Hari itu tidak sama dengan hari-hari biasanya, entah mengapa aku begitu merasa lelah sepulang sekolah padahal bel pulang berbunyi lebih awal. Di rumah hanya ada aku dan kakak keduaku yang sedang tidur di kamarnya. Hari ini dia bekerja dengan shift malam, jadi dia harus beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya. Sedangkan kedua orang tuaku sedang berada di Jakarta sejak dua hari lalu untuk menengok kakak pertamaku yang tinggal di sana. Aku memutuskan untuk makan dan mandi saja, lalu mengistirahatkan tubuhku yang sudah sangat lelah ini.
Aku tidak tahu kapan kakakku berangkat bekerja, karena langit sudah gelap ketika aku terbangun dari tidur. Malam begitu hening karena hanya aku sendirian di dalam rumah, kuputuskan untuk mengambil ponsel yang dayanya telah terisi penuh. Aku mengecek beberapa chat yang masuk dan memastikan tidak ada tugas dari sekolah.
Karena tidak ada tugas apapun, aku memutuskan membaca novel di salah satu platform online yang direkomendasikan oleh temanku, katanya merupakan novel yang sedang hangat dibicarakan pada saat ini. Aku baru menyadari novel ini bergenre horror dan sekaligus menjadi cerita horror pertama yang aku baca. Benar kata temanku novel ini sangat bagus, karena sesekali aku merasa merinding dan takut di beberapa part.
Saat aku sedang asyik membaca, tiba-tiba terdengar ketukan dari arah pintu luar rumah ku. Sontak aku bangkit dari tidur, menuju pintu. Teringat peringatan kakak, aku mengintip dari balik jendela memastikan bahwa tamu itu tidak berbahaya. Tidak ada yang janggal selain pemuda dengan perawakan jangkung dan pakaian rapi. Jadi, tanpa keraguan aku membuka pintu.
Pemuda itu mengangguk sekali sebagai sapaan pertamanya, wajahnya tampak asing belum pernah ku temui sebelumnya.
“Ya?” Aku berkata dengan wajah penuh tanya.
“Hai aku El, aku datang untuk menyapa. Aku baru saja pindah ke sini.” Katanya kikuk.
Dengan dahi mengernyit aku mengangguk mengiyakan. “Oh.”
“Aku menempati rumah sebelah.” Kata El dengan ibu jari menunjuk ke arah rumah sebelah kiri.
Itu rumah Lusi. Tapi sejak kapan Lusi pindah, aku juga tidak pernah mendengar bahwa keluarganya akan menyewakan rumah. Atau lelaki ini saudara jauhnya? Aku masih terdiam dengan pikiran-pikiranku. Hingga aku menyadari, bahwa pemandangan di depan rumahku berbeda dari biasanya. Itu asing bagiku, aku merasa berada di tempat yang salah. Namun, ketika aku kembali menengok ke belakang, itu masihlah rumahku. Tempat tinggalku!.
Ini aneh, apa yang terjadi?
Ada yang salah, Demi Tuhan aku ada di mana?!
Rasa takut seketika menyergapku. “Sebenarnya aku ada di mana?” gumamku tanpa sadar.
Aku mendengar kekehan dari El, lelaki itu mungkin mendengar gumam lirihku. Aku menatap ke arahnya yang kemudian dibalas El dengan senyum di bibirnya. Dia tersenyum dengan cara yang normal tapi kengerian begitu terasa merayapi hatiku.
“Aku mempunyai seorang adik, di seumuran denganmu apa kamu mampir sebentar ke rumahku?” Tanya El.
Aku terdiam, merasa sungkan untuk menolak ajakannya. Namun, aku juga takut karena walaupun dia tetangga baru, dia masihlah orang asing. Apalagi aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Seolah-olah rumahku bisa berpindah tempat.
Aku harus memastikan sesuatu, mungkin bisa juga mengorek beberapa informasi. Karena tidak mengenal siapapun di tempat asing ini. Juga tidak ada satu orangpun di dalam rumah, jadi ku iyakan ajakan darinya.
“Iya.” Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan adik El.
Dan di sinilah aku berada, di rumahnya. “Silahkan masuk, aku akan mengambil beberapa camilan.” Kata El dengan gesture mempersilahkan.
“Tidak perlu repot,-“
“Oh ayolah, kamu adalah tamu. Aku harus menghargaimu, lagipula ini hanya camilan ringan.” El menyela ucapanku, lelaki itu kemudian berlari begitu saja ke arah bagian dalam rumah.
Rumah ini, berbeda dengan rumah Lusi. Sekali lagi tampak asing, dengan ragu aku melangkahkan kaki ke dalam. Ketika sampai di ruang tamu aku mendapati seorang gadis sedang duduk di bawah lantai. Mungkin dia adalah adik dari El.
Jadi, dia tidak berbohong soal adiknya.
“Hallo” Sapaku, tetapi tidak ada respon sama sekali dari gadis itu, Dia tetap diam duduk membelakangiku. Ketika aku menengok lebih dekat dia sedang asing bermain lego.
“Hai…” Sapaku kembali dengan nada ragu, namun masih tidak ada jawaban. Aneh. Aku mengangkat bahu memilih mundur dan duduk di sofa. Kembali ku amati dia yang seperti sibuk dengan dunianya sendiri. Seperti anak usia tiga tahun, beberapa hipotesis terbersit di kepala. Mungkinkah dia keterbelakangan mental? Atau autis?
Sudah cukup lama El meninggalkanku bersama adiknya yang masih asyik dengan mainan dan aksi diamnya, ini sangat membosankan, rasanya aku ingin pulang tetapi aku juga ragu dan takut dengan keadaan ini.
Rumahku seperti bukan rumahku, seolah tiba-tiba berpindah ke wilayah terasing. Hanya El yang mungkin saja bisa ku tanyai mungkin juga lelaki itu mampu membantuku. Tapi dia tidak kunjung kembali, daripada terdiam menunggu dalam bosan, aku melihat ponsel ku sebentar.
Ini aneh mengapa jam di ponsel ku menunjukan pukul 25:00 bukankah seharusnya dalam satu hari hanya ada dua puluh empat jam? Jikapun ini tengah malam bukankah jam seharusnya menunjukkan pukul 00.00?
Ini aneh, tidak wajar dan sangat menakutkan. Terlalu lama aku bergelut dengan pikiran ku El datang dengan sebuah nampan yang berisi camilan dia meletakan nampan tersebut di atas meja.
Mataku membola, dengan bibir terperangah.
Dia… dia membawa potongan tubuh manusia, mata, telinga, jari-jari tangan. Seketika aku menelan ludah dan jantungku berdegup kencang hingga aku merasa darahku mengalir begitu derasnya karena pompaan adrenaline yang begitu cepat.
Aku melihat El dengan tatapan ngeri, tapi lelaki itu menyunggingkan senyum lebar dan berucap, “Makanlah.”
Aku takut, aku langsung melarikan diri dari rumah El, aku ingin meminta tolong pada orang-orang yang ada di sekitarku, tetapi aku tidak mengenal satupun di antara mereka. Mereka semua memandang ke arahku dengan penasaran. Aku takut, aku hanya terus berlari kencang tanpa melihat kebelakang hingga tanpa ku sadari kerikil kecil mengandung langkahku. Membuatku terjatuh.
Terjatuh? Tunggu, aku tidak merasakan sakit sama sekali, aku mencubit diriku sendiri dan lagi-lagi tidak ada rasa sakit. Kesadaran menghantam logikaku.
Mimpi! Ini pasti mimpi!
Anehnya aku tersadar bahwa aku masih berada dalam dunia mimpi. Lalu di mana jalan keluar dari mimpi ini? Ini menakutkan aku terjebak di dalam mimpi. Aku harus segera terbangun! Tapi bagaimana caranya???
Aku mencoba berteriak meminta tolong agar supaya kakakku bisa mendengar suara dan membangunkanku dari tidur ini. Tapi anehnya tidak ada suara yang keluar, sejak aku menyadari bahwa ini di dalam mimpi. Suaraku tiba-tiba menghilang.
Demi Tuhan!!!
Aku merasakan tepukan di bahuku, ketakutan merayapi diriku. Perlahan aku menoleh ke belakang hanya untuk mendapati El yang tersenyum, dia berubah. El sangat menakutkan, senyum itu membuat sudut-sudut bibirnya tertarik hingga ketelinga.
Ahhhhhh aku menjerit tanpa suara.
Lalu seketika aku melihat wajah kakakku sudah ada di depanku. Aku buru-buru duduk dengan tangan yang menyugar seluruh wajahku. Aku menghembuskan nafas lega. Aku kembali.
“Kamu kenapa?” Kakakku bertanya menatap aneh ke arahku. Mungkin sedikit heran dengan perilaku ku yang bernafas ngos-ngosan seperti baru selesai berlari marathon.
“Aku tidak apa-apa, hanya mimpi buruk.” Kataku menenangkannya.
“Okai, aku akan berangkat kerja.” Pamitnya kepadaku, yang kemudian kubalas dengan anggukkan.
Suara langkah kakak terdengar semakin jauh, “Syukurlah.” Gumamku, sepertinya tanpa sadar aku tadi langsung ketiduran begitu sampai di kamar. Karena aku mendapati diriku masih mengenakan seragam sekolah lengkap.
Aku meraih ponsel yang masih tersambung dengan charger di laci sebelah tempat tidurku untuk mengecek sudah jam berapa sekarang.
Mataku membelalak ketika sekali lagi mendapati jam pada ponsel itu menunjukkan angka 25.00. Aku menelan ludah, kemudian ketukan terdengar dari arah pintu depan.
Bulu kudukku berdiri, Apa aku masih di dalam mimpi???