Kontrak Di Ambang Batas
Rasa sakit itu tidak datang dalam bentuk ledakan, melainkan tarikan yang dingin dan lambat.
Narendra merasakan ujung belati yang dingin itu merobek kemeja sutra putihnya, menembus kulit, memisahkan otot-outot dada, dan akhirnya menghujam tepat di jantungnya. Di atasnya, wajah Yudha—sahabat sejak mereka masih sama-sama merangkak di lantai panti asuhan—tampak distorsi oleh kegilaan dan ketakutan. Di belakang Yudha, Elena, wanita yang beberapa jam lalu masih mencium kening Narendra sebagai seorang istri, berdiri tegak tanpa seulas pun air mata. Ia hanya memegang sebuah koper hitam berisi seluruh surat kuasa kepemilikan saham Arwana Group.
"Maafkan aku, Ren," bisik Yudha, suaranya gemetar, namun tangannya tetap menekan gagang belati itu lebih dalam. "Dunia ini terlalu kecil untuk kita berdua. Dan Elena... dia pantas mendapatkan pria yang tahu bagaimana menikmati puncak dunia, bukan pria penyakitan yang hanya tahu cara bekerja."
Narendra ingin berteriak. Ia ingin menanyakan mengapa. Mengapa kerja kerasnya selama sepuluh tahun membangun imperium bisnis, mengapa kesetiaannya sebagai suami, dan mengapa ketulusannya sebagai sahabat harus dibayar dengan logam dingin yang menghentikan aliran darahnya? Namun, tenggorokannya hanya mengeluarkan suara gemercik darah yang menyumbat jalan napas.
Pandangannya mengabur. Aula kantor pribadinya yang megah, dengan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta dari lantai 40, perlahan-lahan meredup menjadi kegelapan total. Detak jantungnya melambat... deg... deg... dan berhenti.
Ia mati. Narendra tahu ia sudah mati karena ia tidak lagi merasakan bobot tubuhnya. Ia melayang di dalam ruang hampa yang tidak memiliki dimensi, tidak memiliki waktu, dan tidak memiliki cahaya.
Namun, kesadarannya menolak untuk padam. Amarahnya begitu pekat, begitu membara, hingga kegelapan di sekelilingnya seolah-olah mulai mendidih.
"Kau menolak untuk pergi?" sebuah suara bergema. Suara itu tidak terdengar oleh telinga, melainkan bergetar langsung di dalam esensi jiwa Narendra. Suara itu tidak memiliki gender, tidak memiliki usia—dingin, berat, dan kuno.
"Aku... belum selesai," jawab kesadaran Narendra. Jika jiwa memiliki suara, maka suaranya saat ini adalah raungan badai. "Mereka mengambil segalanya dariku. Mereka harus membayar."
"Kematian adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia," suara itu menyahut, diiringi oleh tawa rendah yang membuat ruang hampa itu bergetar. "Namun, entitas seperti kami menyukai anomali. Terutama anomali yang dipicu oleh kebencian yang begitu murni. Aku bisa mengembalikanmu. Aku bisa memberikanmu satu kehidupan ekstra, sebuah tubuh yang utuh, dan waktu untuk menyelesaikan urusanmu."
"Apa bayarannya?" Narendra bertanya tanpa ragu. Di titik ini, ia akan menjual jiwanya kepada iblis mana pun demi kesempatan untuk menatap mata Yudha dan Elena sekali lagi saat mereka kehilangan segalanya.
"Tidak ada emas, tidak ada darah. Ketika tugasmu selesai—ketika dendammu telah terbayar lunas dan rasa hausmu terpuaskan—jiwamu tidak akan pergi ke surga ataupun neraka. Kau akan menjadi milikku, mengabdi di dalam kegelapan ini untuk selamanya. Apakah kau menerima, Narendra?"
Sesosok simbol mulai menyala di kegelapan, sebuah lingkaran hitam tak terputus yang memancarkan energi dingin yang pekat.
"Aku terima," ucap Narendra tegas.
Detik berikutnya, kegelapan itu meledak.
1.2 (Kebangkitan Dingin)
Kelopak mata Narendra terbuka menyentak.
Udara dingin yang ekstrem langsung menusuk paru-parunya saat ia menarik napas panjang untuk pertama kalinya setelah berjam-jam. Sentakan itu begitu kuat hingga ia terduduk tegak, membuat kain kafan putih yang menutupi tubuhnya merosot ke pinggang.
Narendra memandang sekeliling. Ruangan itu luas, diterangi oleh lampu neon yang berkedip-kedip redup dan mengeluarkan suara mendengung yang mengganggu. Bau formalin dan besi berkarat menyengat hidung. Di sebelah kiri dan kanannya, terdapat deretan meja logam panjang yang serupa. Di atas beberapa meja itu, terdapat gundukan yang ditutupi kain putih—tubuh-tubuh yang tidak lagi bernyawa.
Ia berada di kamar mayat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Narendra perlahan menurunkan kakinya ke lantai ubin yang dingin. Ia berdiri. Tubuhnya terasa aneh; tidak ada lagi rasa lelah kronis yang biasanya ia rasakan akibat penyakit jantung bawaannya. Ia melangkah menuju sebuah cermin kecil yang tergantung di dekat wastafel tempat mencuci instrumen otopsi.
Di dalam cermin, wajahnya masih sama. Wajah pria berusia 32 tahun dengan rahang tegas dan rambut hitam pekat. Namun, ada yang berubah. Matanya, yang dulunya memancarkan kehangatan dan kecerdasan seorang pengusaha muda, kini tampak seperti telaga hitam yang dalam tanpa dasar. Kulitnya pucat, hampir seperti pualam.
Narendra mengangkat tangan kirinya. Di pergelangan tangannya, melingkar sebuah tato hitam berbentuk lingkaran sempurna yang tidak terputus. Tato itu tampak seperti meresap di bawah kulitnya, berdenyut pelan seirama dengan detak jantung barunya yang aneh—lambat, berat, namun penuh kekuatan.
Kontrak itu nyata, batin Narendra. Ia meraba dada kirinya. Kulitnya mulus. Tidak ada bekas robekan belati milik Yudha. Luka itu telah disembuhkan sepenuhnya oleh kekuatan yang membawanya kembali.
Tiba-tiba, pintu kamar mayat berdecit terbuka. Seorang penjaga malam paruh baya masuk sambil membawa papan klip dan secangkir kopi hangat. Ketika matanya menangkap sosok Narendra yang berdiri telanjang dada di tengah ruangan dengan kain kafan yang menjuntai, cangkir kopi di tangannya jatuh dan pecah berkeping-keping.
"H-hantu..." pria itu berbisik, wajahnya memucat seputih kertas. Kakinya gemetar hebat, tidak mampu bergerak.
Narendra menatap pria itu dengan tenang. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas lantai ubin. Ketika ia berdiri hanya beberapa sentimeter di depan sang penjaga, Narendra bisa mencium bau ketakutan yang pekat.
"Aku bukan hantu, Pak," suara Narendra terdengar rendah, bergetar dengan resonansi yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku hanya... salah diagnosis."
Sebelum pria itu sempat berteriak, Narendra mengetuk dahi sang penjaga dengan ujung telunjuknya. Sebuah cipratan energi dingin dari tato di pergelangan tangannya mengalir masuk ke kepala pria itu. Sang penjaga langsung terkulai lemas, jatuh pingsan ke dalam pelukan Narendra. Narendra membaringkannya dengan lembut di lantai, memastikan pria itu tidak terluka.
Narendra kemudian berjalan menuju lemari penyimpanan pakaian jenazah atau barang-barang yang belum diklaim. Ia menemukan sebuah celana jeans hitam, kaos oblong hitam, dan sebuah jaket kulit tua yang muat di tubuhnya. Setelah berpakaian, ia melangkah keluar melalui pintu belakang kamar mayat, menyusup ke dalam kegelapan malam Jakarta yang diguyur hujan gerimis.
1.2 (Membangun pondasi)
Narendra tahu bahwa kembali sebagai "Narendra Arwana" yang sudah mati adalah tindakan bodoh. Yudha dan Elena memiliki koneksi yang luas di kepolisian dan kalangan elit. Jika mereka tahu Narendra masih hidup, mereka akan menggunakan segala cara untuk menyelesaikannya secara hukum atau menyewa pembunuh profesional yang lebih berpengalaman untuk memastikannya mati untuk kedua kalinya.
Untuk menghancurkan sebuah imperium, seseorang harus menjadi hantu yang bergerak di dalam sistem.
Narendra berjalan menyusuri jalanan kecil di kawasan Manggarai hingga ia sampai di sebuah ruko tua berlantai tiga yang tampak terbengkalai. Di lantai atas ruko itu, terdapat sebuah plang usang bertuliskan “Gideon Cyber & Security”. Ini adalah tempat kerja Rian, seorang peretas jenius yang dulu pernah diselamatkan Narendra dari jeratan kasus hukum internasional ketika Rian secara tidak sengaja membobol data bank swasta nasional. Sejak saat itu, Rian berutang budi dan kesetiaan mutlak kepada Narendra.
Narendra menaiki tangga samping yang berkarat dan mengetuk pintu besi di lantai tiga dengan kode khusus: tiga ketukan cepat, dua ketukan lambat.
Pintu terbuka sedikit, tertahan oleh rantai pengaman. Wajah seorang pemuda dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya mengintip dari celah. Ketika melihat siapa yang berdiri di depannya, mata Rian membelalak. Ia melepaskan rantai dengan terburu-buru hingga menimbulkan suara gaduh.
"Bos?! Ini... ini tidak mungkin! Berita di televisi... mereka bilang Anda meninggal karena serangan jantung dua hari lalu! Pemakaman Anda... pemakaman Anda dijadwalkan besok pagi!" Rian tergagap, mundurnya beberapa langkah seolah melihat monster.
Narendra melangkah masuk dan menutup pintu dengan rapat. Ruangan itu dipenuhi oleh belasan monitor komputer yang menyala, menampilkan barisan kode dan grafik pergerakan saham. Bau mi instan dan rokok menyengat ruangan.
"Aku memang mati, Rian," kata Narendra sambil membuka jaket kulitnya. "Tapi aku kembali."
Rian menatap Narendra dari atas ke bawah. Ia melihat ketenangan yang tidak biasa pada diri mantan bosnya itu. Sebagai seorang pria yang hidup di dunia logika dan angka, apa yang dilihatnya saat ini menentang segala hukum alam. Namun, deduksi logisnya kalah oleh aura kehadiran Narendra yang begitu nyata dan menekan.
"Apa yang terjadi, Bos?" tanya Rian, suaranya mulai stabil meskipun masih ada getaran ketakutan.
"Yudha dan Elena. Mereka membunuhku," jawab Narendra singkat, namun kata-katanya mengandung racun yang begitu pekat. "Mereka merekayasa kematianku sebagai serangan jantung untuk menguasai Arwana Group."
Rian mengepalkan tangannya. "Bajingan itu... Aku tahu ada yang tidak beres! Setelah Anda dinyatakan meninggal, Yudha langsung mengadakan rapat pemegang saham darurat dan menunjuk dirinya sendiri sebagai CEO sementara, didukung oleh Elena yang memegang hak suara Anda."
Narendra duduk di salah satu kursi kerja ergonomis milik Rian. "Itu sebabnya aku di sini. Narendra yang lama sudah mati, Rian. Besok, mereka akan menguburkan peti mati yang kosong atau berisi entah apa di pemakaman San Diego Hills. Mulai hari ini, aku butuh identitas baru. Identitas yang tidak bisa dilacak oleh siapa pun."
Rian mengangguk cepat. Jari-jemarinya yang lincah langsung menari di atas papan ketik mekanisnya, menghasilkan suara ketukan yang ritmis. "Beri aku waktu tiga jam, Bos. Aku akan meretas basis data kependudukan sipil. Aku akan membuatkanmu profil sebagai seorang investor asing asal Singapura bernama Devan Danuarta. Surat-surat, paspor, mutasi rekening, semuanya akan terlihat legal dan terverifikasi di sistem pemerintah."
"Bagus," kata Narendra, matanya menatap salah satu monitor yang menampilkan foto Yudha dan Elena di sebuah artikel berita daring dengan judul “Duka Mendalam Industri Bisnis atas Kepergian Narendra Arwana”.
"Dan satu hal lagi, Rian," tambah Narendra, senyum tipis yang dingin terukir di wajahnya. "Aku butuh modal. Di dalam brankas rahasia di apartemen pribadiku yang belum diketahui Elena, ada sebuah dompet perangkat keras (hardware wallet) berisi Bitcoin yang kubeli tahun 2013. Ambil kuncinya dari memori eksternal yang kutanam di server cadangan kita. Cairkan setengahnya melalui pasar gelap internasional. Kita butuh uang tunai yang tidak bisa dilacak untuk memulai perang ini."
Rian tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang menunjukkan bahwa jiwa petarungnya telah bangkit. "Siap, Bos. Berapa banyak yang kita bicarakan?"
"Sekitar 150 juta dolar," jawab Narendra datar.
Rian menelan ludah, lalu mempercepat ketukan jarinya pada papan ketik. Perang melawan para pengkhianat baru saja dideklarasikan secara resmi di dalam ruko kecil yang remang-remang itu.
2.1 (Pemakaman Sang Hantu)
Keesokan harinya, hujan deras mengguyur langit Karawang. Di kompleks pemakaman mewah San Diego Hills, puluhan mobil hitam mengilat berderet rapi. Para pelayat yang terdiri dari jajaran direksi, pejabat pemerintahan, dan selebritas papan atas berkumpul di bawah tenda besar berwarna putih untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Narendra Arwana.
Yudha berdiri di barisan paling depan dengan setelan jas hitam buatan desainer Italia. Wajahnya tampak kuyu, matanya merah, sesekali ia menyeka air mata dengan saputangan sutranya. Di sampingnya, Elena tampil anggun dengan gaun hitam panjang dan kerudung transparan yang menutupi wajahnya yang dipulas riasan tipis. Ia bersandar lemah pada lengan Yudha, tampak seperti seorang janda yang hancur karena kehilangan suami tercinta.
"Narendra adalah saudara bagiku," ucap Yudha dengan suara bergetar saat memberikan pidato pelepasan di depan peti mati yang tertutup rapat. "Kehilangannya adalah lubang besar di hatiku yang tidak akan pernah bisa tergantikan. Namun, demi dirinya, demi mimpi-mimpi yang belum sempat ia wujudkan, aku berjanji akan membawa Arwana Group ke puncak tertinggi."
Beberapa meter dari kerumunan itu, berdiri di bawah payung hitam besar di antara deretan pohon kamboja, sesosok pria jangkung dengan kacamata hitam menyaksikan seluruh prosesi itu. Itu adalah Narendra, yang kini telah resmi menggunakan nama Devan Danuarta.
Melalui lensa kacamatanya, Narendra bisa melihat kepalsuan di setiap gerak-gerik mereka. Ia melihat bagaimana tangan Yudha meraba pinggang Elena dengan cara yang terlalu akrab untuk seorang "sahabat yang menenangkan istri mendiang saudaranya". Ia juga melihat bagaimana Elena tersenyum tipis di balik kerudung hitamnya ketika peti mati itu perlahan-lahan diturunkan ke dalam lubang tanah yang basah.
Nikmatilah hari kemenangan kalian, Yudha, Elena, batin Narendra. Karena setiap jengkal tanah yang menutupi peti itu adalah hitungan mundur bagi kehancuran kalian.
Narendra berbalik dan berjalan pergi sebelum prosesi pemakaman selesai. Langkah kakinya mantap, meninggalkan masa lalunya yang terkubur di dalam tanah, siap untuk melangkah sebagai malaikat maut bagi mereka yang telah mengkhianatinya.
2.2 (Retakan Pertama)
Strategi Narendra tidak didasarkan pada kekerasan fisik yang terburu-buru. Ia tahu bahwa menghancurkan Yudha dan Elena secara fisik terlalu cepat hanya akan memberi mereka akhir yang instan. Mereka harus merasakan apa yang ia rasakan: kehilangan reputasi, kekayaan, kepercayaan, dan akhirnya, kewarasan mereka sendiri.
Langkah pertama adalah menciptakan keretakan di dalam fondasi bisnis Arwana Group.
Arwana Group saat ini sedang berada di tahap akhir untuk memenangkan proyek pembangunan infrastruktur pelabuhan pintar (Smart Port) senilai Rp 12 triliun di Kalimantan Timur. Ini adalah proyek prestisius yang dirancang oleh Narendra sebelum ia dibunuh. Yudha mengandalkan proyek ini untuk mengamankan posisinya sebagai CEO definitif dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) dua minggu ke depan.
Di kantor barunya yang terletak di lantai teratas sebuah gedung perkantoran elit di kawasan Mega Kuningan—yang dibeli atas nama Devan Danuarta melalui perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman—Narendra duduk menghadapi Rian.
"Yudha sedang mendekati Menteri Perhubungan untuk memastikan tanda tangan kontrak proyek Smart Port itu minggu ini," Rian melaporkan sambil menampilkan struktur data pada layar proyektor. "Dia menggunakan perantara bernama Hendra, seorang makelar politik kelas kakap."
Narendra menyesap kopi hitamnya yang pahit. "Hendra adalah orang yang serakah. Dia hanya setia pada uang. Apa yang digunakan Yudha untuk menyuapnya?"
"Saham kosong di anak perusahaan Arwana Group dan uang tunai sebesar 5 juta dolar yang disalurkan melalui rekening di Swiss," jawab Rian.
Narendra tersenyum dingin. "Ubah alirannya, Rian. Aku ingin kau memasukkan data anonim ke dalam sistem Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengenai transaksi tersebut. Namun, jangan libatkan nama Yudha secara langsung dulu. Buat seolah-olah Hendra yang melakukan korupsi secara sepihak dengan menggunakan dana dari investor asing."
Rian mengerutkan kening. "Kenapa tidak langsung menjatuhkan Yudha, Bos?"
"Jika Yudha jatuh sekarang, proyek itu akan dibatalkan, dan Arwana Group akan hancur sebelum aku sempat mengambil alihnya kembali," jelas Narendra. "Aku ingin proyek itu tetap berjalan, tetapi aku ingin Yudha berada dalam posisi yang sangat tertekan. Aku ingin dia merasa bahwa ada musuh dalam selimut yang mengetahui setiap gerakannya. Rasa takut adalah racun yang paling lambat dan paling menyiksa."
Rian mengangguk paham. "Lalu, apa peran Devan Danuarta di sini?"
"Devan Danuarta akan muncul sebagai 'pahlawan kesiangan'," kata Narendra. "Ketika Hendra ditangkap oleh KPK besok pagi, Yudha akan panik karena jalur suapnya terputus dan proyek tersebut terancam mandek. Di saat itulah, Devan Danuarta akan datang menawarkan suntikan dana segar sebesar 200 juta dolar untuk menyelamatkan likuiditas proyek, dengan imbalan 25% saham Arwana Group yang saat ini dipegang oleh para pemegang saham minoritas yang ketakutan."
Strategi itu berjalan tanpa hambatan. Keesokan harinya, berita mengenai penangkapan Hendra oleh KPK akibat kasus suap proyek pelabuhan mengguncang bursa efek. Saham Arwana Group (ARWN) anjlok sebesar 14% dalam waktu beberapa jam saja setelah pembukaan pasar.
Di ruang kerjanya yang megah, Yudha mengamuk. Ia melemparkan vas bunga kristal ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
"Bagaimana bisa KPK tahu tentang Hendra?!" teriak Yudha pada bawahannya yang berdiri gemetar. "Siapa yang membocorkan data ini?! Hanya aku, Elena, dan Hendra yang tahu tentang transaksi itu!"
Elena, yang duduk di sofa kulit sambil mengisap rokok tipisnya, tampak lebih tenang namun matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. "Tenang, Yudha. Teriak-teriak tidak akan menyelesaikan masalah. Yang perlu kita pikirkan sekarang adalah bagaimana menahan penurunan saham ini sebelum para direksi mendepakmu dari kursi CEO."
Tiba-tiba, sekretaris Yudha masuk dengan wajah pucat. "Pak... ada seorang perwakilan dari Danuarta Capital di luar. Nama pemiliknya adalah Devan Danuarta. Dia ingin bertemu dengan Anda sekarang. Dia bilang... dia punya solusi untuk masalah pelabuhan ini."
Yudha dan Elena saling berpandangan. Di tengah badai yang menghantam mereka, nama itu terdengar seperti secercah harapan—atau mungkin, awal dari sebuah jebakan yang tidak mereka sadari.
3.1 (Sang Investor Misterius)
Narendra melangkah masuk ke dalam ruang rapat utama Arwana Group. Ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang dijahit khusus di London, kacamata berbingkai tipis, dan rambut yang ditata klimis ke belakang. Penampilannya sangat berbeda dengan Narendra yang dulu selalu tampak kasual dan sederhana. Perubahan fisik, gaya bicara, dan pembawaannya sebagai Devan Danuarta begitu sempurna hingga tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang mengenali bahwa pria di depan mereka adalah mantan bos mereka yang baru saja dikuburkan.
Yudha menyambutnya dengan senyuman yang dipaksakan, mengulurkan tangannya. "Selamat siang, Tuan Danuarta. Terima kasih sudah bersedia datang di waktu yang krusial ini."
Narendra menatap tangan Yudha yang terulur. Tangan yang sama yang memegang belati yang merenggut nyawanya. Untuk sesaat, tato di pergelangan tangannya di balik manset kemeja berdenyut panas, mengirimkan gelombang energi dingin yang membuat lampu di dalam ruang rapat berkedip sekali.
Narendra menjabat tangan Yudha. Jabatannya kuat, dingin, dan tegas. "Selamat siang, Tuan Yudha. Panggil saja Devan."
Yudha sedikit terkejut dengan dinginnya tangan Narendra, namun ia segera mengabaikannya dan mempersilakan Narendra duduk. Di sebelah Yudha, Elena memperhatikan Narendra dengan tatapan menyelidik. Sebagai seorang wanita yang peka, ia merasakan sesuatu yang familiar dari aura pria asing ini, namun ia tidak bisa menetapkan apa itu.
"Saya langsung saja pada intinya," kata Narendra, membuka tabletnya dan menampilkan proposal investasi. "Saya tahu Arwana Group sedang mengalami krisis likuiditas akibat penangkapan Hendra. Proyek Smart Port terancam ditunda oleh kementerian jika kalian tidak bisa membuktikan bahwa kalian memiliki dana cadangan yang cukup untuk melanjutkan fase pertama tanpa bantuan kredit bank yang saat ini sedang dibekukan."
"Itu benar," Yudha mengakui dengan enggan. "Kami butuh sekitar 150 hingga 200 juta dolar dalam waktu seminggu ini untuk menunjukkan komitmen kami pada kementerian."
"Danuarta Capital siap menyuntikkan 200 juta dolar tunai besok pagi," ucap Narendra tenang.
Mata Yudha berbinar. "Benarkah? Apa syaratnya?"
"Sederhana. Saya ingin 25% kepemilikan saham di Arwana Group. Saya sudah membeli 10% dari pasar reguler hari ini saat saham kalian anjlok. Sisanya, 15%, saya ingin kalian menerbitkan saham baru (private placement) khusus untuk perusahaan saya," jelas Narendra.
Yudha terdiam. Mengeluarkan 15% saham baru berarti akan mendilusi kepemilikan saham miliknya dan Elena. Saat ini, kombinasi saham Yudha dan Elena adalah 51% (30% milik Elena warisan dari Narendra, dan 21% milik Yudha). Jika saham baru diterbitkan, kepemilikan mereka akan turun menjadi sekitar 43%. Mereka masih menjadi pemegang saham terbesar, tetapi mereka tidak lagi memiliki kontrol absolut tanpa dukungan pemegang saham minoritas.
"Itu... penawaran yang cukup berat, Tuan Devan," Elena menyela, suaranya terdengar manis namun tajam. "Apakah tidak ada opsi lain? Misalnya dalam bentuk pinjaman dengan bunga tinggi?"
Narendra menatap Elena langsung ke matanya. Tatapan itu begitu tajam hingga Elena merasa seolah-olah seluruh rahasia terdalamnya sedang dikuliti. Elena sedikit memundurkan tubuhnya, merasa tidak nyaman.
"Nyonya Elena, jika saya hanya menginginkan bunga, saya akan menaruh uang saya di obligasi pemerintah Amerika," jawab Narendra dengan nada meremehkan yang halus. "Saya tertarik pada potensi Arwana Group. Dan jujur saja, tanpa uang saya, dalam waktu 48 jam ke depan kementerian akan mencabut lisensi proyek kalian. Ketika itu terjadi, saham kalian tidak akan bernilai lebih dari selembar kertas tisu di toilet."
Kata-kata Narendra seperti hantaman gada bagi Yudha. Yudha tahu pria asing ini benar. Ia tidak punya pilihan lain. Reputasinya taruhannya.
"Baiklah," kata Yudha, mengabaikan tatapan tidak setuju dari Elena. "Kami menerima penawaran Anda. Saya akan meminta tim hukum kami untuk menyiapkan dokumennya sore ini."
"Sore ini terlalu lambat, Tuan Yudha," Narendra berdiri dari kursinya. "Tim hukum saya sudah menyiapkannya. Kalian hanya perlu menandatanganinya sekarang jika ingin uang itu masuk sebelum bursa saham dibuka besok pagi."
Narendra meletakkan selembar dokumen di atas meja. Yudha, yang sudah terdesak oleh kepanikan, langsung mengambil pulpennya dan menandatangani dokumen tersebut tanpa membaca klausul-klausul kecil di bagian belakang secara detail—sebuah kesalahan fatal yang biasa dilakukan oleh orang yang sedang terburu-buru. Elena ingin mencegahnya, namun melihat keputusasaan di wajah Yudha, ia akhirnya menahan diri dan ikut menandatangani sebagai komisaris utama.
Narendra mengambil kembali dokumen itu. Di bawah tanda tangan Yudha dan Elena, tertera tanda tangan Devan Danuarta. Namun bagi Narendra, dokumen itu adalah surat penyerahan diri mereka ke dalam neraka yang diciptakannya.
"Kerja sama yang bagus, Tuan-tuan dan Nyonya," kata Narendra sambil tersenyum tipis. "Mulai besok, kita adalah mitra kerja. Dan saya bisa pastikan... hidup kalian akan menjadi jauh lebih menarik dari sekarang."
3.2(Teror Psikologis)
Setelah mengamankan posisi di dalam perusahaan, Narendra mulai melancarkan serangan psikologis tingkat lanjut. Ia ingin merusak mental Yudha dan Elena dari dalam, membuat mereka mempertanyakan kewarasan mereka sendiri sebelum akhirnya menghancurkan mereka secara finansial.
Malam itu, Yudha kembali ke rumah mewahnya di kawasan Pondok Indah larut malam. Rumah itu sepi; Elena sedang pergi ke acara sosialitas di sebuah hotel bintang lima. Yudha berjalan ke kamarnya, melepas jasnya, dan menuangkan segelas wiski.
Ketika ia duduk di tempat tidurnya, ia merasakan sesuatu yang aneh di bawah bantalnya. Ia mengangkat bantal tersebut dan seketika menjatuhkan gelas wiskinya hingga pecah di atas karpet beludru.
Di bawah bantalnya, terdapat sebuah jam tangan Rolex Submariner emas yang sudah retak kacanya dan bernoda sesuatu yang tampak seperti darah kering yang sudah menghitam.
Itu adalah jam tangan yang dipakai Narendra di malam kematiannya. Jam tangan yang secara pribadi dilemparkan oleh Yudha ke dalam sungai mengalir untuk menghilangkan barang bukti setelah mereka membunuh Narendra.
"Bagaimana bisa..." Yudha berbisik, tubuhnya gemetar hebat. Ia mundur hingga punggungnya membentur dinding. "Ini tidak mungkin! Aku sudah membuangnya! Aku sendiri yang membuangnya ke sungai!"
Yudha berteriak memanggil para pengawalnya. "Siapa yang masuk ke kamarku?! Siapa?!"
Tiga orang pengawal berbadan besar masuk dengan tergesa-gesa. "Tidak ada siapa-siapa, Pak. Sistem keamanan rumah aktif dan tidak ada tanda-tanda pembobolan dari luar. Semua CCTV berfungsi normal."
"Periksa CCTV kamar! Sekarang!" perintah Yudha dengan mata melotot panik.
Ketika mereka memeriksa rekaman CCTV kamar utama untuk rentang waktu jam dua hingga jam tiga malam sebelumnya—waktu yang sama dengan jam kematian Narendra—layar monitor tiba-tiba mengalami glitch parah. Gambar bergetar, menampilkan garis-garis statis hitam-putih. Namun, di antara gangguan visual itu, terlihat siluet seorang pria jangkung berdiri tepat di samping tempat tidur Yudha, menatapnya yang sedang tertidur. Wajah siluet itu tidak jelas, namun postur tubuh dan cara berdirinya persis seperti Narendra Arwana.
Dan yang lebih mengerikan, di bagian bawah layar CCTV, muncul barisan teks berwujud kode biner yang terus berkedip. Ketika Rian (yang sebenarnya mengontrol sistem dari rukonya) menerjemahkan teks tersebut secara otomatis di layar monitor rumah Yudha, teks itu berubah menjadi satu kalimat:
“AKU MELIHATMU DARI BAWAH, YUDHA. SEBENTAR LAGI KAU YANG AKAN TURUN KE SINI.”
Yudha jatuh terduduk di lantai ruang kontrol CCTV, napasnya memburu. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Paranoianya telah dimulai, dan benih ketakutan yang ditanam oleh Narendra mulai tumbuh subur di dalam benaknya.
4.1 (Kecurigaan yang Meracuni)
Keesokan harinya di kantor Arwana Group, atmosfer terasa sangat tegang. Yudha datang dengan lingkaran hitam di bawah matanya yang bengkak, penampilannya berantakan meskipun ia mencoba menutupinya dengan pakaian mahal. Ia tidak lagi fokus pada pekerjaan; perhatiannya sepenuhnya teralih pada jam tangan berdarah yang kini ia kunci di dalam laci besi pribadinya.
Narendra, dalam perannya sebagai Devan Danuarta, masuk ke ruang kerja Yudha tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Tuan Yudha, Anda tampak kurang sehat," kata Narendra dengan nada suara yang terdengar cemas namun diisi oleh kepuasan batin yang mendalam. "Apakah ada masalah? Saham kita baru saja pulih setelah investasi saya masuk, Anda seharusnya merayakannya."
Yudha menatap Narendra dengan tatapan curiga yang liar. "Tuan Devan... apakah Anda percaya pada hantu? Atau... apakah Anda percaya bahwa orang yang sudah mati bisa mengirim barang dari kubur?"
Narendra menaikkan sebelah alisnya, lalu duduk di kursi di depan meja Yudha. "Saya adalah seorang pria bisnis yang rasional, Tuan Yudha. Saya hanya percaya pada angka dan fakta. Jika ada sesuatu yang muncul dari masa lalu, itu berarti ada seseorang yang masih hidup yang sengaja mengirimkannya untuk bermain-main dengan Anda."
Narendra mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya menjadi bisikan yang manipulatif. "Jika saya jadi Anda, saya tidak akan mencari hantu. Saya akan mencari orang-orang terdekat saya. Siapa yang tahu rahasia terdalam Anda? Siapa yang paling diuntungkan jika Anda kehilangan kewarasan dan kendali atas perusahaan ini?"
Kata-kata Narendra seperti anak panah yang tepat sasaran, menancap langsung di pusat kecurigaan Yudha.
Elena, batin Yudha.
Hanya Elena yang tahu tentang pembunuhan Narendra. Hanya Elena yang tahu persis jam tangan apa yang dipakai Narendra malam itu. Dan Elena belakangan ini mulai mendominasi diskusi keuangan perusahaan, seolah-olah ia siap mengambil alih jika Yudha tumbang. Apakah Elena sengaja menerornya untuk menyingkirkannya dan menguasai seluruh harta warisan Narendra sendirian?
"Terima kasih atas sarannya, Tuan Devan," ucap Yudha, suaranya terdengar dingin dan penuh kebencian yang baru. "Anda benar. Musuh yang sebenarnya biasanya tidur di ranjang yang sama dengan kita."
Narendra berdiri dan merapikan jasnya. "Sama-sama, Tuan Yudha. Saya hanya ingin memastikan investasi saya aman. Saya tidak suka bekerja sama dengan orang yang paranoid karena masalah domestik."
Setelah Narendra keluar, Yudha langsung menelepon seorang detektif swasta kepercayaannya. "Ikuti Elena. Rekam setiap kegiatannya, dengan siapa dia bertemu, dan ke mana dia pergi. Jangan sampai dia tahu."
Di luar ruangan, Narendra berjalan menyusuri koridor sambil tersenyum. Jaring laba-labanya telah menjerat mereka berdua. Aliansi maut yang dulu membunuhnya kini mulai saling mengarahkan pisau ke punggung masing-masing.
4.2 (Umpan untuk Elena)
Sementara Yudha mulai tenggelam dalam paranoianya terhadap Elena, Narendra mulai mendekati Elena dari arah yang berbeda. Ia tahu Elena adalah wanita yang ambisius, gila harta, dan mudah tergoda oleh pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan yang lebih besar dari Yudha.
Narendra mengundang Elena untuk makan malam privat di sebuah restoran Prancis mewah di lantai teratas Hotel Langham Jakarta. Restoran itu telah dipesan seluruhnya oleh Narendra atas nama Devan Danuarta, menciptakan suasana eksklusif yang sangat disukai oleh wanita kelas atas seperti Elena.
Elena datang mengenakan gaun merah menyala yang menonjolkan lekuk tubuhnya, wewangian mahal menguar dari tubuhnya. Ketika ia duduk di meja yang menghadap pemandangan malam kota, ia menatap Narendra dengan senyuman menggoda.
"Tuan Devan, sebuah kehormatan besar diundang makan malam privat seperti ini," kata Elena, menyilangkan kakinya. "Yudha sedang sangat sibuk belakangan ini, dia menjadi sangat membosankan dan... aneh."
"Pria yang tidak bisa menjaga ketenangannya di bawah tekanan tidak layak memimpin perusahaan besar, Nyonya Elena," jawab Narendra sambil menuangkan anggur merah tahun 1945 ke dalam gelas Elena. "Saya melihat potensi yang jauh lebih besar pada diri Anda dibandingkan Yudha. Anda adalah pemilik saham terbesar yang sebenarnya, namun mengapa Anda membiarkan Yudha yang mengambil semua panggung?"
Pujian itu langsung masuk ke dalam ego Elena yang haus akan pengakuan. "Anda benar, Devan. Yudha terlalu emosional. Dia mulai berhalusinasi tentang masa lalu. Dia menuduh saya melakukan hal-hal yang tidak masuk akal."
"Masa lalu harus tetap berada di masa lalu," ucap Narendra, menatap Elena dengan pandangan yang dalam, seolah-olah penuh dengan kekaguman. "Jika saya adalah pendamping Anda, saya akan memastikan Anda berdiri di puncak tertinggi, bukan bersembunyi di balik bayang-bayang pria paranoid seperti Yudha."
Narendra kemudian mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku jasnya dan menggesernya ke arah Elena. "Sebuah tanda apresiasi kecil untuk kecantikan dan kecerdasan Anda."
Elena membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian langka berbentuk air mata berwarna biru tua—The Blue Hope. Kalung itu bernilai jutaan dolar, namun yang membuat Elena menahan napas adalah kenyataan bahwa kalung itu sangat mirip dengan desain perhiasan yang pernah ia minta kepada Narendra beberapa minggu sebelum Narendra meninggal, yang saat itu ditolak oleh Narendra karena menganggapnya terlalu berlebihan untuk pameran kekayaan.
"Ini... ini indah sekali, Devan," Elena berbisik, matanya berkilau oleh keserakahan. "Bagaimana Anda tahu saya menyukai desain seperti ini?"
"Saya tahu banyak hal tentang Anda, Elena," jawab Narendra dengan nada misterius yang terdengar romantis di telinga Elena yang sudah terbuai. "Saya tahu apa yang Anda inginkan, dan saya tahu bagaimana cara memberikannya pada Anda. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh Yudha."
Malam itu berakhir dengan Elena yang sepenuhnya berada di bawah pengaruh pesona Devan Danuarta. Ketika mereka berpisah di lobi hotel, Elena memberikan kecupan intim di pipi Narendra—sebuah kecupan yang dibalas Narendra dengan senyuman yang menyembunyikan rasa jijik yang luar biasa.
Namun, di seberang jalan, di dalam sebuah mobil minibus hitam dengan kaca gelap, seorang detektif swasta suruhan Yudha terus mengambil foto kebersamaan mereka menggunakan kamera lensa tele. Setiap jepretan kamera itu adalah paku tambahan untuk peti mati hubungan Yudha dan Elena.
5.1 (Perangkap Likuiditas)
Dua minggu telah berlalu sejak Narendra menyuntikkan dana ke Arwana Group. Hari RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) akhirnya tiba. Agenda utamanya adalah pengukuhan Yudha sebagai CEO definitif dan persetujuan pengeluaran saham baru untuk Danuarta Capital.
Di dalam ruang rapat yang dihadiri oleh belasan pemegang saham institusi dan perwakilan direksi, atmosfer terasa dingin. Yudha duduk di ujung meja dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia baru saja menerima laporan dari detektif swastanya pagi ini—sebuah amplop berisi foto-foto kemesraan Elena dan Devan Danuarta di Hotel Langham.
Yudha menatap Elena yang duduk di seberangnya dengan tatapan yang penuh dengan kebencian murni. Elena membalas tatapan itu dengan senyum dingin menantang. Di samping Elena, Narendra duduk dengan tenang, sesekali memeriksa jam tangannya, bertindak seolah-olah ia tidak tahu apa-apa tentang ketegangan domestik di antara kedua pasangan itu.
"Baiklah, kita mulai rapatnya," ucap Yudha, suaranya terdengar serak. "Agenda pertama adalah persetujuan penerbitan saham baru sebesar 15% untuk Danuarta Capital sebagai kompensasi atas dana talangan proyek Smart Port."
"Saya keberatan," sebuah suara menginterupsi.
Semua orang menoleh terkejut. Suara itu bukan datang dari salah satu direksi, melainkan dari Elena.
"Nyonya Elena, apa maksud Anda?" tanya salah satu perwakilan pemegang saham dari dana pensiun BUMN. "Investasi dari Danuarta Capital adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan proyek kita dari pencabutan lisensi."
"Investasi itu memang menyelamatkan proyek, tetapi struktur kerja samanya merugikan pemegang saham lama," kata Elena sambil menatap Narendra, memberikan kedipan mata yang halus yang ia pikir adalah tanda konspirasi rahasia mereka. "Saya mengusulkan agar kita membatalkan kontrak private placement tersebut dan mengembalikan dana 200 juta dolar kepada Danuarta Capital dengan menggunakan pinjaman baru yang baru saja saya negosiasikan dengan konsorsium bank swasta asing."
Yudha terbelalak. "Elena! Apa yang kau lakukan?! Kontrak itu sudah ditandatangani! Jika kita membatalkannya secara sepihak, kita harus membayar denda penalti sebesar 100% dari nilai investasi! Yaitu 200 juta dolar tambahan!"
Elena tersenyum meremehkan. "Denda itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehilangan kendali atas perusahaan, Yudha. Atau... apakah kau takut kehilangan posisimu karena kau tahu kau tidak berkompeten?"
"Kau jalang sialan!" Yudha berdiri dan menggebrak meja dengan keras, membuat beberapa gelas air tumpah. "Kau berselingkuh dengan pria ini dan sekarang kau mencoba merampas perusahaanku?!" Yudha melemparkan tumpukan foto dari amplop detektifnya ke tengah meja rapat. Foto-foto Elena dan Devan Danuarta tersebar di depan mata semua pemegang saham.
Bisik-bisik riuh langsung memenuhi ruangan. Skandal moral di tingkat tertinggi manajemen Arwana Group terekspos secara memalukan.
Narendra perlahan berdiri dari kursinya. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan ataupun kemarahan; ia tampak seperti seorang hakim yang siap membacakan vonis eksekusi.
"Tuan Yudha, Nyonya Elena... terima kasih atas pertunjukan dramatis yang sangat menghibur ini," kata Narendra, suaranya menggelegar di dalam ruangan yang mendadak sunyi karena otoritas kehadirannya. "Namun, sepertinya kalian berdua melakukan kesalahan besar dalam membaca situasi."
Narendra mengambil tabletnya dan menyerahkannya kepada perwakilan pemegang saham independen tertua di ruangan itu.
"Berdasarkan klausul nomor 14.2 di dalam kontrak investasi yang telah ditandatangani oleh Tuan Yudha dan Nyonya Elena dua minggu lalu," Narendra menjelaskan dengan nada dingin yang presisi, "jika terjadi perselisihan internal manajemen yang menyebabkan ketidakstabilan reputasi perusahaan—seperti skandal publik atau ancaman pembatalan kontrak secara sepihak—maka Danuarta Capital memiliki hak opsi (call option) untuk membeli seluruh saham milik manajemen yang tersisa dengan harga 10% dari nilai pasar terendah saat ini."
Yudha membeku. "Apa... apa katamu?!" Ia dengan panik membuka salinan kontrak yang selama ini ia abaikan. Di halaman belakang, tercetak dalam huruf-huruf kecil yang rumit, klausul yang disebutkan Narendra terpampang dengan jelas. Itu adalah klausul jebakan yang dirancang secara hukum oleh tim pengacara top yang disewa Rian.
"Dan tidak hanya itu," lanjut Narendra, tatapannya beralih ke Elena yang kini wajahnya mulai memucat kehilangan warna merahnya. "Konsorsium bank swasta asing yang Anda sebutkan tadi, Nyonya Elena... nama perusahaannya adalah Apex Horizon Ltd, bukan? Perusahaan itu adalah anak perusahaan sepenuhnya dari Danuarta Capital. Pinjaman yang Anda negosiasikan adalah jebakan likuiditas. Detik ini juga, saya menyatakan Arwana Group gagal bayar (default) atas semua kewajiban utang jangka pendeknya kepada jaringan keuangan saya."
Ruangan itu meledak dalam kekacauan. Para pemegang saham minoritas panik, berteriak menuntut penjelasan.
"Anda... siapa Anda sebenarnya?!" teriak Yudha, matanya merah oleh kemarahan dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. "Anda bukan investor biasa! Anda sengaja menghancurkan kami! Siapa Anda?!"
Narendra melangkah mendekati Yudha, melewati tumpukan foto skandal di atas meja. Ia membuka kacamatanya, membiarkan Yudha melihat langsung ke dalam telaga hitam matanya yang tanpa dasar.
"Aku adalah orang yang kau beri minuman beracun dua minggu lalu, Yudha," bisik Narendra dengan volume yang hanya bisa didengar oleh Yudha dan Elena yang berdiri membeku di dekatnya. "Aku adalah orang yang kau kubur di dalam tanah yang dingin. Aku kembali untuk menagih hutangku."
Mendengar kata-kata itu, Elena menjerit histeris dan jatuh terduduk di kursinya, sementara Yudha melangkah mundur dengan tubuh gemetar hebat hingga menabrak dinding kaca besar di belakangnya. Wajah Devan Danuarta di depan mereka tiba-tiba bergeser di dalam persepsi visual mereka yang ketakutan, menampilkan wajah Narendra Arwana yang sedang tersenyum dingin dengan bekas darah yang mengalir dari dada kirinya.
Hantu itu tidak lagi berada di bawah tempat tidur atau di dalam layar CCTV. Hantu itu kini telah mengambil alih seluruh hidup mereka.
5.2 (Kejatuhan Elena)
Dalam waktu 24 jam setelah rapat RUPSLB yang kacau itu, bursa efek menghentikan perdagangan saham Arwana Group akibat kebangkrutan teknis dan skandal internal. Danuarta Capital secara resmi mengeksekusi hak opsinya, mengambil alih 100% kepemilikan saham perusahaan. Yudha dan Elena didepak dari posisi mereka tanpa kompensasi sepeser pun. Semua aset pribadi mereka yang dijaminkan atas nama perusahaan disita oleh pengadilan.
Elena mendapati dirinya terusir dari apartemen penthousenya di kawasan Senopati. Semua rekening banknya dibekukan. Pakaian-pakaian desainer, tas-tas Hermes senilai miliaran rupiah, dan kalung The Blue Hope yang diberikan Narendra (yang ternyata adalah replika kaca murah beracun yang dirancang untuk memicu iritasi kulit kronis jika dipakai terlalu lama) disita oleh kurator kepailitan.
Dengan sisa uang tunai yang ia sembunyikan di dalam tas kecilnya, Elena mencoba melarikan diri ke bandara Soekarno-Hatta untuk terbang ke Singapura. Namun, belum sempat ia melewati gerbang imigrasi, empat orang petugas berseragam hitam dari Kejaksaan Agung bersama aparat kepolisian mencegatnya.
"Nyonya Elena Arwana?" tanya petugas itu dengan tegas.
"Ada apa ini?! Saya punya hak untuk pergi! Jangan sentuh saya!" teriak Elena, menarik perhatian para calon penumpang lainnya.
"Anda ditahan atas tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan berencana terhadap mendiang suami Anda, Narendra Arwana, serta pencucian uang dan penggelapan dana perusahaan," petugas itu membacakan surat perintah penahanan resmi.
"Pembunuhan?! Tidak! Itu serangan jantung! Yudha yang melakukannya! Bukan aku!" Elena berteriak histeris, menyalahkan selingkuhannya demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Petugas tidak peduli. Mereka memasangkan borgol besi pada pergelangan tangan Elena yang dulu halus. Saat ia diseret keluar dari terminal bandara di bawah jepretan kamera wartawan media massa yang tiba-tiba muncul entah dari mana, Elena melihat sesosok pria berdiri di dekat tiang pembatas udara luar.
Pria itu mengenakan kaos hitam dan jaket kulit tua, tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ia tidak mengenakan kacamata. Wajah Narendra Arwana menatapnya dengan ketenangan mutlak dari kejauhan.
Elena ingin berteriak kepada polisi bahwa pria yang mereka sebut mati itu berdiri di sana, namun suaranya tercekat di tenggorokan saat melihat tato lingkaran hitam di pergelangan tangan Narendra menyala redup di balik kegelapan sore. Elena menyadari, di dunia ini tidak ada lagi tempat persembunyian baginya. Ia akan membusuk di dalam sel tahanan yang sempit dan kotor, kehilangan kecantikan dan kebebasannya untuk selamanya.
6.1 (Malam penghakiman)
Yudha tidak mencoba melarikan diri. Paranoianya telah mencapai tingkat kegilaan yang membuatnya tidak lagi peduli pada dunia luar. Rumah mewahnya telah disita, namun entah bagaimana, pada malam terakhir sebelum eksekusi pengosongan gedung kantor pusat Arwana Group oleh pengadilan, ia berhasil menyelinap masuk melewati penjagaan keamanan yang longgar—yang sengaja dilonggarkan atas perintah pemilik baru gedung tersebut.
Yudha naik ke lantai 40 menggunakan lift servis. Ia berjalan menyusuri koridor lantai teratas yang gelap gulita menuju ruang kerja pribadi yang dulu merupakan tempat ia menikam Narendra.
Ruangan itu berantakan. Dokumen-dokumen berserakan di lantai, kursi-kursi terbalik. Yudha duduk di lantai di pojok ruangan, memeluk lututnya. Di tangannya, ia memegang pistol revolver kaliber .38 yang diisinya penuh dengan enam butir peluru. Di sampingnya, terdapat botol wiski yang sudah kosong tiga perempatnya.
"Datanglah..." Yudha meracau sendirian, matanya yang merah menatap liar ke setiap sudut ruangan yang gelap. "Aku tahu kau di sini, Narendra... Datanglah, kau hantu keparat! Aku membunuhmu sekali, aku bisa membunuhmu lagi!"
Klik.
Suara saklar lampu terdengar dari arah pintu masuk. Namun, lampu utama tidak menyala. Hanya lampu darurat berwarna merah di sudut langit-langit yang aktif, memancarkan cahaya merah darah yang temaram ke seluruh ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding.
Pintu kayu jati yang besar perlahan terbuka tanpa mengeluarkan suara.
Sesosok pria melangkah masuk. Langkah kakinya terdengar ritmis di atas lantai kayu yang sunyi. Tap... tap... tap.
Yudha langsung melompat berdiri, mengarahkan pistolnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat ke arah sosok itu. "Berhenti di sana! Atau aku tembak kepalamu hingga hancur!"
Narendra berhenti berjalan, berdiri di tengah ruangan tepat di bawah siraman cahaya merah darah. Ia tidak lagi menggunakan identitas Devan Danuarta. Ia melepas kacamata dan jas mahalnya, menyisakan kaos hitam yang melekat erat di tubuhnya yang tegap.
"Kau tidak berubah, Yudha," kata Narendra, suaranya terdengar berat dan beresonansi di dalam ruangan yang tertutup rapat. "Kau selalu menggunakan senjata dan kekerasan ketika otak picikmu tidak lagi bisa menemukan jalan keluar."
"Kau... kau benar-benar Narendra..." Yudha menangis, air mata mengalir di pipinya yang kotor oleh debu dan sisa alkohol. "Bagaimana bisa?! Aku melihat dadamu berhenti bergerak! Aku memeriksa nadimu! Kau sudah mati dan dikubur di dalam tanah!"
"Aku memang sudah mati, Yudha," Narendra melangkah maju satu langkah. "Namun, rasa sakit dari pengkhianatanmu jauh lebih kuat daripada tarikan kematian. Neraka menolakku karena mereka tahu, akulah yang harus menjadi neraka bagi dirimu di dunia ini."
"Jangan mendekat!" berteriak Yudha dengan histeris.
BANG!
Yudha menarik pelatuk. Kilatan cahaya keluar dari moncong pistol, suara ledakan menggema keras di dalam ruangan. Peluru timah panas melesat cepat, mengenai tepat di tengah dahi Narendra.
Kepala Narendra tersentak ke belakang oleh momentum hantaman peluru. Yudha tersenyum gila, mengira ia telah menang lagi.
Namun, senyuman Yudha langsung membeku.
Narendra perlahan menegakkan kembali kepalanya. Di dahinya, terdapat lubang bundar kecil tempat peluru masuk, namun tidak ada darah yang keluar dari sana. Hanya ada asap hitam tipis yang berbau belerang keluar dari lubang tersebut. Kulit di sekitar luka itu kemudian berdenyut pelan, dan di depan mata Yudha yang melotot tidak percaya, peluru timah tersebut terdorong keluar dari dahi Narendra oleh jaringan otot yang beregenerasi sendiri, lalu jatuh ke lantai kayu dengan suara denting kecil. Ting.
Luka di dahi Narendra menutup sempurna tanpa meninggalkan bekas sedikit pun.
"Aku sudah katakan pada kalian di ruang rapat," Narendra melangkah maju lagi, kecepatannya kini tidak lagi normal manusia—ia tampak seperti meluncur di atas lantai. "Senjata buatan manusia tidak memiliki otoritas atas sesuatu yang telah melampaui batas kematian."
BANG! BANG! BANG! BANG! BANG!
Yudha mengosongkan seluruh sisa peluru di dalam silinder pistolnya. Ia menembak dada Narendra, perutnya, pundaknya. Lima peluru menembus tubuh Narendra bertubi-tubi, namun efeknya sama: Narendra tidak berdarah, tidak mengaduh, dan tidak berhenti melangkah. Setiap lubang peluru di tubuhnya langsung menutup kembali dalam hitungan detik.
Ketika peluru terakhir habis, pistol Yudha hanya mengeluarkan suara klik kosong. Klik... klik...
Yudha melempar pistolnya ke arah Narendra dengan putus asa, namun Narendra menangkap pistol itu dengan satu tangan dengan mudah, lalu meremas logam baja pistol tersebut hingga tertekuk dan hancur seperti lilin mainan di dalam genggamannya. Narendra menjatuhkan rongsokan besi itu ke lantai.
Narendra kini berdiri tepat di depan Yudha. Ia mengulurkan tangan kirinya, mencengkeram leher Yudha dengan kekuatan yang seolah mampu meremukkan tiang beton. Ia mengangkat tubuh Yudha yang berbobot 80 kilogram ke atas dengan satu tangan, membiarkan kaki Yudha menendang-nendang udara kosong dalam upaya sia-sia untuk bernapas.
"Lepas... kan... akh..." Yudha tercekik, wajahnya berubah menjadi biru keunguan, pembuluh darah di pelipisnya menonjol keluar.
"Kau tahu apa yang paling menyakitkan dari kematianku malam itu, Yudha?" tanya Narendra, matanya menatap langsung ke dalam jiwa Yudha yang ketakutan. "Bukan rasa sakit dari belatimu. Melainkan kenyataan bahwa aku menganggapmu sebagai saudaraku sendiri. Aku memberikanmu segalanya—posisi, kekayaan, kepercayaan. Dan kau membalasnya dengan racun dan logam di jantungku."
Narendra mendekatkan wajahnya ke telinga Yudha, berbisik dengan nada yang paling dingin yang pernah ada di dunia. "Aku bisa melemparmu keluar dari jendela lantai 40 ini sekarang juga. Tubuhmu akan hancur berantakan di atas aspal jalanan di bawah sana dalam waktu empat detik. Tapi itu terlalu mudah untukmu."
Narendra menurunkan tubuh Yudha, namun tidak melepaskan cengkeramannya dari leher pria itu. Ia melempar Yudha ke lantai di dekat jendela besar.
"Di luar sana, polisi sudah mengepung gedung ini," kata Narendra sambil menunjuk ke arah bawah jendela, di mana lampu-lampu sirine merah dan biru dari belasan mobil polisi berkedip-kedip menerangi kegelapan malam Jakarta. "Elena sudah ditangkap di bandara. Dia telah memberikan kesaksian penuh bahwa kau adalah otak utama di balik pembunuhanku. Dokumen-dokumen forensik digital yang disiapkan Rian mengenai racun yang kau beli di pasar gelap sudah berada di tangan jaksa penuntut umum."
Narendra berbalik, berjalan menuju pintu keluar tanpa memandang Yudha lagi.
"Kau akan menghabiskan sisa hidupmu di dalam sel isolasi penjara Nusakambangan," ucap Narendra dari ambang pintu. "Kau tidak akan pernah melihat matahari lagi. Setiap kali kau menutup matamu di kegelapan selmu, kau akan melihat wajahku. Kau akan mendengar suaraku. Pikiranmu sendiri yang akan menjadi penyiksa terbaikmu hingga hari di mana jantungmu berhenti berdetak karena ketakutan."
"Narendra! Bunuh aku saja! Bunuh aku!" teriak Yudha dengan sisa tenaganya, merangkak di lantai mengejar Narendra. "Jangan tinggalkan aku seperti ini! Bunuh aku!"
Narendra tidak merespons. Ia melangkah keluar dari ruangan, menutup pintu jati yang besar itu di belakangnya dengan bunyi dentuman yang berat. BRAK.
Di dalam ruangan yang merah, Yudha menangis histeris sendirian, sementara di luar, suara langkah sepatu bot para petugas kepolisian yang mendobrak masuk ke lantai 40 terdengar semakin dekat. Pengadilan manusia akan menghukum tubuhnya, sementara bayang-bayang Narendra akan menghukum jiwanya untuk selamanya.
Epilog.(Kedamaian yang sunyi)
Hujan deras malam itu perlahan-lahan mereda menjadi gerimis tipis saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur kota Jakarta. Langit berubah warna dari hitam pekat menjadi abu-abu kebiruan yang syahdu.
Narendra berdiri di puncak atap (rooftop) gedung Arwana Group, tempat tertinggi yang bisa dicapai di kota itu. Angin pagi yang dingin memainkan ujung kaos hitamnya, membawa aroma tanah basah dan udara bersih setelah badai.
Ia mengangkat tangan kirinya ke depan wajahnya.
Tato hitam berbentuk lingkaran di pergelangan tangannya mulai berdenyut dengan cara yang berbeda dari biasanya. Denyutannya tidak lagi terasa dingin atau panas; itu adalah denyutan yang lambat, melemah, dan perlahan-lahan mulai memudar dari kulitnya. Warna hitam pekat dari tato itu memudar menjadi abu-abu, lalu menjadi garis samar, dan akhirnya lenyap sepenuhnya tanpa meninggalkan bekas, menyisakan kulit pergelangan tangannya yang mulus dan bersih kembali.
Kontraknya telah selesai. Dendamnya telah terbayar lunas. Arwana Group telah kembali ke tangan yang tepat melalui mekanisme hukum yang sah, dengan Rian yang akan mengelola yayasan amal atas nama Narendra untuk membantu anak-anak panti asuhan tempat mereka dulu dibesarkan. Yudha dan Elena telah mendapatkan keadilan yang setimpal dengan perbuatan mereka.
Narendra merasakan sebuah tarikan yang lembut di dalam dadanya. Tarikan kali ini tidak lagi dingin atau menakutkan seperti malam saat ia berada di dalam ruang hampa. Tarikan ini terasa hangat, seperti selimut yang nyaman di hari yang dingin.
Udara di sekelilingnya mulai bergetar pelan, dan sesosok bayangan yang akrab—sosok entitas kuno dari kegelapan—muncul samar di balik kabut pagi, menjulurkan tangannya yang tak berwujud dengan penuh hormat.
"Tugasmu selesai, Narendra," suara itu bergema untuk terakhir kalinya di dalam kesadarannya. "Kau telah menunjukkan bahwa kebencian manusia bisa melampaui batas kematian. Kini, saatnya kau memenuhi janjimu."
Narendra menatap langit fajar yang indah untuk terakhir kalinya. Tidak ada lagi amarah di matanya, tidak ada lagi racun di dalam jiwanya. Hanya ada kedamaian yang sunyi dan kepuasan dari sebuah misi yang telah dituntaskan dengan sempurna.
"Aku siap," bisik Narendra pelan.
Narendra melangkah maju menuju tepi atap gedung. Namun sebelum tubuhnya menyentuh pembatas, sosok fisiknya perlahan-lahan terurai menjadi partikel-partikel cahaya hitam dan emas yang berkilauan, terbawa oleh embusan angin pagi yang dingin, menyatu dengan udara dan lenyap ke dalam keabadian.
Narendra Arwana telah mati untuk kedua kalinya, namun kali ini, ia pergi sebagai seorang pemenang yang telah menuliskan takdirnya sendiri di atas lembaran dunia yang fana.