Bagian 1
__________
Peter duduk di atas batu besar di tengah hutan. Setelah kepergian Wendy, John, dan Michael Darling yang kembali ke tengah keluarga mereka.
Matanya menerawang ke langit malam yang bertaburan bintang-bintang.
Tak ada anak-anak yang jatuh dari awan lagi dan mendarat di depan rumah pohonnya.
Sunyi.
Peter bahkan tak bereaksi saat Tinker Bell memakai bubuk ajaib untuk menjadikan tubuhnya membesar. Dia tak menyadari perubahan itu. Peter hanya diam sambil merindukan teman-temannya dari dunia nyata.
"Peter...," panggil Tinker Bell.
"Ya?" Peter hanya menoleh sekilas.
"Apakah Kau tak melihatku? Lihatlah perubahanku." Tinker Bell memutar-mutarkan tubuhnya di depan Peter.
Peter tak merespon lagi. Tinker Bell merasa kesal dan berlalu meninggalkan Peter sendirian di tengah hutan.
"Peter, kau sudah berubah jadi tidak menyenangkan lagi. Aku tidak mau jadi temanmu lagi. Aku akan mencari teman baru," tekad Tinker Bell dalam gumamannya.
...***...
Peter memandang pintu hitam besar di hadapannya. Tangannya hampir menyentuh ujung gagang pintu berwarna keemasan itu. Diurungkannya.
Dia berbalik ke belakang dan hendak melangkah.
Tapi keinginannya begitu kuat untuk membuka pintu itu.
Krieett...
Perlahan pintu besar itu terbuka.
Terpampang di balik pintu pemandangan sebuah kota di malam hari. Dengan puncak-puncak gedung yang seakan berlomba menyentuh dasar langit.
Lampu-lampu kemerlip menyinari gelapnya kehidupan yang mengusir kantuk.
Peter melangkah melewati kayu tua itu.
Tiba-tiba tubuhnya tertarik ke atas dan ke bawah. Ke samping. Ke depan. Ke belakang. Ke segala penjuru.
Lalu setelah berhenti, Peter berdiri di atas atap sebuah rumah besar. Tubuhnya berubah menjadi seorang lelaki tua. Tangannya yang kecil berubah jadi tangan besar dan keriput.
Distorsi waktu.
Peter terkejut. Dia segera melihat kanan kiri untuk mencari keberadaan pintu besar tadi. Saat akan berlari, langkahnya terhenti sebelum ia sempat melebarkan kaki.
Sebuah suara yang familiar menyapa indera pendengarannya. Suara yang ia rindukan. Suara yang membuatnya merasa kehilangan dan nekat memasuki batas dunianya dan dunia nyata.
Dia menengok ke bawah. Kepalanya melongok dari tepian atap cokelat yang ia pakai menelungkup. Matanya berbinar.
"Wendy!" serunya.
Terlihat Wendy, John, dan Michael yang bersiap akan tidur.
Wendy menuju jendela besar kamarnya. Tangannya terulur meraih gagang jendela untuk menutupnya. Samar ia mendengar seseorang memanggilnya.
"Ya, Mom!" teriaknya.
"Kami akan segera tidur!" Wendy menutup jendela kamarnya.
Peter tidak bisa melihat mereka lagi.
Dia duduk di atas atap rumah Wendy. Memandang langit malam yang bertaburan bintang dan awan. Melihat keriput yang muncul di tangannya.
"Aku tidak mau jadi tua. Aku harus kembali ke Neverland!" gumamnya.
Peter tidak mau berlama-lama di sana. Suhu dingin malam menusuk kulitnya yang tipis tanpa sweater bulu domba. Tulangnya bergemeletuk saat kakinya melangkah pergi. Menjauh dari kota yang masih bergemerlip lampu.
Ceklek!
Peter menutup pintu besar di hadapannya. Kakinya melangkah menjauh dari rumah pohon ping besar di tengah hutan.
Dari jauh terdengar suara Toothless memanggil namanya.
"Peter..."
"Dimana kau?"
"Peter..."
Peter melihat siluet anak kecil berlari ke arahnya.
"Aku disini, Toothless!" teriaknya.
"Ah, kau disana rupanya." Toothless menghampiri Peter. Memegang kedua bahunya.
"Kami mencarimu. Tinker Bell bilang kau masuk ke dalam pintu besar. Apakah kau ingin ke dunia nyata?" tanya Toothless.
"Ya. Aku hanya sebentar ke sana. Aku mencari Wendy dan adik-adiknya."
"Apakah kau sudah menemukan mereka?"
Peter mengangguk. "Tapi aku tidak mau jadi tua."
"Kalau begitu, ayo kita pulang. Mereka semua menunggumu." Toothless menggandeng tangan Peter yang sudah kembali ke bentuk semula. Tangan anak laki-laki berusia 12 tahun. Tanpa keriput.
"Ayo."
...***...