Saya menyelesaikan buku itu pada Minggu malam, di kursi dekat jendela, dengan secangkir teh yang sudah dingin karena saya lupa meminumnya.
Halaman terakhir. Cara ke seratus satu. Pengarang menutup bukunya dengan kalimat yang, jika saya membacanya dua bulan lalu di toko buku, barangkali akan saya anggap terlalu abstrak untuk dioperasionalkan: Pada akhirnya, menjadi suami yang baik bukan tentang cara yang benar. Ini tentang orang yang tepat, yang membuat kamu ingin mencoba cara apa pun, bahkan cara yang belum ada di buku mana pun.
Saya membaca kalimat itu tiga kali.
Lalu saya menutup bukunya, meletakkannya di atas meja, dan duduk dalam keheningan yang — saya catat dengan kejujuran yang sudah menjadi kebiasaan saya terhadap diri sendiri — tidak terasa tidak produktif sama sekali.
* * *
Saya mulai membaca buku itu dengan tujuan yang jelas: mengidentifikasi cara-cara yang bisa dieksekusi, menyusunnya ke dalam jadwal yang realistis, mengukur hasilnya. Pendekatan yang sama yang saya terapkan pada semua masalah yang bisa dipecahkan dengan informasi yang cukup.
Yang tidak saya antisipasi adalah bahwa di suatu titik antara bab tiga dan bab sembilan, tujuan itu bergeser tanpa saya sadari.
Saya tidak lagi membaca untuk mengeksekusi. Saya membaca karena di sela cara-cara yang disarankan pengarang, saya terus menemukan Nur Amalia — bukan sebagai subjek yang perlu diperlakukan dengan cara tertentu, melainkan sebagai seseorang yang sudah lebih dahulu melakukan hal-hal yang bahkan tidak ada di daftar pengarang.
Cara ia mengambil piring dari tangan saya tanpa memberi ruang untuk negosiasi.
Cara ia menyimpan post-it kuning di belakang KTP tanpa pernah merencanakan untuk menyimpannya.
Cara ia berdiri di depan jendela pada Jumat pagi, tidak mengatakan apa-apa, hanya ada di sana, dan tiga menit saya menjadi empat menit tanpa saya putuskan secara sadar.
Cara ia tahu saya tidak bisa tidur kalau minum kopi lewat dari jam tujuh, padahal saya tidak pernah mengatakannya.
Pengarang tidak membahas cara-cara ini. Pengarang membahas gestur, waktu, kata-kata, tindakan yang bisa direncanakan dan dijadwalkan dan dimasukkan ke dalam kolom. Tapi yang Nur Amalia lakukan tidak masuk ke dalam kolom mana pun. Yang ia lakukan adalah memperhatikan — bukan sebagai strategi, bukan sebagai metode, melainkan sebagai cara ia berada di ruangan yang sama dengan orang lain.
Saya meletakkan buku itu di meja dan menatap langit-langit.
Ada sesuatu yang sedang saya proses dan belum sepenuhnya selesai diproses.
* * *
Nur Amalia sudah tidur ketika saya masuk ke kamar. Lampunya sudah mati, tapi cukup cahaya dari luar untuk saya melihat bahwa ia tidur miring ke kiri seperti biasanya, dengan selimut ditarik sampai bahu, dan ponselnya menghadap ke bawah di meja samping — kebiasaan yang ia jelaskan sekali sebagai cara supaya notifikasi tidak mengganggu tidur.
Saya duduk di tepi ranjang sebentar sebelum berbaring.
Dalam delapan bulan kami hidup serumah, ada banyak hal yang saya pelajari tentang Nur Amalia melalui observasi sistematis: jam tidur dan bangunnya, kebiasaannya menyapu lantai ketika sedang memikirkan sesuatu yang berat, cara ia melipat surat-surat penting dengan lipatan yang sama setiap kali. Semua ini saya simpan sebagai data, sebagai informasi yang berguna untuk memahami seseorang yang hidupnya sekarang beririsan dengan hidup saya.
Tapi duduk di tepi ranjang pada Minggu malam itu, dengan buku yang sudah habis di meja ruang tengah dan teh yang sudah dingin di sebelahnya, saya menyadari sesuatu yang tidak pernah saya masukkan ke dalam kategori mana pun.
Saya tidak mengumpulkan data tentang Nur Amalia karena ia variabel dalam persamaan yang perlu saya pahami.
Saya mengumpulkannya karena saya tidak ingin melewatkan satu pun dari hal-hal kecil yang membentuk dirinya.
Ini, saya akui kepada diri sendiri dengan kejernihan yang agak tidak nyaman, adalah perbedaan yang cukup signifikan.
* * *
Senin pagi, saya bangun sebelum alarm.
Bukan karena saya menjadwalkannya. Bukan karena ada rapat pagi atau presentasi atau hal lain yang biasanya menarik saya keluar dari tidur lebih awal dari yang diperlukan. Saya bangun karena ada sesuatu yang ingin saya lakukan dan saya tidak bisa tidur sebelum memutuskan bagaimana melakukannya.
Saya pergi ke dapur. Saya menyeduh kopi — dua cangkir, bukan satu — dan saya menulis sesuatu di selembar kertas. Bukan post-it. Kertas biasa, dari blok catatan yang saya simpan di laci dapur untuk keperluan daftar belanja.
Saya tidak membuat kolom. Saya tidak membuat daftar. Saya hanya menulis, dengan tulisan tangan yang tidak serapi ketikan dan tidak punya struktur yang bisa diaudit, hal-hal yang selama delapan bulan saya kumpulkan sebagai data tapi tidak pernah saya ucapkan sebagai hal yang lebih dari itu.
Bahwa tiga menit di depan jendela terasa berbeda sejak ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Bahwa saya tidak tahu kapan tepatnya persamaan ini berubah menjadi sesuatu yang tidak punya variabel dan tidak butuh diselesaikan.
Bahwa seratus satu cara di buku itu tidak ada artinya tanpa orang yang membuat saya ingin mencobanya.
Saya melipat kertas itu. Saya meletakkannya di samping cangkir kopi yang saya seduh untuk Nur Amalia, di tempat yang akan ia lihat ketika ia turun.
Lalu saya berdiri di depan jendela, memegang cangkir saya, dan menunggu.
* * *
Nur Amalia turun pukul enam lebih dua puluh. Ia melihat saya sudah di sana, seperti Jumat lalu, dan ekspresinya menunjukkan bahwa ini sudah mulai masuk ke dalam kategori yang ia antisipasi.
“Pagi.”
“Pagi.”
Ia melihat ke cangkir yang sudah menunggu di meja. Lalu ke kertas di sampingnya. Ia mengambil kertas itu dengan cara yang pelan, cara yang sama dengan ia mengambil surat-surat yang ia anggap penting.
Saya tidak melihat ke arahnya saat ia membaca. Saya melihat ke luar jendela, ke Jakarta yang pagi-pagi sudah mulai bergerak, dan saya membiarkan tiga menit itu menjadi milik kami berdua tanpa saya hitung durasinya.
Keheningan yang menyusul bukan keheningan yang tidak produktif.
Ini keheningan yang penuh.
“Dadang.”
Saya berpaling. Nur Amalia memegang kertas itu dengan kedua tangan, sudut-sudutnya sedikit terlipat karena genggamannya, dan ia menatap saya dengan ekspresi yang — untuk pertama kalinya dalam delapan bulan — tidak bisa saya kategorikan sama sekali. Bukan karena saya kurang data. Tapi karena ekspresi itu terlalu banyak hal sekaligus untuk dimasukkan ke dalam satu kolom.
“Ini tidak ada di buku kamu.”
“Tidak.”
“Kamu tidak pakai spreadsheet.”
“Tidak.”
“Tidak ada agenda. Tidak ada jadwal.”
“Tidak ada.”
Nur Amalia melihat ke kertas itu lagi. Lalu ke saya. “Jadi ini apa?”
Pertanyaan sederhana. Jawaban yang sudah saya siapkan sejak Minggu malam, di tepi ranjang, ketika saya akhirnya selesai memproses sesuatu yang sudah lama sedang diproses.
“Bab yang tidak ada di buku,” kata saya. “Yang tidak bisa dijadwalkan. Yang tidak punya cara yang benar. Yang hanya bisa ditulis kalau kamu tahu siapa orangnya.”
Nur Amalia tidak berkata apa-apa. Ia melipat kertas itu — dengan lipatan yang rapi, lipatan yang sama dengan ia melipat surat-surat yang ia simpan — dan memasukkannya ke saku piyamanya.
Di saku yang sama dengan tempat ia dulu menyimpan post-it kuning sebelum dipindahkan ke belakang KTP.
Saya mencatat ini. Bukan sebagai data. Sebagai sesuatu yang berbeda dari data, sesuatu yang tidak butuh kolom dan tidak butuh diverifikasi, sesuatu yang cukup dirasakan dan diingat dan dibawa ke depan jendela setiap pagi bersama dua cangkir kopi dan tiga menit yang sudah lama bukan lagi milik saya sendiri.
Nur Amalia mengambil cangkirnya. Ia berdiri di samping saya.
Di luar, Jakarta bergerak.
Di dalam, tidak ada agenda. Tidak ada cara. Tidak ada seratus satu langkah.
Hanya ini. Hanya kami. Hanya pagi yang tidak perlu dijadwalkan untuk menjadi milik berdua.
* * *
— Tamat —