Ini adalah kisah nyata yang aku alami saat kelas tiga SMP. Siang itu aku pulang dari remidi Tri out di sekolah. Biasanya pulang dari sekolah aku selalu naik motor konvoi dengan teman temanku yang lain. Tapi siang itu aku selesai mengerjakan soal remidi paling terakhir. Jadi aku pulang sendirian karena ditinggal sama temen temenku.
Ditengah jalan menuju rumah, tiba tiba aku bertemu ular sangat besar membentang selebar jalan sekitar lima meteran. Ular berwana coklat keabu abuan itu merayap dengan perutnya pelan hampir seperti tidak bergerak. Dari kejauhan tidak seperti ular tapi lebih seperti kayu yang membentang lurus diatas aspal.
Aku terkejut karena semakin dekat dengan ular itu aku baru menyadari itu ular ketika lidahnya menjulur julur keluar. Sontak karena bingung aku membelokan motorku tepat di depat kepala ular itu sambil berteriak dan menutup mata, "Ya Alloh, Ya Alloh!"
Untung saja ular itu tidak mengamuk. Mematuk atau melilitku disaat aku melintas di depan kepala ular itu. Aku menengok kebelakang ternyata ular itu tidak mengejar tapi berbelok berbalik ke sebrang jalan. Syukurlah, aku sedikit lega meskipun dadaku masih berdebar debar karena takut.
Sesampainya dirumah, aku menceritakan pada ibuku kalau aku baru saja bertemu dengan ular yang sangat besar. Beliau lalu berkata,
"Makanya Ndok kalau lewat jalan yang sekiranya angker dipencet itu klakson motornya."
"Biar ngapa to Mak?"
"Iya permisi to Ndok, siapa tahu ada makhluk makhluk halusnya disitu."
"Oalah Mak Mak, nakutin aku aja to malahan." Tubuhku seketika merinding, merasa takut jika ular itu adalah ular siluman. Tapi seiring waktu aku melupakan kejadian itu. Melakukan aktivitasku seperti biasa. Awalnya baik baik saja. Tapi kelama lamaan aku sering uring uringan dan gak doyan makan. Mungkin itu efek dari kegugupan yang kualami ketika menghadapi ujian nasional. Mungkin saja.
Karena merasa ujian nasional sudah selesai malam itu aku nonton TV sendirian sampai larut malam. Tiba tiba seluruh tubuhku menjadi dingin dan merinding. Mual mual tak karuan hingga membangunkan ibuku tengah malam untuk dikerokin. Aku berpikir mungkin saja aku masuk angin karena mengingat akhir akhir ini susah makan lalu begadang sampai malam untuk nonton TV.
Paginya bukannya sembuh malah semakin parah. Aku muntah muntah hebat. Tak doyan makan dan perutku terasa sakit. Orang tuaku mengira aku terkena maag. Jadi beliau membelikan obat maag di warung. Aku minum obat itu tapi tidak ada kemajuan apapun. Perut malah semakin sakit seperti ada yang berjalan berputar putar di dalam perut. Perut ini sampai bergerak gerak sendiri seperti orang hamil yang bayi dalam kandungannya sedang begerak. Kalau orang yang pernah hamil pasti tahu rasanya.
Keanehan mulai aku rasakan ketika sedang tidur. Entah tidur siang atau malam. Pasti tidak pernah nyenyak, seperti ada sesuatu yang berat menindih tubuhku sampai dada ini sesak untuk bernapas. Susah untuk bangun juga susah untuk tidur, disaat seperti itu pasti aku samar samar melihat sesosok tinggi besar berwarna hitam berdiri tepat dipintu kamar.
Melihat kondisiku yang memperhatikan Ayahku membawa ke medical dengan naik motor. Diperjalanan aku muntah muntah di bonceng belakang sampai Bapakku tidak tahu. Sesampainya disana aku diperiksa. Kata Bu bidan sekaligus mantri bernama Ibu Wike itu, Aku terkena maag kronis. Beliau sampai prihatin melihat kondisiku. Katanya masih muda kok sudah punya penyakit maag kronis. Bagaimana jika sudah berumur 30an? Wah sontak saja hal itu membuatku cemas. Aku bertekad jika sudah sembuh aku akan benar benar menjaga pola makanku.
Beliau langsung memberiku obat, dan menginfus diriku. Itu saja saat memasang jarum infus sampai gagal tiga kali. Tanganku bengkak belendung seperti balon. Beliau sampai meminta bantuan suaminya untuk mencari letak urat nadiku. Karena kata beliau urat nadiku tidak terlihat.
Aku menginap di medical sehari semalam. Menghabiskan satu botol infus karena aku kehabisan cairan. Para tetangga sampai menjenguk ke medical melihat keadaanku yang terlihat semakin kurus saja.
Keadaanku membaik, akhirnya aku pulang. Anehnya sesampainya dirumah maagku kambuh lagi. Makan dan minum obat langsung balik keluar lagi. Badanku juga panas, pucat, lemas tak bertenaga.
Bapakku berinisiatif membawaku ke rumah orang pintar di desaku. Orang pintar yang bisa mengurut anak kecil yang biasanya sakit karena ulah makhluk makhluk gaib. Aku dibawa ke rumah orang pintar itu menggunakan speed boad tetangga. Karena tempat aku tinggal memang bisa melalui jalan darat maupun air. Karena kondisiku yang tidak bisa naik motor terpaksa pinjam speed board tetangga. Karena mobil tidak bisa masuk ke desa tempat aku tinggal. Sesampainya disana pikirku perutku yang akan diurut karena perutku yang sakit. Ternyata aku salah. Disana oleh orang pintar yang biasa dipanggil Tante Ita itu hanya memegang telapak kaki kananku sambil dipijat pelan. Sebentar sekali tidak sampai satu menit. Beliau langsung mengambil air minum segelas lalu membacakan mantra atau doa aku tidak tahu. Aku dan kedua orang tuaku memperhatikan beliau yang tengah komat kamit. Air minum dalam gelas itu tiba tiba berputar kencang sekali. Seperti perputaran air jika ada di laut. Pertemuan air hangat dan air dingin yang memunculkan perputaran air yang sangat kencang sehingga bisa menelan apapun yang menyentuh permukaan air tersebut.
Setelah Tante Ita selesai komat kamit air dalam gelas itu kembali tenang, beliau lalu berucap.
"Dek apa kamu baru baru ini baru ketemu ular?"
"Benar Tante."
"Sebenarnya apa yang terjadi pada anak saya?" Tanya Bapak kemudian.
"Ya Alloh Om, saya takut bener lihatnya. Yang datengin saya itu sosok hitam tinggi besar. Dia bilang Minta anak Om buat jadi tumbal!"
"Kok bisa sih Nte? Apa salah anak saya?"
"Kata makhluk itu, Avi ini sudah nabrak cucunya yang lagi dia momong dijalan."
"Cucu siapa loh Nte?" Tanyaku tak terima. Karena aku merasa tidak menabrak siapa pun.
"Ya ular yang kamu temuin dijalan itu loh dek. Itu kakeknya di depannya ada cucunya tapi tidak terlihat." Sontak saja aku merinding lalu menangis. Memeluk ibuku yang terus menenangkanku. Lalu beliau menuturkan apa yang diminta dari makhluk itu sebagai pengganti dari nyawaku yang akan diminta menjadi tumbal. Buah kelapa hijau yang dipetik jangan sampai jatuh ketanah, kembang tujuh rupa dan anak ayam berbulu hitam mulus. Waktunya hanya sampai sore ini dan tidak boleh menengok kebelakang setelah meletakan sesaji itu.
Bapakku langsung mencari semua persyaratannya. Untung belum sampai sore hari Bapakku mendapatkan semuanya. Aku dan Bapakku segera ke tempat dimana aku bertemu ular itu. Setelah menaruh sesaji itu dipinggir jalan kami pulang tanpa menoleh kebelakang. Keesokannya ketika bapakku tak sengaja lewat jalan itu ternyata sesajinya sudah tidak ada.
Proses kesembuhanku pun tidak sebentar. Hampir satu bulan aku makan hanya nasi, tempe dan tahu rebus. Tanpa bumbu bumbu apapun. Berat badanku sampai turun 10 kilo. Aku juga tidak bisa hadir ke acara perpisahan disekolahku. Sejak saat itu aku semakin meningkatkan ibadahku pada sang kuasa. Meminta perlindungan dari hal hal gaib yang mengganggu hidupku. Alhamdulillah sekarang maagku sudah berangsung membaik. Tidak ada pantangan pantangan makan apapun lagi. Kesembuhanku itu kudapat karena aku juga menjaga pola makanku dengan benar. Tidak pernah telat makan lagi. Karena kesehatan lebih penting dari segala galanya.
TAMAT