Apakah ini mimpi, aku meragukan semua yang ku lihat dan ku dengar bahkan meragukan fakta bahwa aku masi hidup hingga saat ini.
Semua berawal saat perusahaan ayah bangkrut dan membuat rumah kami pun di sita dalam sekejap, hingga ayah mendapatkan undangan aneh dari temannya yang menawarkan tempat tinggal dan jaminan hidup gratis di sebuah desa terpencil di pelosok negri yang kini menjadi tempat tinggal paling buruk yang pernah ku tinggali seumur hidup ku.
Beberapa minggu setelah kedatangan kami di desa ini, kami di panggil ke kastil untuk melakukan ritual penyucian diri dan pengesahan sebagai penduduk baru.
aku tiba di kastil bersama orang tua ku, kami di bawa ke sebuah ruangan di mana semua penduduk telah berkumpul dan menunggu kami, seorang kakek tua berwajah pucat yang memiliki awra menyeramkan itu menghampiri kami bertiga, ia menyugukan sebuah piala berisi campuran darah dari beberapa hewan yang mereka pelihara di desa mulai dari kerbau,buaya, hingga cobra, kumudian ia mencampurnya dengan cairan seperti lendir berwarna hijau pekat kedalam piala itu dan memyuruh kami meminunya.
Aku dapat melihat jelas raut wajah orang tua ku yang terlihat mual menatap piala itu, namun berbeda dangan kami para penduduk desa bertepuk tangan dan bersorak bahagia seakan kami mendapatkan sebuah penghargaan besar di sini.
Setelah lama berbincang dengan si kakek akhirnya kedua orang tua ku setuju untuk meminum cairan itu.
“gak papa nova, minum dikit aja ya, untuk menghargai mereka, nova bisa kan?” bujuk ibu ku, dengan enggan aku mengambil piala itu dan meminum darah itu.
Sejak saat itu hal-hal aneh mulai terjadi pada ku. Jam nenunjukan pukul 00:00 yang mana lampu di seluruh desa akan di padamkan hingga pagi, jadi bisa di pastikan tak akan ada sedikit cahaya pun yang akan masuk ke kamar ku.
Namun anehnya kini aku dapat melihat dengan jelas seorang gadis yang tertatih melangkah ke arah ku, aku menutup mata ku rapat, namun aku tetap melihat gadis itu, aku menyentuh mata ku untuk memastikan apakah aku sudah menutup mata dengan benar, gadis itu tiba di hadapan ku, hati ku seakan berhenti berdetak saat aku melihat wajah wanita itu,
Dia adalah aku, namun di mana kedua tangan gadis itu, aku berteriak histeris namun tak ada yang mendengarkan teriakan ku.
Matahari terbit dengan cerah di pagi hari, dan udara hangat pun mulai masuk ke kamar ku saat ibu membuka jendela kamar, ibu menarik selimut ku,
“oh sepertinya kamu tidur dengan nyeyak tadi malam” ibu menarik tangan ku untuk duduk di kursi dan mulai menyisir rambut ku.
Aku dapat melihat dengan jelas di cermin kantung mata ku yang mulai menghitam dan wajah ku yang terlihat pucat, apa bagi ibu aku terlihat tidur dengan baik, fikir ku.
Aku menatap pergelangan tangan ku, ada luka cukup dalam di sana, aku tak tau dari mana asal luka-luka itu, namun seakan tak melihat sesuatu yang menarik ibu segera meninggalkan ku tampa bertanya tentang luka di tangan ku itu,
Ini tak benar! Fikir ku, ibu tak pernah mengabaikan ku sebelumnya, dulu saat tangan ku terkena serpihan kayu saja ibu sangat panik, namun kini ibu bahkan tak perduli sama sekali, aku menuju meja makan dan segera menyadari perban yang membalut lengan kiri ayah ku, darah masi terlihat jelas di perban itu, sepertinya lukanya dalam.
Sejak beberapa bulan yang lalu aku sering melihat luka seperti ini di tangan para penduduk desa, bersamaan dengan suara-suara aneh dari ritual yang di lakukan si kakek di kastil tua itu.
“ayah, ibu, kita pindah aja ya, kayaknya ada yang gak beres dengan tempat ini”, kata-kata itu langsung di sambut tatapan tak suka dari kedua orang tua ku, “nova apa kamu bodoh, dunia sudah hancur hanya ini tempat yang tersisa untuk kita” jelas ayah,
“A…apa? Ayah bicara apa” tanya ku keseal, kedua orang tua ku terus membicarakan hal-hal tak masuk yang membuat ku muak, ini bukan pertama kalinya mereka mengatakan hal-hal aneh pada ku, aku tak tahan lagi aku harus keluar dari desa ini.
Setelah berfikir cukup lama aku pun memutuskan untuk kabur, namun warga desa berhasil menangkap ku dan membawa ku pulang,
Ayah sangat marah pada ku, ia mulai menarik rambut ku dan mengayunkanya ke segala arah yang membuat tubuh ku terbetur perabotan rumah, darah mulai mengalir turun ke pelipis ku saat aku menyadari kulit kepala ku robek karna ayah tak kunjung melepaskan rambut ku, rasa sakit menyebar di seluruh tubuh ku hingga aku jatuh pingsan.
Aku terbangun beberapa jam kemudian, aku tak lagi menemukan rambut di kepala ku, kini kulit kepala ku telah di jahit asal, darah tak lagi mengalir dari luka itu namun rasa sakit yang berdenyut tak kunjung menghilang, sepertinya mereka menjahit kulit kepalaku tampa membersihkan lukanya terlebih dahulu, jadi aku tak akan heran jika beberapa hari lagi akan ada nanah di luka itu.
Rasa sakit masi menyiksa ku, namun telinga ku mulai mendengar bisikan-bisikan aneh lagi, tak lama kemudian aku melihat sebuah tangan yang menyentuh pundak ku, namun saat aku berbalik tangan itu pun menghilang, aku kembali melihat ke depan, seakan di sambar petir, aku kembali melihat gadis dengan wajah yg sama dengan ku itu tersenyum, dengan bibir lebar yang hampir mengenai telinganya .
Beberapa saat kemudia aku pun tersadar saat melihat luka di lengan ku yang semangkin parah, darah mengalir dan mulai menitik ke lantai, “luka apa lagi ini? di mana wanita tadi, apa aku bermimpi, tapi aku bahkan belum tidur”.
Aku menggigit selimut ku cukup kuat agar suara ku tak keluar saat aku mencoba menjahit luka di lengan ku dengan jarum yang tergeletak di atas meja, untuk menghentikan darah yang terus mengalir.
“Aku harus keluar dari desa ini”, fikiran itu terus berputar di kepalaku, hingga aku menemukan mobil yang akan mengirimkan daging hewan untuk di jual di luar kota berhenti di persimpangan jalan, aku pun segera mengendap-endap dan masuk ke dalam mobil.
Aku tertidur cukup lama di antara daging-daging segar itu hingga mobil berhenti di sebuah pom bensin di pusat kota, aku segera turun dari mobil dan mencari kantor polosi.
Saat tiba di kantor polisi, aku menjelaskan tentang keanehan para penduduk desa, dan menjelaskan penyiksaan yang ku dapat setiap kali ingin kabur, beruntung beberapa orang polisi terlihat tertarik dengan kasus ini dan mencatat hal-hal penting yang ku katakan.
Hingga tiba-tiba suasanya menjadi sunyi, aku melihat para pilosi itu bergidik ngeri melihat ku, saat aku mulai menyadari bahwa kini aku sedang menjilati dan menghisap darah di lengan ku sendiri,
“jadi luka di lengan ku ini, karna gigitanku ya?” tanya ku bingung.
-Tamat-