Malam itu sekitar pukul sembilan, dunia Manda runtuh dalam satu kalimat singkat.
Teleponnya berdering tiba-tiba. Nama kakak laki-laki nomor dua muncul di layar. Entah kenapa, hati Manda langsung berdebar tidak karuan. Ia mengangkat dengan tangan gemetar,
“Halo, Kak…”
Di seberang sana, suara itu terdengar berat. Seperti tertahan. Seperti ada sesuatu yang tak sanggup diucapkan.
“Manda… yang kuat ya… Papa… Papa sudah gak ada lagi.”
Hening.
Seolah waktu berhenti.
Seolah dunia tiba-tiba kosong.
“Apa…?” suara Manda bergetar. “Kak… jangan bercanda…”
Tapi tidak ada tawa. Tidak ada penjelasan lain. Hanya suara tangis yang pecah di ujung telepon.
Dan saat itu juga, semuanya terasa hancur.
“PAPAAAAA!!”
Manda berteriak histeris. Tubuhnya jatuh terduduk di lantai kamar kosnya. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ditahan. Dadanya sesak, napasnya tersengal. Ia tidak percaya.
Tidak mau percaya.
Papa… pergi?
Secepat ini?
Meninggalkan Mama… meninggalkan mereka semua… meninggalkan Manda… untuk selamanya?
“Enggak… enggak mungkin…” Manda menggeleng berulang kali. “Tadi Papa baik-baik aja… Papa gak sakit…”
sore tadi mama telpn katanya papa pergi kerumah duka temanya meninggal
Tapi kenyataan tidak bisa ditolak.
Papa sudah tidak ada.papa meninggal di rumah temanya itu, kata Kak Dion tiba tiba papa pingsan sedang main catur. Dan kak Dion juga ada di sana menyaksikan papa pergi.
Malam itu, Manda menangis sampai suaranya serak. Ia memeluk dirinya sendiri, merasa dunia ini tiba-tiba menjadi tempat yang asing. Tidak ada lagi sosok yang selalu menenangkan, tidak ada lagi suara yang selalu berkata, “Manda hati-hati ya…”
Dengan tangan gemetar, ia mulai mengemasi pakaian seadanya. Tidak peduli berapa banyak yang ia bawa. Tidak peduli rapi atau tidak. Yang ada di pikirannya hanya satu—pulang.
Ia harus pulang.
Ia harus melihat Papa… untuk terakhir kalinya.
Sepanjang malam itu, Manda tidak tidur. Matanya bengkak, kepalanya berat, tapi hatinya jauh lebih sakit.
Di tengah keheningan, ingatannya melayang dua minggu yang lalu.
Saat itu, Papa menelepon.
“Manda…” suara Papa terdengar lemah, tapi tetap hangat seperti biasa.
“Iya, Pa… kenapa?”
“Papa akhir-akhir ini sering sakit dada… kadang sesak…”
Manda terdiam sesaat, tapi ia mencoba tetap santai.
“Ah, Papa kecapekan kali… istirahat yang banyak ya…”
Lalu Papa tertawa kecil.
“Kayaknya… Papa udah gak lama lagi, Nak…”
“Ah Papa ini… ngomong apa sih… jangan yang aneh-aneh,”
jawab Manda sambil tertawa, menganggap itu hanya candaan.
Ia tidak pernah menyangka…
Kalimat itu bukan lelucon.
Itu perpisahan.
Dan sekarang… semuanya sudah terlambat.
“Maafin Manda, Pa…” bisiknya lirih sambil menangis lagi. “Harusnya Manda lebih peka… harusnya Manda pulang waktu itu…”
Penyesalan datang seperti gelombang besar yang menghantam tanpa ampun.
Pagi harinya, Manda langsung berangkat. Perjalanan panjang 12 jam terasa seperti selamanya. Sepanjang jalan, ia hanya diam.
Kadang menangis, kadang menatap kosong ke luar jendela.
Setiap kilometer yang dilewati terasa berat.
Setiap detik terasa menyiksa.
Ia ingin cepat sampai… tapi juga takut sampai.
Takut menghadapi kenyataan bahwa Papa benar-benar sudah tidak ada.
Mobil akhirnya memasuki jalan kampung saat hari sudah malam.
Dari kejauhan, rumahnya terlihat ramai. Lampu terang menyala. Tenda besar berdiri di depan rumah. Banyak orang datang melayat.
Hati Manda langsung bergetar hebat.
“Papa…” lirihnya.
Mobil berhenti.
Kakinya terasa lemas saat turun. Seperti tidak menginjak tanah. Dunia terasa berputar.
Untung kakaknya nomor empat segera menghampiri dan memapahnya.
“Pelan-pelan, Mand…” katanya dengan suara parau.
Langkah demi langkah terasa berat. Semakin dekat ke rumah, semakin sesak dada Manda. Suara orang-orang, doa-doa, tangisan… semuanya bercampur jadi satu.
Dan saat ia akhirnya masuk ke dalam rumah…
Manda melihat Papa.
Terbaring kaku.
Diam.
Tak bergerak.
Wajah yang selama ini ia kenal penuh kehangatan, kini pucat dan tak bernyawa.
“PAPAAAA!!”
Manda langsung jatuh berlutut di samping jenazah. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia menggenggam tangan Papa yang dingin.
“Bangun, Pa… ini Manda, Pa…”
suaranya hancur. “Manda pulang… Papa bangun ya… jangan tinggalin Manda…”
Tapi tidak ada jawaban.
Tidak ada lagi senyum.
Tidak ada lagi suara lembut yang memanggil namanya.
Hanya diam… selamanya.
Tubuh Manda gemetar hebat. Pandangannya kabur. Dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas.
Ia hampir pingsan.
“Kuat, Mand… kuat…” suara kakaknya terdengar jauh, seolah dari dunia lain.
Tapi bagaimana bisa kuat… jika separuh hatinya sudah pergi?
Hari-hari setelah itu terasa kosong.
Rumah yang dulu penuh tawa, kini dipenuhi keheningan.
Kursi Papa di ruang tamu… kosong.
Suara TV yang biasanya menemani Papa… kini hanya jadi suara yang menyayat hati.
Dan setiap sudut rumah… menyimpan kenangan.
Manda sering duduk diam di kamar Papa. Memegang baju-bajunya. Menghirup sisa aroma yang masih tertinggal.
“Papa… Manda kangen…” bisiknya pelan.
Air mata kembali jatuh.
Rindu itu tidak pernah hilang. Justru semakin dalam setiap harinya.
Ia merindukan suara Papa.
Merindukan nasihatnya.
Merindukan hal-hal sederhana—seperti dipanggil, ditanya sudah makan atau belum.
Sekarang…
Tidak ada lagi.
Yang tersisa hanya kenangan… dan luka yang belum sembuh.
Kadang Manda masih tidak percaya.
Masih berharap Papa akan pulang, membuka pintu, dan berkata seperti biasa, “Manda sudah pulang?”
Tapi setiap kali ia sadar…
Yang ada hanya sunyi.
Suatu malam, Manda duduk di teras rumah. Langit gelap, hanya ditemani bintang-bintang kecil.
Ia menatap jauh ke atas.
“Papa…” bisiknya. “Kalau Papa bisa dengar… Manda di sini…”
Air matanya jatuh lagi.
“Manda kangen banget… Maafin Manda ya, Pa… Manda gak sempat ada di saat Papa butuh…”
Angin malam berhembus pelan. Seolah membawa doa dan rindu itu pergi.
Manda menarik napas dalam-dalam.
Meski sakit… hidup harus tetap berjalan.
Meski kehilangan… cinta itu tidak pernah benar-benar hilang.
Karena Papa… akan selalu hidup…
Di hati Manda.
Selamanya.
Selesai