Sang Diva Berbulu Sutra Di sebuah apartemen mewah lantai 25, hiduplah seorang ratu tanpa mahkota bernama Mochi. Ia adalah kucing Persia mix Anggora dengan bulu putih bersih yang berkilau bak salju pilihan. Namun, Mochi bukanlah kucing biasa yang kurus dan lincah. Mochi adalah definisi "endull" dan "montok" yang sesungguhnya. Tubuhnya yang berisi, bokongnya yang membal saat berjalan, dan tatapan matanya yang sayu namun menggoda seringkali membuat kucing jantan di komplek sebelah mendongak patah leher.
Mochi tahu dia cantik. Dia tahu dia seksi. Setiap kali dia menggeliat di bawah sinar matahari pagi, lemak di perutnya bergoyang dengan estetis. Namun, di balik kemewahan hidupnya kasur empuk, air mineral kemasan, dan sisir emas ada satu kekosongan di hatinya.
"Meong... (Bosan dengan salmon kaleng ini)," keluhnya sambil menendang mangkuk perak berisi makanan premium.
Ingatannya melayang pada aroma pedas yang menyengat, dibalut saus keju kuning kental yang lumer. Ya, Mochi adalah pecandu berat *Flying Chicken* dari Richeese. Bukan sembarang ayam, dia hanya menginginkan ayam goreng renyah yang bisa membuatnya merasa melayang. Baginya, tingkat pedas level 5 adalah bumbu kehidupan. Pagi itu, Mochi memutuskan: dia harus pergi ke pusat kota. Dia harus mendapatkan ayam terbang itu secara langsung.
Pelarian Sang Ratu yang Menggoda**
Keluar dari apartemen bukanlah hal sulit bagi kucing secerdik Mochi. Dengan satu gerakan pinggul yang "aduhai," dia berhasil memikat perhatian satpam penjaga pintu melalui lambaian ekornya yang mekar. Saat satpam itu terpana melihat betapa gemoy nya Mochi, dia menyelinap keluar lewat pintu putar.
Dunia luar ternyata tidak seramah karpet bulu di rumahnya. Aspal jalanan panas, dan debu mengancam kebersihan bulu putihnya yang *endull*. Namun, tekad Mochi sudah bulat. Dia berjalan dengan langkah *catwalk* yang anggun, menyebabkan beberapa motor hampir menabrak tiang listrik karena pengendaranya sibuk memperhatikan kucing putih montok yang berjalan bak model internasional di trotoar.
"Meong! (Minggir, rakyat jelata!)" serunya saat seekor anjing Bulldog mencoba mendekat.
Anehnya, Bulldog itu bukannya menggonggong, malah tersipu malu melihat tatapan mata Mochi yang menggoda. Mochi mengedipkan sebelah matanya, membuat si anjing terpaku berdiri, sementara Mochi melanjutkan perjalanan menuju aroma bumbu gorengan yang mulai tercium dari kejauhan.
Pertemuan di Lorong Rahasia**
Di tengah perjalanan, Mochi harus melewati sebuah lorong sempit untuk memotong jalan. Di sana, dia dihadang oleh geng kucing jalanan yang dipimpin oleh "Preman Kuping Sobek", seekor kucing garong hitam yang terlihat sangar.
"Hei, Nona Putih. Kamu tersesat? Ini wilayah kami. Bayar tolnya dengan makananmu!" gertak si Hitam.
Mochi tidak gentar. Dia malah duduk dengan tenang, memamerkan lekuk tubuhnya yang montok, lalu mulai menjilati kakinya dengan gaya yang sangat provokatif. Seluruh anggota geng kucing itu terdiam. Mereka belum pernah melihat kucing rumahan se-percaya diri dan se-menggoda Mochi.
"Aku mencari Richeese Flying Chicken. Bantu aku, atau kalian hanya akan mencium bau keju dari jarak jauh selamanya," tawar Mochi dengan suara serak-serak basah.
Si Hitam berdeham, mencoba menjaga wibawa meski hatinya sudah lumer melihat ke endull an Mochi. "Baiklah, Nona. Karena kamu sangat... menarik, kami akan menunjukkan jalan pintas lewat atap pasar. Tapi janji, sisakan sedikit saus kejunya untuk kami."
Mochi tersenyum penuh kemenangan. Petualangan berlanjut dengan pengawalan ketat para kucing garong yang kini beralih profesi menjadi pengawal pribadi sang diva putih.
Heist di Restoran Richeese**
Akhirnya, mereka sampai di depan outlet Richeese yang bercahaya oranye terang. Aroma ayam terbang itu menusuk hidung Mochi, membuatnya hampir pingsan karena nafsu makan yang memuncak. Namun, antrean manusia sangat panjang. Dia tidak mungkin sekadar masuk dan memesan.
"Gunakan rencana B," bisik Mochi pada tim pengawalnya.
Mochi mulai beraksi. Dia berjalan ke depan pintu kaca, lalu melakukan gerakan "roll depan" yang memperlihatkan perut putihnya yang buncit dan menggemaskan. Pengunjung restoran langsung berkerumun. "Ya ampun, kucing siapa ini? Lucu banget! Montok banget!" teriak mereka sambil mengeluarkan ponsel untuk merekam.
Saat perhatian semua orang teralih pada "pertunjukan seksi" Mochi di teras, si Hitam dan anggota geng lainnya menyelinap ke area *drive-thru*. Dengan kerja sama tim yang apik, mereka berhasil menyambar sebuah kantong berisi satu paket berat *Flying Chicken* yang baru saja diletakkan staf di meja pengambilan.
Mochi melihat kode dari kejauhan. Dengan satu kedipan mata terakhir yang membuat seorang mbak-mbak kasir terpesona, Mochi melompat dan lari menyusul teman-temannya ke taman tersembunyi di belakang gedung.
Pesta Ayam Terbang dan Pulang sebagai Legenda**
Di bawah sinar rembulan, di atas kotak kardus yang dialasi koran, pesta itu dimulai. Mochi membuka kotak Richeese dengan cakarnya yang lentik. Di sana, satu ekor ayam terbang utuh dengan taburan bubuk cabe merah merona dan saus keju yang melimpah telah menanti.
Mochi memakan bagian paha dengan lahap. Rasa gurih, pedas, dan sensasi keju yang kental meledak di mulutnya. Dia makan dengan penuh gairah, sesekali mengeluarkan suara "Nyam... nyam..." yang terdengar seperti melodi indah. Tim kucing jalanan juga mendapatkan bagian sayap dan kulit yang renyah. Mereka semua makan sampai perut mereka sama montoknya dengan perut Mochi.
Setelah kenyang dan merasa sangat "endull," Mochi bersandar pada perut si Hitam yang kini sudah jadi sahabatnya. Bulu putihnya sedikit terkena noda saus keju, tapi dia tidak peduli. Dia merasa hidup kembali.
Keesokan paginya, Mochi kembali ke apartemennya melalui balkon yang sama, dibantu oleh geng kucing jalanan. Pemiliknya menemukannya sedang tertidur pulas di atas karpet bulu, bermimpi tentang lautan saus keju. Sang pemilik hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kucing kesayangannya terlihat semakin berisi dan seksi, tanpa tahu bahwa semalam, kucing putih itu adalah pemimpin sebuah pencurian ayam paling legendaris di kota tersebut.
Mochi terbangun sebentar, menjilat sisa bubuk cabe di kumisnya, lalu bergumam pelan, "Meong... (Besok mau level berapa ya?)"
**TAMAT.**