan.
Pagi bekerja di bengkel kecil milik Pak Harun.
Siang memperbaiki motor pelanggan.
Malam pulang ke rumah kontrakan sempit.
Lalu tidur ditemani suara kereta yang melintas.
Tidak ada mimpi.
Tidak ada tujuan.
Sampai sore itu...
Sebuah bus tua berhenti di depan halte. Pintunya terbuka perlahan sambil mengeluarkan suara berdecit.
Raka naik tanpa banyak pikir.
Di dalam bus hanya ada beberapa penumpang. Seorang ibu tua, dua anak kecil, dan seorang gadis yang duduk dekat jendela.
Gadis itu mengenakan sweater krem dan headphone putih. Rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian wajah.
Namun entah kenapa...
Tatapan Raka tertahan cukup lama.
Ada sesuatu yang terasa aneh.
Gadis itu tampak seperti bagian dari senja.
Tenang.
Lembut.
Namun menyimpan kesedihan.
Ketika bus melewati lampu merah, gadis itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Raka merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Bus berhenti di terminal ujung kota.
Raka turun sambil memasukkan kedua tangan ke saku.
Namun langkahnya terhenti ketika suara lembut memanggil dari belakang.
"Hei..."
Ia menoleh.
Gadis tadi berdiri beberapa meter darinya.
"Kau menjatuhkan ini."
Ia menyerahkan sebuah buku kecil berwarna cokelat.
Raka baru sadar buku catatan kerjanya terjatuh.
"Oh... makasih."
Gadis itu tersenyum tipis.
"Namamu Raka ya?"
Raka mengernyit.
"Kok tahu?"
"Tertulis di depan buku."
"Oh iya juga."
Suasana mendadak canggung.
Angin sore berembus pelan membawa aroma hujan.
"Aku Alya," kata gadis itu.
"Salam kenal."
Untuk beberapa detik, Raka hanya diam.
Ia tidak terbiasa berbicara dengan orang baru.
Apalagi perempuan.
Namun entah kenapa, bersama Alya, suasana terasa berbeda.
Seperti ada ketenangan aneh yang sulit dijelaskan.
"Kau tinggal di sekitar sini?" tanya Alya.
"Iya. Kontrakan belakang pasar."
"Oh..."
Alya memandang langit.
"Senja di kota ini cantik ya."
Raka ikut melihat langit.
Ia sebenarnya tidak pernah peduli pada senja.
Baginya sore hanyalah pertanda hari kerja telah selesai.
Namun saat itu...
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memperhatikan warna langit.
Jingga.
Merah.
Ungu.
Dan entah kenapa...
Indah.
Bab 2 – Gadis yang Menyukai Senja
Sejak pertemuan pertama itu, hidup Raka perlahan berubah.
Alya sering muncul secara tiba-tiba.
Kadang di halte.
Kadang di toko roti.
Kadang duduk sendiri di taman kota sambil mendengarkan musik.
Mereka mulai sering berbicara.
Tentang pekerjaan.
Tentang kota.
Tentang mimpi.
Alya berbeda dari kebanyakan orang.
Ia selalu berbicara seolah dunia masih memiliki harapan.
Padahal Kota Arunika sudah lama kehilangan cahaya.
Banyak pengangguran.
Banyak kriminal.
Banyak orang menyerah pada hidup.
Namun Alya selalu tersenyum.
"Menurutmu manusia bisa berubah?" tanya Alya suatu sore.
Mereka duduk di atas jembatan kecil sambil memandangi sungai.
Raka berpikir sejenak.
"Entahlah. Orang biasanya tetap sama."
"Kalau aku percaya manusia bisa berubah," jawab Alya.
"Seberapa buruk pun masa lalunya."
Raka terdiam.
Kalimat itu terasa menancap di dadanya.
Karena jauh di dalam hati...
Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian ibunya.
Dulu ia sering marah.
Sering membentak.
Sering membuat rumah terasa penuh tekanan.
Dan setelah ayahnya meninggal...
Ibunya pergi.
Sejak itu Raka percaya bahwa dirinya membawa kesialan.
"Kau kelihatan sedih," kata Alya pelan.
"Aku cuma capek."
"Bohong."
Raka menoleh.
Alya menatapnya dengan mata tenang.
"Orang yang capek biasanya tetap punya harapan. Tapi matamu kosong."
Untuk sesaat, Raka tidak bisa berkata apa-apa.
Belum pernah ada orang yang melihat dirinya sedalam itu.
Hari-hari berikutnya menjadi lebih hangat.
Raka mulai menunggu sore.
Menunggu bertemu Alya.
Ia bahkan mulai memperhatikan penampilannya.
Merapikan rambut.
Mencuci jaket.
Menggunakan parfum murah.
Pak Harun sampai tertawa melihat perubahan itu.
"Lagi jatuh cinta ya?"
"Apaan sih, Pak."
"Mukamu aja beda sekarang."
Raka hanya tersenyum kecil.
Namun jauh di dalam hati...
Mungkin benar.
Ia mulai menyukai Alya.
Bukan hanya karena wajahnya cantik.
Tapi karena Alya membuat dunia terasa tidak terlalu gelap.
Bab 3 – Rahasia yang Disembunyikan
Suatu malam, hujan turun sangat deras.
Raka berdiri di depan minimarket sambil menunggu hujan reda.
Tiba-tiba ia melihat sosok familiar di seberang jalan.
Alya.
Namun gadis itu terlihat berbeda.
Wajahnya pucat.
Langkahnya lemah.
Bahkan ia hampir terjatuh.
Raka segera berlari menghampiri.
"Alya!"
Alya terkejut.
"Raka...?"
Tubuh gadis itu terasa dingin.
"Kau sakit?"
"Aku nggak apa-apa."
Namun beberapa detik kemudian Alya batuk.
Dan setitik darah jatuh di telapak tangannya.
Mata Raka membesar.
"Darah...?"
Alya buru-buru menyembunyikan tangannya.
"Cuma batuk biasa."
"Jangan bohong!"
Suara Raka meninggi.
Alya terdiam.
Hujan terus turun di sekitar mereka.
Lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di genangan air.
Akhirnya Alya menghela napas panjang.
"Aku punya penyakit paru-paru."
Dunia Raka seakan berhenti.
"Apa...?"
"Sudah lama."
"Kenapa kau nggak bilang?"
Alya tersenyum kecil.
"Karena aku nggak mau dikasihani."
Raka menggertakkan gigi.
Entah kenapa dadanya terasa sesak.
Takut.
Ia takut kehilangan.
Padahal mereka baru saling mengenal beberapa bulan.
Namun Alya sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
"Dokter bilang aku mungkin nggak punya banyak waktu," kata Alya pelan.
Kalimat itu menghantam hati Raka begitu keras.
Hujan malam terasa semakin dingin.
Dan untuk pertama kalinya...
Raka benar-benar takut pada kenyataan.
Bab 4 – Cahaya di Tengah Luka
Hari-hari setelah pengakuan Alya berubah menjadi lebih emosional.
Raka mulai sering menemani Alya ke rumah sakit.
Ia duduk di samping gadis itu selama pemeriksaan.
Membelikan makanan.
Mengantar obat.
Bahkan memaksa Alya istirahat ketika gadis itu terlalu keras kepala.
"Aku bukan anak kecil," protes Alya.
"Tapi kau keras kepala kayak anak kecil."
Alya tertawa kecil.
Tawa itu sederhana.
Namun cukup membuat hati Raka hangat.
Mereka mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama.
Pergi ke taman.
Naik bus keliling kota.
Melihat matahari tenggelam dari atap gedung tua.
Alya sangat menyukai senja.
"Kenapa suka senja?" tanya Raka.
Alya memandang langit jingga.
"Karena senja itu singkat."
"Justru itu sedih."
"Tapi karena singkat, orang jadi lebih menghargainya."
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
"Hidup juga sama kan?"
Kalimat itu membuat dada Raka terasa berat.
Ia sadar...
Alya sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Suatu malam, listrik di kontrakan Raka mati.
Ia duduk sendiri sambil memandangi hujan dari jendela.
Pikirannya penuh.
Tentang Alya.
Tentang penyakitnya.
Tentang kemungkinan kehilangan.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Pesan dari Alya.
"Kalau suatu hari aku pergi, jangan jadi orang yang menyerah sama hidup ya."
Raka langsung menelepon.
"Jangan ngomong begitu."
Suara Alya terdengar pelan di seberang.
"Aku cuma takut kau kembali jadi kosong."
"Aku nggak akan kehilangan kau."
Hening.
Lalu Alya tertawa kecil.
"Kadang manusia nggak bisa melawan waktu, Raka."
Malam itu Raka tidak bisa tidur.
Ia baru sadar...
Dirinya sudah jatuh cinta terlalu dalam.
Bab 5 – Masa Lalu yang Kembali
Suatu siang, seseorang datang ke bengkel.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sederhana.
Ketika melihat wajahnya, tubuh Raka membeku.
Ibunya.
Wanita itu terlihat jauh lebih kurus.
Matanya sembab.
"Raka..."
Namun Raka langsung berdiri.
"Kenapa datang lagi?"
Pak Harun yang melihat suasana segera masuk ke dalam ruangan belakang.
Meninggalkan mereka berdua.
"Ibu cuma mau lihat keadaanmu."
"Setelah dua tahun hilang?"
Suara Raka penuh amarah.
"Ayah meninggal dan Ibu pergi begitu aja!"
Wanita itu menunduk sambil menahan tangis.
"Maafkan Ibu..."
"Aku nggak butuh maaf."
Raka pergi meninggalkan bengkel.
Dadanya penuh emosi.
Marah.
Sedih.
Kecewa.
Ia berjalan tanpa arah sampai akhirnya tiba di taman tempat Alya biasa menunggu.
Melihat wajah Raka yang kacau, Alya langsung tahu ada sesuatu.
"Ada apa?"
Raka duduk tanpa bicara.
Lalu perlahan...
Ia menceritakan semuanya.
Tentang ayahnya.
Tentang ibunya.
Tentang rasa benci yang selama ini ia pendam.
Alya mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, gadis itu berkata pelan,
"Kau masih sayang ibumu."
"Nggak."
"Kalau benar benci, kau nggak akan sesakit ini."
Raka terdiam.
Air matanya hampir jatuh.
Sudah bertahun-tahun ia menahan semua itu sendirian.
Dan sekarang...
Pertahanannya perlahan runtuh.
Alya menggenggam tangannya.
"Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang."
"Lalu kenapa?"
"Karena mereka juga hancur."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Raka.
Bab 6 – Senja yang Mulai Redup
Kesehatan Alya semakin memburuk.
Ia mulai sering batuk darah.
Tubuhnya melemah.
Napasnya pendek.
Namun gadis itu tetap tersenyum.
Seolah tidak ingin membuat orang lain sedih.
Suatu sore mereka pergi ke bukit kecil di ujung kota.
Tempat itu menjadi lokasi favorit Alya melihat matahari tenggelam.
Angin berembus pelan.
Rumput bergoyang diterpa cahaya jingga.
Alya duduk sambil memeluk lutut.
"Kalau aku nggak ada nanti, apa yang paling kau ingat tentang aku?"
Raka langsung menatapnya tajam.
"Aku bilang jangan ngomong begitu."
"Jawab aja."
Raka menghela napas.
"Senyummu."
Alya tersenyum kecil.
"Cuma itu?"
"Dan caramu bikin dunia terasa lebih ringan."
Mata Alya mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih ya..."
"Untuk apa?"
"Karena sudah hadir di hidupku."
Raka menggenggam tangan Alya erat.
Dan dalam hati...
Ia berdoa agar waktu berhenti.
## Bab 7 – Perpisahan
Malam itu telepon berbunyi pukul dua dini hari.
Raka terbangun dengan jantung berdebar.
Suara perawat terdengar dari seberang.
"Apa Anda keluarga Alya?"
Tubuh Raka langsung lemas.
Ia berlari keluar kontrakan tanpa peduli hujan.
Motor tuanya melaju menembus jalanan kosong.
Sesampainya di rumah sakit...
Lampu lorong terasa terlalu terang.
Udara terasa dingin.
Raka melihat dokter berdiri di depan ruang ICU.
Dan dari ekspresi pria itu...
Ia sudah tahu jawabannya.
"Maaf... kami sudah berusaha."
Dunia runtuh.
Raka masuk ke ruangan dengan langkah gemetar.
Alya terbaring tenang di atas ranjang.
Wajahnya damai.
Seperti sedang tidur.
Raka duduk di sampingnya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
"Kau bohong..."
Tangannya menggenggam jemari Alya yang mulai dingin.
"Katanya kita mau lihat senja lagi..."
Namun tidak ada jawaban.
Hanya suara mesin rumah sakit.
Dan kesunyian.
Di samping ranjang terdapat sebuah amplop.
Untuk Raka.
Dengan tangan gemetar, ia membuka surat itu.
"Kalau kau membaca ini, berarti aku sudah pergi.
Jangan sedih terlalu lama ya.
Aku tahu hidupmu berat. Tapi aku ingin kau tetap berjalan.
Jangan jadi manusia yang menyerah pada luka.
Karena di dunia ini, masih ada banyak senja indah yang menunggumu.
Terima kasih sudah membuat hari-hariku bahagia.
Alya"
Tangis Raka pecah malam itu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Ia menangis sekeras-kerasnya.
Bab 8 – Senja Terakhir di Ujung Kota
Beberapa bulan berlalu.
Kota Arunika masih sama.
Macet.
Bising.
Penuh luka.
Namun Raka berubah.
Ia mulai membuka diri.
Mulai tersenyum.
Mulai berbicara dengan orang lain.
Mulai memaafkan.
Bahkan ia akhirnya menemui ibunya.
Mereka menangis bersama.
Tidak semua luka sembuh sepenuhnya.
Namun perlahan...
Mereka belajar menerima.
Suatu sore, Raka kembali ke bukit ujung kota.
Tempat favorit Alya.
Matahari perlahan tenggelam.
Langit dipenuhi warna jingga keemasan.
Raka duduk sendiri sambil tersenyum kecil.
Ia masih merindukan Alya.
Sangat.
Namun kini rasa kehilangan itu tidak lagi menghancurkan.
Karena Alya telah meninggalkan sesuatu dalam dirinya.
Harapan.
Angin sore berembus pelan.
Dan di tengah senja yang indah itu...
Raka akhirnya mengerti.
Bahwa beberapa orang hadir bukan untuk tinggal selamanya.
Melainkan untuk mengubah hidup seseorang.
Sebelum pergi seperti matahari yang tenggelam di ujung kota.
TAMAT