Hari itu guru memberi kebebasan kepada kami untuk membentuk kelompok sendiri. Tidak ada aturan khusus, tidak ada pembagian nama. Hanya satu kalimat sederhana yang membuat kelas tiba-tiba ramai.
“Kalian bebas memilih kelompok. Maksimal tiga orang satu kelompok.”
Aku duduk diam di bangku, menatap buku tulisku yang masih kosong. Di sekelilingku, orang-orang bergerak cepat, seolah sudah tahu akan melangkah ke arah mana. Kursi digeser, nama dipanggil, tawa pecah di berbagai sudut kelas. Sementara aku masih di tempat yang sama, berdiri di persimpangan kecil tanpa petunjuk.
Lalu seseorang mendekat.
“Kamu sudah ada kelompok?”
Aku menggeleng pelan. Tak lama kemudian, satu orang lain ikut bergabung. Kami saling pandang asing, canggung, dan sama-sama ragu.
“Yasudah kalau begitu kita bertiga saja bagaimana?”
Keputusan itu terdengar sederhana, nyaris tanpa makna. Namun aku tidak tahu saat itu, bahwa arah kecil yang kami pilih hari itu akan mempertemukan kami lebih lama dari sekadar satu tugas kelas.
Awalnya, kami hanyalah tiga orang yang duduk bersama karena keadaan. Pertemuan pertama kelompok kami dipenuhi keheningan. Kata-kata terasa berat untuk keluar, seolah masih mencari tempatnya sendiri. Kami membagi tugas dengan suara datar, lebih sibuk pada buku daripada saling menatap.
Namun waktu bekerja pelan, seperti air yang terus mengalir dan membentuk jalannya sendiri.
Kami mulai sering bertemu di perpustakaan yang sunyi, di kelas kosong yang menyimpan jejak pelajaran, dan di kantin sekolah yang selalu ramai. Tugas yang awalnya terasa sebagai beban perlahan berubah menjadi alasan untuk bertemu. Dari membahas materi, obrolan kami melebar ke hal-hal kecil yang tak pernah kami rencanakan.
Tawa mulai muncul. Canggung perlahan luruh.
Ada hari ketika pendapat kami tidak sejalan. Suasana menjadi tegang, dan kata-kata terucap lebih tajam dari seharusnya. Ada juga hari ketika salah satu dari kami datang dengan wajah lelah, hampir menyerah. Namun setiap kali itu terjadi, kami tetap duduk dalam lingkaran yang sama, seolah ada sesuatu yang menahan kami untuk tidak pergi.
“Kalau enggak bareng kalian, tugas ini pasti lebih berat,” salah satu dari mereka pernah berkata.
Aku tersenyum saat itu. Aku sadar, aku tidak lagi berjalan sendirian.
Waktu berlari begitu cepat, kebersamaan kami tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kelompok tugas. Kami mulai duduk berdekatan di kelas, saling menunggu saat pulang, dan saling diam ketika kata-kata tidak diperlukan. Sekolah tidak lagi hanya tentang nilai dan laporan, tetapi tentang belajar memahami dan dipahami.
Hari-hari berlalu cepat, seperti halaman buku yang dibalik tanpa sempat dibaca ulang. Tugas demi tugas selesai, semester berganti, namun kami tetap bertiga. Dari orang-orang asing, kami perlahan menjadi tempat pulang satu sama lain.
Suatu sore, setelah menyelesaikan tugas terakhir, kami duduk di koridor sekolah. Cahaya senja jatuh perlahan, membentuk bayangan panjang di lantai.
“Lucu ya,” kata salah satu dari mereka, memecah diam. “Dulu kita nggak saling kenal.”
“Iya,” jawabku pelan. “Sekarang rasanya aneh kalau nggak bareng.”
Aku menatap mereka berdua. Pada saat itu, aku mengerti bahwa kami tidak dipertemukan oleh rencana besar atau niat khusus. Kami hanya berjalan di arah yang sama, pada waktu yang tepat.
Dan dari arah itulah, kami bertemu.
Kini, ketika aku mengingat hari itu, aku tahu bahwa tidak semua pertemuan harus direncanakan. Beberapa cukup dijalani. Karena terkadang, arah yang kita pilih tanpa sadar, justru membawa kita pada orang-orang yang akhirnya kita sebut rumah.