Namaku Ningsih, aku bekerja sebagai drafter di sebuah perusahaan besar yang didominasi karyawan pria. Di kantor tempatku bertugas, akulah satu-satunya wanita di antara kerumunan rekan kerja laki-laki. Meski begitu, aku tidak pernah merasa terasing atau kurang dihargai; sebaliknya, mereka semua sangat menghormati, menjaga, dan memperlakukanku seperti saudara sendiri. Bahkan saat harus bekerja shift malam, ada saja yang berbaik hati mengantarku pulang sejauh perjalanan ke rumah, memastikan aku sampai dengan selamat.
Persahabatan di antara kami begitu kokoh dan menyenangkan, meskipun ada sosok supervisor bernama Taufik yang terkenal sangat jahil. Di balik sifat usilnya itu, Taufik adalah pemimpin yang tegas, bijaksana, dan sangat dihormati oleh semua orang di tim kami.
Suatu hari, Taufik mendekatiku dengan wajah serius, membuatku langsung merasa penasaran bercampur sedikit cemas. “Ningsih, ada hal penting yang perlu aku sampaikan. Saat ini perusahaan sedang melakukan efisiensi karyawan. Sebelum membahas lebih lanjut, jawab pertanyaanku ini dengan jujur dari hati ya: kamu lebih suka warna cerah atau gelap?”
Jantungku berdebar, memikirkan kemungkinan akan dipecat atau dipindahkan. “Aku pilih warna cerah,” jawabku pelan.
“Kalau motif, yang berbunga-bunga atau polos?” tanyanya lagi dengan tatapan tajam.
“Berbunga-bunga,” jawabku ragu.
“Baiklah, nanti akan aku kabari hasilnya,” katanya lalu pergi begitu saja, meninggalkanku dalam kebingungan yang panjang.
Namun ternyata, aku telah dibohongi dengan sangat manis. Bersama rekan-rekan kerjaku, Taufik ternyata telah menyiapkan kejutan ulang tahun untukku! Dan tahukah kalian apa hadiah yang mereka berikan? Sebuah daster cantik berwarna cerah dengan motif bunga-bunga yang indah! Aku begitu terkejut hingga tertawa sambil menahan haru. Tak pernah terbayangkan olehku, para pria berusia di atas 24 tahun yang semuanya masih lajang itu rela-rela saja pergi membeli daster hanya untuk kado ulang tahunku.
“Apaan ini? Astaga… aku enggak mau pakai, malu banget!” seruku sambil tersenyum lebar.
“Kamu enggak tahu perjuangan Mas Taufik lho, susah payah dia cari daster yang pas dan bagus cuma demi kamu,” sahut Adi sambil tertawa.
“Iya bener itu, terima aja dong. Pasti kelihatan lucu banget kalau kamu pakai,” teriak Wawan menyemangati.
“Dan ini tambahan kado dari aku,” kata Taufik sambil menyodorkan sebuah kotak beludru kecil. Di dalamnya terhampar sebuah jam tangan dengan tali kulit dan bingkai berwarna emas yang berkilau, terlihat sangat mewah dan indah. “Ini mahal dan asli, jadi kamu harus selalu pakai ya.”
Air mata haru menetes di pipiku. “Terima kasih banyak ya, semuanya… aku benar-benar terharu,” ucapku pelan.
Tim inti kami hanya berjumlah empat orang: aku, Adi, Wawan, dan Taufik. Namun, di ruangan lain dan saat pergantian shift, ada sekitar enam belas orang karyawan pria lainnya yang juga selalu ramah dan akrab denganku. Kenangan indah bersama mereka takkan pernah bisa aku lupakan.
Ada satu kejadian lain yang selalu membuatku tersenyum jika teringat. Saat itu sore hari, bel pulang kerja tiba-tiba bergema di seluruh gedung. Para rekan priaku bergegas membereskan berkas-berkas di meja dengan cepat, lalu tiba-tiba berlari keluar ruangan dan… klik! Pintu terkunci dari luar, meninggalkanku sendirian di dalam.
Aku langsung ketakutan setengah mati. Pasalnya, ada cerita seram yang beredar tentang ruangan sebelah kami yang konon sering terlihat penampakan. Aku mulai gemetar, mataku berkaca-kaca hampir menangis. Dan baru setelah aku berteriak meminta tolong, pintu dibuka kembali. Mereka semua berdiri di sana sambil tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang pucat pasi.
“Kalian tega banget sih! Nyaris aja aku jantungan!” protesku sambil memukul pelan bahu mereka.
Sebagai tanda terima kasih dan perayaan ulang tahun yang telah berlalu, aku mengajak seluruh tim makan bersama di sebuah warung steak. Mereka pun dengan senang hati memesan makanan sebanyak-banyaknya selagi ada kesempatan ditraktir. Tapi lucunya, setelah kami semua kenyang dan puas mengobrol, mereka berkumpul menghitung pesanan masing-masing.
“Wah, ini habisnya banyak banget nih. Gimana kalau kita patungan aja ya?” kata Taufik, pria yang memang berhati lembut dan tak tega melihatku mengeluarkan uang banyak.
“Iya nih, aku makan lumayan banyak tadi,” sahut Wawan ikut setuju.
“Eh, enggak usah dong. Kan tadi udah aku janji mau traktir semuanya? Masa jadi patungan sih? Udah, sini berikan notanya,” kataku sambil menarik kertas pembayaran itu dan melunasinya dengan senang hati. Kami pun duduk lebih lama lagi, asyik bercanda dan bercerita hingga lupa waktu. Begitulah suasana kami—selalu penuh keceriaan dan kehangatan.
Hingga suatu hari, datanglah rekan baru, seorang wanita muda bernama Fitri. Ia sangat cantik, berwajah polos, dan memiliki sifat rendah hati yang membuatnya disukai oleh hampir seluruh karyawan pria di perusahaan kami. Hanya Taufik yang terlihat biasa saja dan tak tertarik padanya; malah ia sering berusaha menjodoh-jodohkan Fitri dengan Adi. Tak hanya itu, Taufik juga sering mencoba memasangkanku dengan Adi, entah untuk keperluan iseng atau apa.
Hingga pada suatu hari, entah dari mana asalnya, Taufik menyebarkan cerita bahwa di tim kami sedang terjadi kisah cinta segitiga antara aku, Adi, dan Fitri. Berita itu pun cepat menyebar hingga dibicarakan oleh semua rekan kerja di shift kami.
“Taufik… kamu nyebar gosip apa lagi sih?” tanyaku sambil mengusap pelan kening yang mulai pening.
“Eh, ini bukan gosip lho, tapi pengamatan nyata. Coba lihat deh, Adi selalu saja sigap membantumu dan duduknya selalu paling dekat dengan meja kerjamu. Di sisi lain, Fitri sering banget curi-curi pandang ke arah Adi, dan dia selalu memilih duduk tepat di depan Adi kan?” bantah Taufik dengan wajah serius.
Bagiku, pemikiran itu sangat konyol. Posisi duduk kami memang begitu karena tata letak ruangan dan meja kerja, itu saja. Tak ada makna lain di baliknya.
Hari-hari kami terus berjalan penuh tawa dan kebersamaan, sampai suatu kejadian mengubah segalanya. Tanpa diduga, dadaku tiba-tiba terasa sangat nyeri dan napasku menjadi sesak berat.
“Fitri, tolong bantu aku ke poliklinik ya…” pintaku lemah. Belum sempat kami melangkah, napasku makin sulit diatur, tangan dan kakiku kesemutan hebat, dan pandanganku mulai kabur. Semua orang di sekitar panik dibuatnya.
Namun Taufik, Adi, dan Wawan tetap berusaha tenang. Mereka bertiga menggendongku yang sudah tak sadarkan diri, menuruni tangga dari lantai dua ke lantai satu menuju poliklinik. Keringat bercucuran di wajah mereka, terlihat jelas bahwa mereka sangat khawatir dan kelelahan. Saat tenaga mereka hampir habis, Taufik berteriak memanggil rekan kerja lain untuk membantu.
“Cepat tolong! Bantu angkat, kami sudah enggak kuat!” teriaknya lantang.
Beberapa orang yang aku tak kenal segera mengambil alih dan membawaku ke poliklinik. Namun kondisiku tak kunjung membaik, hingga akhirnya aku harus dilarikan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasilnya, dokter menyatakan aku mengalami serangan panik. Aku ingat benar, kejadian seperti ini sudah sering kualami sejak masa SMK, namun dulu tak ada nama medis yang jelas untuk itu—dokter hanya menyebutnya sebagai akibat kelelahan berlebihan.
Beberapa hari aku beristirahat di rumah hingga pulih kembali. Saat kembali bekerja, semua orang dengan antusias menceritakan betapa dramatisnya kejadian hari itu.
“Kamu tahu nggak, pas aku teriak minta bantuan, tanganku sampai gemetar dan nyaris saja kamu jatuh ke selokan di depan masjid tadi!” cerita Taufik dengan semangat.
“Makanya kalau gawat jangan ikutan panik, Mas. Kalau tenang, pasti aman dan gak heboh begini,” sahut Adi santai.
“Tapi serius deh, waktu itu kamu terasa berat banget lho, Ningsih. Sebenarnya berat badanmu berapa sih?” tanya Wawan penasaran.
“Cuma 56 kilogram kok, masa dibilang berat? Kan kalian bertiga yang angkat,” jawabku sambil tertawa.
“Mungkin karena kamu sudah tidak sadarkan diri ya, jadi tubuh rasanya jauh lebih berat dari biasanya,” tambah Fitri menenangkan.
Hari itu kami habiskan kembali dengan tawa, membahas kejadian lucu sekaligus menegangkan itu. Namun, siapa sangka, keharmonisan yang indah itu perlahan runtuh hanya karena satu hal: perasaan cinta.
Aku mulai membuka hatiku pada seorang pria bernama Seno. Aku percaya sepenuhnya pada bujuk rayu dan kata-kata manisnya. Saat kami bertemu di kantin perusahaan, ia berkata, “Jangan terlalu capek ya kerjanya, jaga kesehatan dirimu.” Kalimat sederhana itu membuat hatiku terasa hangat dan jantungku berdebar kencang. Aku pikir, inilah awal dari hubungan yang indah.
Namun, entah kenapa saat mengobrol dengannya, aku terlalu percaya diri hingga menceritakan segala hal tentang Fitri, termasuk hal-hal pribadi dan keburukan yang hanya aku ketahui. Padahal, hal itu seharusnya menjadi rahasia. Tak lama kemudian, berita aib Fitri yang kuceritakan itu menyebar ke seluruh penjuru perusahaan. Aku sangat terkejut dan bingung. Hanya ada tiga orang yang tahu hal itu: aku, mantan pacarnya Fitri bernama Ervan, dan Seno.
Karena rasa cintaku yang buta, aku sama sekali tak menyangka bahwa Senolah yang menyebarkan berita itu. Ditambah lagi, Ervan tiba-tiba bermusuhan dengan Adi. Dulu mereka berdua sahabat karib, tapi entah apa penyebabnya, kini mereka saling benci dan sering bertengkar.
Masa-masa sulit belum berakhir. Suatu hari, ibuku mengalami kecelakaan dan patah tulang. Aku sedang menunggunya di rumah sakit, hati dan pikiranku sedang kacau balau, namun tak disangka, penderitaanku bertambah. Seno datang dan memutuskan hubungan kami.
“Maaf, aku rasa aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Aku ingin fokus mengurus orang tua dan adik-adikku yang masih kecil,” katanya dingin.
“Kamu tega sekali… Kamu sudah bertemu keluargaku, aku sudah memperkenalkanmu dengan baik. Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini kepada mereka?” tanyaku dengan suara bergetar, campuran rasa sakit hati dan amarah. Di saat aku mulai percaya dan membuka hati sepenuhnya, ia malah menyakiti sedalam ini.
“Jujur saja, Ningsih… yang sebenarnya aku sukai itu Fitri. Kamu hanya aku jadikan batu loncatan saja, supaya aku bisa lebih dekat dan mengenalnya,” ucapnya tenang.
Aku terpaku, tak sanggup berkata-kata. Rasanya seluruh dunia runtuh di hadapanku. Hubungan yang kujalin dengan serius ternyata hanya sandiwara belaka. Aku hancur lebur, galau, dan hanya bisa menangis berhari-hari lamanya.
Melihat keadaanku yang menyedihkan, dua sahabat lamanku sejak masa SMK, Yusuf dan Wili, mengajakku jalan-jalan. Mereka berdua adalah orang yang paling mengerti sifat dan perasaanku.
“Sudahlah, kalau memang bukan jodoh, mau dipaksa pun tak akan bisa. Lupakan saja pelan-pelan,” kata Wili menenangkan.
“Iya benar. Hidup ini berputar, karma itu pasti ada. Ikhlaskan saja semuanya, biarkan dia mendapatkan apa yang dia tabur,” tambah Yusuf menyemangati.
Bertemu dengan mereka membuat hatiku perlahan kembali tenang dan aku mulai berusaha menata hati yang remuk ini. Namun, keadaan di tempat kerjaku sudah berubah drastis. Adi kini memandangku dengan benci, ia yakin akulah yang telah memfitnah dan menyebarkan aib Fitri. Dan yang lebih menyakitkan, Adi dan Fitri kini terlihat sangat dekat. Wawan pun dipindahkan kembali ke departemen asalnya, sehingga tak lagi satu tim dan satu ruangan denganku. Kini, di tim itu hanya tersisa aku dan Taufik saja.
“Rasanya aku sudah sangat lelah, Ningsih. Aku rasa aku akan mengajukan pengunduran diri,” kata Taufik suatu hari. Awalnya aku pikir ia hanya bercanda seperti biasa, tapi lama-kelamaan aku sadar bahwa suasana hati dan lingkungan kerja kami memang sudah tak lagi sama.
Hingga suatu hari, aku dipanggil oleh manajer kami. “Ningsih, pihak departemen Sipil meminta kamu untuk pindah ke sana. Mereka butuh drafter untuk menggantikan rekan yang akan mengundurkan diri. Bagaimana pendapatmu, kamu setuju atau tidak?” tanyanya.
Aku berpikir sejenak. Suasana di departemenku saat ini sudah tak kondusif lagi, penuh ketegangan dan rasa tidak nyaman. “Baik Pak, saya setuju saja,” jawabku.
“Bagus. Tapi ingat ya, kalau nanti di sana kamu merasa tidak betah, langsung bilang saja ke aku. Kamu boleh kembali ke sini kapan saja,” ujar manajer itu dengan ramah.
Inilah yang paling aku sukai dari bekerja di sini. Meski sering menuntut kerja keras dan lembur, namun atasan dan rekan kerjanya begitu baik dan memanusiakan karyawan.
Setelah keluar dari ruangan manajer, aku kembali ke mejaku dan mengumumkan keputusanku. “Aku mau pindah departemen,” kataku pelan namun tegas.
Semua mata tertuju padaku, terutama Adi yang terlihat terkejut. “Serius kamu pindah? Bukannya dulu kamu menolak saat ditawari pindah ke mana-mana?” tanya Taufik dengan nada tak rela.
“Ada drafter di sana yang mau mengundurkan diri, jadi aku diminta menggantikannya,” jawabku, meski dalam hatiku aku enggan berpisah dari tempat yang penuh kenangan ini.
Semua seolah kembali ke titik awal, namun berbeda rasanya. Kebahagiaan, canda tawa, dan keakraban yang dulu kami miliki kini hilang tak berbekas, menyisakan hanya kenangan indah yang akan selamanya membekas di dalam hatiku.
Berbulan-bulan berlalu sejak kepindahanku, hingga tiba-tiba sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk dari nomor yang tak terduga. Pesan itu datangnya dari Adi.
“Ningsih… aku minta maaf. Dulu aku salah menilaimu dan terlalu percaya pada perkataan Fitri. Sekarang aku tahu segalanya, bahwa dia hanya memanfaatkanku. Waktu aku berani mengungkapkan perasaanku dengan sungguh-sungguh, dia malah menolak dan bilang selama ini dia hanya menganggapku teman biasa. Padahal bagiku, hubungan kami sudah cukup mesra dan serius. Sekali lagi aku minta maaf ya, sudah sempat menyakitimu dan menuduhmu yang bukan-bukan.”
Itulah isi pesannya yang panjang lebar. Aku hanya membalasnya dengan kata-kata yang singkat namun mewakili segalanya.
“Iya, aku sudah tahu kalau kamu sedang dimanfaatkan. Tapi untuk menyadarkanmu akan kebenaran, aku pasrahkan semuanya pada waktu. Biar waktu yang menjawab dan mengajarkanmu segalanya.”
Kini semuanya telah berlalu. Sahabat karib, rekan seperjuangan, serta canda dan tawa di ruang kerja itu… semuanya telah hilang, menyisakan kisah yang takkan pernah aku lupakan.