Seseorang pernah berkata, "Titik tertinggi dari mencintai adalah merelakan".
Ezra Bimantara, salah satu korban dari pernyataan 'seseorang' itu.
•
•
•
Angin sore itu berhembus cukup kencang, sungguh menggambarkan hari-hari pada bulan Desember kala musim hujan sedang dalam masa paling darurat.
Awan sudah memberikan pertanda, dimana ia sebentar lagi akan menumpahkan tangisannya. Dan di sudut Universitas Cakrawala, seorang gadis masih terlihat duduk sendirian.
Di atas trotoar jalan yang menyatu dengan pinggiran kampus, Ia tampak menunggu kedatangan seseorang— namun tak kunjung menunjukkan hawa keberadaannya.
Jari-jari tangannya juga sibuk dengan ponsel, meski sesekali masih menoleh ke kanan dan kiri dengan harapan.
Dari dalam kampus, seorang mahasiswa FISIP mengamati gerak-gerik gadis tersebut.
Ezra Bimantara.
Tanpa menghidupkan mesin motornya, Ezra mulai berjalan menuju tempat gadis itu berada.
"Nes..."
Gadis itu membalikkan badan, menemukan Ezra yang entah sejak kapan sudah berada tepat di belakangnya.
Ia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku, "Ezra. Ngapain masih di kampus jam segini?"
Ezra menghela nafas pelan, "Harusnya gue yang tanya, Nes. Lo ngapain belum balik? nungguin Candra, ya?"
Gadis bernama Nesya itu akhirnya menunduk lesu, lalu mengangguk kecil seolah tak mau mengakui kebenaran dari pertanyaan Ezra.
Dingin tiupan angin terasa semakin menggigit, pohon kecil di pinggiran kampus juga seakan bisa terbawa angin kapan saja.
Ezra mengeluarkan hoodie abu-abu dari ranselnya, lalu tanpa mengatakan sepatah kata pun memberikannya pada Nesya. "Ayo. Gue anter pulang."
Dengan cuaca yang semakin buruk, Nesya tak memiliki pilihan lain— selain mengiyakan ajakan Ezra.
"Pegangan, gue ngebut... bentar lagi hujan."
Lagi-lagi Nesya hanya bisa menurut.
Deru mesin motor Ezra mulai menjauh dari Universitas Cakrawala, membelah jalanan kota yang sebentar lagi diguyur tangisan semesta.
Satu momen kecil, namun cukup untuk membuat Ezra kesal.
Kesal pada seseorang yang tega membiarkan Nesya menunggu hampir 2 jam. Dan lagi, sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya untuk memenuhi harapan gadis jurusan Ilmu Komunikasi itu.
•••
Ezra akhirnya sampai di kos Nesya, meskipun ia harus basah kuyup setelah memberikan jas hujannya pada Nesya.
"Yaudah, Nes... gue langsung balik, ya."
Ezra hendak menyalakan mesin motornya, "Nunggu reda aja, Zra. Nanti lo masuk angin... mending lo mandi dulu di dalem, gue pinjemin kaos ganti."
Pada awalnya Ezra sempat menolak, namun Nesya memaksa sebagai ucapan terimakasih atas tumpangannya. Akhirnya Ezra mengalah, sepertinya menetap beberapa jam bukan masalah besar.
Lagipula, hujan diluar juga sedang deras derasnya.
Mungkin begitulah yang ia pikirkan.
Suara gebyur di kamar mandi ternyata meredam deru mesin mobil yang datang.
Tepat setelah Ezra keluar hanya dengan celana boxer, sebuah bogem mentah mendarat tepat di dagu kirinya. Ia sempat terhuyung hingga membentur tembok, sebelum akhirnya bangkit untuk membalas.
"Anj*ng, lo! Lo apain cewe gue, bangsa*t!?"
Itu Candra. Kekasih Nesya.
"Ezra! Candra! Udah!"
Nesya kalang kabut, berusaha melerai perkelahian kedua laki-laki yang tak ingin saling mengalah.
Pukulan demi pukulan terus terjadi, sebelum akhirnya ada tetangga kos yang datang untuk membantu melerai perkelahian tersebut.
Ezra meraih bajunya yang masih basah, sambil menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"Apa!? Lo-"
"Ezra, tuh cuma anterin aku doang, Can. Aku udah nunggu kamu hampir dua jam, dan aku yang nyuruh dia buat mandi disini," sela Nesya, "Dan aku sama dia tuh, nggak ngapa-ngapain! Stop sama pikiran buruk kamu itu!"
Semua orang yang ada disana hanya diam, sementara Candra terengah-engah karena amarah yang memuncak.
"Lo harusnya malu! Pengecut!" sentak Ezra sebelum melenggang keluar.
Di tengah guyuran hujan deras dengan kilatan petir yang tak ada jeda, Ezra memaksa untuk pergi— meninggalkan rasa iba pada gadis bernama Nesya itu.
Iba karena memilih pasangan seperti Candra, orang yang sama sekali tidak bersikap seperti lelaki terhadapnya.
Namun apalah daya, Ezra bukan siapa-siapa.
Ia tak berhak mengatur apa yang menjadi pilihan hati, juga tak mampu mengubah apa yang memang sudah seharusnya terjadi.
•
•
•
Sisa tetesan hujan semalaman masih sesekali jatuh dari atap kos, dengan dingin yang mengikat raga untuk tinggal sebentar lagi di balik selimut.
Ezra menggeliat pelan, merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Sepertinya ia terkena demam, tak heran setelah menerobos hujan badai tanpa jas hujan.
Ia meringis, "Ahh... f*ck!"
Tak berselang lama, Ezra kembali terlelap.
Waktu terus berjalan, kini Ezra bertemu dengan sore hari, lagi.
Sebuah ketukan pelan terdengar dari pintu kamar kos miliknya, "Zra! Lo di dalem?"
Ezra bangkit dengan sisa tenaga seadanya, setidaknya sudah lebih baik daripada pagi tadi.
"Ezra! Lo nggak apa-apa!?" sentak Rama sesaat setelah pintu dibuka dari dalam.
Di sampingnya berdiri Ellie, Ia juga tampak khawatir dengan keadaan Ezra yang sedikit pucat.
"Mending, lo berdua masuk, deh." sela Ezra.
Rama dan Ellie mengikuti langkah kecil Ezra, sebelum akhirnya duduk bersila di sebelah ranjang.
Ellie melihat sesuatu di wajahmu Ezra, "Zra. Muka, lo..."
"Cuma lecet dikit, kegigit pas makan." balasnya.
Mungkin Ellie percaya, namun tidak dengan Rama. Mereka sudah berteman sejak masih di dalam rahim, bahkan kedua Ibu mereka juga bersahabat semasa SMA.
Rama yakin, dan ia juga tahu betul lagak Ezra ketika berbohong. Semua itu juga jelas, mengarah pada seseorang— Nesya.
Sesaat setelah Ellie pergi ke supermarket untuk membeli cemilan, Rama meminta jawaban yang sesungguhnya.
Sedikit helaan nafas Ezra terasa berat, "Gue nggak bisa, Ram. Gue nggak bisa ngebiarin Nesya sama tuh orang."
"Terus, lo mau gimana? Mau nyatain ke dunia kalo, lo lebih baik dari Candra?"
Ezra diam, sesekali mengusap ingus yang keluar dari hidungnya.
Rama bangkit menuju dapur, mencari sisa kopi sachet untuknya sendiri.
Ia menoleh, mengintip Ezra dari sudut matanya, "Lo mau kopi?" tawarnya santai.
"Really?..."
Suara tawa kecil lolos begitu saja dari mulut Rama, setidaknya ia mencoba mencairkan suasana.
Langit mulai gelap, sisa-sisa senja masih terlihat samar di ufuk barat. Beberapa lampu jalan juga sudah mulai menyala, menyisakan sedikit aktivitas khalayak ramai yang belum ingin usai.
Rama dan Ellie masih menemani Ezra, mengurus pemuda 19 tahun itu layaknya anak sendiri. Mereka bertiga sedang bermain ludo menggunakan ponsel milik Ellie, dan untungnya permainan kecil itu dapat membuat Ezra lebih baik.
"Permisi..." suara lembut membuyarkan atensi mereka.
Dari ambang pintu, berdiri Nesya dengan satu tangan menenteng totebag berisi buah-buahan.
"Nesya?..."
•••
Malam perlahan turun, diiringi suara bising samar serangga dari kejauhan. Lampu-lampu mulai menyala, menjadi penerang jalanan kota yang masih padat.
Di dalam kos, Ezra duduk bersila disamping kasur. Sementara di depannya, Nesya terlihat canggung untuk sekedar memulai obrolan.
"Naik apa, tadi?" tanya Ezra lirih, hampir seperti berbisik.
Nesya mendongak, masih memainkan jari-jarinya untuk meredakan keraguan. "Ojol. Muka lo masih sakit, nggak?"
Ezra menggeleng pelan, "Enggak, Nes. Gue nggak apa-apa, kok."
"Lo sendiri, gimana? Emang boleh kesini?"
Mata mereka bertemu, seolah mencari jawaban dari pertanyaan masing-masing. Andai saja Rama dan Ellie masih disana, mungkin suasananya akan berbeda. Meskipun Ezra yakin— pasti Rama akan membicarakan tentang Candra.
"Ngomong-ngomong... boleh tolong potongin apelnya, nggak, Nes?"
Nesya reflek mengangguk, lalu bangkit menuju dapur untuk mengambil pisau dan satu piring.
Anggukan polos itu sudah cukup untuk membuat Ezra terkesima, Ia menahan senyum dan tawa kecil yang memaksa keluar.
"Hati-hati, Nes."
Entah berapa jam keduanya mulai mengalir dalam obrolan ringan, sekedar membahas Dosen killer di U.C, atau beberapa deadline tugas yang begitu singkat.
Ada sedikit rasa janggal di benak Ezra, rasa yang memberitahu bahwa semua ini bukan miliknya. Dan Ezra tahu betul akan semua itu, Ia juga tahu apa yang menunggunya di depan nanti.
Setidaknya Ezra puas, melihat sedikit senyum dan tawa kecil yang lolos begitu saja dari mulut Nesya.
Meski terkadang senyum dan tawa itu terlihat lebih tulus kala Nesya bersama Candra.
Namun tak apa, asalkan Nesya bahagia.
Hanya satu hal yang menjadi penyesalan Ezra. Mengapa tawa tulus itu hanya sementara...
Kesedihan lebih sering terlihat dari wajah Nesya.
•
•
•
Pukul 21:24 WIB.
Motor Ezra telah memasuki pekarangan kos Nesya, Ia memaksa untuk mengantar Nesya pulang. Meskipun berkali-kali Nesya menolak, semua itu tak ada gunanya untuk Ezra. Kalaupun harus berhadapan dengan Candra lagi, setidaknya Ezra dalam posisi yang siap.
"Nes..."
Nesya menoleh, "Hmm?"
"Gue mau ngomong sama, lo."
Ezra menggigit bibir dalamnya, rasa ragu dan takut itu seperti mengalahkannya.
Ia masih duduk di atas motornya, sementara Nesya berdiri tepat disamping stang.
"Mau ngomong, apa?"
Ezra akhirnya pasrah.
"Kalo lo butuh apa-apa, bilang sama gue. Gue usahain bakal bantu, lo."
Nesya tersenyum bingung, tiba-tiba saja Ezra mengatakan hal seperti itu.
"Yaudah, Nes... gue balik, ya."
Nesya mengangguk, "Hati-hati, Zra..."
Lambaian tangan Nesya mengiringi kepergian Ezra, menutup malam yang seharusnya dimanfaatkan Ezra untuk mengungkapkan semuanya.
Tinggallah Ezra sendiri, menyusuri jalanan kota yang lebih lenggang. Memacu mesin motornya pelan disamping trotoar, merasakan pelukan malam yang jauh dari kata hangat.
Sebuah ungkapan yang belum tersampaikan, namun harus lebih dulu merelakan.
Ezra menyesal, merelakan wanita yang sangat ia cintai... kepada seseorang yang bahkan tidak mampu memberikan sesuatu yang Ezra yakin— Ia bisa.
"Semoga, lo bahagia, Nes..."
~End...