Sinar matahari pagi menyinari sebuah desa yang terletak di tengah tengah hutan. Pepohonan rimbun dengan daun daun hijau terdapat embun di permungkaan daunnya. Desa kecil yang hanya ada beberapa rumah,hanya sekitar sepuluh smpai lima belas rumah saja. Orang orangnya pun telah memulai kegiatan pagi mereka. Ada yang melatih kekuatan,bertani berternak,bahkan pedagang yang datang dari luar desa pun telah membuka kedainya.
Tapi berbeda dengan salah satu rumah di desa itu. Rumah yang berdiri di pinggiran desa,tidak besar,dan jarang terbuka. Di dalamnya,Vina tinggal dan hidup selama dua puluh tahun setelah kepergian Leonidas. Hanya sendiri melewati hari hari nya selama itu. Vina jarang keluar rumah,ia lebih memilih mengurung dirinya dengan terus berharap Leonidas akan mengetuk pintu rumah nya ini. Bahkan saat memberikan tiga batu titipan Leonidas saja,Vina tak banyak bicara di depan zanggi. Padahal ia sudah tahu bahwa yang ia datangi adalah ayah Leonidas,serta guru ayahnya.
Namun,begitulah ia sekarang. Vina menjadi jarang bicara, ekspresi wajahnya datar,mengisolasi diri,labih sering pergi ke hutan,atau melewati hari hari demi mengunjungi makam Leonidas. Termasuk ketika,Dera,Desva,dan Namidas pergi berkunjung. Ia tak berminat untuk berbicara panjang,kecuali pada saat ia menceritakan semua kejadian kala itu.
Dan sekarang,kebiasaan buruk itu kembali lagi pada hari ini,entah kapan ia akan berhenti dari ketidak terimaan atas apa yang sudah terjadi,. Padahal ia tau, Leonidas sendiri menyuruhnya untuk menerimanya. Memang,"menerima" itu mudah untuk diucapkan,tapi tidak untuk dilakukan.
Vina bangun,dengan terus menggantungkan harapannya pagi itu. Berharap Leonidas menjumpainya hari ini. Duduk di kasurnya dengan chemise(pakaian tidur dengan tali yang tergantung di pundak,tak berlengan,panjangnya selutut atau diatas itu) dan negligee yang menutup pundaknya . Ia tak akan beranjak dari kamarnya selang beberapa saat. Cuma,Vina hanya membuka jendela kamar,membiarkan sinar matahari masuk ke kamarnya.
Tatapan kosong setiap pagi membuatnya selalu termenung lama. Bahkan terkadang ia tertidur saking lamanya. Kali ini,Vina hanya diam,menatap kosong keluar jendela. Hangat matahari menerpa wajahnya. Setelah Vina diam cukup lama,Vina beranjak dari kasurnya. Ia pergi mandi,dan membersihkan diri.
Setelah mandi Vina keluar mengenakan gaun hijau zamrud berleher tinggi yang menutup anggun, dihiasi dua bunga putih kecil di bahu. Lengan balon dari kain sheer putih mengembang lembut, kontras dengan lapisan luar gaun yang jatuh halus hingga atas lutut. Pinggangnya diikat sabuk putih lebar dengan gesper permata toska besar. Siap untuk melakukan aktivitas seperti biasa,walaupun wajahnya tetap menyimpan awan mendung,sangking datar dan tak berekspresi nya.
Akhirnya Vina membuka pintu dan keluar menuju pusat desa. Di sana ada pasar kecil desa. Cukup tuk mencari bahan bahan makanan,karena memang,di rumah nya bahan makanan Vina telah habis.
Setelah selesai,ia kembali pulang. Sosok Vina yang sekarang tidak akan berlama lama di luar. Ia sebisa mungkin untuk menjauhi kontak sosial. Pada saat ia melewati gerbang desa,tiba tiba ada yang memanggilnya.
"Hei..!"
"Vinaa...kemarilah..!"
Dua suara itu tak terelakkan lagi. Masuk cepat menuju gendang telinganya. Tak mungkin ia Akan berpura pura tidak dengar.
"Iya,ada apa?" Jawab Vina dengan senyum terpaksa. Kemudian Vina datang mendekat.
Dua pasangan yang sedang berjaga di pos gerbang desa itu saling tatap. Cengar cengir.
"Hei..hei...dengar Vina. Tadi ada laki laki berjubah hitam yang datang,ia memakai topeng berwarna hitam juga. Ia bertanya pada kami tentang kamu dan dimana rumah mu." Ucap lelaki yang sedang jaga itu,cewek yang di sampingnya senyum tak karuan.
"Haha...mungkin dia datang untuk melamar mu,Vina."cewek penjaga itu memyela, menggoda Vina.
"Aku tidak suka itu,Kira."Vina membalas,menyebut nama cewek itu. Walaupun datar,pengisolasi diri,jarang komunikasi,Vina tetap mengenal orang desa di sana.
"Ah..jangan gitu dong..aku cuma bercanda.." balas kira.
"Oh iya,orang itu datang pagi sekali,tapi ia tak bertemu denganmu di rumah. Munkin akan datang lagi nanti." Zal,lelaki penjaga itu lebih tenang dan lebih paham situasi. Ia menjelaskan dengan baik.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih Zal." Jawab Vina singkat. Kemudian ia mulai melangkah pergi.
"Hati hati..." Zal berseru,melihat punggung Vina pergi menjauh dari pos mereka.
"Kalau dilamar,diterima ya. Dan undang kamu juga..." Kira berseru,sambil melambaikan tangan. Vina diam dan hanya terus meninggalkan dua orang itu sambil terus mengoceh dan berdebat.
"Hei kau berlebihan kira."
Nggak kok. Gak berlebihan. Apalagi doakan udah pas untuk itu,kan?"
Hingga Vina pun sampai di rumahnya. Ia masuk dan meletakkan semua yang ia beli di dapur kecilnya. Setelah itu pergi ke kamar,dan langsung membaringkan diri di kasur. Memikirkan apakah Leonidas akan datang. Dan kembali mengajaknya pergi ketempat nan jauh. Perkataan Zal tadi membuat jantungnya berdegup kencang. Merasa semua penantiannya akan berakhir. Dan orang yang ia cintai akan datang.
Tapi harapan itu kembali pupus. Dari mulai menjelang siang sampai sore hari. Tak satupun orang yang datang. Sampai sampai Vina pernah ketiduran karena lelah menunggu dan mondar mandir di rumahnya. Ia sangat yakin dengan apa yang di katakan Zal. Laki laki,,berjubah hitam,bertopeng. Itu merupakan ciri ciri identik Leonidas. Terakhir,ia tak kuat lagi. Sore itu,ketika ia mondar mandir di ruangan tengah yang tak besar,tiba tiba ia duduk membelakangi pintu,bersandar di sana. Dan mulai meneteskan air mata. Ia sungguh lelah. Lelah pikiran karena terlalu memikirkan Leonidas. Dan lelah fisik yang selalu bergerak dengan persentase berhenti yang amat sedikit
Tok tok tok...
Ketukan di pintunya terdengar. Dengan sedikit getaran pada pintu. Dengan cepat Vina bangkit. Senyum bahagia seketika terukir di wajahnya. Dengan cepat ia membuka pintu dan menyambut orang yang ada di depan pintu dengan penuh kebahagiaan. Ngeek..suara gesekan pintu yang dibuka pun terdengar.
"Le...!!...o..?"
Kebahagiaan itu menguap seketika wajah Vina yang tadinya senang,kini tampak kecewa. Bagaimana tidak? Lihatlah,yang datang bukanlah Leonidas. Melainkan seorang laki laki yang mengenakan jubah hitam,pedangnya tersandang di punggung,dan tangannya memegang sebuah topeng. Dan..itu bukan Leonidas.
"Apakah kau Vina?"orang itu bertanya dengan raut wajah yang kesal.
"Aku ingin~"
"Kalo gak ada urusan penting,entahlah dari sini!"
BAMM!!
Vina membanting pintu di depan orang itu dengan keras.
"Hei...aku tau masalahmu...kau mau dengar tidak?" Orang itu berseru dari luar rumah,ia masih di depan pintu. Sepertinya dia marah.
Ngeek...
"Masuklah kalo penting.."jawab Vina membukakan pintu.
"Iya. Terimakasih." Laki laki itu masih kesal.
"Duduklah di sana." Ujar Vina menunjuk ke sebuah karpet dari anyaman tanaman,ia tak perlu beli sofa atau karpet,dia bisa membuatnya dengan kekuatannya.
Kemudian orang itu berjalan menuju karpet tersebut. Lalu duduk bersila dengan wajah yang masih kesal. Bagaimana tidak,Vina membanting pintu didepannya.
"Maaf,aku takbisa menghidangkan cemilan. Aku belum masak apa apa." Vina berterus terang.
"Yah..tidak masalah. Lagi pula aku hanya mampir kesini,tidak lama lama." Jawab orang itu,kesalnya mulai menguap.
Lalu Vina pun duduk di depan orang itu. Membiarkan orang itu menjelaskan maksud kedatangannya. Namun di balik itu,Vina menutupi kesedihannya atas bukan Leonidas-lah yang datang.
"Jadi,apa tujuanmu kesini?" Tanya Vina.
"Oh ya...sebelum itu, aku Aster. Dan...maksudku datang kesini adalah..." Aster yang menjelaskan memberikan Vina kesempatan menebak. Tapi Vina tak menebak sama sekali.
"Adalah....jangan bersedih." Sambung Aster.
Vina yang mendengarnya terdiam sejenak. "Marah"mulai menjalar ke seluruh tubuh Vina.
"Ha.haha.ha..kau pikir itu lucu? Atau kau pikir itu membantu? Ha.ha.orang asing nan gila mana yang datang tak diundang ,dan memiliki urusan yang penting,namun hanya mengabarkan agar jangan bersedih?"Vina bicara datar,namun menekan. Aster sadar kalo dia di sindir,tapi tidak menggubris sama sekali.
"Asal kau tahu...kedatangan mu saja telah membuatku bersedih,bahkan sebelumnya,dan sebelum sebelumnya. Apakah kau tak punya hati?kau tidak tau keadaan seseorang dan kau seenaknya bilang "jangan bersedih"?" Kemudian air mata Viana mengalir di pipi,Vina tak lagi dapat menahan suasana asli hatinya.
"Hah...sudah kuduga,suasananya makin rumit."Artes menjeda melihat airmata Vina bercucuran.
"Jangan bersedih..dari the void emperor." Ucap Artes,santai. Tak memikirkan Vina yang menatapnya kebingungan.
"Jadi? Apa ini urusan yang sangat penting itu?mengenalkan ku dengan orang yang menyuruhmu? Dengar.. Aku gak tertarik sama sekali. Lagi pula,itu bahasa apa sih?" Reaksi Vina sinis. Ia sama sekali gak peduli. "Jika kau hanya membuang buang waktu ku,lebih baik kau pergi saja dari sini." Sambung Vina.
"Ah,sial. Benar yang kau katakan. Orang ini sangat keras kepala." Ucap Artes. Dan Vina menatapnya kesal.
"Baiklah,akan ku jelaskan." Dengan nada yang ramah Artes pun bersedia menjelaskan.
"Vina.. Kau kau tau,orang yang yang kau cintai,masih tetap mencintaimu. Tapi,kupikir dia sedikit kecewa terhadapmu. Kau ingat kan,ketika ia menyuruhmu agar tetap tersenyum,menyuruhmu agar tetap menyayangi dirimu,menyuruhmu agar menerima apa yang terjadi. Namun lihatlah,dia kecewa,Vina. Kecewa ketika mengetahui orang yang ia cintai seperti ini. Kau seperti orang yang tidak niat hidup.Aku sesekali diperintahkan untuk menyelidiki mu,dan ketika aku menyampaikannya padanya,ia terlihat kecewa."
"Tu-tu-tunggu...Apa maksudmu? Siapa yang kau maksud? Apakah yang kau maksud itu..." Tiba tiba Vina menyela perkataan Artes.
"Ya...Kau tau siapa dia kan... Dia hidup,dia hidup di tempat yang sepi,dingin dan gelap. Tak ada siapa siapa. Sesekali ia menepi,keluar dari kehampaan. Melihatmu dari atas sana. Terkadang,dalam beberapa kali keluar,ia tak menemukanmu. Dia juga merindukan mu. Walaupun begitu,dia masih punya hati dan perasaan,maka jangan bersedih. Dia ingin kau menikmati hidup mu. Jika kau sedih maka ia juga akan bersedih. Kau tau siapa dia? Ya dialah Leonidas,The Void Emperor (kaisar kehampaan)Keeper of the endless darkness (penjaga kegelapan yang tak berujung." Artes menutup perkataannya.
Namun,raut muka Vina berubah. Terlihat ia menyimpan banyak kesedihan.
"Tapi kenapa? Kenapa ia tak datang?"tanya Vina,hampir tak terdengar oleh Artes.
"Karena,dia belum bisa kembali ke ovarder,Vina. Bukannya dia mengabaikanmu,tapi belum saatnya saja. Dan aku mengenalnya karena ia mengangkat ku ketempatnya. Jujur,aku orang liyasmuth. Ia tak bisa mengangkat orang ovarder."
"Maka dari itu,dia ingin melihatmu ceria,menjalani hidup dengan biasanya,tidak mengisolasi diri lagi. Dan lihatlah ia,kurasa dia punya tempat bersemayam di hati mu,mungkin karena itu juga ia tahu." Ucap Artes panjang lebar. Dan Vina juga tak dapat membendung air matanya. Air mata itu jatuh di pipi.
"Terakhir,ia berpesan... Jangan bersedih lagi,jika kau mencintainya,cintai dirimu. Jika kau menyayanginya,sayangi dirimu. Kau tidak akan dapat menyayangi orang lain jika dirimu belum kau sayangi. Dan dia janji,dia akan menemui mu dan juga akan menempati janjinya untuk selalu bersama denganmu. Itu saja,aku mohon pamit." Artes pun bangkit dari duduknya berjalan pelan menuju pintu. Dan Vina masih saja duduk di sana tidak bergeming.
Ketika Artes sudah tiba di halaman rumah. Tiba tiba Vina keluar menuju teras rumah. Hal itu sontak membuat Artes terkejut.
"Ada apa lagi Vina?" Tanya Artes.
"Katakan padanya,aku mencintainya,dan akan menunggunya disini."
Artes tersenyum,iapun mengacungkan jempol,tanda setuju.
"Terimakasih banyak."seru Vina. Artes tak menjawab,ia kembali mengacungkan jempol tinggi tinggi. Dan berlalu pergi.
"Maafkan aku... Aku tidak bisa menjadi diriku... Tapi sekarang aku akan berubah...Terimakasih... Kau selalu mendukung ku dan percaya padaku. Aku akan mengurangi kesedihanku. Dan aku akan berusaha bahagia untukku dan untukmu. Leo... Akan ku tunggu kau disini,selama apapun itu. Dan jika kau kembali,aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin membangun keluarga kecil bersamamu disini. Selama bintang masih bersinar,dan selama aku bisa menghirup udara segar,aku akan selalu ada untukmu,ketika kau kembali,atau suatu saat nanti." Gumam Vina lirih. Ia kembali meletakkan harapannya di salah satu bagian hatinya. Menjadikannya salah satu harapan yang akan selalu ia harapkan kenyataannya. Entah kapan ia kembali bertemu,entah itu didunia atau di alam sana. Ia tidak tahu.
Diumurnya yang ke lima puluh tahun. Vina tidak berubah sama sekali,penampilannya masih terlihat cantik nan anggun terpancar.Namun peluh mengalir di pelipisnya,ia lelah. Kali ini ia harus mencari kayu bakar ke hutan. Ia istirahat sejenak,menikmati angin sejuk di bawah sebuah pohon. Sekalian mencuci tangannya yang kotor saat mengumpulkan kayu bakar,di sungai kecil dekat sana. Kemudian kembali menuju pohon tempat ia istirahat tadi. Lalu duduk bersandar pada pohon tersebut. Sangking menikmatinya,ia menutup matanya. Di bawah pohon itu memang sejuk.
"Hah...Lelahnya..."gumam Vina.
"Lelah ya?"
Vina terkejut,dan langsung membuka matanya. Menoleh noleh,mencari suara yang jelas jelas sangat ia kenali. Tiba tiba,sebuah kepala menciduknya dari balik pohon,tempat Vina bersandar.
"Hei...disini" suara itu kembali terdengar.
Vina langsung menoleh ke belakang dan sedikit menengadahkan kepalanya ke atas. Sontak ia kaget. Vina pun tak dapat lagi menahan dirinya. Ia seketika bangkit Dan memdekat kepada orang itu.
"Leoo!"
Vina pun langsung memeluk tubuh orang itu,dan menangis bahagia.
"Kau benar benar menunggu ku,Vina."
Itu adalah pertemuan yang mengharukan bagi Vina,setelah 33 tahun berpisah dengan Leonidas. Pada akhirnya mereka mewujudkan keinginan merwka untuk selalu bersama,dengan membangun sebuah keluarga kecil,di desa kecil itu pula.