Hujan turun lagi malam itu. Dinginnya masuk sampe ke tulang, tapi yang paling dingin bukan udara.
Itu waktu Neya pulang ke kontrakan petak 2x3, nggak bawa apa-apa kecuali laptop second dan satu kardus mi instan. Sifeya baru aja ngeblok dia di semua sosmed.
“Udah, gue capek. Cari duit sendiri sana.”
Kata-kata itu masih muter di kepala pas Neya buka pintu. Dan di depan pintu, ada satu gumpalan putih kecil basah kuyup, nggak berhenti gemetar.
Kucing.
Bulu putihnya kotor, satu mata nya ketutup belekan, tapi pas liat Neya, dia ngeong pelan. Kayak bilang, _“Gue juga nggak punya tempat pulang.”_
Neya nggak tahan. Dia masukin kucing itu, lap pake kaos bekas, kasih sisa nasi anget.
“Namanya Miu ya. Soalnya suaranya miu-miu pelan banget.”
Malam pertama, Miu tidur di dada Neya. Hangat. Pertama kali dalam 2 tahun, Neya tidur tanpa nangis.
---
*Dua minggu kemudian.*
Hidup Neya berubah. Nggak dramatis. Nggak tiba-tiba kaya. Tapi berubah.
Pagi-pagi Miu udah duduk di atas laptop, ngeliatin Neya ngetik.
“Nggak usah ganggu, Mi. Ini buat kita makan bulan depan.”
Siang, pas neya stuck nulis, Miu loncat ke pangkuan. Pake cakarnya, dia usap-usap tangan neya. Kayak bilang, _“Udah, istirahat. Nanti lanjut lagi.”_
Malam, pas notif Fizzo masuk cuma 200 ribu, Neya hampir nyerah.
Miu loncat, tiduran di atas keyboard, nutup layar.
“Nggak boleh nyerah. Gue di sini.”
Gue tau kucing nggak ngomong. Tapi entah kenapa, pas liat mata Miu yang satu nya biru, yang satu nya kuning, Neya ngerasa dimengerti.
Sifacy nggak pernah gitu. Sifacy cuma bisa minta, minta, minta.
Miu ngasih tanpa minta apa-apa. Cuma dikasih ikan asin 2 ribu.
---
*Hari ke-60.*
Notifikasi masuk jam 23:59.
_“Selamat! Novel lo cair 20 JT.”_
Neya diem. Terus dia peluk Miu erat-erat.
“Miu... kita berhasil.”
Miu ngeong panjang, kayak ikutan bangga.
Besoknya Neya bawa Miu ke pet shop. Mandiin, vaksin, beli kalung kecil warna biru.
“Biar orang tau lo bukan kucing liar lagi. Lo kucingnya penulis 20 JT.”
Kasirnya ketawa.
“Kucingnya beruntung ketemu majikan kayak Mbak.”
Neya cuma senyum.
“Bukan gue yang beruntung. Dia yang nyelametin gue.”
---
*Satu tahun kemudian.*
Neya pindah ke kosan yang ada jendela besar. Ada pohon di depan.
Miu udah gendut, bulunya kinclong, tidur nya di kasur empuk.
Di meja, ada 3 kontrak buku. Di dinding, ada poster drama series dari novel Nila.
Dan di pangkuan Neya, Miu masih tidur.
Setiap kali Neya stuck nulis, dia usap kepala Miu.
“Mi, gue capek.”
Miu buka mata. Tatap Neya. Kayak bilang, _“Inget dulu. Lo pernah nggak punya apa-apa. Sekarang lo punya semuanya.”_
Neya ketawa. Terus ngetik lagi.
*Hari ke-61 setelah 20 JT masuk.*
Neya nggak langsung foya-foya. Duit pertama dia pecah jadi tiga:
1. 5 JT buat tante. Biar tante bisa buka warung kopi kecil di depan rumah.
2. 5 JT buat bayar utang ke tetangga. Dua tahun malu-maluin.
3. 10 JT buat hidup + modal nulis 3 bulan ke depan.
Miu nggak ngerti uang. Tapi dia ngerti Neya sekarang pulang bawa kantong kresek penuh ikan tongkol.
“Miu, mulai besok kita makan enak. Nggak mi instan lagi.”
Miu ngeong. Kayak bilang, _“Akhirnya! Lidah gue bosan.”_
---
*Minggu ketiga.*
Editor Fizzo kirim email.
_“Mbak Neya, ada penerbit mau beli hak cetak novel lo. Mau ketemuan?”_
Neya baca email itu tiga kali. Takut salah baca.
“tante... ada yang mau nerbitin buku gue.”
Tante yang lagi nyeduh kopi di warung kecilnya cuma diem. Terus matanya berkaca-kaca.
“Dulu tante kira lo cuma buang waktu. Maaf ya, Nak.”
Neya nggak jawab. Dia peluk tante.
“Nggak apa, tant. Sekarang waktunya tante bangga.”
Miu yang di pangkuan cuma ngeong pelan. Kayak ikut ngangguk.
---
*Pertemuan sama penerbit.*
Kafe mahal. AC dingin. Orang-orang pake jas.
Neya datang pake kemeja putih sederhana, rambut diikat, dan Miu di dalam tas kecil.
“Ini... Miu. Support system gue.”
Editor ketawa.
“Boleh. Kalo dia yang bikin lo nulis 5k kata sehari, dia harus ikut tanda tangan kontrak.”
Kontraknya 50 JT untuk 3 buku.
Neya baca angka itu sambil nahan napas.
Dua tahun lalu, 50 ribu aja susah.
Dia tanda tangan. Tangan nggak gemetar.
Karena di bawah meja, Miu gigit-gigit jari Neya. Kayak ngingetin, _“Lo bisa.”_
---
*Malamnya.*
Neya duduk di balkon kosan baru. Kosan yang ada jendela besar, ada pohon, ada sinar matahari pagi.
Miu tidur di pangkuan.
“Mi, inget nggak waktu kita ketemu di depan pintu? Basah kuyup, bau sampah.”
Miu buka mata. Ngeliat Neya.
“Gue janji ya. Selama gue masih bisa ngetik, lo nggak akan tidur di jalan lagi.”
Miu ngeong panjang. Terus tidur lagi.
Di kejauhan, HP neya bunyi.
Notif dari Fizzo:
_“Bab baru lo trending nomor 1. Pembaca nambah 10 ribu hari ini.”_
Neya senyum.
“Lihat Mi? Kita belum selesai.”
---
*TIGA BULAN KEMUDIAN.*
Novel Neya jadi bestseller.
Drama series nya mulai casting.
Bapak punya dua cabang warung kopi.
Dan Miu?
Miu sekarang punya Instagram. 50 ribu followers.
Caption nya: _“Gue kucingnya penulis 20 JT. Lo siapa?”_
Komentar paling banyak:
_“Gue pengen jadi Miu.”_
Neya baca itu sambil ketawa.
“Nggak usah jadi Miu. Jadi diri lo sendiri. Tapi jangan nyerah.”
Miu nggak peduli. Dia tidur lagi.
Karena buat dia, yang penting Neya lagi senang tengah malam ini.
---
*END