Di sebuah desa tua yang dikelilingi sawah dan kebun bambu, hiduplah seorang pria bernama Yanto.
Usianya hampir lima puluh tahun, tubuhnya besar, suaranya keras, dan wajahnya selalu tampak seperti orang yang paling benar di dunia.
Selama hidupnya, Yanto dikenal suka ikut campur urusan orang lain. Tidak ada masalah yang luput dari telinganya. Tidak ada pertengkaran rumah tangga yang tidak ia komentari. Tidak ada warisan keluarga yang tidak ia h4sut diam-diam.
Anehnya, di depan orang-orang, Yanto pandai berpura-pura baik.
Ia sering membantu membawa kursi saat hajatan, pura-pura menenangkan orang yang bertengkar, bahkan sering berbicara soal agama di warung kopi.
Namun di balik semua itu, mulutnya adalah sumber kerusakan. Ia senang mengadu domba. Senang melihat orang saling curiga. Senang jika hidup orang lain hancur perlahan.
Bahkan soal harta, Yanto terkenal licik.
Ia pernah mengambil sebagian tanah milik adiknya dengan memalsukan tanda tangan. Pernah menahan uang hasil penjualan sawah milik keluarga dan mengaku uang itu hilang.
Pernah juga memanfaatkan orang m1skin yang tidak mengerti hukum demi keuntungan pribadi.
Tapi selama bertahun-tahun, hidup Yanto terlihat baik-baik saja.
Rumahnya besar. Motornya berganti terus. Ia makan enak setiap hari. Dan setiap kali ada orang yang berkata bahwa perbuatannya tidak baik, Yanto hanya tertawa kecil.
“Orang pintar itu bukan orang baik,” katanya suatu malam di warung kopi. “Orang pintar itu orang yang bisa hidup nyaman.”
Tak ada yang tahu, kalimat itu kelak menjadi awal petaka yang mengerikan.
Semua bermula pada suatu malam hujan di bulan November.
Saat itu listrik desa mati total. Hujan turun deras sejak sore. Angin menggoyangkan pohon-pohon kelapa di belakang rumah Yanto hingga terdengar seperti suara orang menangis panjang.
Di dalam rumah, Yanto sedang makan sendirian.
Istrinya, Sumi, memperhatikan suaminya yang tampak aneh sejak sore tadi. Wajah Yanto pucat. Keringat dingin terus keluar meski udara sangat dingin.
“Kamu sakit?” tanya Sumi pelan.
Yanto tidak menjawab.
Tangannya tiba-tiba gemetar saat mengambil gelas. Air tumpah ke meja. Tatapannya kosong mengarah ke pintu dapur yang gelap.
“Ada orang berdiri di situ...” gumamnya lirih.
Sumi menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa.
“Ah, kamu cuma kecapekan.”
Namun Yanto mulai bernapas berat. Dadanya naik turun tidak beraturan. Ia memegang lehernya sendiri seperti orang yang dicekik sesuatu.
Malam itu juga Yanto jatuh ke lantai.
Tubuhnya kejang hebat mulutnya berbusa.
Matanya melotot terbuka lebar ke arah langit-langit rumah.
Sumi berteriak histeris memanggil tetangga.
Orang-orang berdatangan membawa senter dan lampu minyak. Beberapa pria mencoba memegangi tubuh Yanto yang terus menghentak-hentak lantai seperti ikan besar yang dilempar ke daratan.
“Cepat bawa ke puskesmas!”
Mereka mengangkat Yanto ke mobil bak terbuka.
Namun di sepanjang perjalanan, tubuh Yanto terus bergerak aneh.
Kadang diam mendadak seperti mayat, lalu beberapa detik kemudian tubuhnya melenting keras hingga hampir jatuh dari mobil.
Sesampainya di puskesmas, dokter kebingungan.
Detak jantungnya melemah. Napasnya nyaris putus. Kulitnya mulai membiru.
Tetapi ia tidak meninggal.
Satu hari berlalu, dua hari bahkan tiga hari.
Yanto tetap hidup dalam kondisi mengerikan.
Matanya tidak pernah menutup.
Bola matanya bergerak gelisah ke kiri dan kanan seolah melihat sesuatu yang sangat menakutkan.
Mulutnya kadang bergerak sendiri seperti orang sedang bicara dengan seseorang yang tak terlihat.
Semakin lama, tubuh Yanto berubah.
Kulit di bagian kaki mulai menghitam seperti membusuk. Ujung jarinya kebiruan. Bibirnya pecah-pecah. Bau anyir mulai keluar dari tubuhnya meski dokter mengatakan organ dalamnya masih bekerja.
Anehnya lagi, setiap kali orang mencoba membacakan doa di dekatnya, tubuh Yanto langsung kejang hebat.
Suatu malam, Yanto tiba-tiba berbicara.
Padahal selama berhari-hari ia tidak sadar.
Dengan suara serak dan tenggorokan seperti penuh darah, ia berbisik pelan:
“Jangan biarkan mereka masuk... jangan... jangan...”
“Siapa?” tanya Sumi sambil menangis.
Mata Yanto bergerak ke sudut ruangan.
Air matanya keluar perlahan.
“Mereka marah... mereka semua datang...”
Setelah itu ia kembali diam.
Kabar tentang kondisi Yanto menyebar ke seluruh desa. Orang-orang mulai membicarakan hal aneh yang terjadi padanya.
Ada yang bilang kena santet. Ada yang bilang kutukan. Ada juga yang percaya Yanto sedang dis1ksa sebelum kematian benar-benar menjemputnya.
Karena tak kunjung membaik, keluarga akhirnya membawa Yanto pulang.
Dan sejak itulah teror sebenarnya dimulai.
Setiap malam rumah Yanto dipenuhi suara aneh.
Kadang terdengar suara orang berjalan di atap. Kadang suara ketukan dari dalam lemari. Kadang suara tangisan lirih di dapur.
Tetangga mulai takut mendekat. Terutama setelah beberapa orang melihat kejadian yang tak masuk akal.
Suatu malam sekitar jam dua dini hari, keponakan Yanto yang berjaga melihat tubuh Yanto duduk sendiri di ranjang.
Padahal sebelumnya tubuh itu lumpuh total.
Ia duduk dengan gerakan patah-patah. Matanya tetap terbuka lebar.
Lalu kepalanya perlahan menoleh ke arah jendela yang gelap. Dan dengan suara yang bukan seperti suara manusia, Yanto berkata,
“Mereka menagih...”
Keponakannya lari terbirit-birit keluar rumah sambil berteriak ketakutan.
Besok paginya, seorang lelaki tua datang menemui keluarga Yanto. Namanya Mbah Darso, orang sepuh yang sudah lama tinggal di ujung desa.
Ia meminta melihat Yanto sendirian.
Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam kamar selama hampir satu jam itu. Namun saat keluar, wajah Mbah Darso terlihat pucat.
“Apa dia bisa sembuh?” tanya Sumi penuh harap.
Lelaki tua itu diam lama.Lalu berkata pelan,
“Yang menahan dia bukan penyakit.”
Semua orang saling berpandangan.
“Lalu apa?”
Mbah Darso menarik napas berat.
“Orang ini terlalu banyak mengambil yang bukan haknya.”
Suasana langsung sunyi.
“Mulutnya merusak hidup banyak orang. Tangannya mengambil milik banyak orang. Hatinya senang melihat orang lain hancur. Dan selama hidup, dia tidak pernah benar-benar merasa bersalah.”
Sumi mulai menangis.
“Tapi kenapa dia tidak meninggal saja?”
Mbah Darso memejamkan mata sesaat.
“Karena ada orang-orang yang hatinya hancur akibat perbuatannya... dan belum memaafkannya.”
Malam itu, untuk pertama kalinya keluarga Yanto mulai mencari satu per satu orang yang pernah disakiti Yanto.
Mereka mendatangi adiknya yang tanahnya pernah dirampas. Mereka mendatangi tetangga yang dulu difitnah hingga bercerai. Mereka mendatangi seorang lelaki tua yang uangnya pernah ditipu Yanto.
Dan hampir semuanya berkata hal yang sama.
“Dia belum pernah minta maaf.”
Hari-hari berikutnya menjadi semakin mengerikan.
Tubuh Yanto makin hitam seperti terbakar dari dalam. Nadi di lehernya bergerak lemah. Namun ia tetap hidup.
Kadang ia menangis sendiri. Kadang tertawa. Kadang berteriak seperti orang melihat sesuatu yang mengerikan.
“Panas... panas...” “Tolong jangan tarik aku...” “Aku belum mau ikut...”
Suara itu terdengar hampir setiap malam.
Sampai suatu dini hari, hujan turun sangat deras.
Angin meniup pintu rumah hingga terbuka sendiri.
Lampu ruang tamu mati mendadak.
Di dalam kamar, Yanto tiba-tiba menjerit sangat keras.
Jeritan itu panjang. Parau. Dan penuh ketakutan.
Semua orang berlari masuk.
Tubuh Yanto melengkung tidak wajar di atas kasur. Matanya terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Tangannya mencakar-cakar udara seperti ada sesuatu yang sedang menyeretnya.
Lalu untuk pertama kalinya sejak sakit, Yanto menangis sambil berkata terbata-bata:
“Aku salah... aku salah... kembalikan... semuanya kembalikan...”
Air matanya bercampur darah tipis dari sudut matanya.
Ia menoleh ke arah istrinya.
“Sumi... tanah adikku... suratnya di lemari... uang Pak Karim... di bawah lantai dapur... aku bohong... aku ambil semua...”
Tubuhnya mulai gemetar makin keras.
Semua orang menangis mendengar pengakuan itu.
Namun belum selesai.
Yanto tiba-tiba menatap ke pojok kamar dengan wajah penuh teror. Seolah ada sesuatu berdiri di sana.
Wajahnya berubah pucat luar biasa.
“Jangan dekat... jangan...”
Lalu terdengar suara retakan keras dari tulang punggungnya. Tubuhnya menghentak sekali.
Dan akhirnya...
Diam.
Benar-benar diam.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari terombang-ambing di antara hidup dan mati, tubuh Yanto berhenti bergerak.
Matanya perlahan tertutup sendiri.
Hujan di luar mendadak reda.
Dan entah kenapa, malam itu seluruh rumah terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.