Hujan turun pelan ketika Aruna menutup novel tua itu. Sampulnya usang, halaman menguning, judulnya hampir tak terbaca. Ia menemukannya di rak paling atas perpustakaan—rak yang jarang disentuh siapa pun.
“Ceritanya aneh,” gumamnya.
Tokohnya selalu merasa hidupnya bukan miliknya sendiri.
Aruna hendak berdiri ketika kalimat terakhir yang ia baca terasa bergetar di kepalanya.
Jika kau membaca sampai titik ini, maka kau sudah terlalu dekat untuk kembali.
Lampu perpustakaan berkedip. Udara terasa berat. Saat ia menutup mata sesaat, bau kertas berubah menjadi aroma tanah basah dan angin dingin.
Ketika Aruna membuka mata—
Ia tidak lagi duduk di kursi perpustakaan.
Ia berdiri di jalan batu, dikelilingi bangunan yang persis seperti deskripsi di novel. Langit abu-abu. Jam menara berdentang pelan. Orang-orang lewat seakan tak menyadarinya.
“Ini… tidak mungkin,” bisiknya.
Seseorang memanggil namanya.
Aruna menoleh dan jantungnya jatuh ke perut. Sosok itu adalah tokoh yang paling ia ingat—yang di novel selalu muncul di halaman-halaman penting, seolah tahu segalanya.
“Kau akhirnya masuk,” kata sosok itu tenang.
“Masuk ke mana?”
“Ke ceritaku. Atau sekarang… ke cerita kita.”
Aruna sadar satu hal yang membuat dadanya sesak:
Ia mengingat seluruh alur novel itu.
Siapa yang akan terluka.
Siapa yang akan menghilang.
Dan bagaimana akhir ceritanya—tragis.
“Aku mau pulang,” katanya.
Sosok itu menatapnya lama. “Novel ini tidak membiarkan siapa pun keluar begitu saja.”
Hari-hari berlalu. Aruna mencoba mengubah hal kecil—peringatan yang ia sampaikan, pilihan yang ia ubah. Namun setiap kali ia menghindari satu kejadian, kejadian lain muncul menggantikannya. Cerita selalu menemukan jalan untuk kembali ke takdirnya.
Sampai suatu malam, ia menemukan halaman kosong di buku itu.
Halaman yang belum tertulis.
“Penulisnya belum memutuskan,” katanya pelan.
Untuk pertama kalinya, dunia itu terasa sunyi—seolah menunggu.
Dengan tangan gemetar, Aruna menulis satu kalimat:
Tokoh yang terjebak akhirnya memilih menulis jalan pulangnya sendiri.
Langit bergetar. Kata-kata menyala, menyebar ke udara. Dunia mulai memudar seperti tinta yang tercuci hujan.
Saat Aruna membuka mata, ia kembali ke perpustakaan. Novel tua itu terbuka di pangkuannya—halamannya kosong.
Di halaman terakhir, hanya ada satu kalimat:
Terima kasih sudah menyelesaikan ceritaku.
Aruna tersenyum tipis.
Sejak hari itu, ia tahu—
cerita bukan hanya tempat untuk melarikan diri,
tapi juga tempat untuk menemukan jalan pulang.