Aku selalu percaya bahwa Papa suatu saat akan berubah.
Tapi...
Hari ini aku merasa tidak mengenali sosok laki-laki yang ada di depanku.
Laki-laki yang mempunyai wajah yang berbeda dari yang biasa aku kenal.
Aku bingung.....
Marah...
Sedih...
Tapi lebih banyak sakitnya...
Papa selalu berkata
Kalau aku harus menjaga diri
Harus jadi perempuan baik-baik
Harus setia pada suamiku suatu hari nanti.
Tapi......
Kenapa Papa sendiri tidak menjaga Mama?
Tidak menjaga anak perempuanmu sendiri
Jujur.......
Aku ingin marah
Aku ingin teriak
Tapi......
Bahkan suaraku seperti hilang
Aku hanya menahan air mata yang jatuh tetes demi tetes.
Seperti pecahan kepercayaan yang tidak dapat disatukan lagi.
Aku anak perempuanmu
Yang paling mengerti mu
Yang diam-diam menyayangimu
Yang paling membanggakanmu di depan semua orang
Tapi sekarang......
Siapa yang harus aku bela?
Papa...
Atau.....
Luka baru yang Papa buat?
Aku masih gemetar ketika menulis ini
Entahlah hatiku merasa kosong, tapi terasa seperti penuh sesak.
Aku gak pernah menyangka
Bahwa hari ini
Ada hari yang aku benci dalam hidupku
Dadaku terasa sakit sekali
Aku merasa seperti kehilangan seseorang
Padahal orang itu masih hidup
Masih berada di rumah ini.
Aku takut
Melihat wajahmu yang biasa
Seperti tak pernah terjadi apa-apa
Takut semuanya normal
Aku takut ndak bisa memanggilmu dengan suara yang sama
Aku hanya ingin tidur dan berharap bahwa semuanya hanya mimpi buruk yang gak akan pernah terjadi.
................,...
Aku keluar kamar dengan wajah khas bangun tidur rambut acak-acakan
Tadi aku tiba di rumah pukul tiga sore setelah menyelesaikan tugas kelompok yang akan dikumpulkan besok.
Dan tanpa sadar aku tertidur ketika menulis sebuah catatan di buku harianku.
Aku merasa tidur cukup lama
Ketika aku terbangun dan melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Saat melewati ruang keluarga aku melihat Papa yang sedang duduk santai.
"Lho Kak, tumben tidur siang?" Tanya Papa ketika melihatku ketika melihatku
Aku menoleh sekilas
Wajahnya masih seperti biasa seperti tidak ada yang terjadi.
"Iya, jadi habis mengerjakan tugas kelompok sampai jam tiga sore." Jawabku
Papa hanya mengangguk
"Lho yang lain pada kemana?" Tanyaku ketika menyadari bahwa suasana rumah sangat sepi.
Karena seingatku saat aku tiba di rumah tadi, Andi dan Mbah masih berada di rumah.
"Papa juga tidak tahu." Jawab Papa "tadi ketika Papa pulang nggak ada orang di rumah ini, selain kamu."
Aku mengangguk
"Ya udah aku mau mandi dulu." ucapku
Aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi karena hari sudah semakin sore.
Setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih santai, aku mengambil ponselku dan mengirim pesan pada Kirana, menanyakan keberadaannya.
Tak lama kemudian Kirana membalas pesanku, dan mengatakan bahwa ia sebentar lagi pulang, tinggal menunggu kakak kembar yang akan menjemputnya.
Aku keluar dari kamarku untuk mengembalikan handuk ke tempatnya semula.
Aku melihat Papa masih berada di ruang keluarga sibuk dengan ponselnya, tanpa menyadari bahwa aku mengawasinya sedari tadi.
Aku masih menimbang-nimbang apakah sebaiknya Aku bertanya langsung pada beliau, atau... Menerka nerka.
Sebenarnya sudah beberapa kali aku tidak sengaja melihat Papa dan Tante Rena sedang bersama.
Kami tidak sengaja bertemu beberapa kali di tempat yang berbeda.
Mungkin mereka nggak menyadari keberadaanku di situ, tapi aku tahu bagaimana mereka seperti orang yang jatuh cinta.
Ternyata......
Mereka masih tetap berhubungan, meskipun Pakde sudah turun tangan.
Aku menuju dapur untuk mengambil segelas air minum lalu meneguknya.
"Kak Papa mau mandi dulu." Kata Papa yang entah sejak kapan berada di dapur.
Aku mengangguk pelan.
Aku kembali ke ruang keluarga dan duduk di sana sambil menunggu Papa selesai mandi.
Aku menyalakan televisi dan menonton serial kartun favoritku.
Mataku menutup layar televisi tapi pikiranku berada di tempat lain.
Aku tidak menyadari jika Papa sudah berada di sampingku.
"Kak." Papa memanggilku "kamu kelihatan berbeda hari ini."
Aku menarik nafas panjang
"Pa..... Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan." Ucapkan serius
Papa menatapku dengan tatapan bertanya
"Ada apa?" Tanya beliau
Aku kembali menaarik nafas panjang
"Beberapa waktu lalu aku melihat Papa dan Tante Rena di sebuah cafe." Ucapku sambil menatap wajah beliau "dan aku melihat sesuatu.... Sesuatu yang gak seharusnya aku lihat."
Raut wajah Papa berubah
"Apa maksudmu?" Tanya beliau
"Berapa kali Aku melihat Papa dan Tante Rena bersikap seperti sepasang kekasih." Ucapku
"Kamu salah paham, kak. Itu-" belum sempat Papa menyelesaikan kata-katanya aku memotongnya.
"Jangan bilang kalau aku salah lihat." Ucapku dengan suara irih dan bergetar "aku melihatnya dengan jelas saat kau menggenggam tangannya, saat kau tersenyum padanya, saat kau mengelus rambutnya, sepertinya Papa sedang jatuh cinta ya?"
"Ini....... Tak seperti yang kamu pikirkan Kak." Kata Papa
"Kalau begitu bisa tolong jelaskan? Karena aku nggak tahu harus percaya seperti apa lagi?" Suaraku bergetar "padahal selama ini aku menganggap Papa ada orang yang setia, orang yang berjuang untuk keluarganya, meskipun kita nggak dekat."
Papa menunduk
"Papa kan juga manusia yang bisa salah."
Aku menarik nafas panjang
"Aku tahu setiap kita bisa melakukan kesalahan tapi, ada kesalahan yang merusak kedamaian di rumah." Ucapku sambil menghapus air mataku yang tanpa sengaja menetes. "Kenapa Papa lakuin itu?"
Papa terdiam
" Papa sadar tidak? Kalau yang paling terluka itu bukan cuma Mama, tapi aku juga." Aku menangis sesegukan "aku harus pura-pura kuat di depan mama dan adik-adik, tapi aku nggak tahu harus kuat untuk apa."
Papa mengangkat wajahnya dan menatapku dengan rasa bersalah
"Papa tidak bermaksud membuatmu kembali merasakan sakit." Ucap beliau sambil memegang bahuku
Aku menarik nafas panjang berusaha menghentikan tangisku
"Dan satu hal lagi, aku pernah baca di ponsel Papa, kepada ada chat dari Tante Rena. Dengan panggilan sayang, dengan emoji hati dan... Dengan kata-kata yang seharusnya itu untuk Mama." Ucapku
Papa terkejut
"Kamu seharusnya nggak lihat itu!" Papa berbicara dengan nada tinggi
"Kalau Papa ga ingin aku lihat... Kenapa pesan seperti itu ada di ponsel Papa?"
"Itu semua salah paham Kak, kami cuma berteman." Kata Papa
Aku menggeleng air mataku kembali menetes.
"Pa.... Aku sudah baca semuanya, nggak ada teman yang bilang 'aku kangen kamu.' atau 'aku merasa lebih baik kalau kamu ada.' Dan selama ini nggak ada temen yang selalu Papa ingetin 'jangan lupa makan ya sayang!' ya kan?" Ucapku
"Dengar dulu penjelasan Papa-"
Belum selesai Papa menjelaskan aku kembali memotongnya
"Nggak Pa, kali ini Papa yang harus dengerin aku." Ucapku sambil menatap wajahnya
Seketika suasana menegang.
"Aku anak Papa, anak perempuan pertama Papa. Orang yang selalu percaya kalau Papa itu bisa berubah lebih baik." Aku diam sejenak dan mengambil nafas "Papa tahu tidak, kata-kata itu, chat itu, lebih menyakitkan daripada teriakan apa pun."
Aku masih menatap wajahnya menerka-nerka isi hatinya
"Maafin Papa..... Papa khilaf" suaranya melemah
Hening sejenak
"Maaf Pa, tapi 'khilaf' itu terlalu kecil untuk menjelaskan luka sebesar ini." ucapku pelan
Suasana hening menyelimuti kami selama beberapa saat.
"Pa... aku tidak ingin membencimu. Aku cuma ingin Papa jujur, bukan untuk aku saja... tapi untuk Mama dan adik-adik, untuk keluarga ini." ucapku lalu berdiri
"Kak... Papa akan jelasin semuanya tapi, tolong jangan menjauh." Papa memegang tanganku
"Aku tidak menjauh, Pa...
Aku cuma sedang berusaha menerima bahwa laki-laki yang selama ini aku percayai... ternyata bisa mencintai orang lain di belakang keluarganya." suaraku pecah tapi lembut.
Perlahan aku melepaskan tangannya dan masuk ke kamarku meninggalkannya sendirian di ruang keluarga.
Papa....
Setelah percakapan kita tadi, aku masih lama duduk di kamar.
Aku pikir setelah berbicara langsung perasaanku terasa lega...
Tapi,
Ternyata enggak.....
Ada banyak hal yang nggak sempat aku ucapkan.
Mungkin karena aku takut suara ini pecah di depanmu.
Jadi aku menulisnya di sini
Pa
Aku masih ingat wajahmu berubah saat aku bilang kalau aku pernah beberapa kali melihatmu dengan Tante Rena tentang chat itu.
Ada panik
Ada bingung
Dan ada rasa bersalah
Kan bagian yang paling menyakitkan adalah........
Papa pengusaha menutupinya,
Seolah-olah aku belum cukup dewasa untuk memahaminya.
Seolah-olah aku merasa nggak pantas untuk mengetahui kenyataan pahit yang kau ciptakan sendiri.
Aku bukan anak kecil lagi Pa.
Aku mengerti bahwa manusia itu...
Bisa salah
Bisa jatuh
Bisa menyakiti
Dan bisa terluka
Tapi mengetahui bahwa orang yang selama ini aku percayai
Lebih memilih mencintai orang lain di belakang keluarganya.
Itu.....
Bukan sesuatu yang mudah diterima olehku.
Saat aku bertanya tadi...
Ada bagian lain dari diriku yang berharap.... Papa langsung berkata jujur.
Mengaku
Itu setidaknya Papa mengatakan bahwa apa yang aku lihat memang salah.
Tapi....
Papa malah menutupi dan menyembunyikannya.
Itu....
Membuat lukanya semakin dalam.
Papa mungkin ga sadar...
Bahwa kepercayaan seorang anak pada Papanya bukan hanya dengan kata "maaf"
Retaknya terlalu nyata
Terlalu terdengar keras di dalam hatiku.
Pa....
Aku tahu aku nggak bisa merubah semuanya ini
Aku nggak bisa menghapus semua chat itu dari ingatanku.
Tapi....
Aku ingin Papa tahu satu hal
Aku bukan musuhmu
Aku di sini bukan untuk menghakimi
Hanya saja...... Aku sedang berjuang menghadapi kenyataan bahwa ternyata panutanku rapuh.
Aku masih sayang Papa kok
Sangat sayang......
Hanya saja supaya percakapan ini aku merasa hubungan kita semakin jauh
Dan Papa harus ikut memperbaikinya.....
Bukan hanya berharap aku mengerti tanpa ada penjelasan.
Aku berharap suatu hari nanti Papa bisa jujur
Tanpa perlu takut
Dan tanpa menutupi
Karena kejujuran itulah yang akan menolong dan menyelamatkan keluarga kita.
Untuk saat ini....
Biarkan aku sendiri....
Fildan aku belajar menerima semuanya.
Menerima luka
Menerima rasa sakit
Belajar menerima kalau Papa hanya manusia biasa.
Aku nggak akan pergi Pa
Aku hanya menata ulang hatiku.
Dengan rasa kecewa yang tidak bisa kutahan
Tapi juga dengan kasih yang tidak pernah hilang.