Laut pernah menjadi rumah bagiku.
Bukan rumah dengan dinding kokoh atau atap yang melindungi dari hujan, melainkan rumah yang hadir dalam suara ombak, bau asin yang terbawa angin, dan langit jingga yang perlahan tenggelam setiap sore.
Di sana aku belajar percaya bahwa dunia, sekeras apa pun, masih memiliki tempat untuk pulang.
Dan di sana pula aku mengenalnya.
Namanya Arga.
Ia selalu tertawa terlalu keras saat ombak menyentuh kaki kami, seolah laut adalah teman lama yang tak pernah bisa membuatnya takut.
Setiap sore kami duduk di atas batu karang dekat dermaga kecil, menunggu matahari turun perlahan.
“Kalau suatu hari semuanya berubah,” katanya pernah, “laut tetap ada buat kita.”
Aku tertawa kecil waktu itu.
“Kalau lautnya bosan sama kita?”
Arga menggeleng sambil melempar kerikil ke air.
“Rumah nggak pernah bosan.”
Sejak kecil aku kehilangan banyak hal—ibu yang pergi terlalu cepat, ayah yang lebih sering diam daripada bicara. Tapi bersama Arga, kehilangan terasa sedikit lebih ringan.
Ia seperti alasan kenapa aku masih mau percaya bahwa besok akan baik-baik saja.
Kami tumbuh bersama.
Lulus sekolah, mencari kerja seadanya, pulang sore dengan langkah lelah lalu tetap menyempatkan diri ke pantai. Duduk diam. Mendengar ombak.
Kadang kami tak bicara apa-apa.
Kadang Arga bercerita tentang mimpinya pergi jauh dengan kapal besar, melihat kota-kota asing, lalu pulang membawa cerita.
“Aku bakal balik,” katanya suatu senja. “Laut ngajarin satu hal—sejauh apa pun pergi, ombak selalu pulang.”
Aku percaya.
Karena bagaimana mungkin seseorang yang membuat tempat sesepi laut terasa hidup bisa pergi begitu saja?
Namun laut tak pernah memberi janji.
Hari itu langit mendung.
Arga ikut melaut bersama beberapa nelayan untuk pekerjaan sementara. Katanya cuma sebentar.
“Besok sore kita lihat senja lagi,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku mengangguk.
Tapi besok sore tak pernah datang seperti seharusnya.
Perahu itu tak kembali tepat waktu.
Angin berubah liar malam itu. Laut menggila.
Orang-orang berlarian di dermaga. Nama-nama dipanggil dengan suara gemetar.
Ada yang menangis, ada yang menatap ombak seperti berharap keajaiban keluar dari sana.
Aku berdiri terlalu lama.
Menunggu.
Percaya.
Memaksa diriku percaya.
Tapi yang pulang hanya kabar buruk.
Satu per satu orang ditemukan.
Kecuali Arga.
Seolah laut menelannya tanpa sisa.
Tanpa salam.
Tanpa perpisahan.
Tanpa kesempatan bagiku untuk marah.
Hari-hari setelah itu terasa kosong.
Aku berhenti datang ke pantai.
Menutup jendela rapat saat suara ombak terlalu jelas terdengar malam hari.
Bau asin yang dulu terasa menenangkan kini membuat dadaku sesak.
Aku mulai membenci laut.
Membenci warna birunya.
Membenci suara ombaknya.
Membenci segala hal yang pernah membuatku merasa aman.
Orang-orang bilang aku harus ikhlas.
Katanya, waktu akan menyembuhkan.
Tapi bagaimana cara sembuh dari sesuatu yang juga merenggut tempat pulang?
Arga bukan sekadar seseorang.
Ia rumah.
Dan laut telah mengambil rumahku.
Bertahun-tahun kemudian, aku berdiri lagi di tempat yang sama.
Dermaga kecil itu sudah tua.
Cat kayunya mengelupas.
Batu tempat kami duduk masih ada, meski ombak tampak lebih dingin dari yang kuingat.
Senja turun perlahan.
Langit berubah jingga.
Indah.
Dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, aku membencinya sedikit lebih pelan.
Angin laut menyentuh wajahku seperti sesuatu yang ingin meminta maaf.
Aku menatap cakrawala.
Kosong.
Luas.
Diam.
“Aku masih marah,” bisikku.
Ombak datang, lalu pergi.
Tak menjawab.
“Tapi aku capek kehilangan rumah.”
Mataku panas.
Bukan karena laut berubah.
Mungkin karena aku sadar rumah itu memang sudah hilang sejak lama.
Dan mungkin—hanya mungkin—aku harus belajar membangun pulang baru, meski tidak lagi di tempat yang sama.
Senja semakin tenggelam.
Laut masih ada.
Aku masih berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, kehilangan tidak terasa seperti akhir.
Hanya sesuatu yang akan selalu tinggal, tapi perlahan belajar kubawa tanpa menghancurkanku.
Angin sore bertiup lebih pelan daripada yang kuingat.
Aku duduk di batu karang lama, tempat yang dulu terlalu penuh tawa hingga terasa mustahil untuk sunyi. Jemariku menyentuh permukaannya yang kasar, Dingin, Seolah waktu benar-benar berhenti di sini, meninggalkan aku sendirian untuk mengejar sesuatu yang tak akan pernah kembali.
Di kejauhan, perahu-perahu kecil mulai pulang.
Lampu-lampu mereka menyala satu per satu, kecil seperti kunang-kunang di atas air gelap.
Dulu aku selalu menunggu salah satunya.
Menunggu Arga melompat turun sambil mengangkat ikan terlalu sedikit lalu tertawa seperti orang paling bahagia di dunia.
“Aku kalah sama ombak hari ini,” katanya pernah sambil nyengir. “Tapi besok aku balas.”
Aku tersenyum kecil mengingatnya.
Sakitnya masih ada.
Aneh, bagaimana kehilangan bisa tetap tinggal begitu lama namun berubah bentuk.
Tidak lagi seperti badai yang menghancurkan semuanya, melainkan ombak kecil yang datang tiba-tiba saat kau pikir semuanya baik-baik saja.
Aku menghembuskan napas panjang.
Lalu tanpa sadar berkata pelan ke laut yang menghitam di depanku.
“Aku benci kamu.”
Ombak pecah pelan di batu.
“Aku benci karena kamu ambil dia.”
Suara itu pecah di tenggorokanku.
“Kenapa bukan aku juga?”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Mentah.
Rapuh.
Pertanyaan yang selama bertahun-tahun kusimpan terlalu dalam bahkan untuk kuakui pada diriku sendiri.
Langit semakin gelap.
Tak ada jawaban.
Tentu saja tidak.
Laut tidak pernah pandai menjelaskan kehilangan.
Namun di antara suara ombak, aku teringat sesuatu.
Suara Arga.
Samar.
Seolah hidup kembali di kepalaku.
“Kalau suatu hari semuanya berubah, jangan marah terlalu lama sama laut.”
Waktu itu aku mendengus.
“Kenapa?”
“Karena laut nggak pernah benar-benar mengambil. Dia cuma menyimpan hal-hal yang nggak bisa kita jaga.”
Aku dulu menertawakannya.
Menganggap itu cuma omong kosong seseorang yang terlalu mencintai ombak.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, kata-kata itu terasa berbeda.
Mungkin laut tidak mengambil rumahku.
Mungkin rumah itu pernah ada, nyata, hangat, lalu selesai pada waktunya.
Dan mungkin yang membuatku hancur bukan kehilangan Arga semata.
Melainkan kenyataan bahwa setelah dia pergi, aku berhenti hidup.
Aku berhenti berharap.
Berhenti berjalan.
Berhenti mencari tempat pulang selain masa lalu.
Mataku jatuh pada sesuatu di dekat kakiku.
Sebuah kerang kecil.
Putih pucat.
Retak di salah satu sisi.
Entah kenapa aku memungutnya.
Lucu, pikirku.
Bahkan benda sekecil ini masih bertahan setelah dihantam ombak berkali-kali.
Aku menggenggamnya pelan.
Langit sudah hampir gelap ketika aku berdiri.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku melangkah meninggalkan pantai tanpa rasa ingin lari.
Masih sakit.
Masih marah.
Masih kehilangan.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Seolah sedikit ruang kosong di dadaku mulai memberi izin pada harapan untuk masuk lagi.
Di belakangku, ombak tetap datang dan pergi.
Tak berubah.
Dan di bawah langit senja yang nyaris hilang, aku akhirnya mengerti—
kadang rumah bukan tempat yang tetap menunggumu.
Kadang rumah adalah seseorang yang pernah mengajarkanmu cara bertahan, bahkan setelah mereka pergi.
Aku menyimpan kerang itu di saku jaket.
Kecil. Retak. Nyaris tak berharga.
Tapi entah kenapa rasanya seperti membawa pulang sesuatu yang tertinggal terlalu lama.
Malam turun perlahan ketika aku berjalan meninggalkan pantai. Jalan setapak menuju rumah tampak sama—lampu jalan redup, bau garam masih terbawa angin, suara ombak masih terdengar samar dari kejauhan.
Namun untuk pertama kalinya, suara itu tidak terasa seperti ancaman.
Hanya jauh.
Sangat jauh.
Rumah terasa lebih sepi malam itu.
Aku membuka pintu pelan. Ruang tamu masih seperti biasa: kursi tua, jam dinding yang berdetak terlalu keras, dan foto-foto yang mulai berdebu.
Pandangan mataku berhenti pada satu bingkai.
Aku dan Arga.
Masih remaja.
Berdiri di tepi laut dengan rambut berantakan diterpa angin, wajah kami dipenuhi tawa yang dulu terasa tak akan pernah habis.
Aku menatap foto itu cukup lama.
Biasanya aku akan membalik bingkai itu menghadap dinding.
Tak sanggup melihatnya terlalu lama.
Tapi malam ini tidak.
Aku mendekat.
Membersihkan debunya dengan ujung lengan.
“Harusnya kamu pulang,” gumamku pelan.
Sunyi.
Lalu aku tertawa kecil, pahit.
“Aneh ya… aku masih ngomel setelah selama ini.”
Dadaku kembali terasa sesak, tetapi berbeda.
Bukan luka yang mengoyak.
Lebih seperti bekas jahitan yang kadang masih nyeri saat disentuh.
Aku duduk di lantai.
Foto itu di pangkuan.
Kerang kecil di genggaman.
Lalu, tanpa sadar, aku mulai menangis.
Bukan tangisan besar yang pecah seperti dulu.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada marah.
Hanya air mata yang jatuh pelan, satu demi satu, seperti sesuatu dalam diriku akhirnya terlalu lelah untuk terus pura-pura kuat.
“Aku capek, Ga…”
Suaraku hampir hilang.
“Aku capek nunggu orang yang nggak bakal pulang.”
Jam dinding berdetak.
Malam berjalan seperti biasa.
Tapi untuk pertama kalinya, aku mengizinkan diriku mengucapkan hal yang selama ini paling kutakuti:
“Aku kangen.”
Kalimat sederhana.
Namun terasa seperti pintu yang terkunci bertahun-tahun akhirnya terbuka sedikit.
Aku tertidur di lantai malam itu.
Dengan foto di sampingku.
Dan kerang kecil dalam genggaman.
—
Paginya, suara ombak membangunkanku.
Aneh.
Biasanya aku membenci suara itu.
Namun pagi ini rasanya hanya seperti suara yang pernah kukenal lama sekali.
Aku duduk perlahan.
Leher pegal.
Mata sembap.
Di luar jendela, langit tampak pucat kebiruan.
Tanpa benar-benar tahu kenapa, aku mengambil tas kecil dan berjalan keluar rumah.
Kakiku membawaku ke pasar dekat pelabuhan.
Tempat yang dulu selalu kuhindari.
Terlalu banyak kenangan.
Terlalu banyak wajah yang pernah bertanya, “Sudah ikhlas?”
Aku berhenti di dekat dermaga.
Seorang nelayan tua sedang memperbaiki jaring.
Ia menatapku cukup lama, lalu mengerutkan dahi seperti sedang mengingat sesuatu.
“Kamu temannya Arga, ya?”
Dadaku menegang.
Sudah lama sekali tak ada yang menyebut namanya begitu saja.
Aku mengangguk kecil.
Orang tua itu tersenyum tipis.
“Dia anak baik.”
Ada jeda.
“Dulu sering bilang kamu takut sendirian.”
Aku terdiam.
Nelayan itu tertawa pelan.
“Makanya tiap pulang melaut dia buru-buru. Katanya ada orang keras kepala yang pasti nunggu di tepi laut.”
Tenggorokanku tercekat.
Angin pagi tiba-tiba terasa terlalu dingin.
“Ada titipan sebenarnya,” katanya lagi sambil berdiri pelan.
“Harusnya udah lama kukasih.”
Jantungku berdetak aneh.
“Titipan?”
Ia masuk ke pondok kecil dekat dermaga, lalu kembali membawa sebuah kotak kayu tua.
Sudutnya mulai lapuk.
Namaku tertulis kecil di atasnya.
Tanganku gemetar saat menerimanya.
“Dia nitip sebelum berangkat,” ujar lelaki itu. “Katanya kalau dia telat pulang… kasih ini.”
Langit pagi mendadak terasa terlalu luas.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu—
aku takut membuka harapan lagi.
Tanganku membeku di atas kotak kayu itu.
Tua. Ringan. Sedikit lembap dimakan udara laut.
Namaku masih tertulis miring di permukaannya—huruf-huruf yang langsung kukenal.
Tulisan Arga.
Berantakan.
Sedikit miring ke kiri.
Dadaku menegang.
Ada sesuatu yang aneh tentang rasa kehilangan: ketika kau terlalu lama hidup tanpanya, hal kecil seperti tulisan tangan bisa terasa lebih menyakitkan daripada kabar buruk.
“Aku buka nanti saja,” gumamku pelan, lebih pada diri sendiri.
Nelayan tua itu hanya mengangguk.
“Kadang orang memang butuh siap sebelum mendengar seseorang pulang lewat kenangan.”
Aku pulang dengan langkah pelan.
Kotak itu kugenggam erat sepanjang jalan.
Terlalu takut menjatuhkannya.
Terlalu takut membukanya.
Rumah terasa berbeda siang itu.
Sunyi seperti biasa, tetapi tak lagi terasa kosong sepenuhnya.
Aku duduk di meja dekat jendela.
Kotak kayu itu di depanku.
Lama sekali aku hanya menatapnya.
Jemari gemetar saat membuka pengait kecil berkarat di depannya.
Klek.
Isinya tidak banyak.
Sebuah gelang tali lusuh.
Foto kecil kami berdua di tepi laut.
Beberapa kulit kerang.
Dan sebuah amplop cokelat terlipat rapi.
Namaku lagi.
Aku menelan ludah.
Lalu membukanya perlahan.
Tulisan tangan Arga memenuhi halaman.
> Kalau kamu baca ini, berarti aku telat pulang. Atau mungkin terlalu lama.
Napas langsung tercekat.
Mataku panas seketika.
> Jangan marah dulu sebelum selesai baca.
Aku tertawa pendek di sela sesak.
Masih sempat-sempatnya.
> Kamu pasti lagi kesel sama laut. Sama aku juga mungkin. Aku kenal kamu terlalu baik buat nggak nebak itu.
Aku menggigit bibir bawah keras-keras.
Sial.
Bahkan setelah pergi, dia masih terasa terlalu mengenalku.
> Tapi dengar, ya. Kalau suatu hari aku nggak balik, jangan ikut hilang.
Kalimat itu membuat semuanya mendadak senyap.
Jam dinding.
Angin.
Suara kendaraan di luar.
Seolah berhenti.
> Jangan berhenti lihat senja. Jangan berhenti ketawa cuma karena aku nggak ada. Dan tolong… jangan benci laut terlalu lama.
Tanganku mulai gemetar hebat.
Air mata jatuh ke kertas.
Memburamkan beberapa kata.
> Aku suka cara kamu diam sambil lihat ombak, suka waktu kamu pura-pura kuat padahal gampang sedih. Dan kalau aku boleh egois, aku pengen kamu tetap hidup lama setelah aku pergi.
Aku menutup mata.
Napas pecah.
Selama ini aku pikir kehilangan terbesar adalah saat laut mengambil Arga.
Ternyata bukan.
Kehilangan terbesar adalah saat aku ikut membuang diriku sendiri setelah itu.
Berhenti hidup.
Berhenti berharap.
Berhenti jadi orang yang dulu dia kenal.
Di bagian paling bawah ada tulisan kecil, terburu-buru.
> Oh iya, satu lagi.
> Kalau someday kamu balik ke pantai pas senja… duduk sebentar buat aku.
Aku menangis lebih keras kali ini.
Bukan karena luka baru terbuka.
Tapi karena tiba-tiba aku sadar—
bahkan dalam kemungkinan terburuknya, Arga masih memikirkan bagaimana aku bertahan.
Sore itu, sebelum sempat berpikir terlalu jauh, kakiku kembali membawaku ke laut.
Langit mulai berubah jingga.
Senja turun perlahan.
Aku duduk di batu karang lama.
Kotak kayu di pangkuan.
Surat di tangan.
Angin asin menerpa wajahku.
Laut tetap sama.
Luas.
Diam.
Tak meminta maaf.
Tak menjelaskan apa pun.
Aku menarik napas panjang.
Lalu menatap cakrawala.
“Aku datang,” bisikku.
Suara itu hampir hilang dibawa angin.
“Aku duduk sebentar.”
Ombak bergerak pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun—
kesunyian tidak terasa seperti hukuman.