Namaku Bintang, dan aku percaya pada takdir... atau setidaknya, aku berusaha keras untuk percaya itu. Soalnya, kalau aku nggak percaya takdir, aku nggak tahu lagi kenapa aku bisa terjebak dalam kencan buta yang lebih mirip film horor komedi daripada romansa.
"Jadi, kamu suka kucing?" tanya pria di depanku, yang bernama... hmm, aku lupa. Anggap saja namanya Mas Kumis, karena kumisnya memang lebih menonjol daripada kepribadiannya.
Aku mengangguk, berusaha tersenyum sopan. "Suka banget! Aku punya tiga di rumah."
"Oh ya? Aku alergi," jawab Mas Kumis, lalu batuk-batuk dramatis.
Oke, ini baru permulaan. Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba mencari topik pembicaraan lain. "Kamu kerja di mana?"
"Aku seorang kolektor," jawab Mas Kumis, matanya berbinar-binar misterius.
"Kolektor? Koleksi apa?" tanyaku, penasaran.
"Rambut," jawabnya, tanpa ragu.
Aku terdiam. Oke, ini sudah masuk zona bahaya. Aku mulai mempertimbangkan opsi untuk kabur lewat jendela toilet.
"Aku punya koleksi rambut dari seluruh dunia," lanjut Mas Kumis, mengeluarkan dompetnya. "Mau lihat?"
"Emm, maaf, Mas," kataku, berdiri dari kursi. "Tiba-tiba aku ingat ada janji penting. Senang bertemu denganmu!"
Aku langsung ngacir keluar restoran, meninggalkan Mas Kumis yang masih bengong dengan dompet penuh rambut di tangannya. Takdir macam apa ini?!
♥️
Beberapa hari kemudian, aku masih trauma dengan kencan rambut itu. Temanku, Luna, terus-terusan menyemangatiku untuk nggak menyerah pada cinta.
"Ayolah, Bintang! Nggak semua cowok aneh kayak Mas Kumis. Mungkin jodohmu lagi nyasar di antah berantah," kata Luna, sambil menyeruput kopi susunya.
"Atau mungkin jodohku adalah pizza," jawabku, lesu.
Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Hai, Sayang! Jangan lupa nanti malam ya. Aku sudah siapkan kejutan spesial untukmu 😉"
Aku mengerutkan kening. Siapa ini? Apa mungkin ini jebakan dari Mas Kumis?
"Salah kirim kali," kataku pada Luna.
"Siapa tahu itu jodohmu yang nyasar!" seru Luna, semangat. "Balas aja, siapa tahu seru!"
Dengan ragu, aku membalas pesan itu. "Maaf, ini siapa ya?"
Beberapa detik kemudian, balasan datang. "Loh, ini Bintang kan? Ini aku, Arya!"
Arya? Aku nggak kenal Arya mana pun. Tapi, karena penasaran, aku memutuskan untuk melanjutkan percakapan ini.
"Maaf, Arya siapa ya? Aku nggak punya teman bernama Arya," balasku.
"Masa sih? Ini aku, Arya tetangga sebelah! Yang waktu itu bantuin kamu benerin genteng bocor!"
Aku terdiam. Arya tetangga sebelah? Yang gantengnya bikin salah fokus waktu benerin genteng?
"Oh... Arya yang itu! Maaf, aku lupa nyimpen nomor kamu," balasku, berusaha menutupi kegugupanku.
"Nggak apa-apa. Jadi, gimana? Jadi kan nanti malam?" balas Arya.
Aku membeku. Jadi ini beneran kencan? Tapi... ini kan salah kirim!
"Emm... maaf, Arya. Aku rasa kamu salah orang. Aku bukan pacar kamu," balasku, jujur.
Beberapa saat kemudian, Arya membalas. "Hah? Serius? Aduh, maaf banget! Aku salah kirim ke kamu. Aku mau ngajak pacarku, tapi malah ke kamu. Maaf ya, Bintang!"
Aku tertawa terbahak-bahak. Ini lebih lucu dari film komedi!
"Nggak apa-apa, Arya! Santai aja. Semoga kencanmu lancar ya!" balasku.
"Makasih, Bintang! Sekali lagi maaf ya!" balas Arya.
Setelah itu, aku dan Arya jadi sering chatting. Kami membahas banyak hal, mulai dari film, musik, sampai pengalaman kencan yang absurd. Ternyata, Arya orangnya asyik dan lucu banget.
♥️
Setelah kejadian salah kirim pesan itu, aku dan Arya jadi semakin dekat. Kami sering menghabiskan waktu bersama, entah itu sekadar ngobrol di teras rumah, nonton film di rumahku, atau jalan-jalan keliling kompleks. Aku mulai merasa nyaman dan bahagia di dekatnya.
Suatu sore, Arya mengajakku piknik di taman dekat rumah. Kami membawa bekal makanan ringan, minuman, dan sebuah buku untuk dibaca bersama. Cuaca hari itu cerah dan angin bertiup sepoi-sepoi, membuat suasana piknik semakin menyenangkan.
Kami duduk di atas tikar, menikmati makanan sambil bercanda dan tertawa. Tiba-tiba, perutku berbunyi keras. Aku langsung menutupi mulutku, malu.
"Ups, maaf," kataku, wajahku memerah.
Arya tertawa. "Santai aja, Bintang! Manusiawi kok," katanya.
Aku merasa sedikit lega, tapi tetap saja malu. Aku berusaha mengalihkan perhatianku dengan membuka buku yang kami bawa.
Namun, belum sempat aku membaca satu halaman pun, perutku kembali berbunyi. Kali ini, lebih keras dan lebih lama. Aku semakin malu.
"Bintang, kamu nggak apa-apa?" tanya Arya, khawatir.
"Aku... aku kayaknya mau kentut," jawabku, jujur.
Arya tertawa terbahak-bahak. "Ya udah, kentut aja! Nggak usah ditahan," katanya.
"Tapi... tapi aku malu," kataku, wajahku semakin memerah.
"Kenapa harus malu? Kentut itu kan alami," kata Arya, sambil tersenyum. "Lagian, siapa tahu kentutmu bisa jadi melodi indah."
Aku menatap Arya, tidak percaya. Apa dia serius?
"Udah, nggak usah dipikirin. Kentut aja," kata Arya, menyemangatiku.
Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba merilekskan tubuhku. Lalu, tanpa bisa dicegah, sebuah kentut keras keluar dari pantatku.
Aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tanganku, malu setengah mati. Aku yakin Arya pasti jijik dan ilfeel padaku.
Namun, ketika aku membuka mataku, aku melihat Arya masih tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, Bintang! Kentutmu kayak petir!" katanya, sambil memegangi perutnya.
Aku ikut tertawa, meskipun masih malu. Entah kenapa, aku merasa lega dan nyaman setelah kentut itu. Aku merasa seperti telah melepaskan beban yang selama ini kupendam.
"Makasih ya, Arya," kataku, tulus. "Makasih udah bikin aku merasa nyaman jadi diriku sendiri."
Arya berhenti tertawa dan menatapku dengan tatapan lembut. "Kamu emang udah jadi diri kamu sendiri kok, Bintang. Kamu lucu, cerdas, dan apa adanya. Aku suka itu," katanya.
Aku terdiam. Jantungku berdegup kencang. Apa ini artinya Arya juga menyukaiku?
"Bintang," kata Arya, meraih tanganku. "Aku tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi aku harus mengatakannya. Aku suka sama kamu. Bukan cuma sebagai teman, tapi lebih dari itu."
Air mataku mulai mengalir. Aku tidak menyangka Arya akan mengatakan hal itu.
"Aku juga suka sama kamu, Arya," jawabku, jujur.
Arya tersenyum dan menarikku ke dalam pelukannya. Aku membalas pelukannya erat-erat. Aku merasa sangat bahagia dan nyaman di pelukannya.
Di bawah langit sore yang cerah, di tengah taman yang indah, kami berdua berpelukan erat. Sebuah kentut tak terduga telah menyatukan dua hati yang selama ini mencari cinta.
♥️
Setelah menyatakan perasaan masing-masing, aku dan Arya resmi berpacaran. Awalnya, semuanya terasa seperti mimpi indah. Kencan romantis, makan malam mewah, nonton film sambil berpegangan tangan... pokoknya, semua hal klise yang ada di film-film romantis.
Tapi, seperti kata pepatah, cinta tak seindah drama Korea. Setelah beberapa minggu, aku mulai menyadari bahwa Arya nggak sesempurna yang kubayangkan.
Misalnya, Arya itu joroknya minta ampun. Dia sering lupa buang sampah, naruh handuk basah di atas kasur, dan nggak pernah ganti sprei. Aku yang notabene cewek tomboi aja kadang geli sendiri lihat kelakuannya.
Selain itu, Arya juga pelupa banget. Dia sering lupa janji, lupa ulang tahunku, bahkan lupa nama panggilan kesayanganku. Aku sampai harus bikin daftar pengingat di kulkas biar dia nggak lupa hal-hal penting.
Yang paling bikin aku gregetan adalah Arya itu leletnya minta ampun. Kalau mau pergi ke suatu tempat, dia bisa dandan berjam-jam, padahal cuma mau pakai kaos oblong dan celana pendek. Aku sampai harus nyiapin stopwatch biar dia nggak kelamaan.
Awalnya, aku berusaha sabar dan maklum dengan kekurangan Arya. Aku pikir, setiap orang pasti punya kekurangan, dan aku harus belajar menerima dia apa adanya.
Tapi, lama-kelamaan, aku mulai merasa lelah. Aku merasa seperti ibu yang harus ngurusin anak kecil, bukan pacar yang bisa diajak berbagi suka dan duka.
Suatu malam, aku dan Arya bertengkar hebat. Masalahnya sepele, cuma gara-gara Arya lupa matiin lampu kamar mandi. Tapi, karena emosi sudah memuncak, pertengkaran itu jadi semakin besar dan nggak terkendali.
"Kamu tuh emang nggak pernah berubah ya, Arya! Jorok, pelupa, lelet! Aku capek tahu nggak sih ngurusin kamu terus!" bentakku, air mataku mulai mengalir.
Arya menatapku dengan tatapan terluka. "Jadi selama ini kamu nggak bahagia sama aku?" tanyanya, suaranya bergetar.
Aku terdiam. Aku nggak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, aku memang nggak bahagia. Tapi, aku juga nggak mau menyakiti Arya.
"Aku... aku nggak tahu," jawabku, lirih.
Arya menghela napas panjang. "Mungkin... mungkin kita memang nggak cocok," katanya.
Aku menatap Arya, terkejut. Apa dia mau putus denganku?
"Mungkin kita terlalu berbeda. Mungkin kita terlalu memaksakan diri untuk bersama," lanjut Arya.
Air mataku semakin deras mengalir. Aku nggak mau putus dengan Arya. Aku masih sayang sama dia. Tapi, aku juga nggak tahu bagaimana caranya memperbaiki hubungan kami.
"Aku... aku nggak mau putus," kataku, memohon.
Arya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Aku juga nggak mau putus sama kamu, Bintang. Tapi, kita harus jujur pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar bahagia bersama?" tanyanya.
Aku terdiam. Aku tahu jawabannya. Kami memang nggak bahagia.
"Enggak," jawabku, lirih.
Arya mengangguk. "Kalau begitu, mungkin ini yang terbaik untuk kita," katanya.
Aku memeluk Arya erat-erat. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sangat sedih dan kehilangan.
Malam itu, aku dan Arya memutuskan untuk berpisah. Kami berjanji untuk tetap berteman, meskipun rasanya sulit.
♥️
Setelah putus dari Arya, hidupku terasa hampa. Rumah yang dulu ramai dengan canda tawa kini terasa sunyi senyap. Aku jadi sering melamun, mengenang masa-masa indah bersamanya.
Luna, sahabatku yang setia, berusaha menghiburku. Dia mengajakku jalan-jalan, nonton film, bahkan sampai nyalon segala. Tapi, semua itu nggak bisa mengusir kesedihanku.
"Ayolah, Bintang! Jangan terus-terusan meratapi nasib. Masih banyak ikan di laut," kata Luna, sambil menyodorkan es krim cokelat padaku.
"Ikan di laut sih banyak, tapi yang nyangkut di hatiku cuma Arya," jawabku, lesu.
"Ya ampun, Bintang! Kamu tuh terlalu idealis. Cinta itu nggak harus sempurna. Yang penting, kamu bahagia," kata Luna, bijak.
Aku menghela napas panjang. Luna benar. Aku terlalu terpaku pada masa lalu. Aku harus move on dan membuka lembaran baru.
Tapi, move on itu ternyata nggak semudah membalikkan telapak tangan. Setiap kali aku mencoba melupakan Arya, selalu ada saja hal yang mengingatkanku padanya.
Misalnya, ketika aku melewati taman tempat kami piknik dulu, aku langsung teringat kentut petirku yang memalukan itu. Atau ketika aku mendengar lagu kesukaan kami di radio, air mataku langsung berlinang.
Yang paling parah, aku jadi sering salah tingkah kalau ketemu Arya di kompleks. Aku berusaha menghindarinya, tapi selalu saja ada kesempatan yang mempertemukan kami.
Suatu hari, aku sedang belanja di minimarket dekat rumah. Tiba-tiba, aku melihat Arya sedang berdiri di depan rak mie instan. Aku langsung panik dan berusaha kabur, tapi terlambat. Arya sudah melihatku.
"Hai, Bintang," sapa Arya, canggung.
"Hai," jawabku, berusaha bersikap biasa.
"Lagi belanja?" tanya Arya, basa-basi.
"Iya," jawabku, singkat.
Suasana menjadi hening dan canggung. Aku nggak tahu harus bicara apa lagi.
"Emm... aku duluan ya," kataku, berusaha mengakhiri percakapan ini.
"Tunggu," kata Arya, menahan tanganku.
Aku menatap Arya, bingung.
"Aku... aku mau minta maaf," kata Arya, lirih.
"Minta maaf untuk apa?" tanyaku.
"Untuk semuanya. Untuk semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Untuk semua sakit hati yang pernah aku berikan," jawab Arya, tulus.
Air mataku mulai mengalir lagi. Aku nggak menyangka Arya akan meminta maaf padaku.
"Aku juga minta maaf," kataku, terbata-bata. "Aku juga banyak salah sama kamu."
Arya tersenyum dan mengusap air mataku. "Mungkin... mungkin kita memang nggak ditakdirkan untuk bersama. Tapi, aku nggak akan pernah menyesal pernah mengenalmu," katanya.
Aku memeluk Arya erat-erat. Aku merasa lega dan damai. Aku akhirnya bisa melepaskan semua amarah dan kekecewaan yang selama ini kupendam.
"Makasih, Arya," bisikku. "Makasih udah pernah jadi bagian dari hidupku."
Arya membalas pelukanku. "Sama-sama, Bintang. Semoga kamu bahagia," katanya.
Setelah itu, aku dan Arya berpisah. Aku melanjutkan belanjaku, sementara Arya kembali ke rak mie instan.
Aku merasa seperti ada beban berat yang terangkat dari pundakku. Aku akhirnya bisa move on dan membuka lembaran baru.
Mungkin, cinta memang nggak harus sempurna. Mungkin, cinta itu tentang belajar menerima kekurangan dan melepaskan masa lalu.
♥️
Beberapa bulan berlalu. Aku sudah benar-benar move on dari Arya. Aku fokus pada diriku sendiri, mengembangkan hobiku, dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. Aku bahkan mulai mencoba aplikasi kencan online, meskipun hasilnya nggak terlalu memuaskan.
Suatu sore, aku sedang menyiram tanaman di teras rumah. Tiba-tiba, aku mendengar suara seseorang memanggilku.
"Bintang!"
Aku menoleh dan melihat seorang pria berdiri di depan pagar rumahku. Pria itu tersenyum padaku.
"Hai, Bintang! Masih ingat sama aku?" tanya pria itu.
Aku mengerutkan kening, berusaha mengingat siapa pria ini. Dia terlihat familiar, tapi aku nggak bisa mengingat di mana aku pernah bertemu dengannya.
"Maaf, aku lupa," jawabku, jujur.
Pria itu tertawa. "Masa sih lupa? Aku kan tetangga kamu juga. Aku Reno, yang dulu sering bantuin kamu benerin genteng bareng Arya," katanya.
Aku terkejut. Reno? Tetangga yang dulu sering bantuin Arya benerin genteng? Yang dulu selalu aku anggap sebagai figuran nggak penting?
"Oh... Reno! Maaf, aku pangling," kataku, berusaha menutupi rasa maluku.
"Santai aja. Lagian, aku juga udah lama nggak kelihatan," kata Reno, sambil tersenyum. "Aku baru balik dari luar kota, ada urusan kerjaan."
"Oh, gitu," kataku, mengangguk-angguk.
Suasana menjadi hening dan canggung. Aku nggak tahu harus bicara apa lagi.
"Emm... aku duluan ya," kataku, berusaha mengakhiri percakapan ini.
"Tunggu," kata Reno, menahan tanganku.
Aku menatap Reno, bingung.
"Aku... aku mau ngajak kamu jalan," kata Reno, lirih.
Aku terkejut. Reno mau ngajak aku jalan? Serius?
"Jalan? Ke mana?" tanyaku, penasaran.
"Ke mana aja. Yang penting, bisa ngobrol sama kamu," jawab Reno, sambil tersenyum.
Aku terdiam. Aku nggak tahu harus menjawab apa. Sejujurnya, aku tertarik dengan Reno. Dia terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab daripada Arya. Tapi, aku juga takut untuk jatuh cinta lagi.
"Aku... aku nggak tahu," kataku, ragu.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak harus langsung jawab sekarang. Pikirin aja dulu," kata Reno, bijak. "Kalau kamu setuju, kabarin aku ya."
Reno memberikan kartu namanya padaku dan pergi. Aku menatap kartu nama itu, bingung. Apa aku harus menerima ajakan Reno?
Aku merenung sepanjang malam. Aku memikirkan semua hal yang aku inginkan dalam sebuah hubungan. Aku memikirkan semua kesalahan yang pernah aku lakukan di masa lalu. Dan akhirnya, aku memutuskan untuk memberikan Reno kesempatan.
Keesokan harinya, aku menghubungi Reno dan menerima ajakannya. Kami pergi makan malam di sebuah restoran yang уютный dan romantis. Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan, hobi, sampai pengalaman hidup.
Ternyata, Reno orangnya asyik dan menyenangkan. Dia pintar, humoris, dan perhatian. Aku merasa nyaman dan bahagia di dekatnya.
Setelah beberapa minggu berkencan, aku dan Reno resmi berpacaran. Hubungan kami berjalan dengan lancar dan harmonis. Kami saling mendukung, saling menghargai, dan saling mencintai.
Aku akhirnya menemukan kebahagiaan yang selama ini aku cari. Aku menemukan cinta yang tulus dan apa adanya. Aku menemukan jodohku... di sebelah rumah.
Epilog: Kentut Kebahagiaan
Beberapa tahun kemudian, aku dan Reno menikah. Kami hidup bahagia dan harmonis. Kami memiliki dua orang anak yang lucu dan menggemaskan.
Suatu malam, aku dan Reno sedang berbaring di tempat tidur, menikmati kebersamaan kami. Tiba-tiba, perutku berbunyi keras.
"Ups, maaf," kataku, malu.
Reno tertawa. "Santai aja, Sayang! Nggak usah ditahan," katanya.
Aku tertawa dan melepaskan kentut keras.
"Ya ampun, Sayang! Kentutmu kayak petir!" kata Reno, sambil memeg
Tentu, ini dia kelanjutan Epilog:
"Ya ampun, Sayang! Kentutmu kayak petir!" kata Reno, sambil memegangi perutnya karena geli.
Aku ikut tertawa. "Ini kentut kebahagiaan namanya," kataku, sambil mencium pipi Reno.
Reno membalas ciumanku dan memelukku erat-erat. "Aku sangat mencintaimu, Bintang," bisiknya.
"Aku juga mencintaimu, Reno," jawabku, tulus.
Kami berpelukan erat, menikmati kehangatan cinta kami. Di tengah keheningan malam, terdengar suara kentut kecil dari arah Reno.
Aku tertawa. "Sekarang giliranmu kentut kebahagiaan," kataku, menggoda.
Reno tersenyum dan menciumku lagi. "Mungkin nanti malam," bisiknya, sambil mengedipkan mata.
Aku tertawa dan memeluk Reno semakin erat. Aku merasa sangat bahagia dan bersyukur atas semua yang aku miliki. Aku memiliki keluarga yang bahagia, suami yang mencintaiku, dan kentut kebahagiaan yang selalu menghiasi hari-hariku.
TAMAT