Di sini, di antara bayang-bayang panjang yang dilemparkan oleh matahari sore yang merangkak malas di dinding rumah sakitmu yang berbau antiseptik dan keputusasaan, duduklah aku, saksi bisu atas kejatuhanmu yang tidak terlalu epik.
Jangan menatapku dengan mata yang redup dan berkaca-kaca itu, seolah-olah kau adalah martir dalam sebuah balada kuno yang ditulis oleh penyair mabuk di abad pertengahan. Kau bukan pahlawan yang gugur di medan perang Troy, kawan, kau hanya seseorang yang kalah taruhan melawan genetika dan nasib buruk, terbaring di atas seprai yang terlalu putih untuk menutupi noda kehidupanmu yang penuh warna abu-abu.
Dengarlah deru napasmu sendiri, irama yang tersendat-sendat seperti jam dinding tua yang lupa diminyaki, menghitung mundur detik-detik menuju ketiadaan yang agung, sementara di luar sana dunia terus berputar, burung-burung tetap berkicau mengejek, dan orang-orang sibuk mengejar ambisi fana mereka, sama sekali tidak peduli bahwa satu jiwa yang "berharga", yaitu kau, sedang bersiap untuk log out secara permanen dari permainan ini.
Sungguh, jangan katakan padaku dengan angka-angka yang berkabung bahwa hidup hanyalah mimpi kosong, karena bagimu, mimpi itu akan segera menjadi layar hitam tanpa kredit penutup. Kau berbaring di sana, terbungkus dalam selimut tipis yang disediakan oleh institusi yang memeras sisa tabunganmu demi memperpanjang penderitaan ini beberapa hari lagi, dan kau berharap aku membacakan ayat-ayat suci atau kata-kata mutiara? Betapa klise.
Lihatlah dirimu, pucat seperti bulan sabit di musim dingin, rapuh seperti ranting kering yang diinjak sepatu bot tentara, kau tampak begitu "damai" dalam ketidakberdayaanmu, sebuah parodi dari istirahat abadi yang kau idam-idamkan sejak kau mulai mengeluh tentang sakit punggung di usia dua puluhan. Ingatkah kau bagaimana kau selalu berkata ingin tidur seharian? Nah, selamat, sebentar lagi keinginanmu akan terkabul dengan bonus keabadian, tanpa perlu menyetel alarm yang menjengkelkan itu lagi.
"Seni itu panjang, dan waktu itu cepat berlalu," kata sang penyair, tetapi dalam kasusmu, senimu hanyalah koleksi keluhan di media sosial dan waktumu berlari lebih cepat daripada pencuri yang dikejar polisi. Dan hati kita, meskipun gagah dan berani, masih seperti drum yang tertutup kain, memukul mars pemakaman menuju liang lahat, ah, betapa puitisnya, bukan? Jantungmu itu, yang dulu berdebar kencang hanya karena gadis kasir minimarket tersenyum padamu, sekarang berdetak dengan keengganan seorang pegawai negeri di hari Senin pagi.
Dia tahu, kawan, dia tahu bahwa jam kerjanya sudah hampir habis, dan tidak ada uang lembur di akhirat. Jadi, untuk apa kau pasang wajah sendu itu? Apakah kau mengharapkan simpati dari alam semesta? Alam semesta itu dingin, luas, dan tidak peduli, sama seperti mantan kekasihmu yang kau tangisi tiga tahun lalu.
Dalam bivak kehidupan dunia yang luas ini, di medan pertempuran di mana kau sering kali hanya menjadi penonton atau figuran yang lewat di latar belakang, janganlah menjadi seperti sapi yang digiring, bisu dan penurut, jadilah pahlawan dalam perselisihan. Tapi tunggu, kau tidak bisa lagi menjadi pahlawan, bukan?
Kau bahkan tidak bisa bangun untuk pergi ke kamar mandi tanpa bantuan perawat yang diam-diam membencimu karena kau terlalu sering memencet tombol panggilan. Jadi, lupakan soal menjadi pahlawan. Jadilah penjahat kecil di akhir hayatmu. Jadilah pasien yang menyebalkan. Minta makanan yang tidak boleh kau makan, maki dokter yang memasang wajah sok tahu itu, tertawalah pada kematian seolah-olah itu adalah lelucon buruk yang diceritakan oleh pamanmu yang mabuk di pesta pernikahan.
Jangan percaya pada masa depan, betapapun menyenangkan, dia tampak dalam brosur agama atau filosofi new age, biarkan masa lalu yang sudah mati mengubur mayatnya sendiri, dan sebentar lagi, kau akan menjadi bagian dari tumpukan mayat itu. Bertindaklah, bertindaklah di masa sekarang yang hidup! Atau setidaknya, selagi kau masih sadar dan morfin belum mengambil alih sisa kewarasanmu.
Kau tahu apa yang lucu? Orang-orang berkata "tinggalkan jejak di pasir waktu". Jejak apa yang akan kau tinggalkan? Jejak pantatmu di sofa? Jejak hutang kartu kredit? Jejak emisi karbon yang kau sumbangkan dengan mobil tuamu yang boros itu? Hujan akan turun, ombak akan datang, dan jejak kakimu yang dangkal itu akan tersapu bersih bahkan sebelum nisanmu sempat berlumut.
Jadi berhentilah mengkhawatirkan warisan. Warisan adalah dongeng yang diceritakan orang hidup untuk menghibur diri sendiri agar tidak gila memikirkan kefanaan. Bayang-bayang malam mulai jatuh, kawan, bukan dari sayap malam, tapi dari tirai jendela yang ditarik oleh petugas kebersihan yang ingin segera pulang. Kegelapan turun dari udara, dan ketenangan yang kau rasakan mungkin hanyalah efek samping obat bius, bukan kedamaian spiritual.
Tapi nikmatilah. Anggap saja itu trailer gratis dari film panjang yang akan kau bintangi sendirian di dalam kotak kayu. Kau ingat Longfellow berkata, "Bintang-bintang yang tak terlupakan"? Yah, kau bukan bintang. Kau lebih seperti lampu bohlam 5 watt yang sudah kedip-kedip dan akan putus filamennya. Dan tidak ada yang akan menulis puisi epik tentang bagaimana kau berjuang melawan kolesterol dan kemalasan seumur hidupmu.
Namun, di sinilah letak ironi indahnya, justru karena kau bukan siapa-siapa, justru karena kau akan dilupakan secepat koran kemarin dibuang ke tempat sampah, kau bebas. Kematian adalah pembebasan mutlak dari kewajiban membayar pajak, dari keharusan berbasa-basi dengan tetangga yang menyebalkan, dan dari tekanan untuk menjadi "sukses". Kau menang, kawan.
Kau keluar dari perlombaan tikus ini lebih awal. Sementara kami, teman-temanmu yang "beruntung" dan masih sehat ini, harus terus bangun pagi, macet-macetan, menua, menjadi jelek, sakit-sakitan, dan melihat dunia perlahan hancur, kau akan tidur nyenyak tanpa mimpi buruk. Kau curang. Kau mengambil jalan pintas menuju garis finis dan meninggalkan kami semua terengah-engah di belakang.
Dan ketika jam lonceng itu berbunyi nanti, saat nafas terakhirmu lolos dari bibirmu yang kering itu, mungkin terdengar seperti desah lega atau mungkin seperti suara ban kempes, jangan berharap ada malaikat bersayap putih yang turun menjemputmu dengan kereta kencana. Bersiaplah untuk antrean birokrasi akhirat, jika itu ada. Atau bersiaplah untuk ketiadaan yang sunyi, seperti saat siaran televisi berakhir dan layar menjadi semut-semut statis. Apa pun itu, setidaknya kau tidak perlu lagi mendengarkan ceramah motivasi atau nasihat kesehatan. Kau akan menjadi tanah, menjadi rumput, menjadi pupuk. Akhirnya, kau akan berguna bagi lingkungan, sebuah pencapaian yang gagal kau lakukan selama kau hidup sebagai konsumen yang rakus.
Jadi, teman, sebelum kau benar-benar pergi dan menjadi subjek pembicaraan masa lalu ("Oh, dia orang baik," padahal kami semua tahu kau pelit dan sering lupa menyiram toilet), berikan aku satu senyuman sinismu yang terakhir. Jangan pergi dengan lembut ke dalam malam yang baik itu. Katakan tidak. Katakan ya. Katakan, "Ini adalah waktuku". Pergilah dengan cibiran. Pergilah dengan rasa puas bahwa kau meninggalkan semua kekacauan dunia ini untuk kami bereskan.
Kami akan merindukanmu, mungkin selama seminggu atau dua minggu, sebelum kami kembali sibuk dengan urusan kami sendiri yang sepele. Itu adalah kebenaran yang pahit, tapi bukankah kau selalu lebih suka kopi pahit daripada teh manis? Minumlah cawan terakhir ini sampai habis, jangan sisakan setetes pun, karena di mana kau akan pergi, tidak ada lagi rasa haus, tidak ada lagi rasa sakit, dan untungnya bagi semua orang, tidak ada lagi sarkasme burukmu. Selamat jalan, brengsek yang malang. Jadikan waktu ini untuk menjadi penjahat yang menyebalkan.
Sebelum kau mati.
POV Pasien
Tutup mulutmu sebentar, kau brengsek yang sehat. Suaramu lebih berisik daripada mesin EKG yang terus-menerus memprotes detak jantungku yang malas ini. Kau duduk di sana, dengan paru-paru yang masih elastis dan aroma kopi mahal yang tertinggal di napasmu, menceramahiku tentang betapa tidak epiknya kejatuhanku? Betapa sombongnya kau, berdiri di dermaga sambil mengejek kapal karam yang sedang menikmati perlahan-lahan air garam yang memenuhi deknya.
Aku mendengar setiap kata darimu. Setiap suku kata yang kau curi dari Longfellow hanya untuk kau ludahkan kembali ke wajahku yang pucat. Kau pikir kau sedang melakukan dekonstruksi filosofis? Tidak, kau hanya sedang merasa takut. Kau menghinaku, menyebutku lampu bohlam lima watt yang berkedip, karena kau tidak tahan melihat kegelapanmu sendiri yang tercermin di mataku yang redup ini. Kau butuh aku menjadi lelucon, karena jika kematianku adalah sebuah tragedi, maka kau harus mulai mengkhawatirkan nisanmu sendiri yang mungkin juga akan berlumut sebelum sempat dipahat.
Kau benar soal satu hal bahwa bau antiseptik ini memang memuakkan. Ini adalah bau kegagalan manusia untuk menjadi abadi. Dan di sini aku terbaring, di atas seprai yang kau bilang "terlalu putih" ini, mendengarkanmu meratapi noda abu-abuku. Tapi tahukah kau? Abu-abu adalah warna yang paling jujur. Hitam itu terlalu dramatis, dan putih itu pembohong besar. Abu-abu adalah warna di mana kita semua hidup, di antara janji-janji yang tak ditepati dan hutang kartu kredit yang kau sebut sebagai "warisanku".
Jangan khawatirkan soal tombol panggilan itu. Ya, aku memencetnya lagi. Bukan karena aku butuh bantuan untuk ke kamar mandi, meskipun itu juga benar, tetapi karena aku ingin melihat wajah perawat itu. Kau bilang dia membenciku? Tentu saja. Kebenciannya adalah satu-satunya hal yang terasa nyata di gedung penuh simpati palsu ini. Dia membenciku karena aku adalah pengingat bahwa semua ilmu medis yang dia pelajari hanyalah penunda waktu, bukan solusi. Aku adalah bug dalam sistem yang dia layani. Dan aku menikmati setiap detik dari kekesalannya. Menjadi "penjahat kecil" seperti saranmu? Aku sudah melakukannya bahkan sebelum kau membuka mulut besarmu itu. Aku baru saja menyembunyikan pil pahit ini di bawah lidahku, hanya agar aku bisa memuntahkannya nanti saat mereka tidak melihat.
Kau mengejek "seniku" yang kau bilang hanya koleksi keluhan di media sosial. Wahai kritikus yang terhormat, apakah hidupmu lebih puitis? Kau yang bangun setiap pagi karena ketakutan pada bosmu, kau yang tersenyum pada orang-orang yang ingin kau tikam dari belakang, kau yang mengukur kebahagiaan dengan cicilan mobil yang emisi karbonnya kau banggakan? Setidaknya, keluhanku adalah kejujuran. Aku mengeluh karena dunia ini memang menyebalkan, dan sekarang, aku punya alasan medis untuk melakukannya secara resmi.
"Seni itu panjang, dan waktu itu cepat berlalu," katamu, atau mungkin kata Longfellow, tentu saja karena kau mencuri kata-katanya. Tapi bagiku, di ruangan ini, waktu tidak berlalu, tapi membeku. Dia melingkar seperti ular yang sedang mencerna ekornya sendiri. Aku tidak sedang menghitung mundur menuju ketiadaan yang agung. Aku sedang menonton film yang sangat membosankan, dan kau adalah satu-satunya penonton yang tidak tahu kapan harus keluar dari bioskop.
Kau bilang aku "curang" karena mengambil jalan pintas menuju garis finis. Oh, kawan, betapa malangnya kau. Kau masih terjebak dalam perlombaan tikus itu, sementara aku sudah melepaskan sepatuku. Kau menyebutnya pembebasan mutlak dari pajak dan basa-basi? Memang. Tapi ini juga pembebasan dari keharusan mendengarkan ocehanmu setiap hari Minggu. Jadi, siapa sebenarnya yang menang di sini? Aku akan tidur tanpa alarm, sementara kau harus pulang, menghadapi macet, dan mungkin menangis diam-diam di kemudi mobilmu karena kau sadar bahwa setelah aku pergi, kau tidak punya lagi orang yang cukup jujur untuk kau panggil "brengsek".
Soal jejak di pasir waktu itu... biarlah ombak menghapusnya. Aku tidak ingin meninggalkan jejak. Aku bukan monumen. Aku bukan pahlawan Troy yang kau sebut-sebut. Aku hanya seorang pria yang pernah menyukai kopi pahit dan pernah jatuh cinta pada gadis kasir yang tidak pernah tahu namaku. Jejak pantatku di sofa? Itu adalah bukti bahwa aku pernah santai di tengah dunia yang terobsesi dengan produktivitas. Jejak hutangku? Itu adalah caraku merampok sistem yang selama ini merampokku. Jangan sebut itu kegagalan, sebut itu "retribusi".
Kau bicara tentang alam semesta yang dingin dan tidak peduli. Kau bicara seolah-olah itu adalah berita baru. Aku sudah tahu itu sejak aku pertama kali patah hati dan menyadari bahwa bintang-bintang tidak berhenti bersinar hanya karena aku menangis. Tapi justru di sanalah letak kenyamanannya. Jika alam semesta tidak peduli, maka aku tidak punya beban untuk menjadi apa pun. Aku tidak perlu menjadi "berharga". Aku bebas untuk menjadi pupuk, seperti yang kau katakan. Setidaknya sebagai rumput, aku tidak perlu membayar asuransi kesehatan atau mendengarkan pidato motivasi dari orang-orang yang bahkan tidak bisa memotivasi diri mereka sendiri untuk berhenti makan junk food.
Dan soal log out ini... kau pikir aku takut? Aku sedang melihat layar hitam itu sekarang. Dia tidak seseram yang kau bayangkan. Dia seperti saat kau mematikan komputer setelah seharian bekerja keras, ada kelegaan di sana. Tidak ada lagi jendela pop-up yang menuntut perhatian. Tidak ada lagi pemberitahuan tentang masa depan yang kau bilang "menyenangkan" di brosur agama itu. Hanya keheningan yang bersih. Jika itu adalah semut-semut statis di layar televisi, maka biarlah. Setidaknya semut-semut itu tidak pernah berbohong padaku.
Kau memintaku memberikan satu senyuman sinis terakhir? Baiklah, lihatlah bibirku yang kering ini. Ini bukan senyum martir. Ini adalah senyum seorang pencuri yang baru saja berhasil melarikan diri dengan berlian terbesar, dan berlian itu adalah fakta bahwa aku mati sebelum dunia ini benar-benar hancur menjadi abu oleh keserakahan kalian yang masih hidup.
Pergilah sekarang. Tirai itu memang ditarik oleh petugas kebersihan yang ingin pulang, bukan oleh sayap malam. Tapi apakah itu penting? Hasilnya sama saja. Kegelapan tetaplah kegelapan, baik itu disebabkan oleh kosmos atau oleh kain poliester murahan.
Terima kasih atas kunjungannya, kawan. Terima kasih telah menjadi satu-satunya orang yang tidak membawakanku bunga-bunga bodoh yang sebentar lagi akan mati bersamaku. Terima kasih telah mengingatkanku bahwa aku adalah seorang brengsek yang malang. Itu jauh lebih baik daripada dipanggil "orang baik" oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu apa warna favoritku.
Minumlah kopimu yang sudah dingin itu. Pulanglah. Hadapi kemacetanmu. Hadapi masa tuamu yang perlahan-lahan akan membuatmu merangkak sepertiku. Dan saat tiba giliranmu nanti, jangan harap aku akan menunggumu di antrean birokrasi akhirat itu. Aku akan terlalu sibuk menjadi debu yang menempel di sepatumu, membuatmu bersin di saat yang paling tidak tepat.
Selamat tinggal, kau yang masih terikat pada napas. Aku akan pergi dulu. Bukan dengan kelembutan, bukan dengan amarah, tapi dengan rasa puas yang luar biasa karena aku tidak perlu lagi bangun besok pagi untuk melihat wajahmu yang sok tahu itu.
Log out dimulai dalam 3... 2... 1...
Ah, satu lagi. Tolong jangan siram toiletnya setelah kau keluar. Biarkan itu menjadi warisan terakhirku untuk perawat yang kau bilang membenciku itu. Sebuah pencapaian terakhir dari seorang "pasien yang menyebalkan".
Sekarang, biarkan aku tidur. Bonus keabadian ini terdengar sangat menggoda dibandingkan mendengarkan kutipan Longfellow-mu yang salah kaprah itu.
Sampai jumpa di ketiadaan, brengsek.
Catatan di amping ranjang:
Dia pergi tepat setelah kalimat itu berakhir. Tidak ada musik biola. Tidak ada cahaya putih dari langit. Hanya suara "pip" panjang dari monitor yang akhirnya menyerah. Petugas kebersihan itu masuk, menguap, dan menarik tirai lebih rapat.
Di luar, matahari sore yang merangkak malas itu akhirnya menghilang, digantikan oleh lampu-lampu kota yang menyala satu per satu, menyinari orang-orang yang masih sibuk mengejar ambisi fana mereka, persis seperti yang dia katakan. Dan di atas sofanya yang lama, jejak itu masih ada, dangkal, tak berarti, namun nyata, sebuah bukti kecil bahwa pernah ada seorang penjahat yang berhasil melarikan diri dari penjara kehidupan dengan sebuah cibiran di bibirnya.
.....
Jadi, di sinilah kau akhirnya. Di bawah gundukan tanah yang masih basah ini, terbungkus kain kafan yang barangkali juga hasil dari sisa-sisa asuransi kesehatanmu yang terbatas itu. Kau benar, kawan, tempat ini tidak ada hubungannya dengan balada kuno atau epik pahlawan Troy. Ini hanya sebuah petak tanah berukuran dua kali satu meter di pinggiran kota yang bising, di mana suara klakson truk di jalan raya lebih terdengar jelas daripada doa-doa yang dipanjatkan dengan setengah hati oleh kerabat jauhmu yang datang hanya karena merasa tidak enak pada ibumu.
Aku berdiri di sini, menatap nisanmu yang masih kayu, karena tentu saja, kau tidak punya cukup tabungan untuk marmer Italia yang mewah. Namamu terukir di sana, lahir sekian, wafat sekian. Sebuah ringkasan yang sangat menghina untuk seorang manusia yang menghabiskan tiga puluh tahun lebih hanya untuk mengeluh tentang sakit punggung dan mengejek gadis kasir minimarket. Dan kau tahu apa yang kulakukan saat peti matimu perlahan diturunkan ke liang lahat tadi?
Aku tertawa.
Sungguh, aku tertawa. Suara tawaku mungkin terdengar seperti pekikan gagak yang tercekik di antara isak tangis palsu bibimu yang bahkan tidak ingat nama tengahmu. Aku tertawa karena aku ingat pesan terakhirmu. "Jangan siram toiletnya," katamu. Dan aku membayangkan perawat malang itu masuk ke kamar nomor empat, mencium bau "warisan" terakhirmu, dan memaki namamu sampai ke tujuh turunan. Kau benar-benar brengsek yang konsisten sampai napas terakhir. Kau mati seperti kau hidup, sebagai gangguan kecil yang tak terlupakan dalam sistem birokrasi yang kaku.
Aku tertawa karena melihat atasanmu di kantor tadi datang dengan wajah disedih-sedihkan, memberikan pidato singkat tentang betapa "berharganya dedikasimu," padahal aku tahu dia sudah memposting lowongan pekerjamu di LinkedIn bahkan sebelum tubuhmu dingin di kamar mayat. Kau memenangkan taruhan itu, kawan. Kau bilang kau akan dilupakan secepat koran kemarin, dan melihat betapa cepatnya rekan-rekan kerjamu memeriksa jam tangan mereka di tengah upacara pemakaman ini, aku sadar kau adalah seorang brengsek.
Lihatlah mereka semua. Orang-orang ini, yang kau sebut sebagai "sapi yang digiring, bisu dan penurut." Mereka berdiri di sini dengan sepatu hitam yang disemir mengkilap, memegang payung karena gerimis mulai turun, dan mereka semua tampak sangat bodoh. Mereka memberikan penghormatan terakhir pada sebuah kotak kayu, sementara pikiran mereka sudah ada di restoran mana mereka akan makan siang setelah ini atau berapa banyak beban kerja yang menumpuk karena mereka harus meluangkan waktu dua jam untuk "merayakan" kepergianmu.
Aku tertawa karena kau benar tentang "jejak di pasir waktu." Jejakmu benar-benar hanya sebuah lekukan di sofa lamamu yang sekarang mungkin sedang diangkut ke tukang loak oleh adikmu. Tidak ada bintang yang jatuh. Tidak ada gerhana matahari. Hanya ada gerimis kecil yang membuat tanah ini menjadi becek dan mengotori sepatu mahalku. Kau benar-benar berhasil "log out" tanpa meninggalkan pesan error yang berarti bagi sistem. Kau keluar dengan bersih, kau pencuri sialan.
"Selamat jalan, brengsek," bisikku sambil melemparkan segenggam tanah ke atas petimu. Suara tanah yang menghantam kayu itu terdengar seperti suara pintu yang tertutup rapat, persis seperti yang kau gambarkan. Tidak ada musik biola, hanya bunyi tanah yang menimbun kesombonganmu.
Tapi kemudian, kerumunan itu mulai membubarkan diri. Satu per satu payung menjauh. Atasanmu pergi dengan mobil dinasnya yang mengkilap, bibimu berhenti menangis segera setelah dia masuk ke dalam taksi, dan petugas pemakaman mulai bekerja dengan sekop mereka, ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini agar mereka bisa pulang dan menonton televisi.
Dan tiba-tiba, aku sendirian.
Hanya ada aku, nisan kayumu, dan bau tanah yang semakin pekat karena hujan yang semakin deras. Dan di sanalah, di tengah kesunyian yang kau puja-puja itu, tawaku mulai tersedak.
Sialan kau.
Tiba-tiba saja, keheningan ini terasa sangat berat. Tidak ada lagi suara napasmu yang tersendat-sendat seperti jam dinding tua. Tidak ada lagi ocehanmu tentang betapa tidak bergunanya alam semesta. Tidak ada lagi orang yang bisa kupanggil "brengsek" dan dia akan membalasnya dengan kutipan filsafat yang salah kaprah. Keheningan ini bukan "kedamaian spiritual" yang kau bicarakan; keheningan ini adalah sebuah lubang hitam yang menghisap semua oksigen di sekitarku.
Aku menatap nisanmu, dan tiba-tiba aku teringat saat kita masih berusia dua puluhan. Ingatkah kau saat kita duduk di pinggir jalan, meminum kopi instan yang terlalu manis, dan berjanji bahwa kita tidak akan pernah menjadi seperti "orang-orang dewasa" yang membosankan itu? Kita berjanji akan mengguncang dunia, meninggalkan jejak yang tak terhapus, menjadi pahlawan dalam perselisihan kita sendiri. Dan sekarang, di sinilah kau. Menjadi pupuk bagi rumput liar di pemakaman kelas dua.
Dan di sinilah aku. Masih harus bangun besok pagi jam enam. Masih harus menghadapi macet. Masih harus membayar cicilan yang tidak ada habisnya. Masih harus berbasa-basi dengan tetangga yang kau benci itu.
Tiba-tiba, rasa iri yang kau sebutkan tadi berubah menjadi kemarahan yang meluap-luap. Kau curang, katamu? Ya, kau memang curang! Kau meninggalkanku di sini sendirian untuk membereskan semua kekacauan ini. Kau membiarkanku menjadi satu-satunya orang yang memegang memori tentang betapa bodohnya kita dulu. Kau membiarkanku menjadi saksi atas dunia yang perlahan hancur ini, sementara kau tidur nyenyak tanpa mimpi buruk di bawah sana.
Siapa yang akan mengejek pilihanku dalam memilih pasangan sekarang? Siapa yang akan mengingatkanku bahwa hidup ini hanyalah lelucon buruk setiap kali aku merasa terlalu serius dengan pekerjaanku? Kau mengambil jalan pintas, kau melarikan diri, dan kau meninggalkanku sebagai penonton tunggal dalam teater kosong ini.
Dan saat itulah, sesuatu yang panas mulai mengalir di pipiku, bercampur dengan air hujan yang dingin.
Aku menangis bukan karena aku kehilangan seorang "martir" atau "pahlawan." Aku menangis karena aku menyadari bahwa kau adalah satu-satunya cermin jujur yang kupunya. Dengan matinya kau, separuh dari kejujuranku juga ikut terkubur. Sekarang aku hanya punya cermin-cermin palsu di luar sana, orang-orang yang akan memujiku, orang-orang yang akan membohongiku, orang-orang yang akan menuntutku untuk menjadi "sukses" tanpa pernah peduli apakah aku masih bisa bernapas atau tidak.
Aku menangis karena aku menyadari bahwa kau benar kalau alam semesta ini memang dingin dan tidak peduli. Dan satu-satunya hal yang membuatnya terasa sedikit hangat adalah kehadiran seorang "brengsek" lain yang berani menertawakan kedinginan itu bersamamu. Sekarang, api kecil itu sudah padam. Filamen bohlam lima watt itu benar-benar putus, dan aku harus berjalan dalam gelap sendirian.
"Bangunlah, sialan," bisikku, suaraku pecah di antara isak yang tidak bisa kutahan lagi. "Bangun dan katakan padaku bahwa ini semua hanya bagian dari skenario menyebalkanmu. Katakan padaku bahwa kau hanya sedang pura-pura mati agar tidak perlu membayar hutang makan malammu minggu lalu."
Tapi tidak ada jawaban. Hanya suara rintik hujan yang menghantam tanah. Tidak ada sarkasme buruk. Tidak ada desah lega. Hanya ketiadaan yang sunyi, seperti siaran televisi yang berakhir dan layar menjadi semut-semut statis.
Aku jatuh berlutut di atas tanah becek itu, tidak peduli lagi dengan celana mahalku. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya, atau mungkin seperti seorang pria yang baru menyadari bahwa dia baru saja kehilangan satu-satunya alasan untuk tidak menjadi gila di dunia ini. Aku menangis karena aku sadar bahwa mulai besok, aku harus bangun dan pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, tanpa ada kau yang akan membisikkan, "Kau tampak sangat palsu hari ini, kawan."
Kau menang, kawan, kau menang, kau menang. Kau menang telak.
Kau bebas dari kewajiban membayar pajak, tapi kau meninggalkan aku dengan tagihan emosional yang tidak akan pernah bisa kulunasi. Kau bebas dari tekanan untuk menjadi sukses, tapi kau membiarkan aku memikul beban ingatan tentang kegagalan kita bersama.
Aku akan merindukanmu lebih dari seminggu atau dua minggu. Aku akan merindukanmu setiap kali aku melihat sofa kosong itu. Aku akan merindukanmu setiap kali aku meminum kopi pahit yang kau sukai. Aku akan merindukanmu setiap kali aku merasa ingin menyerah pada perlombaan tikus ini dan tidak ada orang yang bisa kuajak untuk "berhenti sejenak dan mencibir."
Hujan mulai reda, menyisakan bau tanah yang basah dan aroma kamboja yang menusuk. Aku berdiri, menyeka wajahku dengan lengan baju, dan mencoba merapikan pakaianku yang sudah kacau. Aku harus kembali. Dunia masih berputar, burung-burung (yang kau bilang mengejek itu) mulai berkicau lagi, dan klakson truk di jalan raya masih berisik.
Aku akan kembali ke kemacetan itu. Aku akan kembali ke kantor itu. Aku akan kembali ke kehidupan yang kau sebut "fana" itu. Tapi aku akan membawamu di dalam sakuku, seperti sebuah rahasia gelap yang membuatku tersenyum sinis di tengah kerumunan orang-orang yang "beradab."
Selamat tidur, brengsek yang malang. Nikmatilah ketiadaanmu. Nikmatilah tidur tanpa alarm-mu. Dan jika memang ada antrean birokrasi di akhirat sana, pastikan kau mengacaukannya untukku.
Aku akan segera menyusul, mungkin dalam tiga puluh atau empat puluh tahun lagi, jika genetika dan nasib burukku tidak secepat milikmu. Sampai saat itu, biarkan aku menjadi "penjahat kecil" di dunia ini, demi menghormati ingatanmu.
Ziarah ini selesai. Tagihan ini tetap tak terbayar. Dan aku, entah bagaimana, merasa sedikit lebih ringan sekaligus jauh lebih berat.
Selamat jalan, kawan. Sampai jumpa di layar hitam tanpa kredit penutup itu.
Catatan di bawah pohon kamboja:
Pria itu berjalan pergi, meninggalkan gundukan tanah yang sekarang sudah mulai diratakan oleh air hujan. Dia tidak menoleh lagi. Di wajahnya tidak ada lagi tawa, tidak ada lagi air mata, hanya sebuah tatapan kosong yang jauh, tatapan seseorang yang baru saja menyadari bahwa dalam permainan kehidupan ini, pemenangnya adalah dia yang pergi lebih dulu, namun yang kalah adalah dia yang harus tetap tinggal untuk menceritakan kisahnya.
Dan di atas nisan kayu yang basah itu, seekor serangga kecil merayap, tidak peduli pada filosofi, tidak peduli pada kematian, hanya mencari tempat untuk berteduh. Persis seperti apa yang dikatakan si mati: alam semesta ini luas, dingin, dan benar-benar tidak peduli.
Dan di sanalah letak keindahannya yang paling brutal.