Malam itu, gerbang SMP Negeri 45—atau yang lebih dikenal warga sekitar dengan julukan "SMP Gerbang Ghaib",terlihat lebih mencekam dari biasanya. Angin berhembus pelan, membawa aroma melati bercampur bau sampah dari selokan depan sekolah.
Lima orang remaja laki-laki berdiri mematung di depan pagar berkarat. Mereka adalah Bimo (si ketua geng yang sok berani), Raka (si tukang pamer gadget), Dika (si penakut yang gampang mual), Jojo (si logis tapi lola), dan Gani (yang sebenarnya cuma ikut karena dijanjikan seblak gratis).
"Gimana? Masih mau lanjut?" tanya Bimo. Suaranya agak bergetar, tapi dia berusaha membusungkan dada sampai tulang rusuknya bunyi krek.
"Ya iyalah! Kita udah bawa peralatan tempur lengkap!" sahut Raka sambil mengangkat tongsis yang dipasangi senter HP. "Gue udah live nih, meski penontonnya cuma dua orang. Satunya akun bot, satunya lagi emak gue."
Dika memegang ujung baju Gani erat-erat. "Guys, gue rasa lambung gue bereaksi negatif sama aura ini. Apa kita nggak mending ke Warmindo aja? Indomie telur kornet lebih nyata daripada hantu, sumpah."
"Pengecut lo, Dik!" ejek Gani, padahal kakinya sendiri gemetaran sampai celana kargonya bunyi srek-srek. "Kita ini cowok. Cowok itu pantang mundur sebelum liat Kuntilanak salto."
Bimo: "Oke, formasi! Gue di depan sebagai panglima. Raka di belakang gue buat dokumentasi. Jojo sama Gani di tengah. Dika, lo di paling belakang."
Dika: "KOK GUE DI BELAKANG?! Kalau pantat gue dicolek Genderuwo gimana?!"
Jojo: "Secara logika, Dik, Genderuwo itu seleranya tinggi. Minimal model iklan sampo. Lo kan mirip sikat WC, aman lah."
Bimo: "Udah, diem! Ayo masuk. Hitungan ketiga. Satu... dua... dua setengah... dua tiga perempat..."
Raka: "Lama amat dah, buruan!"
Dengan gerakan dramatis, Bimo mendorong gerbang. KREEEEKKKK... Suara engsel pintu yang berkarat itu terdengar seperti jeritan nenek lampir yang lagi sakit gigi. Kelima cowok itu serentak loncat ke belakang sambil pelukan massal.
"SUARA APAAN ITU?!" teriak Gani histeris.
"Itu engsel, bego! Kurang oli!" bentak Bimo sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Jojo. "Jo, lepasin! Gue nggak bisa napas, lo meluknya kayak mau ngajak nikah!"
Memasuki Koridor Kelas VII
Mereka mulai berjalan menyusuri koridor. Cahaya senter Raka menari-nari di dinding yang catnya sudah mengelupas. Suasana hening, hanya terdengar suara langkah kaki mereka dan suara napas Dika yang kayak orang kena asma.
Tiba-tiba, dari arah laboratorium biologi, terdengar suara benda jatuh.
BRAKK!
"DEMI APA PUN GUE MAU PULANG!" teriak Dika sambil mencoba lari, tapi kerah bajunya ditarik oleh Gani.
"Tunggu dulu," bisik Bimo. "Coba cek. Siapa tahu itu cuma kucing."
"Kucing di sekolah ini pasti bukan kucing biasa, Bim," kata Jojo dengan wajah serius. "Pasti kucing yang bisa bahasa Mandarin atau minimal kucing yang udah meninggal pas ujian nasional."
Mereka mendekat ke jendela lab biologi yang gelap. Raka mengarahkan senternya ke dalam. Di sana, di pojok ruangan, terlihat sesosok putih berdiri tegak di samping lemari mikroskop.
"P-P-POCHONG!" jerit Raka. Dia saking kagetnya sampai HP-nya hampir nyemplung ke kantong sendiri.
"Mana?! Mana?!" Bimo langsung sembunyi di balik punggung Jojo.
Mereka semua mematung. Sosok putih itu tidak bergerak. Hening sejenak, sampai Jojo menyipitkan matanya.
"Bentar..." Jojo mendekatkan wajah ke kaca. "Itu bukan pocong, bego. Itu manekin anatomi manusia yang dibungkus plastik biar nggak berdebu."
Hening lagi. Kali ini suasananya canggung.
Gani: "Oh... plastik ya?"
Bimo: (Langsung berdiri tegak lagi) "Tuh kan! Apa gue bilang! Kalian sih penakut banget. Gue tadi cuma... eh, ngetes refleks jantung kalian aja."
Dika: "Ngetes refleks dengkulmu! Tadi lo meluk Jojo kenceng banget sampe Jojo biru-biru!"
Baru saja mereka mau lanjut ke lantai dua, tiba-tiba senter Raka redup lalu mati total.
"Yah, baterainya habis!" seru Raka panik. "Bim, senter lo mana?"
"Gue nggak bawa, kan gue pikir lo bawa yang paling terang!" sahut Bimo.
"Gue cuma bawa korek api," kata Gani sambil menyalakan korek gas kecil yang apinya cuma segede upil.
Dalam kegelapan total itu, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berat dari ujung koridor.
Tap... tap... tap...
Langkahnya mantap, mendekat ke arah mereka.
"Guys..." bisik Dika dengan suara bergetar. "Gue ngerasa ada yang napas di leher gue."
"Itu gue, Dik. Gue lagi deg-degan parah," kata Jojo.
"Bukan... ini napasnya bau kopi saset," kata Dika lagi.
Tiba-tiba, sebuah cahaya super terang menyorot wajah mereka berlima.
"WOII! SIAPA ITU?!" teriak sebuah suara berat dan serak.
"Aaaaaaa!!! Setan Satpam!!! Setan Satpam!!!" teriak mereka berlima serempak. Mereka balik kanan dan lari tunggang langgang tanpa arah.
Bimo menabrak tempat sampah, Raka kesandung kakinya sendiri, Gani lari sambil merem, dan Dika... Dika entah kenapa malah lari masuk ke dalam gudang olahraga dan mengunci diri dari dalam.
"Tolong! Gue dimakan setan! Gue belum kawin!" teriak Dika dari dalam gudang, padahal yang mengejar mereka cuma Pak Kumis, satpam sekolah yang lagi patroli sambil bawa kopi hitam.
Pak Kumis: "Woi! Ini saya, Pak Bambang! Bocah-bocah kurang kerjaan! Malem-malem malah main petak umpet di sini!"
Setelah insiden "Setan Satpam" alias Pak Bambang, suasana gudang olahraga SMP 45 mendadak jadi tempat pengungsian paling menyedihkan di abad ini. Dika masih meringkuk di dalam loker bola, sementara empat sisanya duduk berjajar di bangku kayu panjang sambil diceramahi Pak Bambang yang masih memegang gelas kopi.
"Kalian ini kalau mau uji nyali ya di tempat yang bener," omel Pak Bambang sambil menyeruput kopinya dengan bunyi sruuup yang keras. "Sekolah ini emang angker, tapi yang paling nakut-nakutin itu kalau saya laporin kalian ke Kepala Sekolah besok pagi."
"Jangan, Pak! Ampun!" Bimo memelas dengan wajah yang sudah kusut. "Tadi itu murni riset... riset tentang... kecepatan lari manusia saat panik, Pak."
"Halah, alasan!" Pak Bambang melirik jam tangannya. "Sekarang udah jam satu pagi. Gerbang saya kunci lagi. Kalian nggak bisa keluar lewat depan karena kuncinya dibawa partner saya yang lagi muter ke belakang."
"Terus kita lewat mana, Pak?!" tanya Raka panik. "Follower live saya udah nungguin momen saya diculik wewe gombel nih!"
"Lewat tembok belakang yang jebol itu sana. Langsung tembus ke gang sebelah," usir Pak Bambang. "Sana pergi! Ganggu orang ngopi aja."
Dengan langkah gontai, mereka menuju tembok belakang. Kali ini tidak ada lagi formasi panglima. Semuanya jalan mepet-mepet kayak sarden di dalam kaleng.
"Gue nggak mau lagi ikutan ide Bimo," gumam Gani. "Katanya mau liat penampakan, eh malah liat kumis Pak Bambang."
"Tapi jujur, pas Pak Bambang nyenter tadi, gue ngerasa hidup gue tamat," timpal Jojo. "Gue udah kepikiran mau nulis surat warisan isinya cuma akun mobile legends gue doang."
Mereka akhirnya sampai di gang gelap sebelah sekolah. Gang ini sempit, hanya cukup untuk satu motor, dan lampunya mati-nyala-mati-nyala (asli, ini bukan efek horor, emang kabelnya digigit tikus).
Saat mereka sampai di ujung gang yang menuju jalan raya, langkah Bimo mendadak terhenti. Matanya membelalak melihat sebuah siluet manusia duduk di atas motor matic di bawah lampu jalan.
"Guys... ada sosok di depan," bisik Bimo. Tubuhnya gemetar hebat.
"A-apaan lagi?" Dika hampir pingsan. "Pocong?"
"Bukan... ini lebih ngeri dari pocong," kata Bimo dengan suara tercekat.
Raka memberanikan diri mengarahkan senter HP-nya ke arah siluet itu. Begitu cahaya mengenai sasaran, kelima cowok itu serentak membatu.
Di sana, di atas motor dengan daster motif bunga dan helm yang belum diklik, berdirilah Bu Ratna, ibunya Bimo. Di tangannya, dia memegang senjata paling mematikan dalam sejarah peradaban manusia: Sapu Lidi.
"M-m-m-mama?" Bimo gagap.
Bu Ratna: "Oh, bagus ya. Katanya kerja kelompok di rumah Raka sampai pagi. Kelompok apa yang ngerjain tugas di sekolah angker jam satu malem? Kelompok pemanggil setan?!"
Bimo: "Anu, Ma... ini... kita tadi cuma mau... eh..."
Bu Ratna: (Menunjuk satu per satu dengan sapu lidi) "Raka! Dika! Gani! Jojo! Pulang kalian sekarang! Orang tua kalian udah pada nungguin di grup WhatsApp! Itu grup udah kayak kebakaran jenggot gara-gara kalian nggak bisa dihubungin!"
"MAAF, TANTE!" teriak Raka, Gani, Jojo, dan Dika secara serempak. Tanpa perlu aba-aba, mereka langsung lari kocar-kacir meninggalkan Bimo sendirian.
"Woi! Pengkhianat! Jangan tinggalin gue!" teriak Bimo.
"Maaf, Bim! Sapu lidi nyokap lo auranya lebih gelap daripada aura sekolah tadi!" teriak Dika sambil lari sekencang atlet lari gawang.
Kini tinggal Bimo yang berdiri kaku di depan ibunya. Suasana mendadak lebih hening daripada di dalam laboratorium tadi.
Bu Ratna: "Bimo... naik ke motor. Sekarang."
Bimo: "Ma, Bimo bisa jelasin—"
Bu Ratna: "Naik, atau Mama suruh satpam tadi kunciin kamu di gudang bareng kerangka manusia?"
Bimo akhirnya naik ke boncengan motor dengan wajah pasrah. Di sepanjang jalan pulang, yang terdengar bukan suara hantu, melainkan suara "kultum" tanpa henti dari Bu Ratna tentang pentingnya tidur cukup dan bahaya menjadi anak "sok jagoan".
Malam itu mereka belajar satu hal penting: Setan di SMP 45 mungkin menyeramkan, tapi emak-emak yang nungguin anak pulang di jam satu pagi adalah final boss yang sebenarnya.
Ternyata, penderitaan tidak berhenti di boncengan motor Bu Ratna. Sementara Bimo sedang "disidang" di atas motor matic, keempat anggota lainnya juga sedang menghadapi takdir yang tak kalah tragis sekaligus kocak di rumah masing-masing.
1. Kediaman Raka: "Konten Membawa Bencana"
Raka sampai di rumah dengan napas satu-satu. Ia mengira ayahnya sudah tidur, jadi dia mencoba masuk lewat jendela samping dengan gaya ala ninja.
KREKK... Jendela terbuka. Begitu Raka melompat masuk, lampu kamar mendadak menyala terang benderang. Sang ayah sudah duduk di kursi goyang sambil memegang HP Raka yang tadi tertinggal di ruang tamu (karena Raka pakai HP satu lagi buat live).
Ayah Raka: "Bagus, Ka. *Live streaming*-nya seru ya? 'Eksplorasi SMP Angker'. Tapi ada satu bagian yang Ayah kurang suka."
Raka: "E-eh, bagian yang mana, Yah? Pas ada suara langkah kaki?"
Ayah Raka: "Bukan. Pas kamu teriak 'Ayam... ayam... pocong lucu!' terus lari sambil nangis. Itu follower kamu turun lima orang gara-gara kamu cengeng banget. Sini, HP-nya Ayah sita sebulan. Besok kamu eksplorasi halaman belakang aja, cabutin rumput sampai bersih!"
2. Kediaman Dika: "Aroma Terasi yang Mencurigakan"
Dika masuk ke rumah dengan sangat hati-hati. Dia merasa aman karena rumahnya gelap gulita. Dia langsung menuju dapur karena lapar luar biasa setelah maraton dari kejaran Pak Bambang.
Dia melihat tudung saji dan membukanya pelan-pelan. Tiba-tiba, ibunya muncul dari balik kulkas dengan masker wajah putih tebal dan rol rambut di mana-mana.
Dika: "AAAAA! SETAN MASKER!" (Dika hampir pingsan, lagi).
Ibu Dika:"Ini Mama, Dika! Kamu itu ya, bau apa ini? Bau keringat, bau debu, sama bau... terasi?"
Dika:"Tadi Dika sembunyi di gudang olahraga, Ma. Banyak debunya."
Ibu Dika:"Nggak usah banyak alasan. Besok subuh kamu ikut Mama ke pasar, angkatin belanjaan! Biar otot kamu nggak cuma buat lari dari bayangan sendiri!"
3. Kediaman Gani: "Seblak yang Menjadi Mitos"
Gani adalah yang paling malang. Perutnya sudah keroncongan karena sejak awal dia hanya ikut demi janji seblak gratis dari Bimo. Sampai di depan rumah, kakaknya yang hobi *gym* sudah berdiri menghalangi pintu sambil melipat tangan di dada.
Kakak Gani:"Mana seblaknya?"
Gani: "Hah? Seblak apa, Kak?"
Kakak Gani:"Tadi lo bilang mau keluar beli seblak, makanya gue izinin jam segini. Mana?"
Gani: "Nggak ada seblak, Kak. Adanya cuma keringat dingin sama trauma masa kecil."
Kakak Gani: "Oalah, bocah koplak! Masuk sana! Ganti baju, terus kerjain PR matematika gue. Kalau nggak, gue kasih tahu Bapak lo tadi habis main ke SMP angker!"
4. Kediaman Jojo: "Logika yang Runtuh"
Jojo pulang dengan wajah paling tenang, seolah-olah baru pulang dari perpustakaan. Ayahnya, seorang guru fisika yang sangat logis, sudah menunggunya di meja makan.
Ayah Jojo:"Jo, dari mana?"
Jojo:"Observasi lapangan, Yah. Mengamati fenomena anomali frekuensi suara di gedung tua."
Ayah Jojo:"Oh ya? Terus kenapa celana kamu sobek di bagian belakang?"
Jojo:"Itu... anomali gaya gesek antara kain celana dan pagar sekolah, Yah."
Ayah Jojo:"Logika kamu bagus, tapi suara kamu gemetaran. Besok pagi, tolong observasi kenapa genteng dapur kita bocor. Kamu naik ke atas, cek satu-satu ya."
Penutup: Grup WhatsApp "Lima Sekawan (Mantan) Berani"
Sekitar jam 02.30 pagi, sebuah pesan masuk di grup mereka.
Bimo:*Guys, gue masih hidup. Tapi besok gue nggak bisa main. Gue dilarang keluar rumah sampai lulus kuliah.*
Dika:*Gue juga. Gue trauma sama masker wajah nyokap gue.*
Raka:*Gue kehilangan HP dan harga diri gue di depan penonton live.*
Gani:*Bim, janji seblak lo mana? Gue laper banget asli.*
Jojo:*Secara statistik, kita adalah lima orang paling bodoh di kecamatan ini.*
Malam itu, mereka semua tidur dengan lampu menyala, sambil memegang bantal erat-erat, menyadari bahwa hantu paling menyeramkan bukan yang ada di sekolah, melainkan omelan orang tua yang punya insting detektif melebihi FBI.
*TAMAT (Beneran)*