BAB 1: Percikan di Batas Langit
Angin di Kota Gantung Oakhaven selalu berbau tembaga dan minyak pelumas. Di ujung dermaga kayu yang menjorok bebas ke angkasa, Kaelen berdiri menantang badai awan putih di bawahnya. Tangan remajanya yang dibalut sarung kulit tebal cekatan mengencangkan baut pada sayap mekanis berkilau perak miliknya.
"Jika kau melompat sekarang, Kael, aku tidak akan repot-repot mengumpulkan serpihan tulangmu dari lautan awan," sebuah suara mengejek dari balik bayang-bayang hanggar.
Kaelen tidak menoleh. Ia tahu itu adalah sersan logistik, Vance. "Sayap ini tidak akan gagal, Vance. Aku sudah memodifikasi katup uapnya dengan batu sisa fajar. Tekanannya stabil."
"Stabil katanya," Vance meludah ke samping, menatap cemas ke arah langit jauh.
Di pusat Aethelgard, beberapa mil dari tempat mereka berada, langit tidak lagi biru cerah. Inti Fajar—jantung dunia mereka—yang biasanya memancarkan cahaya keemasan hangat, hari ini tampak memiliki urat-urat hitam yang menjalar. The Dusk. Korosi itu menyebar lebih cepat dari perkiraan para tetua dewan. Kota-kota terapung mulai kehilangan daya apungnya, perlahan-lahan turun beberapa meter setiap bulannya mendekati "Dunia Bawah" yang misterius dan mematikan.
Kaelen memakai kacamata pelindungnya. "Aku harus pergi ke Reruntuhan Zenith sebelum patroli militer menutup wilayah itu. Aku melihat kilatan aneh di sana semalam."
Tanpa menunggu jawaban Vance, Kaelen berlari ke ujung dermaga dan melompat bebas ke jurang tak berdasar.
Selama dua detik pertama, jantungnya serasa tertinggal di tenggorokan. Gravitasi menariknya jatuh bebas menembus kabut tipis. Kemudian, dengan satu tarikan tuas di dadanya, mekanisme di punggungnya berdentang keras. Sayap logamnya berbentang, menangkap arus angin jet, dan membawanya melesat ke atas seperti anak panah.
Kaelen berteriak kegirangan. Di atas sini, di antara pulau-pulau tanah yang melayang bebas bak puing-puing raksasa, ia merasa hidup. Namun, kegembiraannya sirna saat pandangannya tertuju pada Reruntuhan Zenith—sebuah pulau kuil kuno yang telah ditinggalkan ribuan tahun lalu.
Pulau itu tidak lagi hijau. Setengah dari daratannya telah diselimuti oleh kristal hitam pekat yang bergerak seperti tanaman merambat. Makhluk-makhluk yang menyerupai gagak berukuran raksasa dengan mata merah menyala—Shadow-beasts—tampak berputar-putar di atasnya.
Kaelen mengarahkan sayapnya, menukik tajam menuju pelataran kuil yang retak-retak. Ia mendarat dengan keras, berguling beberapa kali untuk meredam momentum, sebelum akhirnya bersembunyi di balik pilar batu yang runtuh.
Napasnya memburu. Di tengah pelataran, sesuatu sedang terjadi.
Seorang gadis berjubah putih pudar dengan aksen perak khas Pustakawan Agung sedang dikepung oleh tiga ekor Shadow-beasts. Di tangannya, gadis itu memegang sebuah gulungan kulit kuno dan sebuah lentera kecil. Namun, bukan lentera itu yang menarik perhatian Kaelen, melainkan sebuah batu berbentuk prisma di dalam lentera tersebut.
Batu itu memancarkan cahaya biru murni yang sangat terang—warna Inti Fajar sebelum terkorosi. Cahaya itu tampaknya menahan makhluk-makhluk bayangan tersebut, namun energinya mulai tidak stabil, memercikkan listrik statis ke udara.
"Pergi, makhluk terkutuk!" teriak gadis itu. Suaranya gemetar namun sarat akan keberanian.
Satu Shadow-beast melompat, sayap hitamnya menghempaskan angin busuk. Lentera di tangan gadis itu berkedip. Ia terjatuh, gulungan kulitnya terlempar ke dekat kaki Kaelen.
Kaelen melihat gulungan itu, lalu melihat sang gadis yang kini terdesak. Logikanya menyuruhnya untuk terbang kembali ke Oakhaven dan menyelamatkan diri. Namun, melihat cahaya biru murni itu—sesuatu yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya—membuat jemarinya bergerak sendiri.
Ia mencabut pisau mekanis bermuatan listrik dari sabuknya, menekan tombol pemicu hingga bilahnya bergetar hebat.
"Hei, burung jelek!" teriak Kaelen sambil melompat dari balik pilar. "Coba lawan seseorang yang punya ukuran otak lebih besar dari kacang!"
Makhluk bayangan terbesar menoleh tajam ke arah Kaelen, mengeluarkan lengkingan yang memekakkan telinga. Pertempuran demi mempertahankan sisa-sisa cahaya Aethelgard baru saja dimulai.