Namanya Nayla.
Cewek sederhana yang lebih suka duduk di pojok kafe sambil membaca novel dibanding ikut nongkrong ramai-ramai.
Rambutnya hitam bergelombang, senyumnya manis, tapi matanya selalu terlihat seperti menyimpan banyak cerita.
Nayla pernah patah hati.
Dan sejak itu, dia percaya kalau cinta cuma datang untuk meninggalkan luka.
Sampai suatu sore hujan turun di bulan November.
Hari itu Nayla buru-buru masuk ke sebuah toko buku kecil untuk menghindari hujan. Bajunya sedikit basah, sandal putihnya penuh cipratan air. Saat sedang sibuk mengeringkan rambut dengan tisu, tiba-tiba seseorang menyodorkan payung hitam ke arahnya.
“Dipakai aja dulu. Kamu kelihatan mau nangis gara-gara hujan.”
Nayla menoleh.
Cowok itu tinggi, memakai hoodie abu-abu, dengan senyum jahil yang anehnya bikin hati tenang.
“Enggak nangis juga kali,” jawab Nayla pelan.
Cowok itu tertawa kecil.
“Syukurlah. Soalnya kalau cewek cantik nangis, hujan jadi ikut sedih.”
Nayla langsung salah tingkah.
Namanya Arven.
Pertemuan mereka sederhana. Tidak dramatis seperti di film-film. Tapi entah kenapa, sejak hari itu hidup Nayla mulai berubah pelan-pelan.
Arven sering muncul tiba-tiba.
Kadang mengirim kopi ke kampus Nayla tanpa nama pengirim.
Kadang muncul sambil membawa roti cokelat favorit Nayla.
Kadang cuma mengirim pesan:
“Aku lihat langit hari ini bagus. Tapi
tetap kalah sama senyum kamu.”
Dan setiap kali membaca pesan itu, Nayla selalu tersenyum sendiri seperti orang bodoh.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nayla merasa hatinya hidup lagi.
Mereka mulai sering pergi bersama.
Naik motor malam-malam mencari martabak.
Duduk di pinggir danau sambil mendengarkan lagu.
Bertengkar soal es krim rasa mint.
Sampai tertawa terlalu keras hanya karena hal receh.
Bersama Arven, semuanya terasa ringan.
Nayla mulai mengerti…
Ternyata jatuh cinta bukan cuma tentang deg-degan.
Tapi tentang seseorang yang membuat hari buruk terasa lebih baik.
Seseorang yang membuat kita merasa cukup hanya dengan hadir.
Seseorang yang mampu mengubah luka lama menjadi keberanian untuk bahagia lagi.
Suatu malam, Arven membawa Nayla ke wisata alam di pinggir kota.
Lampu kota terlihat kecil dari kejauhan. Angin malam meniup lembut rambut Nayla. Langit penuh bintang.
“Kenapa bawa aku ke sini?” tanya Nayla.
Arven diam sebentar, lalu menatap Nayla lama sekali.
“Aku cuma mau bilang…”
Cowok itu menarik napas pelan.
“Jatuh cinta sama kamu adalah hal paling indah yang pernah terjadi di hidup aku.”
Jantung Nayla langsung berdebar keras.
“Aku enggak janji hidup bakal selalu gampang,” lanjut Arven lirih. “Tapi aku janji, kalau kamu capek… aku bakal tetap di samping kamu.”
Mata Nayla mulai berkaca-kaca.
Bukan karena sedih.
Tapi karena akhirnya ada seseorang yang mencintainya dengan begitu tulus.
Pelan-pelan Nayla tersenyum.
“Kalau gitu…” katanya malu-malu.
“Aku juga mau jatuh cinta lebih lama sama kamu.”
Arven tertawa kecil lalu memeluk Nayla erat.
Dan malam itu, di bawah langit penuh bintang dan suara angin yang tenang…
Nayla akhirnya sadar.
Jatuh cinta memang kadang menyakitkan.
Tapi ketika bertemu orang yang tepat…
Jatuh cinta terasa seperti berjuta indahnya.