Di sebuah rumah besar yang hampir tidak pernah benar-benar sepi, hiduplah seorang wanita bernama Fania.
Usianya sudah tidak muda lagi. Rambutnya mulai diselingi beberapa helai putih, tapi itu tidak mengurangi aura ceria yang selalu terpancar dari wajahnya. Senyumnya lebar, tawanya keras, dan cara bicaranya… yang ceplas ceplos, sangat terkenal di kalangan keluarganya.
Kalau Fania sudah bicara, tidak ada yang tahu kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya. Kadang lucu, kadang pedas, kadang membuat orang langsung tertawa.
Tapi satu hal yang pasti, Fania tidak pernah menyimpan sesuatu di hatinya terlalu lama.
Dia adalah tipe orang yang lebih suka menyelesaikan semuanya dengan tawa.
Fania hidup bersama suaminya yang sabar bernama Liam. Berbeda dengan Fania yang cerewet dan penuh energi, Liam lebih tenang, kalem, dan sering menjadi “penyeimbang” dalam rumah tangga mereka.
Namun yang membuat rumah itu hampir tidak pernah sepi adalah empat anak laki-laki mereka.
Yang pertama bernama Samuel, anak sulung mereka ini yang terlihat paling dewasa… walaupun sering juga jadi korban omelan Mamanya.
Yang kedua bernama Arfan, ia yang paling sering berdebat dengan Fania tapi diam-diam sangat dekat dengannya.
Yang ketiga bernama Andra, yang dikenal paling santai dan jarang ikut ribut.
Dan yang terakhir Leo, si bungsu yang paling sering mencoba “menyelamatkan diri” kalau Mamanya mulai cerewet.
Keempat anak laki-laki itu kini sudah dewasa. Bahkan mereka semua sudah menikah.
Samuel menikah dengan Camelia, seorang wanita lembut yang selalu bisa membuat suasana menjadi tenang.
Arfan menikah dengan Steffy, yang ceria dan cukup berani menanggapi candaan Fania.
Andra menikah dengan Utami, yang kalem tapi sering ikut tertawa melihat tingkah keluarga besar itu.
Dan Leo menikah dengan Vivi, ia yang paling mudah akrab dengan semua orang.
Tapi ada satu hal yang sering membuat keempat anaknya merasa heran.
Fania tidak pernah menjadi ibu mertua yang galak atau suka mengatur menantunya.
Justru sebaliknya.
Fania sangat santai… bahkan terlalu santai.
Dia tidak pernah membeda-bedakan menantunya. Bagi Fania, mereka bukan orang luar.
Mereka adalah bagian dari keluarga.
Dan kadang… malah terasa seperti lebih dimanja daripada anak-anaknya sendiri.
Hal itu tentu saja sering membuat keempat putranya protes.
Tapi setiap kali mereka mengeluh, Fania hanya akan berkata santai,
“Kalau kalian tidak mau dimarahi, ya jadi suami yang baik.”
Rumah Fania memang penuh cerita.
Kadang penuh tawa.
Kadang penuh perdebatan.
Tapi satu hal yang pasti…
Selama Fania masih ada di rumah itu, kehidupan keluarga mereka tidak akan pernah membosankan.
Di lingkungan rumahnya, hampir semua orang mengenalnya. Bukan karena dia suka ikut campur urusan orang, tapi karena sifatnya yang ramah dan suaranya yang… cukup keras.
Kalau Fania tertawa, tetangga dua rumah sebelah kadang bisa ikut mendengar.
Namun di balik sifatnya yang ceplas-ceplos, Fania sebenarnya memiliki hati yang sangat lembut.
Ia tidak suka melihat orang sedih terlalu lama, apalagi keluarganya sendiri.
Karena itu, rumah Fania selalu terasa hidup. Selalu ada suara tawa, suara bercanda, atau kadang suara omelan kecil yang sebenarnya penuh kasih sayang.
Suaminya, Liam, sudah sangat terbiasa dengan itu semua.
Kadang Liam hanya duduk di kursi ruang tamu sambil membaca koran, sementara dari dapur terdengar Fania berbicara sendiri.
“Atuh ini piring kenapa tiba-tiba hilang satu? Jangan-jangan Leo lagi yang bawa ke kamar.” gerutunya
Liam menurunkan korannya sedikit.
“Ma… Leo sudah menikah.” katanya mengingatkan
Fania langsung menjawab tanpa menoleh.
“Ya memang sudah menikah. Tapi kebiasaan masa kecilnya belum tentu hilang.”
Liam hanya tersenyum kecil.
Setelah puluhan tahun menikah dengan Fania, ia sudah tahu satu hal.
Kalau Fania sedang berbicara, lebih baik didengarkan saja.
Kadang Fania sendiri yang akan tertawa dengan ucapannya.
Yang paling menarik dari Fania sebenarnya bukan hanya sifatnya yang ceria.
Tapi cara dia memperlakukan orang-orang di sekitarnya.
Terutama para menantunya.
Banyak orang sering mendengar cerita tentang ibu mertua yang galak, suka mengatur, atau diam-diam mengkritik menantunya.
Tapi Fania berbeda.
Sangat berbeda.
Kalau ada orang yang bertanya bagaimana hubungannya dengan para menantu, Fania biasanya akan menjawab santai,
“Ah, mereka itu anak perempuan yang Tuhan titipkan ke rumahku.”
Kalimat itu bukan sekadar ucapan.
Fania benar-benar memperlakukan mereka seperti anak sendiri.
Bahkan kadang…
terlalu baik.
Suatu kali Samuel pernah mengeluh padanya.
“Ma, kenapa kalau Camelia capek langsung Mama suruh aku bantu kerjaan dia?”
Fania menjawab cepat.
“Memang harus begitu.”
“Tapi aku juga capek, Ma.”
Fania menatapnya datar.
“Ya sudah. Kamu capek sendiri saja, jangan ajak Camelia.”
Samuel langsung terdiam.
Sementara Camelia di sampingnya menahan tawa.
Hal seperti itu sering terjadi.
Arfan pernah mencoba mengadu.
“Ma, Steffy kalau belanja baju suka lama sekali.” keluhnya
“Bagus dong.”Fania menjawab santai.
“Bagus bagaimana?” tanya Arfan
“Berarti dia memilih dengan teliti supaya kelihatan cantik di depan kamu.” jawab Fania
Mendengar jawaban Fania Arfan langsung menutup mulutnya.
Andra pernah mencoba ikut protes.
“Ma, Utami kadang terlalu memanjakan Mama.”
Fania tertawa.
“Itu bukan memanjakan. Itu namanya sayang.”
Lalu Leo yang paling berani suatu hari berkata,
“Ma, jujur saja… Mama lebih sayang menantu daripada kami, kan?”
Fania langsung mengangkat alisnya.
“Ya memang.” jawabnya santai
Semua langsung terdiam.
Fania melanjutkan perkataannya dengan santai,
“Kalian sudah mama sayang dari kecil. Sekarang giliran mereka.”
Ucapan itu terdengar sederhana.
Namun penuh makna.
.........................
Jika Fania adalah badai yang penuh suara dan energi, maka Liam adalah angin sejuk yang menenangkan semuanya.
Pria itu sudah melewati usia paruh baya. Rambutnya mulai dipenuhi uban tipis di pelipis, tapi wajahnya masih memancarkan wibawa yang tenang. Cara bicaranya pelan, jarang meninggikan suara, dan hampir selalu terlihat sabar.
Sabar… terutama saat menghadapi istrinya.
Selama lebih dari tiga puluh tahun menikah dengan Fania, Liam sudah sangat memahami satu hal yaitu rumah mereka akan selalu ramai selama Fania masih memiliki energi untuk berbicara.
Pagi itu Liam duduk santai di ruang tamu dengan secangkir kopi di tangannya. Dari dapur terdengar suara Fania yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
“Aduh Vivi, kalau Leo malas bantu kamu, telepon Mama saja. Nanti Mama yang marahi dia!”
Liam menyesap kopinya pelan sambil mendengarkan Fania yang terus berceloteh.
Tidak lama kemudian Fania keluar dari dapur.
“Pa, kamu tahu tidak? Leo itu kalau di rumah Vivi suka pura-pura capek dan ga mau bantu istrinya.”
Liam mengangkat alis sedikit.
“Leo memang anak kita.”
“Ya justru itu! Makanya harus diingatkan.” kata Fania
Liam hanya tersenyum kecil.
Ia sebenarnya tidak pernah ikut campur terlalu jauh dalam urusan kecil antara Fania, anak-anak mereka, dan para menantu.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena ia tahu, Fania selalu punya cara sendiri untuk mengurus keluarganya.
Dan anehnya, cara itu selalu berhasil membuat semua orang tetap akrab.
Empat anak laki-laki mereka memang sering mengeluh.
Tapi Liam tahu… mereka semua sangat menyayangi ibunya.
Begitu juga dengan para menantu perempuan.
Camelia, Steffy, Utami, dan Vivi.
Keempat wanita itu sangat menghormati Fania.
Bahkan kadang terlalu akrab.
Suatu hari Liam pernah melihat sesuatu yang membuatnya tertawa kecil.
Saat itu Fania sedang duduk di ruang makan bersama keempat menantunya.
Mereka tertawa keras dan membicarakan sesuatu.
Sementara empat anak laki-lakinya duduk di ruang tamu dengan wajah datar.
Arfan berbisik pelan kepada Samuel.
“Kita ini anak kandung atau cuma penyewa rumah?”
Samuel menjawab pelan.
“Kayaknya kita hanya penyewa.”
Andra menambahkan,
“Dan menantu adalah pemilik rumah.”
Leo mengangguk.
“Iya, kita cuma numpang lahir aja.”
Liam yang mendengar itu hampir tertawa.
Namun ketika Fania menoleh, ia langsung pura-pura membaca koran.
Meski sering terlihat santai, Liam sebenarnya sangat bangga pada istrinya.
Tidak semua keluarga bisa memiliki hubungan yang hangat antara ibu mertua dan menantu.
Tapi Fania membuat semuanya terasa alami.
Tidak ada jarak.
Tidak ada drama besar.
Yang ada hanya candaan, omelan kecil, dan tawa yang tidak pernah habis.
Kadang Liam hanya duduk diam memperhatikan keluarganya.
Keempat anak laki-lakinya yang sudah dewasa.
Keempat menantu perempuan yang membuat rumah itu semakin hidup.
Dan seorang istri yang masih sama cerewetnya seperti saat mereka pertama kali bertemu.
Liam tersenyum kecil.
Dalam hati ia sering berpikir satu hal.
Rumah ini mungkin akan terasa terlalu sunyi… tanpa suara Fania.