Vina meletakkan gelasnya.
Ini tanda bahaya. Vina tidak pernah meletakkan minumannya di tengah percakapan kecuali ia membutuhkan kedua tangan bebas untuk merespons sesuatu. Biasanya untuk tepuk tangan. Kadang untuk memegang meja supaya tidak jatuh dari kursi.
“Ulangi,” katanya.
“Bagian mana?”
“Semua. Dari awal. Pelan-pelan.”
Saya menarik napas. Kami duduk di warung kopi dekat kios lama saya — tempat yang dulu jadi kantor tidak resmi kami untuk membicarakan hal-hal yang terlalu besar untuk dipendam sendiri. Sekarang kiosnya sudah tidak ada, tapi kebiasaannya bertahan. Dan hari ini saya datang membawa laporan yang, bahkan menurut standar pernikahan normal sekalipun, cukup untuk membuat orang meletakkan gelasnya.
“Dia menempel post-it di cermin,” kata saya. “Di ketinggian yang ia kalkulasi berdasarkan tinggi badan saya.”
“Kalkulasi.”
“Kata dia, supaya saya tidak perlu membungkuk saat membacanya.”
Vina menatap saya. Matanya bergerak seperti orang yang sedang memutuskan apakah sesuatu itu menggemaskan atau mengkhawatirkan. “Apa isi post-it-nya?”
“Kamu cantik hari ini.”
“Manis—”
“Tapi waktu saya tanya kenapa tidak ditulis kamu selalu cantik, dia bilang belum cukup data longitudinal untuk mendukung klaim absolut.”
Vina membuka mulut. Menutupnya. Membuka lagi. “Data.”
“Longitudinal.”
“Nur.” Vina menarik napas panjang dengan cara orang yang sedang berusaha keras untuk tidak tertawa. “Suamimu bilang dia butuh data untuk memastikan kamu cantik.”
“Baru delapan bulan katanya. Belum representatif.”
Vina tertawa. Bukan tawa yang ia tahan — tawa yang keluar sepenuhnya, yang membuat beberapa pengunjung warung menoleh sebentar lalu berpaling lagi dengan ekspresi orang yang sudah terbiasa melihat Vina tertawa di tempat umum.
Saya menunggu sampai ia selesai. Ini juga kebiasaan lama.
“Ada lagi,” kata saya.
Vina menegakkan punggungnya. “Ada lagi.”
“Dia buat recurring event di Google Calendar. Setiap Kamis. Pukul tujuh sampai sembilan malam. Labelnya—” saya mengeluarkan ponsel, membuka foto yang saya ambil diam-diam dari layar laptopnya, “Waktu Berkualitas — Nur Amalia.”
Vina merebut ponsel saya. Ia memperbesar foto itu. Matanya membaca. “Ada pengingat tiga puluh menit sebelumnya.”
“Ada.”
“Dia menjadwalkan waktu spontan bersama istrinya.”
“Dan menyiapkan agenda.”
Vina menaruh ponsel saya di meja dengan gerakan yang sangat hati-hati, seperti benda berbahaya. “Agenda.”
“Poin pertama, mengobrol dua puluh sampai tiga puluh menit. Ada daftar topik cadangan di bawah untuk mengantisipasi—” saya mengutip dengan tepat karena kalimat itu sudah saya hafalkan tanpa sengaja, “keheningan yang tidak produktif.”
* * *
Keheningan.
Yang kemudian dipecahkan oleh Vina dengan tawa kedua yang volumenya lebih tinggi dari yang pertama.
Saya minum kopi saya. Saya sudah mengantisipasi ini. Saya sendiri tertawa waktu itu, dan rasanya saya belum sepenuhnya selesai tertawa bahkan sampai sekarang, meskipun setiap kali saya ingat saya juga merasakan hal lain yang lebih sulit diberi nama.
“Nur,” kata Vina akhirnya, menyeka sudut matanya, “kamu tidak marah?”
“Saya mencoba.”
“Mencoba marah?”
“Mencoba memutuskan apakah saya harus marah.” Saya meletakkan gelas. “Normalnya kalau suami melakukan sesuatu yang aneh, kamu tahu rasanya — ada campuran kesal dan geli dan mungkin sedikit capek. Tapi ini—” saya berhenti karena kalimat berikutnya sulit disusun dengan rapi. “Susah untuk kesal sama seseorang yang bangun lebih pagi untuk menempel kertas di ketinggian yang tepat. Meskipun alasannya adalah kalkulasi.”
Vina menatap saya dengan ekspresi yang berubah sedikit. Lebih pelan. Lebih perhatian. Ekspresi Vina ketika ia menyimpan sesuatu untuk dikatakan nanti tapi belum sekarang.
“Post-it-nya masih ada?” tanyanya.
“Di dompet. Belakang KTP.”
“Kamu simpan.”
“Untuk bukti,” kata saya cepat.
“Bukti apa, Nur?”
Saya tidak menjawab karena pertanyaan itu tidak butuh jawaban dan Vina tahu itu. Ia tersenyum dengan cara yang sudah saya kenal sejak kami masih berseragam putih biru, senyum seseorang yang melihat sesuatu lebih cepat dari yang seharusnya dan cukup baik hati untuk tidak mengatakannya keras-keras.
“Dia tahu kamu simpan?” tanya Vina.
“Saya yang bilang.”
“Kamu yang bilang.”
“Saya tidak tahu kenapa.” Ini jujur. Saya tidak merencanakan mengatakannya malam itu. Kata-katanya keluar begitu saja, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama berdiri di balik pintu dan akhirnya memutuskan masuk sendiri. Ada orang yang bangun lebih pagi untuk menempelkannya di ketinggian yang tepat supaya saya tidak perlu membungkuk.
Benar adanya. Hanya itu yang saya katakan. Tapi entah kenapa mengatakannya membuat sesuatu di dada saya terasa lebih ringan dari biasanya.
Vina mengangguk pelan. Ia mengambil gelasnya kembali, tanda bahwa ia sudah selesai membutuhkan kedua tangan bebas. “Buku apa yang dia beli?”
“Seratus satu cara menjadi suami romantis.”
“Sudah sampai bab berapa?”
“Waktu Kamis itu, bab dua. Sekarang mungkin sudah lebih jauh.” Saya memikirkan ini. “Saya agak takut membayangkan bab-bab berikutnya.”
“Takut atau penasaran?”
* * *
Saya tidak menjawab lagi. Vina tidak mendesak. Kami minum kopi kami, dan warung di siang hari itu ramai dengan suara orang lain yang membawa urusan mereka masing-masing, dan saya duduk di sana dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya bisa saya kategorikan tentang seorang pria yang membuat spreadsheet untuk kejutan dan menjadwalkan kebersamaan dan menyimpan catatan tentang respons istri di kolom ketiga.
Tidak ada panduan untuk merasakan ini. Tidak ada bab yang membahasnya.
Mungkin itu sendiri sudah cukup menjadi jawaban.
“Vina,” kata saya.
“Hm?”
“Kalau suatu hari dia datang dengan agenda untuk acara ulang tahun saya—”
“Saya akan hadir,” potong Vina, “dan saya akan merekamnya.”
Saya tertawa. Vina ikut tertawa. Dan untuk beberapa menit di warung kopi yang tidak pernah berubah itu, rasanya seperti dulu — sebelum kios, sebelum rumah sakit, sebelum kontrak, sebelum post-it kuning yang kini bersemayam di belakang KTP saya tanpa pernah saya rencanakan untuk menyimpannya di sana.
Sebelum saya mulai mengerti bahwa ada orang yang mencintai dengan cara yang sama sekali tidak ada di buku mana pun — dengan kalkulasi, dengan spreadsheet, dengan topik cadangan untuk mengisi keheningan yang ia pikir tidak boleh ada — dan bahwa cara itu, anehnya, justru terasa seperti bahasa yang paling jujur yang pernah ada orang gunakan untuk berbicara kepada saya.
* * *
— Selesai —