Di wilayah Ponorogo, tepatnya di Desa Golan yang dikuasai oleh Ki Ageng Onggolono, terdapat sebuah dukuh terkenal yang bernama Dukuh Mirah. Dukuh itu dikuasai oleh Ki Ageng Mirah. Dukuh itu bernama Mirah karena harga-harga barang di situ terkenal murah.
Ki Ageng Mirah mempunyai anak gadis yang sangat cantik bernama Rara Mirah. Kecantikannya terkenal ke mana-mana hingga ke luar pedukuhan Mirah. Sementara itu, Ki Ageng Golan mempunyai anak laki-laki bernama Jaka Lancur
Pamungkas. Seperti umumnya pemuda, Jaka Pamungkas pun
tertarik kepada Rara Mirah. Suatu hari Jaka Lancur Pamungkas menghadap ayahnya minta dilamarkan.
"Wah ... wah, anak Ayah, tahu saja kamu ada gadis cantik. Ayah juga dengar, gadis dari Dukuh Mirah itu memang cantik. Baiklah, akan Ayah bicarakan dengan ibumu."
Ki Ageng Golan dan istrinya bermusyawarah tentang kehendak anaknya itu. Mereka setuju dengan pilihan Jaka Lancur Pamungkas. Pada suatu hari yang telah ditentukan, Ki Ageng Golan melamar Rara Mirah.
"Sebagai orang tua, kami sangat senang atas lamaran Ki Ageng Golan," kata Ki Ageng Mirah dengan wajah ceria.
"Kami pun bahagia jika keluarga Ki Ageng Mirah setuju."
"Kami pun sangat setuju jika Joko Lancur Pamungkas menjadi suami Rara Mirah. Tapi, begini Pak, kita juga perlu menanyakan hal ini kepada anak kita," ibu Roro Mirah menyambung pembicaraan.
Rara Mirah pun dipanggil. Rara Mirah terkejut mendapat panggilan itu. Dia sebenarnya tidak menyukai Jaka Lancur Pamungkas. Menurutnya, pemuda itu terlalu sombong. Jaka Lancur Pamungkas terlalu membanggakan kekuasaan ayahnya.
"Rara Mirah ... anakku, ini keluarga Ki Ageng Golan melamarmu. Bapak dan lbu berharap kamu menerimanya, Nak!" ibu Rara Mirah membujuk anaknya.
Rara Mirah memandang ibunya. Walaupun tidak senang, dia berusaha menyunggingkan senyuman dan menganggukkan kepala kepada keluarga Ki Ageng Golan.
"Bagaimana, ya? Emmh, ... sebenarnya saya masih senang sendiri." Jawaban itu membuat keluarga Ki Ageng Golan kecewa.
"Kami mohon maklum kepada keluarga Ki Ageng Golan. Rara Mirah ini anak manja," kata Ki Ageng Mirah berusaha menetralkan suasana.
"Nak, kamu sudah menjelang dewasa. Jaka Lancur Pamungkas cocok mendampingimu," bisik Nyi Ageng Mirah berusaha membujuk anaknya.
"Mmh, begini saja. Saya mau menikah dengan Jaka Pamungkas, tetapi ada syaratnya," kata Rara Mirah memandang kedua orang tuanya.
"Apa syaratnya, Nduk?" kata keluarga Ki Ageng Golan bersamaan.
"Pertama pada saat menikah nanti, Jaka Pamungkas harus membawa kacang kedelai setumpuk dan kacang hijau setumpuk. Kedua tumpukan kacang itu harus dapat berjalan sendiri. Jaka Lancur Pamungkas juga harus bisa mengalirkan air sungai Sekayu ke sawah keluarga Mirah. Jika syarat itu tidak terpenuhi, berarti perkawinan batal."
"Baiklah, Nduk, kami sanggupi permintaanmu," jawab Ki Ageng Golan dengan suara tersekat. Sebenarnya Ki Ageng Golan merasa berat atas permintaan Rara Mirah.
Waktu yang ditentukan pun tiba. Ki Ageng Golan kebingungan karena belum dapat memenuhi ketiga permintaan Rara Mirah. Jaka Pamungkas mendesak agar keluarga
Golan bisa memenuhi keinginan Rara Mirah.
"Pak, bagaimana ini? Kita belum juga dapat memenuhi permintaan Rara Mirah?"
"Sabar, Bapak juga sedang berusaha. Kita harus cari jalan keluarnya."
Keluarga Ki Ageng Golan bermusyawarah mencari jalan keluar agar dapat memenuhi permintaan itu. Akhirnya, pihak keluarga Golan sepakat untuk memenuhi permintaan Rara Mirah, tetapi tidak persis sama dengan permintaan gadis itu ..
Ki Ageng Golan menyediakan kulit kedelai setumpuk yang ditempatkan dalam jodhang.
Di atasnya ditaburi kacang kedelai sehingga kulit kedelainya tidak kelihatan. Begitu pula dengan kacang hijau. Setumpuk kulit kacang hijau ditempatkan dalam jodhang, kemudian di atasnya ditaburi kacang hijau sehingga kulit kacang hijau itu tidak kelihatan. Kedua jodhang itu bisa berjalan sendiri.
Pada hari yang telah disepakati, rombongan pengantin laki-laki pun datang beserta barang-barang permintaan Rara Mirah. Ki Ageng Mirah sangat senang hatinya sebab anaknya akan berjodoh dengan anak Ki Ageng Golan yang amat berpengaruh dan kaya.
"Aduh, celaka aku! Jaka Pamungkas dapat memenuhi permintaanku," kata Rara Mirah sambil tangan kanannya mengelus dadanya.
Muka Rara Mirah pucat dan jalannya gemetar. Dia memeriksa barang-barang yang dibawa rombongan pengantin laki-laki. Rara Mirah sangat terkejut saat memeriksa tumpukan kacang kedelai dan kacang hijau sebab tidak sesuai dengan kehendaknya.
Rara Mirah memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Ki Ageng Mirah bingung. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat nya. Ki Ageng Mirah berusaha membujuk anaknya, tetapi
Rara Mirah tetap teguh pada pendiriannya. Dia tidak mau menikah dengan Jaka Lancur Pamungkas karena pemuda itu bertindak curang.
"Saya mohon maaf kepada keluarga Ki Ageng Golan. Saya tidak bisa menerima Jaka Lancur Pamungkas menjadi suami
saya karen a syarat-syarat yang saya minta tidak sesuai."
"Apanya yang tidak sesuai?"
"lni!" kata Rara Mirah sambil tangannya mengambil kulit kacang kedelai dan kulit kacang hijau.
"Saya 'kan minta setumpuk kacang kedelai dan setumpuk kacang hijau yang berjalan sendiri. Bukan kulit kacang kedelai dan kulit kacang hijau yang ditaburi kacang seperti ini?"
"Ah, itu hanya alasanmu untuk menolak lamaranku."
"Jaka Lancur Pamungkas, aku menghendaki kejujuran bukan kebohongan."
"Terus, bagaimana?"
"Ya, tidak bisa sebab syaratnya tidak terpenuhi."
Perang mulut antara Rara Mirah dan Jaka Lancur Pamungkas terus berlangsung. Sementara itu, rombongan dari Golan mulai marah. Perkelahian antara rombongan Golan dan rombongan Mirah pun tak dapat dihindarkan.
Perkelahian itu kemudian meningkat menjadi peperangan antara warga Golan dan warga Dusun Mirah. Dalam peperangan itu Ki Ageng Mirah kalah. Ki Ageng Mirah dan keluarganya keluar dari Mirah. Kini Dusun Mirah dalam kekuasaan Ki Ageng Golan. Sebagai penguasa baru di Mirah, Ki Ageng Golan mengeluarkan beberapa pantangan.
"Warga Mirah, tidak diperbolehkan seorang pun menumpuk kulit kacang kedelai dan kulit kacang hijau. Barang siapa melanggar pantangan ini, akan mendapat marabahaya.
Selanjutnya, orang Dukuh Mirah tidak boleh berbesanan dengan Desa Golan. Jangankan orangnya, air parit dari Mirah pun tidak dapat bercampur dengan air dari Golan. Sejak itu,
Golan tidak dapat bersatu dengan Mirah."
Sampai sekarang, menurut kepercayaan, jika ada ternak dari Mirah masuk ke Golan, ternak itu bisa menjadi gila. Jika ada orang Mirah masuk ke Golan membawa cabang
bambu, maka orang itu bisa menjadi bingung. Pernah ada orang yang mencoba mencampurkan air parit dari Mirah
dengan air parit dari Golan. Apa yang terjadi? Air dari kedua daerah itu pun tidak mau bercampur. Wallahualam.
*****"*
Cerita berdasarkan kisah nyata, namun ada beberapa versi. Ada versi lainnya yang tidak kalah serunya, Jaka Lancur dan Rara Mirah saling cinta, namun ditentang orang tua karena perbedaan agama. Karena kedua orang tua mereka sama-sama sakti, maka terjadilah perang kadigdayan. Akhirnya keduanya, Jaka Lancur dan Rara Mirah nekat mati sampyuh (mati bersama).
Karena kekecewaan kedua orang tua mereka, keduanya pasang orang tua tersebut bersumpah bahwa mulai hari itu kedua daerah itu tidak boleh berbesanan, atau akan terjadi bencana. Dan itu berlaku sampai sekarang, sampai airpun tidak mau bercampur...