"Satu Bungkus Nasi"*
Langit Cikarang jam 5 pagi masih hitam pekat. Rina mengikat rambutnya asal, menyalakan kompor minyak yang apinya kecil dan suka mati-matian.
Di meja kayu yang kakinya ganjal pakai batu bata, ada setengah liter beras. Itu untuk hari ini, besok, dan lusa kalau bisa diirit. Suaminya, Dedi, sudah berangkat jam 4 subuh jadi kuli panggul di pasar. Gajinya nggak pasti. Kadang 40 ribu, kadang cuma ucapan "nanti ya, bu".
Anaknya dua. Sari kelas 3 SD, sering pulang bawa PR matematika yang Rina nggak ngerti. Bayu 5 tahun, masih suka nanya "Mah, kapan kita makan ayam lagi?".
Rina ngaduk nasi di magic com yang tutupnya udah retak. Sambil nunggu, dia hitung uang di kaleng biskuit bekas. 12 ribu. Cukup buat bayar arisan RT minggu depan, atau buat beli obat Bayu yang batuk nggak sembuh-sembuh. Nggak bisa dua-duanya.
"Mah, aku malu. Temen-temen bawa bekal ayam goreng." Sari ngomong pelan sambil nyisir rambut di depan cermin retak.
Rina jongkok, nyeka pipi anaknya pakai punggung tangan yang kasar. "Nanti kalau Ibu gajian, kita beli ayam ya. Sekarang kita makan tempe dulu. Tempe itu proteinnya tinggi, kata Bu Guru kan?"
Sari mengangguk, tapi matanya masih basah.
Siang itu Dedi pulang lebih cepat. Bajunya kotor debu semen, wajahnya lesu. "Proyeknya berhenti. Nggak ada kerjaan seminggu ke depan," katanya.
Rina nggak nangis. Dia udah kehabisan jatah nangis bulan ini. Dia cuma buka tutup magic com, ngambil satu bungkus nasi dan tempe goreng yang udah dibagi tiga.
"Makan dulu. Besok kita cari solusi."
Malamnya, saat anak-anak tidur, Rina buka HP jadul. Dia buka grup Facebook "Ibu-ibu Cikarang Berbagi". Jarinya berhenti di postingan: _Butuh penjahit bordir, bayar harian, bisa dikerjakan di rumah_.
Rina nggak bisa jahit. Tapi dia bisa belajar.
Keesokan harinya dia ke rumah Bu Lurah, pinjam mesin jahit tua yang udah 2 tahun nggak dipakai. Tangan Rina lecet, matanya perih kena benang. Gajinya kecil: 25 ribu per hari. Tapi itu 25 ribu yang pasti.
Enam bulan kemudian, Sari masih bawa bekal nasi dan tempe. Tapi dia nggak malu lagi. Soalnya dia tau, tempe itu dibeli dari hasil tangan ibunya yang nggak pernah nyerah.
Kehidupan Rina belum jadi mudah. Tapi jadi sedikit lebih terang. Dan buat Rina, itu udah cukup buat lanjut jalan besok pagi.
---
Hidup sulit itu bukan cuma soal nggak punya uang. Tapi soal tiap hari milih buat bangun lagi, walau nggak tau jalan keluarnya ada di mana.