๐ฑ๐ฐ๐ถ๐ธ๐ฐ๐ฝ ๐ถ๐ท : ๐บ๐ธ๐๐ฐ๐ท ๐ป๐ฐ๐ผ๐ฐ ๐บ๐ด๐ผ๐ฑ๐ฐ๐ป๐ธ ๐ท๐ฐ๐ณ๐ธ๐
Hari ini adalah hari minggu, waktu yang tepat bagi Rania untuk bersantai, namun sayang rencana itu urung seseorang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya
"Rania..." suara lembut Dewiโibunya terdengar dari balik pintu yang masih tertutup dengan rapat
"Iya ibu sebentar.." Rania bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke arah pintu untuk membukanya
Ceklek...
Ketika terbuka Dewi sudah berdiri di depan pintu kamarnya, matanya menatap khawatir sang putri seakan ada sesuatu yang akan terjadi pada putrinya
"Ada apa ibu, apa ibu baik-baik aja?" menatap khawatir Dewi
"Ibu tidak apa-apa nak, ibu hanya ingin memberi tahu kamu saja jika di ruang tamu ada seseorang yang ingin bertemu denganmu"
Rania mengerutkan keningnya bingung 'ingin bertemu? Siapa itu? Apa teman-teman Rania?"
Dewi menggeleng lemah, sejenak dia menundukkan kepala "bukan! Yang datang bukan mereka" lirihnya
"Lalu siapa ibu? Kenapa ibu mendadak sedih seperti ini?" menatap khawatir Dewi
"Di ruang tamu ada mama dan papa mu nak!" lirihnya sambil menunduk
Deg.
Tubuh Rania menegang, matanya berkilat dengan amarah "mau apa mereka kemari? Sudah ingat jika memiliki anak" geramnya marah
Rania, adalah putri satu-satunya dari keluarga Firmansyah. Awal mulanya dia sangat disayang oleh orang tua juga kakak laki-lakinya, namun semua berubah saat Revaโadiknya lahir.
Mereka kini lebih menjaga adiknya, lebih perhatian padanya dan melupakan dirinya. Seakan dapat angin segar Reva mengambil keuntungan dengan memgitnah dan menjelek-jelekkan dia
Orang tuanya tentu lebih membela Reva daripada Rania, sampai pada malam itu tiba...
Rania diusir oleh orang tuanya karena dianggap telah mencuri barang kesayangan putri mereka...
"Jika kamu tidak mau menemui mereka tidak apa-apa nak, biar ibu membuat alasan pada mereka"
"Tidak apa-apa ibu, biar aku yang datang dan menemui mereka. Aku ingin tau apa yang mereka mau"
"T-Tapi..."
"Percayalan padaku, semua akan baik-baik saja ibu, aku janji aku akan tetap bersama dengan mu"
Dewi akhirnya mengangguk "baiklah, jika itu keputusan mu. Ibu setuju" tersenyum menatap putri kecilnya
Rania membalas senyuman Dewi "ibu tunggu di kamar saja ya, aku tidak mau ibu sakit hati karena ucapan gila mereka itu"
"Baiklah" Dewi melangkahkan kaki pergi memasuki kamarnya sementara Rania berjalak kearah ruang keluarga
Drapp.. Drapp.. Drapp...
Tiga pasang telinga yang sedang duduk menunggu itu menoleh asal suara
"Rania..." lirih mereka lalu bangkit dari sofa
Dengan tatapan datar Rania berjalan mendekati keluarga Firmansyah "ada apa kalian mencariku?" tanya Rania dengan nada datar
"N-Nak bagaimana keadaan mu, apa baik-baik saja? Kamu diperlakukan baik kan disini?" tanya seorang pria paruh baya benama Hilman
"Tentu saja, aku sangat dijaga, dimanja, bahkan sangat disayang oleh ibu dan ayah" nada datar lalu duduk di sofa
Dia menyilangkan kakinya dengan posisi tegak dan medua tangan dilipat di depan dada
"Sangat berbeda jauh dengan aku saat bersama kalian" menyindir
Mereka sontak menundukkan kepala mendengar jawaban Rania "maafkan kami Rania, kami yang salah" lirih mereka
"Bagus jika kalian sudah sadar atas kesalahan kalian itu" nada datar lalu menatap mereka satu persatu "lalu apa yang kalian mau sekarang?"
"Nak, apa kamu tidak mau pulang? Kami rindu dengan mu, kami ingin menebus semua kesalahan kami." ucap seorang wanita paruh baya bernama Dita
"Iya dek, sekarang kami tau kalau Reva yang udah lakuin semua itu. Dia sengaja membuat kami agar jauh dengan mu" sesal Alan
Rania menatap sinis "sekarang saja setelah kejahatannya terbongkar kalian mencariku, coba kalau tidak apa kalian mencariku?"
"Sekali lagi maafkan kami nak, kami benar benar menyesal karna telah terhasut oleh Reva" ucap Hilman
Rania terdiam, dia tak memberikan reaksi apapun. Wajah dan sorot matanya sudah tak ada lagi rasa sayang dan kagum pada keluarganya. Hatinya telah mati untuk mereka, ingatan ingatan masa lalunya masih membekas.
Dulu Rania selalu difitnah, Reva mengatakan jika perempuan berambut hitam sepunggung itu adalah wanita malam, simpanan pria beristri dan perebut suami orang.
Dengan bodohnya para keluarga yang mengaku keluarga kandung justru percaya, tanpa tau kebenarannya mereka mencaci dan memakinya.
Mereka sama sekali tidak peduli dengan luka di hati Rania, yang mereka pedulikan adalah Reva tetap hidup dengan nyaman.
"Jika kalian kesini hanya ingin memintaku kembali, maka buang jauh-jauh keinginan itu"
Setelah terdiam cukup lama akhirnya Rania membuka suara lalu menatap mereka satu persatu
"Aku sudah nyaman ada di sini, aku tidak bisa meninggalkan ayah dan ibu. Mereka tidak memiliki anak dan mereka sangat menyayangiku seperti anak mereka sendiri, jika kalian memang menyayangiku maka biarkan aku hidup tenang disini" nada tegas
Rania memang sengaja mengatakan itu pada mereka karena ingin tau seperti apa reaksi keluaganya. Padahal kenyataannya kedua orang tua angkatnya memiliki seorang anak laki-laki yang sudah menikah. Dia tinggal di luar negeri.
Hilman, Dita dan Alan tampak diam mendengar penuturan Raina. Tampak jelas dari sorot matanya jika mereka merasakan penyesalan yang begitu dalam.
Namun mereka juga tidak bisa memaksa Rania agar ikut dan memaafkan mereka setelah apa yang terjadi
"Aku sudah memaafkan kalian, tapi untuk tinggal bersama lagi seperti dulu. Maaf, aku tidak bisa, aku trauma dengan pertengkaran dan juga perlakuan putri kalian itu"
Kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Rania yang membuat mereka menatap terkejut.
"K-Kamu serius nak telah memaafkan kami?" tanya Dita
"Aku melakukan ini bukan untuk kalian, tapi untuk diriku sendiri. Ayah dan ibu selalu berpesan untuk tidak menyakiti diri sendiri dengan berlarut dengan masalah itu"
"Tidak apa-apa nak, itu sudah lebih dari cukup untuk kami" ucap Hilman senang
"Papa benar, setidaknya dengan kamu memaafkan kami. Rasa bersalah abang akan sedikit berkurang" ucap Hilman dengan senyuman lebar
Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang. Mereka tidak akan memaksa Rania ikut dengan mereka, melihat gadis kecil itu baik baik saja sudah membuat mereka senang dan bersyukur dia mendapatkan orang tua angkat yang baik.
Sebelum pulang Hilman meletakkan dua buah black card unlimited untuknya, mereka tidak mau Rania menolak pemberian itu karena semua haknya. Akhirnya Rania menerima 2 black card itu dan menyimpannya dengan baik.
Dimas dan Dewi tersenyum lembut lalu berjalan mendekati Rania
"Ayah senang kamu mengambil keputusan yang benar nak, walaupun kamu marah dan kecewa pada mereka jangan pernah putus hubungan dengan mereka ya" ucap Dimas
Rania yang mendengar ucapan itu menoleh asal suara lalu tersenyum "iya ayah!"
Mereka duduk di samping kanan dan kiri Rania "apa kamu sudah benar benar memaafkan mereka nak?" tanya Dewi
"Entahlah ibu, ucapanku tadi bukan hal yang murni ingin aku ucapkan. Aku takut setelah ini justru anak itu akan melakukan sesuatu diluar dugaan, aku takut mereka akan kembali melakukan hal yang sama dan membuatku kembali terluka"
Dimas mengelus pucuk kepala Rania lembut "tidak apa-apa, justru apa yang kamu lakukan adalah hal yang benar. Jangan pernah takut dengan apa yang akan terjadi kedepannya, kami ada bersamamu"
"Ayah mu benar nak, ibu percaya mereka akan terus berusaha untuk mengambil hatimu dan membuatmu kembali percaya padanya." nada lembut "kamu tidak perlu takut, kamu harus membalasnya! Tapi ingat, jangan menggunakan kekerasan yang bisa merugikan dirimu. Kamu hanya perlu menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah"
"Iya ibu, aku mengerti" Rania senyum menatap Dewi
๐ฑ๐ฐ๐ถ๐ธ๐ฐ๐ฝ ๐ถ๐ธ: ๐ฟ๐ฐ๐ฒ๐ฐ๐ ๐ฟ๐๐๐ฐ-๐ฟ๐๐๐ฐ ๐๐๐ด๐
๐ฐ๐ฝ
Siang menjelang sore ini, udara sangat dingin. Awan tidak menampakkan warna indah seperti hari-hari biasanya
Kelabu cenderung gelap, Rania yakin jika sebentar lagi hujan akan turun dengan sangat deras.
Dia berdiri di depan jendela panjang yang ada di dekat susunan bangku yang baru saja ditata. Dia dan teman-temannya baru saja selesai melakukan piket kelas, dan bersiap-siap untuk pulang
"Pulang yuk sebelum ujan deres" ajak Ayu pada kedua temamnya
"Iya yuk, gue males banget kalau sampai kejebak hujan di tengah jalan" ucap Megan
Rania mengangguk "yaudah ayo, kita piket juga udah selesai kan"
Mereka mengangguk lalu berjalan kekuatan dari dalam kelas
Klap!
Megan menutup pintu ruang kelas lalu ketiganya berjalan pergi untuk pulang sambil mengobrol ringan
Namun tiba-tiba langkah Rania terhenti "girls kalian duluan aja ya, gue mau ke toilet dulu" dia menoleh kedua temannya
"Lo gak mau kita tungguin nih?" tanya Ayu
"Iya, bukannya tadi lo berangkat sama om Dimas ya? Lo pulang naik apa? Mau bareng gue ga? Kita kan sejalan" ucap Megan Khawatir
Rania tersenyum "tenang aja Megan gue udah chat supir ibu kok, paling sebentar lagi juga sampai" jawabnya "kalian duluan aja gapapa"
"Ya udah kalau emang itu yang lo mau, kita duluan ya" ucap Ayu yang langsung diangguki oleh Rania sebagai jawaban
Dari kejauhan tampak seorang laki-laki menatap interaksi mereka, ia tersenyum kecil saat menatap Rania.
"Rania..." dia berjalan mendekati perempuan berkulit putih bersih itu
Rania menoleh "Stevan?" gumamnya "ada apa dia panggil gue?" batinnya bingung
Stevan berdiri tepat di depan Rania, jarak mereka hanya satu centi "apa lo ada waktu sebentar?" dia bertanya dengan nada rendah
"Iya, gue gak lagi buru buru kok. Ada apa ya?" sedikit mendongak menatap mata Stevan
Ketika mata mereka bertemu, ada rasa berbeda di hati keduanya. Ada sesuatu yang mulai tumbuh di hati masing-masing.
Stevan adalah salah satu dari sahabat Alanโkakak kandungnya, walaupun hubungan Rania dan Alan merenggang tapi tidak dengan mereka
Stevan selalu bersifat netral, tidak membela siapapun. Dia tidak mau ikut campur dengan masalah keluarga sahabatnya terlalu dalam.
Tapi bukan berarti Stevan akan diam saja saat sudah ada kekerasan fisik terjadi, contohnya pada saat Alan ingin menampar Rania dia selalu pasang badan.
Dia selalu menegaskan agar tidak menyakiti seorang perempuan, Stevan tidak mau jika kebodohan Alan akan berdampak pada adik-adiknya, bagaimana jika nanti mereka yang dikasari oleh orang lain?
"Stevan..." lirih Rania, pasalnya laki-laki di depannya malah melamun "lo baik-baik aja kan?"
Stevan kembali pada kesadarannya "iya gue baik-baik aja kok, maaf ya"
Rania mengangguk kecil "gak apa apa kok, jadi kenapa lo tiba-tiba manggil gue?"
Stevan menatap ragu "emmm gini, sebenernya gue mau minta tolong sama lo, tapi gue takut lo akan nolak.."
Rania mengerutkan keningnya menatap Stevan "memang apa yang lo mau minta sama gue?"
Menghembuskan nafasnya "gue mau lo jadi pacar gue!"
"APA?!"
"Dengerin gue dulu, bukan tanpa alasan gue minta tolong ini sama lo. Gue gak ada pilihan lain, gue gak mau dijodohin sama orang tua gue."
"Jadi lo bilang sama orang tua lo kalau udan punya pacar?"
Stevan mengangguk "iya, dengan gitu mereka gak akan terus desak gue terima perjodohan itu"
****
Hujan benar-benar mengguyur bumi demgan begitu derasnya. Rania masih terjebak di sekolah bersama Stevan, setelah obrolan panjang tadi dan setelah Rania pergi ke toilet untuk buang air kecil
Mereka memutuskan untuk menjalankan rencana pacaran diam-diam itu, benar Rania membantu Stevan terbebas dari perjodohan itu, apalagi setelah dia tau siapa yang akan dijodohkan.
"Dingin banget dah" gumam Rania, dia menggosok gosokkan kedua tangannya agar merasa jauh lebih hangat
Stevan menoleh lalu senyum kecil, dia melepas hoodie yang sejak awal digunakan lalu menutup pundak Rania
Rania yang menyadari itu menoleh, Setevan kembali tersenyum "pakai, biar ga dingin" nada lembut
"Terus lo gimana? Bukannya lo juga akan ngerasa keinginan?" tanya Rania
"Gapapa, yang penting princess kecil ini gak kedinginan" mengecak gemas rambut Rania
"Stevan berantakan tau rambutnya" merengek layaknya anak kecil tak dibelikan mainan
Stevan terkekeh "pake gih jaketnya" merapikan rambut Rania yang sedkit berantakan
Rania mengangguk kecil lalu memakai jaket yang ternyata agak kebesaran di tubuh mungilnya
"Mungilnya!" Stevan menatap gemas Rania sudah memakai jaketnya yang terlihat kebesaran dengan mata berbinar
Sementara Rania hanya menunjukkan ekspresi cemberutnya pada Stevan hingga msmbuat laki-laki bertubuh tinggi itu terkekeh kecil
"Tapi gemesin" dia masih terkekeh kecil
Ketika Rania akan menjawab ucapan dari Stevan mobil jemputan untuknya datang membelah hujan yang mulai reda
"Eh, udah dateng ya?" menatap asal suara mobilnya berada
"Yaudah, pulang gih. Udah sore banget ini" ucap Stevan lalu menoleh
"Lo mau bareng gue aja? Ini masih hujan loh?" menatap
Stevan tersenyum "gak apa apa, udah mulai reda kok hujannya. Sebentar lagi gue bisa pulang, lo duluan aja, kasian tante Dewi nanti khawatir kalau lo gak pulang pulang"
"Ya udan deh, gue pulang duluan ya?"
"Iya" jawab Stevan menatap supir pribadi Dewi yang langsung menurunkan kaca jendela "pak hati-hati ya, jalannya licin masih hujan"
"Iya den, kami permisi dulu ya" ucap supir itu yang langsung diangguki Stevan
Supir itu menutup kaca jendela lalu menjalankan mobilnya pergi "apa langsung pulang non Rania?"
"Umm, kita pergi ke supermarket dulu ya pak. Ada yang mau saya beli"
"Baik non"
****
Sementara itu di sebuah mansion megah terlihat ada seorang gadis sedang marah marah di ruang keluarga
"Apa-apaan! Kenapa mereka menolak menerima perjodohan itu, papa! Apa gak bisa papa bujuk mereka buat terima perjodohan itu?"
"Papa gak bisa Reva, sahabat kakak kamu udah punya pacar dan mereka gak mau maksa kalau udah kayak gitu" jawab Hilman
Reva yang mendengar itu langsung cemberut "pacar? Sejak kapan kak Stevan punya pacar? Kenapa aku gak tau?" katanya heran
"Karena gak semua hal kamu harus tau Reva, itu kan urusan pribadi orang. Masa iya harus diumbar umbar sih" jawab Dita
Mereka sangat tahu jika sejak lama Reva menyukai Stevan tapi sayang laki-laki itu sama sekali tidak suka
Karena merasa kasian mereka memutuskan menjodohkan keduanya dan langsung disetujui oleh orang tua Stevan.
Tapi siapa yang akan menyangka jika laki-laki itu telah mempunyai kekasih
"Tapi kan Revโ"
"Apa papa dikasih tau sama mereka siapa pacarnya?" tanya Alan penasaran. Jujur saja dia juga baru tau jika sahabatnya sudah memiliki kekasih
"Loh, kamu kan sahabatnya bang masa gak dikasih tau sih?" tanya Dita bingung
"Dia memang gitu Ma, gak pernah mau terbuka kalau soal keluarga apa lagi pasangan. Sama mantan yang sebelumya juga aku baru tau waktu dia ada di rumah Stevan"
"Begitu ternyata" kata Dita lalu menoleh Hilman "jadi siapa anak itu?"
"Kata Leo, namanya Rania mereka udah deket sejak lama jadi gak mungkin mereka mau rusak hibungan anaknya."
"APA RANIA?" tanya Reva terkejut
"Rania? Jadi mereka beneran pacaran ya?" gumam Alan
"Loh, itu kamu tau bang" ucap Hilman
"Nggak, aku gak tau kalau mereka pacaran. Tapi dulu dia memang pernah bilang sama Al kalau dia suka sama Rania, abis itu gak tau lagi perkembangan kedekatan mereka kaya apa"
Reva mengepalkan kedua tangan kuat 'ini gak bisa dibiarin, gue harus kasih pelajaran anak itu' batinnya geram
Berbeda dengan Hilman, Dita dan Alan. Mereka sama sekali tidak merasa keberatan, mungkin dengan membiarkan Rania bersama dengan Stevan bisa menebus semua kesalahan yang sudah mereka perbuat pada Rania.
"Semoga dengan kami melakukan ini kamu akan bahagia Rania" batin mereka kecuali Reva
๐ฑ๐ฐ๐ถ๐ธ๐ฐ๐ฝ ๐ถ๐น : ๐ป๐ฐ๐ฟ๐ฐ๐ฝ๐ถ๐ฐ๐ฝ ๐ฑ๐ฐ๐ป๐ฐ๐ ๐ณ๐ด๐ฝ๐ณ๐ฐ๐ผ
Suara gemuruh penonton bersorak riang menggema di lapangan basket putri di Reed High School
Hari ini sekolah itu harus melawan sekolah tetangga mereka Nevalion High School
Raniaโketua basket putri harus melawan perempuan yang kata orang di sekitarnya jago bermain basket namanya Intan
Diantara riuhnya pertandingan ada sepasang mata yang sejak tadi menatap dalam diam, Matanya berbinar melihat Rania yang terlihat fasih bermain basket.
Seseorang tiba-tiba duduk di sampingnya "kalian itu pasangan yang cocok, satu ketua tim basket cowok dan satunya lagi tim basket cewek" kekeh Dion
Stevan hanya terkekeh kecil, harus dia akui ucapan Dion memang benar "tapi secara kemampuan dia diatas gue D"
Dion menyapu keseluruhan lapangan sekolah yang ramai dipenuhi suporter yang sedang bersorak riang hingga matanya menatap sesuatu yang tak biasa
"Stev, coba lo lihat ke sana" ucapnya dengan tatapan tidak berubah sama sekali
Stevan melirik Dion lalu mengikuti tatapannya, keningnya mengerut "dia?"
Seorang laki-laki terlihat sedang menatap Rania, dari sorot matanya penuh kekaguman.
Dion menoleh "lo kenal sama anak sekolah sebelah itu?"
"Dia mantannya RaniaโAzka" jawab Stevan dengan nada datar "dan si ketua tim basket cewek sekolah tetangga pacarnya yang sekarangโlebih tepatnya cewek yang udah rebut Azka dari Rania"
"Wow, sepertinya lapangan ini akan jadi ajang balas dendam" ucap Alan lalu duduk di samping kiri Stevan
Stevan tersenyum miring "kita udah unggul tiga poin dari mereka"
"Lagipula siapa yang bisa lawan Rania?" kekeh Dion
Alan menoleh Stevan "coba kalian main bareng deh, gue penasaran siapa yang akan menang"
"Secara kalian kan sama-sama punya rekor tak terkalahkan" tambah Dion
Stevan senyum sambil menatap lapangan "udah pernah" gumam
Alan dan Dion langsung menatap "serius?!" terkejut
Stevan mengangguk singkat "cuma dia yang bisa kalahin gue"
"APA?!" kata keduanya terkejut
Stevan tak memberikan reaksi, matanya masih tak bisa lepas dari Rania yang sepertinya mulai kelelalan
Beberapa jam pun berlalu, pertandingan selesai dengan kemenangan Reed High School untuk yang ke-empat kalinya
Rania mengatur nafasnya lalu duduk di kursi yang ada di tribun pemain
"Haaah! Gila akhirnya kita bisa kalahin mereka" ucap Alana girang
"Gue pengen tau gimana reaksi ketua songong itu setelah kalah" kekeh Megan
Rania tersenyum miring "itu kenapa gue tadi bilang jangan main pake ambisi, kalau kalian main dengan tujuan kalahin lawan ya gitu tuh" terekekeh
"Iya sih, lo bener" ucap salah satu anggota tim
"Gila sih tapi, dia terus incar lo Ran"
"Iya sih, kelihatan banget kalau dia gak mau kalah sama lo"
"Dari dulu kan memang gitu" kekeh Rania "tapi sayang dia masih sama kaya dulu"
Setelah obrolan singkat itu mereka pergi ke ruang ganti untuk membersihkan diri dari keringat
"Rania!"
Suara panggilan seseorang itu membuat Rania menoleh "ck, mau apa lagi dia?"
"Bukannya udah jelas dia gak terima atas kekalahannya?" tanya Megan
"Kalian duluan aja, nanti gue nyusul" ucap Rania
"Lo yakin? Gimana kalau dia macam-macam?" tanya Alana
"Ini sekolah kita, kalau dia sampai macam-macam pasti kena gebuk murid sini" jawab Rania asal
"Ya ampun mulutnya mbak!" ucap Ayu yang entah sejak kapan ada di antara mereka
"Ya ampun, lo ngagetin gue aja Ayu" ucap Alana
"Maap" nyengir
"Dah yuk ganti, dah gerah gue" ucap Megan
Mereka mengangguk lalu pergi dan meninggalkan Rania sendiri untuk menghadapi Intan
"Apa?" tanya Rania dengan nada dan tatapan datar
"Jago juga ya lo, bisa lawan gue" ucap Intan "tapi jangan senang dulu, ini cuma kemenangan sementara tim lo"
Rania terkekeh "setiap kali kita tanding juga lo selalu bilang gitu intan" mengejek "tapi selalu aja kalah tuh sama gue, gimana dong"
Intan mengepalkan tangannya kuat mendengar ejekan Rania
"Lo emang bisa rebut Azka dari gue tapi sayang cuma itu yang bisa lo ambil dari gue" senyum miring
"Ada apa nih? Lo masih gak terima ya kalau Azka lebih milih gue daripada lo?" terkekeh
"Apa alasan gue gak terima? Lo kira cowok di dunia ini cuma dia?" sinis Rania
Intan tertawa "emangnya siapa yang mau sama cewek kayak lo Rania, lo emang cerdas tapi sayang gak dapat kasih sayang keluarga lo" mengejek
"Setidaknya gue gak bergantung sama orang tua gue cuma demi dapatin apa yang gue mau Kan?" balas Rania lalu senyum miring
Intan menggeram marah, ia tidak menyangka jika Rania yang dulu pendiam dan akan selalu melemah saat membahas keluarga kini berbalik menyerang dirinya
"Kenapa? Lo gak terima ya?" Rania menatap mengejek
"Heh sialan, ada hak apa lo bicara gitu sama gue hah" intan mencengkram dagu Rania marah
Rania menatap tajam "terus ada hak apa lo ngungkit keluarga gue hah? Keluarga lo lebih kacau dari gue kan ya?" menyeringai
Deg.
Tubuh Intan menegang tapi tangannya masih mencengkram dagu Rania
"Lo!" dia menggeram marah dan semakin kuat mencengkram dagu Rania
Rania menatap datar Intan "kalau lo kira gue akan ngamuk karena perlakuan lo ini, lo salah Intan" batinnya
"Jauhin tangan lo dari cewek gue Intan!"
Nada dingin itu membuat Intan terkejut lalu menoleh "S-Stevan..." lirihnya
Stevan berjalan mendekati keduanya dengan tatapan datarnya, sementara Rania hanya senyum miring lalu menghempaskan tangan intan dari dagunya
"Kalau kalah mah kalah aja, gak usah nyerang tim lawan" cibir Dion
"Lagian lo kira dengan nyerang tim sekolah kita akan buat lo langsung berubah menang?" cibir Alan
"I-Ini gak kayak yang kalian lihat, dia duluan yang nyerang gue" membela diri
"Sayangnya ada banyak saksi yang lihat siapa pelaku utamanya di sini" ucap Stevan datar
Intan baru sadar jika sejak tadi apa yang dia lakukan disaksikan oleh murid-murid sekolah
"Lo mau bodohin siapa di sini?" tanya Rania "gak ada yang bodoh di sekolah ini Intan" terkekeh
"Dan Azka, mending bawa cewek lo pergi deh" ucap Alan "kasih dia pengertian supaya bisa terima kekalagannya" mengejek
Azka mengepalkan tangannya "ayo pergi!" menarik Intan menjauh dari mereka
"Azka sakit!" Intan meringis saat tangannya dicengkram kuat oleh Azka
"Bikin malu aja, kenapa sih kamu selalu aja kayak gitu di sekolah lain? Sengaja mau buat nama sekolah kita hancur?" tanya Azka kesal
"Loh, kok kamu jadi marah sama aku sih?" tanya Intan tak terima
"Orang kamu yang salah kok, siapa lagi yang harus dimarahin? Murid sekolah ini?" tanya balik
Azka jelas tidak terima dirinya disalahkan, namun ada yang tidak bisa dia terima lebih dari itu. Rania! Kenapa perempuan itu bisa menjalin hubungan dengan Stevan
*****
Stevan tertawa pelan mendengar ocehan Rania tentang intan sambil mengendarai mobilnya
"Kena mental sih anak itu pasti, dikira gak ada yang tau kalau keluarganya lebih kacau"
"Perasaan keluarga gue kagak kacau deh, emang agak gak waras aja" gumam
"Tapi lo tau darimana tentang keluarga Intan?" menoleh
"Bokapnya itu karyawan di perusahaan logistik punya ayah"
"Wow, really?" Rania mengangguk "apa yang akan terjadi kalau om Dimas tau semua ini?"
"Selama gak ada yang kasih tau harusnya dia aman ya" jawab Rania "tapi apa iya dia bakal aman?"
Stevan terkekeh "nggak lah! Om Dimas kan selalu kirim mata-mata buat jaga lo dari jauh, mereka pasti udah laporan sekarang"
"Bener juga ya" ucap Rania yang baru menyadari hal tersebut "bodo ah, ngapain juga ngurusin dia"
"Makan dulu yuk sebelum pulang"
Stevan membawa mobil masuk area sebuah restoran
"Mau es krim" ucapnya semangat dengan mata berbinar
"Dasar maniak es krim" cibir Stevan yang membuat Rania nyengir "tapi makan dulu, kalau gak es krim juga gak ada"
Rania mengerucutkan bibirnya ke bawah mendengar jawaban dari Stevan "iya deh"
"Good, ayo keluar"
Sudah hampir satu minggu mereka menjadi pasangan pura-pura, tapi nampaknya kedua insan itu sudah semakin nyaman bersama
Apalagi orang tua keduanya juga tau kalau mereka sedang dekat, mengingat keluarga Stevan adalah rekan bisnis Dimas
"Mau duduk dimana?" Stevan menoleh gadis kecil di sampingnya
Rania menatap restoran yang cukup ramai dan penuh "di sana!" menatap
Stevan mengikuti tatapan "ayo" menggandeng Rania pergi ke sebuah meja
Tak berselang lama seorang pelayan mendekati keduanya dan mereka langsung memesan makanan
****
"Gue rasa itu bukan salah gue, yakan?" Rania menatap Stevan yang langsung mengangguk
Dia mengambil galas minum lalu meneguk isinya sedikit "benar, adik lo itu harus dapat pelajaran! Jangan mentang-mentang orang tuanya selalu kasih semua terus dia jadi seenaknya"
"Tapi gue jadi penasaran apa yang terjadi, kenapa mereka tiba-tiba tau sifat anak itu?" bingung
Berpikir sejenak, mengingat-ingat apa yang sudah terjadi dan dia tau
"Seingat gue dia pernah buat kesalahan dan kecerobohan serta kebodohan itu muncul tiba tiba"
Rania memasukkan suapan terakhir ke mulutnya "kesalahan apa?"
"Dia habisin banyak yang cuma buat dia belanja dan senang senang sama temen temennya, tapi waktu ketahuan malah dia pakai tameng lo"
"Goblok! Sejak gue diusir gak ada yang gue bawa dari sana" sinis
"Nah itu kebodohannya, dia nuduh lo pelakunya. Orang pertama yang sadar itu Al, udah jelas lo keluar gak bawa apapa dan setelah dicek semua akses kartu memang atas nama dia bukan lo"
"Lagian kalaupun gue yang pake juga gak akan seboros itu, dan itu mungkin bedanya gue sama dia"
"Yang satu cuma tau ngabisin duit dan satu lagi harus kerja dulu buat dapat duit" gumam Stevan
โขโขโขโขโข
Plak!
Suara tamparan nyaring mendarat dengan sempurna di pipi Intan "apa yang sudah kamu lakukan di sekolah Intan?" tanya sang papa marah
Intan menatap terkejut "a-apa yang papa maksud? Aku gak lakuin apa-apa?"
"Gak lakuin apa apa kamu bilang?" menatap marah "lalu kenapa atasan papa bilang kamu udah buat masalah sama putrinya hah?"
"P-Putrinya? Memang siapa putri atasan papa? Aku gak pernah buat gara-gara pa!"
"Rania Adithama! Putri angkat tuan Dimas Adithama, kau tau keluarga itu sangat menyayangi dan menjaga dia seperti berlian?"
Tubuh Intan menegang "a-apa? Dia putri keluarga Adhitama?" katanya lirih
"Sekali lagi papa dengar kau membuat masalah dengannya, papa akan cabut semua fasilitas dari kamu." ancam papanya
"A-Apa?"
"Kau tau, papa hampir dipecat oleh tuan Dimas. Untung saja papa masih diberi satu kesempatan, jika tidak maka papa harus berusaha mencari pekerjaan lain"
๐ฑ๐ฐ๐ถ๐ธ๐ฐ๐ฝ ๐ถ๐บ : ๐๐ด๐
๐ฐ, ๐๐ฐ๐ฝ๐ถ ๐ฟ๐ด๐ฝ๐ถ๐๐ฝ๐๐ธ๐
"Jadi princess kecil, mau langsung pulang atau kemana dulu?" menoleh Rania
Hari ini Reed High School tiba-tiba dipulangkan cepat karena ada rapat mendadak
"Heum?" Rania tapak berpikir sejanak "gimana kalau ke toko buku dulu?"
"Mau ngapain?"
"Ya beli buku lah, masa beli kuaci" jawab Rania heran
Stevan hanya terkekeh kecil lalu memakaikan helm di kepala Rania "kan cuma tanya doang"
"Harus banget hal kaya gitu ditanyain?" menatap heran Stevan yang kembali terkekeh
"Udah ah, ayo naik!" ucap Stevan, ia memiringkan sedikit motor sportnya agar Rania bisa naik
"Udah!" jawab Rania sambil menyamankan posisi duduk di jok belakang Stevan
"Pegangan!" menarik satu tangan Rania ke pinggangnya yang membuat satu tangannya mengait di pinggang Stevan
Motor sport merah itu mulai perlahan keluar dari area gedung sekolah membelah jalanan ibu kota yang sangat ramai dengan kendaraan roda empat dan dua melintas dengan tujuan masing-masing
Mata Rania menyipit "Gue kayak kenal plat mobil depan dah?" gumam
Stevan melirik spion motor memperhatikan ekspresi orang di belakangnya "ada apa Ra?" agak teriak
Rania sedikit mendekatkan tubuhnya pada Stevan "gue lagi mikir, itu mobil depan kita punya siapa ya? Gue kayak kenal sama plat nomornya"
Stevan menatap mobil depan lalu sedikit mengejar mobil itu, dia menatap plat mobil itu "iya juga ya? Tapi siapa?" batinnya
Motor yang Stevan kendarai dengan sengaja melewati mobil itu karena semakin lama jalannya semakin melambat
Rania menatap sekilas jendela gelap mobil itu "dia sengaja ya melanin kecepatan mobilnya?" gumam kecil
Dengan cepat Stevan menyalip mobil itu dan mengubah semua, kini motornya berada di depan mobil itu "itu mobil adik lo kan?"
"Iya" jawabnya agak teriak "tapi mau ngapain dia sengaja melanin mobilnya?"
"Mau gue tabrak kali mobilnya" jawab Stevan
"Kalau gitu, kenapa gak lo tabrak aja tadi mobilnya?" meletakkan dagunya di pundak Stevan
"Gue kan pengendara yang baik, gak boleh gitu dong" jawabnya
"Kata orang yang tadi pagi ngebut gara-gara hampir telat" cibir Rania dengan nada datar
Tawa lepas itu akhirnya keluar dari mulut Stevan "tau darimana?"
"Apa yang gak gue tau?" jawabnya sombong
"Dihhh" Kali ini tawa renyah yang terdengar dari mulut mungil Rania "ketawa lo candu di telinga gue Ra" batin Stevan lalu senyum dibalik helm gelap yang dia gunakan
Rania sedikit menyunggingkan senyum lalu menarik sedikit ke atas salah satu sisinya "gue yakin dia akan ikutin gue sama Stevan" batinnya melirik ke belakang
Tatapan Stevan tiba-tiba menajam ketika ingatannya kembali pada kejadian tadi pagi
"Rania, gue gak akan biarin lo balik ke tangan Azka" batinnya "kayaknya gue akan kasih peringatan buat anak itu"
Reva mencengkram setir mobilnya ketika menyadari Stevan sengaja menyalip mobilnya
"Gue yakin kak Stevan sengaja, dia mau nunjukin sama gue kalau dia gak akan pernah terima gue karena udah punya jalang itu" menggeram marah
Matanya terus menatap punggung Rania yang terlihat sangat nyaman memeluk tubuh ramping Stevan
"Harusnya gue yang ada di posisi lo Rania, harusnya gue yang dicintai kak Stevan bukan lo" geramnya dengan tatapan penuh dengan amarah
Dengan sengaja dia mengikuti kemana Stevan dan Rania akan pergi, selagi ada kesempatan dia akan mempermalukan Rania di depan umum
Reva menatap sinis punggung Rania "lihat aja, kalau gue gak bisa dapatin kak Stevan lo juga gak bisa Rania" ucapnya penuh dengan dendam
Sejak kecil dia memang sangat cemburu pada kakaknya, kenapa? Bukannya dia adalah anak kesayangan keluarga?
Memang, tapi hanya saat berada di rumah namun saat berada di lingkungan luar Rania yang selalu menjadi pusat perhatian
Kecantikan disandingkan dengan kepintaran membuat dia mudah didekati oleh banyak orang, apalagi sifat Rania yang lembut, ramah dan humble.
Selain itu diam-diam banyak pria yang ternyata sangat kagum dengan Rania dan ingin dijadikan kekasih oleh mereka
"Harusnya lo gak lahir Rania, harusnya cuma gue yang lahir dari keluarga Firmansyah dan jadi perempuan satu satunya" ucapnya marah
Reva merutuki kebodohannya yang mengatakan jika Rania lah yang menghabiskan uang cukup banyak. Jika tidak maka orang tuanya tidak akan ingat anak itu
Dia semakin jengkel saat melihat Rania menjadi anak angkat keluarga Adhithamaโkeluarga dengan pengaruh besar di kota mereka.
Selain itu Rania begitu disayang dan dimanja oleh mereka, bahkan setiap pagi Dimas rela mengantar perempuan itu ke sekolah baru dia akan pergi ke perusahaannya
"Mereka gak boleh se-baik itu sama lo Rania, lihat aja gue akan buat lo dibenci sama mereka" ucapnya dengan penuh rasa kebencian
Dia menyeringai ketika ingat sebuah acara yang akan diadakan beberapa hari lagi "benar, di acara ulang tahun nyonya Adithama, gue bisa permaluin dia disana" tersenyum puas
Stevan menghentikan motor di parkiran sebuah mall mewah yang ada di pusat kota
"Pelan pelan turunnya" dia menggenggam tangan Rania yang sedang memegang pundaknya
"Iya-iya" jawab Rania sambil turun "lagian motor lo kagak bisa dipendekin dikit apa?" heran
Stevan tertawa kecil "ya gak bisa dong, makanya jangan mungil mungil jadi orang" mencibir
"Mana ada gue mungil,lo aja yang keturunan tiang listrik" balas mencibir
Rania melepas pengait helm yang digunakan lalu melepas pelindung kepala berwarna hitam itu
"Gak epik banget njim, masa iya orang tampan gini dibilang tiang listrik" ucapnya dramatis
"Diiihhh..." melirik sinis
"Apa? Kan emang bener, pacar lo ini tampan dan baik hati" jawabnya sombong
"Sejak kapan? Perasaan kayak nampan dah?" jawab Rania heran
"Heh bisa bisanya โผ๏ธ"
"Huwaaa" berlari kecil masuk mall lebih dulu
Stevan terkekeh kecil sambil menggeleng "gak kerasa udah hampir sebulan" batinnya
Dia berjalan memasuki gedung mall mencari keberadaan Rania "Ra, jangan lari lari nanti jatoh"
Rania langsung berhenti setelah dia teringat sesuatu "gue lupa, toko bukunya di sebelah mana ya?"
Stevan tertawa pelan lalu berdiri di sebelah Rania "bisa bisanya dia lupa" Rania hanya nyengir lebar "ayo, gue tahu ada dimana" menarik tangan Rania dalam genggamannya
Rania mengangguk memberikan jawaban lalu membalas genggam tangan Stevan "semakin lama gue nyaman sama lo, gimana jadinya kalau gue suka sama lo Stevan" batinnya
Stevan tersenyum samar "andai lo tau yang sebenarnya Rania, gue memang suka sama lo, gue ambil kesempatan perjodohan itu buat dekat sama lo" batinnya
Stevan jelas tidak mau hatinya yang sejak awal sudah terikat dengan Rania harus terjebak dengan adiknya.
Apalagi melihat seperti apa sifat mereka yang bertolak belakang "pelan-pelan Rania, gue akan buat lo rasain hal yang sama. Gue percaya suatu saat akan ada cinta itu buat gue" batinnya lalu senyum kecil
Reva mengepalkan kedua tangan di samping badan dengan kuat "apa apaan, kenapa mereka main gandengan tangan aja"
Rasanya dia ingin sekali mendekati mereka dan memisahkan dua insan itu, tapi dia tidak mungkin melalukan itu.
Terlalu gegabah, dia tidak mau jika perlakuannya itu membuat nama baiknya hancur di depan umum, apalagi di depan Stevan
"Oh mereka mau ke toko buku ya?" kata Reva
Dia masih terus mengikuti mereka dari jarak yang sangat jauh, sesekali Reva memilih pergi ke tempat lain agar tak membuat curiga
"Apa ya kira kira yang bisa gue lakuin, buat permaluin dia?" ucapnya dalam hati
Dari tempatnya berdiri Reva melihat Rania sedang memilih milih buku mana saja yang akan dia beli
Sementara Stevan dia terlihat sedang bertelepon dengan lokasi tak terlalu jauh dari Rania
Reva berjalan mendekati Rania dan dengan sengaja mendekati perempuan itu
Bruk!
Dia sengaja menubrukkan tubuh pada Rania "Auchh..." dia menjatuhkan dirinya dengan kasar
Rania menatap, dari matanya dia sudah menduga semua akan terjadi "lo gak apa-apa?" katanya lalu membantu Reva bangun
Sejenak Reva terkejut "g-gue gak apa-apa" ucapnya
Tentu saja semua tak sesuai dugaannya, seharusnya yang dia mau Rania marah dan dia akan memanfaatkan keadaan
"Sorry ya, gue gak tau kalau lo ada di situ" ucap Rania lalu senyum miring
Dia sengaja mengejek Reva,tentu dia tau apa rencana adiknya yang licik itu
Reva mengepalkan tangannya "i-iya gak apa-apa, gue juga gak lihat jalan tadi" jawab Reva "gue permisi"
Rania hanya menggangguk kecil yang membuat Reva melangkah pergi dengan kesal
Stevan sejak tadi mengamati mereka sambil melakukan sambungan telepon "lo harus tau apa yang barusan aja terjadi Al" ucapnya
Stevan sengaja mengambil kesempatan ini untuk mengadu pada sahabatnya apa yang baru saja dilakukan adik terakhirnya
Laki-laki itu tau Reva pasti akan mengadu macam-macam pada keluarganya, dan tentu saja hal itu tidak akan Stevan biarkan.
Dia ingin Rania tetap dipandang baik oleh keluarganya dan secara tak langsung membantu perempuan itu membalas asiknya
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐