Keesokan paginya aku berjalan menuju kantor, entah kenapa pagi ini aku merasa sangat lapar. Sesampainya di depan kantor aku tidak langsung masuk berkerja melainkan sarapan di kantin.
" Selamat pagi Karin" ucap ibu kantin.
" Pagi juga, aku sangat lapar" ucap ku.
" Kebetulan pagi ini rotinya sudah matang" ucap ibu kantin.
Aku duduk di sebuah meja panjang, menunggu ibu kantin membawakan secangkir teh hangat dan roti yang baru selesai di panggang.
Seseorang melihat ku dari kejauhan, dia menyipitkan matanya sambil melihat ke arah ku. Karena merasa belum yakin dia mulai menghampiri ku, semakin dekat arah pandangnya semakin jelas juga dia melihat ku.
" Ini dia teh hangat dan rotinya, ada selai kacang juga jika kamu mau" ucap ibu kantin.
Aku sangat antusias saat akan makanan hidangan di hadapan ku tanpa menyadari seseorang yang sudah berada tepat di belakang ku.
" Sepertinya terlihat enak, aku juga mau yang seperti ini" ucap Luca.
" Pak Luca mau kopi atau teh?" Tanya ibu kantin.
" Teh saja dan juga roti" ucap Luca.
Ibu kantin pergi meninggalkan kami berdua, aku mulai mencelupkan sepotong roti ku di dalam teh dan memakannya.
" Aduh panas!" Ucap ku sambil meniup roti ku dengan imut.
" Padahal ini masih pagi hari tapi kamu sudah ke kantin lebih dulu, sedangkan teman-teman mu yang lain mungkin sudah bekerja" ucap Luca.
" Semalam karena lelah aku langsung tertidur hingga pagi dan tidak sempat makan" jawab ku.
Ibu kantin membawakan teh dan roti untuk Luca, ibu kantin yang melihat ku begitu suka dengan roti buatannya memberikan ku sepotong roti lagi.
" Makan pelan-pelan nanti kamu tersedak" ucap ibu kantin.
" Terima kasih " ucap ku.
Karena Luca ada di sampingku, aku mulai memikirkan sesuatu untuk lebih menarik perhatian Luca, Aku mengambil sepotong roti dan memasukannya dalam mulut ku.
" Uhuk...uhuk..." Aku pura-pura tersedak sambil memukul-mukul dadaku.
Luca yang melihat ku tersedak mulai mengambil air botol di hadapannya dan membukanya untuk ku, aku lalu memegang tangan Luca yang memberikan ku air.
( Akhirnya aku bisa memegang tangan nya pagi ini) Fikir ku senang.
" Hahhh!" Aku mengambil nafas panjang sambil memegangi tangan Luca.
" Apa kamu tidak apa-apa? Tanya Luca sedikit khawatir.
Aku perlahan mulai bernafas dengan normal, Luca terus menepuk pundak ku dan tangan satunya masih memegang botol air untuk ku.
Dari kejauhan Siti melihat ku bersama Luca dengan wajah yang sangat marah, Karena merasa kesal Siti membuang kipas yang sedang di genggamannya lalu pergi dengan perasaan kesal dan penuh dendam.
" Lihat saja nanti, akan ku buat kamu merasakan akibatnya karena menggoda Luca" ucap Siti sambil tersenyum jahat.
Setelah kejadian romantis yang ku ciptakan di kantin bersama Luca, Aku mulai masuk kantor dan absen. Aku berjalan ke arah mejanya ku, banyak yang menyapaku, aku membalas sapaannya mereka sambil tersenyum manis.
Karena pagi ini perasaanku sangat senang, aku merasa sangat bersemangat untuk bekerja. Semua kerjaan ku yang sudah menumpuk ku selesaikan saat itu juga, aku bahkan melewatkan makan siang.
Pak Edwin yang melihat ku masih bekerja di jam makan siang mulai menghampiri ku.
" Sepertinya hari ini kamu sangat bersemangat dalam bekerja yah?" Ucap pak Edwin.
"Iya pak, saya ingin menyelesaikan semuanya sekaligus" jawabku.
Pak Edwin mulai berdiri di sampingku, sambil berpura-pura memeriksa pekerjaan ku. Tangannya memegangi kuris ku dan tangan satunya memegangi meja kerjaku, Aku yang merasa tidak nyaman mulai menjauhkan diri sedikit demi sedikit.
Pak Edwin menahan kursi ku karena melihat ku menjauh, kuris ku di tarik lagi oleh pak Edwin agar aku lebih dekat dengannya.
" Sepertinya yang ini butuh perbaikan sedikit" ucap pak Edwin sambil memegangi komputer ku dan mengambil kesempatan menyentuh jari jemari ku.
Aku yang mulai merasa kesal tiba-tiba berdiri dari kursi ku dan tanpa sengaja melihat siti yang sedang merekam video lewat pantulan kaca di meja teman ku, entah kebetulan atau tidak tapi rasanya aku tau bahwa aku sedang di jebak.
Siti yang tidak sadar sudah ketahuan oleh ku masih sibuk merekam sedangkan pak Edwin masih berdiri di hadapanku, karena tidak ingin masuk jebakan mereka aku mulai memikirkan siasat jahat untuk membalas mereka.
Entah kenapa saat itu Aku langsung memikirkan Luca, membuat ku mendapatkan sesuatu rencana yang akan menghancurkan mereka berdua Sekaligus (akan ku ikuti
permainan mereka dan ku balas dengan lebih kejam) fikir ku.
Aku duduk kembali di kursi milikku, pak Edwin yang melihat itu kembali mendekati ku dengan cara yang sama.
" Maaf mas, jangan terlalu dekat takut orang yang ada di cctv melihat dan mulai salah paham" ucap ku Dengan lembut sambil menyentuh jarinya.
Pak Edwin yang melihat aku menyentuh jarinya dengan lembut mulai melihat ke arahku dengan tatapan mesumnya, pak Edwin langsung berdiri dan membenarkan jasnya.
" Kalau sudah selesai bawa dokumennya ke ruanganku" ucap pak Edwin dengan lantang.
" Baik pak, habis ini Saya akan langsung ke ruangan anda.
Siti yang mendengar itu mulai tersenyum jahat dan memberhentikan rekamannya ( kamu akan tamat hari ini Karin) ucap Siti.
Aku berdiri sambil membenarkan pakaian ku sambil memikirkan sebuah rencana;
( Di dalam ruangannya yah? Bukannya di sana ada cctv juga, kalau dia beneran mau melecehkan ku di dalam sana hanya ada satu kemungkinan. Mungkin cctv-nya sudah di rusak oleh Siti, ada mungkinan rekaman yang di ambilnya akan menjadi bukti ketika dia ingin mengfitnah ku nanti. Kalau benar seperti itu akan lebih mudah bagiku untuk menyeretnya selagi aku punya kartu As itu, walaupun nanti alasan ku tidak masuk akal tapi selama ada kartu As itu aku bisa menyeret mereka berdua ke neraka) fikir ku.
Aku berjalan menuju ruang pak Edwin dan sudah sampai di depan pintunya, aku berhenti sebentar untuk mengamati situasinya sekalian melihat jam di dinding.
" Aku harus membuat Siti keluar dari tempat persembunyiannya" fikirku.
Pak Edwin yang melihat ku berdiri di depan pintu menyuruhku untuk masuk, namun aku tetap berdiri di depan pintu.
" Bukannya ruangannya sedikit tertutup pak? Kenapa tirai gordennya di tutup semua?" Tanyaku.
" Saya sedang sakit kepala jadi tidak bisa melihat cahaya terang" jawabnya.
" Kalau begitu nanti saja saya berikan laporannya pak, seperti juga tadi laporan saya ada yang salah" Ucapku.
Aku masih berdiri di depan pintu, Pak Edwin mulai menghampiri ku. Aku merasakan ada seorang di belakang ku yang mulai mendekat, aku berbalik arah dan mendapati Siti. Siti langsung mendorong ku dengan sangat keras hingga aku terhempas dan jatuh di pelukan pak Edwin, Siti langsung mengunci pintu ruangannya dengan cepat.
" Siti buka" teriak ku dari dalam.
Aku terus menggedor pintunya hingga aku berhenti ( kena kau, ucap ku dalam hati sambil tersenyum). Aku berbalik arah dan melihat pak Edwin sudah berada di hadapan ku, Aku menatapnya Dengan tatapan tidak berdaya.
Pak Edwin yang melihat ku langsung memelukku ku dan ingin mencium ku, namun aku menghalanginya sambil mengulur waktu. Aku memegang dada pak Edwin sambil memainkan dasinya, pak Edwin yang melihat aku tidak memberontak mulai merasa senang.
" Apa Anda tau, aku sangat mengagumi anda. Anda yang begitu berkarisma setiap harinya membuat dadaku selalu berdetak kencang" ucap ku sambil memikirkan Luca yang begitu keren.
" Aku tau, setiap pagi aku selalu tampil berkarisma dan tampan hanya untukmu" ucapnya.
" Benarkah, apa semuanya hanya demi aku?" Ucapku manja.
Aku menarik sedikit jas pak Edwin agar dia mendekatkan tubuhnya padaku, pak Edwin yang merasa aku menarik jasnya mulai melakukan apa yang ku pikirkan.
" Aku selalu memikirkan mu setiap hari bahkan di malam hari, apakah kamu mau jadi istri kedua ku?" Ucap pak Edwin dengan percaya diri.
" Aku juga selalu memikirkan mu setiap saat, wajah yang tampan, tubuh yang kekar dan berotot membuat ku ingin memilikinya.ohhh Luca ku, aku sangat mencintaimu" ucapku dengan lantang.
" Luca?" Ucap pak Edwin memastikan perkataan ku.
" Iya Luca, aku dari tadi terus membahas soal Luca. Ohhh... Apa bapak kira aku membahas soal bapak?" Ucap ku.
" Hahaha... Bapak lucu sekali, mana mungkin aku suka pada laki-laki tua yang sudah bau tanah seperti bapak" ucapku dengan wajah sedih sambil mengeluarkan air mata.
" Dasar kamu wanita gila" ucap pak Edwin kesal sambil mulai mencekik leherku.
Aku hanya tertawa sambil berusaha melepaskan tangannya dari leherku, di sisa nafasku aku melihat ke arah Siti yang sedang merekam Dengan wajah yang menyedihkan.
Siti yang menyaksikan itu dari balik kaca hanya bengong dan mulai tersenyum, Siti bahkan bisa melihat wajahnya yang tersenyum dengan menyeramkan dari pantulan kaca di hadapannya.
Sebelumnya....
Siti yang merekam dari balik kaca ruang;
" Sial... Aku tdk bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua di dalam, aku lupa kalau ruang kerja ayah kedap suara" ucap Siti kesal.
Di saat yang bersamaan Siti melihat ayahnya mencekik ku;
" Apa yang ayah lakukan? Kenapa dia mencekik Karin" ucap Siti terkejut.
Akan tetapi semakin lama Siti semakin senang melihatku berusaha melepaskan tangan ayahnya dari leherku;
" Apa yah berniat menghabisi Karin, hahaha... Bagus ayah, buat dia tidak bernapas untuk selamanya. Aku sangat benci ketika dia mulai tersenyum menjijikan pada orang-orang di sekitarnya, bahkan semua orang yang dulu tunduk pada ku mulai melawan ku karena dia" ucap Siti sambil tertawa bahagia.
Tatapan mata kami bertemu, siti yang tau aku sedang melihat kearahnya mulai tersenyum dengan mengerikan dan melambaikan tangannya padaku.
( KAU AKAN MATI) Ucap Siti dari balik kaca dengan mata melotot.
Sekarang...
Di sisa nafasku, aku menendang kemaluan pak Edwin dengan sangat keras hingga dia berhenti mencekikku dan terjatuh sambil menjerit kesakitan memegang kemaluannya.
Aku terduduk dan mengambil nafas panjang, Dengan cepat aku berdiri dan mengangkat kuris besi lalu menghancurkan kaca yang ada di hadapanku.
" Prank..." Bunyi kaca hancur.
Aku melihat jam di dinding yang menunjukkan waktu makan siang sudah selesai, untuk menyempurnakan rencanaku aku menarik baju ku hingga kancingnya terbuka dan memperlihatkan bh ku yang berwarna hitam.
Aku berlari terengah-engah hingga di depan pintu masuk dan akhirnya menabrak Luca yang di ikuti beberapa karyawan lainnya termasuk teman-temanku, Luca langsung menangkap tubuhku dan memelukku.
Aku mulai jatuh terduduk di ikuti dengan Luca;
" Apa yang terjadi padamu? Kenapa Kamu berantakan dan kakimu penuh luka seperti ini" tanya Luca dengan sangat khawatir.
Luca yang melihat kancing bajuku sudah terlepas mulai menutupinya, teman-teman ku yang melihat ikut menghampiri ku. Luca melepaskan jasnya dan mulai menutup tubuh ku, Aku melihat wajah Luca yang memerah Karena menahan amarahnya.
" Karin kembali kau, aku akan membunuhmu sekarang juga!" Teriak pak Edwin dari dalam ruangan.
Luca yang mendengar suara pak Edwin mulai mendekat langsung berdiri dan melindungi ku, pak Edwin menabrak tubuh Luca yang besar dan jatuh tersungkur sambil masih memegang kemaluannya.
" Aku butuh penjelasan, apa yang sedang terjadi di sini" ucap Luca dengan menahan amarahnya.
" Aku bisa menjelaskan apa yang terjadi, aku melihat Karin menggoda pak Edwin tadi" ucap Siti.
" Apa yang kamu katakan, mana mungkin Karin menggoda pak Edwin" bantah salah satu temanku.
" Aku ada buktinya" ucap Siti dengan percaya diri.
Siti memperlihatkan rekaman videonya yang sudah di potong dan di edit;
" Ini pasti rencana busuk yang kamu buat untuk menjebak Karin kan" ucap salah satu temanku.
" Menjebak apa? Buktinya sudah di depan mata" ucap Siti ngotot.
Aku menghentikan teman ku dan menyuruhnya untuk diam;
" Siti dan pak Edwin menjebak ku" ucapku terengah-engah.
" Jangan asal nuduh kamu, jelas-jelas aku lihat kamu menggoda pak Edwin" ucap Siti.
" Yang di katakan Siti benar, Karin mencoba menggoda ku. Dia bahkan menawarkan dirinya agar bisa menjadi istri kedua ku" tumpa pak Edwin.
" Apa kalian sudah puas mengfitnah ku" ucapku ku yang mulai terisak.
" Karin apa kamu punya bukti yang kuat?" Tanya Luca.
" Aku punya " jawabku.
( Ini saatnya aku menggunakan itu, Fikir ku).
Aku menjelaskan semua dari awal pak Edwin mendekati ku, hingga menyuruhku untuk ke ruangannya. Aku juga menceritakan ketika aku melihat siti yang mendorong ku agak masuk ke ruang pak Edwin dan menguncinya, hingga saat pak Edwin mencekik ku dan aku lihat Siti dari balik cermin dengan wajah yang mengerikan dan berharap aku mati saat itu.
" Aku ada rekamannya, mungkin siti dan pak Edwin tidak sadar bahwa ada cctv lain di ruang ini" ucapku.
( Cctv yang aku pasang sendiri dan terhubung langsung di handphone ku hanya untuk memperhatikan Luca yang sedang lembur di kantor)
Luca yang ikut melihat kejadian waktu aku di cekik oleh pak Edwin langsung melirik kearah ku dan benar-benar melihat bekas cekikan di leher ku, aku langsung berpura-pura menghindar tatap mata Luca. Aku memperlihatkan semuanya buktinya sesuai seperti yang aku ceritakan, Luca yang lebih percaya padaku mulai menarik kerah baju pak Edwin dan langsung melayangkan tinjunya.
Anak pak bos dan salah satu teman baikku langsung menelpon ayahnya untuk datang ke tempat kerja sekarang juga, Luca langsung berjalan kearah ku dan menggendong ku.
" Luca tolong percaya padaku, dia berbohong Luca aku jelas-jelas punya buktinya" ucap Siti putus asa.
Anak pak bos yang melihat siti langsung menariknya dan menamparnya berkali-kali, bahkan ada yang ikut menjambak rambut Siti hingga tercabut dan rontok.
Luca dengan cepat menelpon rumah sakit dan meminta mobil ambulance segara datang, aku hanya duduk di kursi sambil memperhatikan Luca dengan wajah seriusnya. Selesai menelpon Luca lalu menghampiri ku dan duduk di samping kursi ku, Luca hanya terdiam sambil menatap kearah ku.
" Aku baik-baik saja" ucapku sambil memegangi wajah Luca.
( Lagi-lagi tangan ku reflek memegangi wajahnya)
Luca menggenggam tangan ku, aku sempat berfikir mungkin dia tidak nyaman seperti dulu saat aku memegangi wajahnya dan menyuruh aku melepaskannya. Tapi kali ini Luca melakukan hal yang berbeda, bukannya melepaskan tangan ku Luca malah menggenggam tangan ku dengan lembut sambil tetap melekatkan tangan ku pada pipinya.
Aku yang melihat Luca begitu manja membuat ku tdk bisa menyembunyikan wajah senang ku, aku mengambil nafas panjang sambil mengontrol wajah ku agar kembali normal.
" Luca kenapa kamu menangis?" Aku agak terkejut melihat air mata mengalir ke pipi Luca dan membasahi telapak tangan ku.
Luca hanya terdiam dan sesekali terisak, aku memeluk Luca sambil menepuk-nepuk pundaknya hingga ambulance datang.
" Pasiennya ada di sini" ucap Luca.
" Seharusnya tidak perlu memanggil ambulance" ucap ku.
" Aku akan menyusul setelah urusan ku selesai di sini" ucap Luca.
" Baiklah, aku akan menunggu ku" ucapku sambil tersenyum sebelum ambulance pergi membawa ku.
Kabarnya Luca dan yang lain ikut menghakimi pak Edwin dan Siti, pak Edwin di jebloskan ke dalam penjara karena percobaan pembunuhan dan pelecehan sedangkan Siti di pecat secara tidak terhormat dan di masukan kedalam rumah sakit jiwa.
Seminggu setelah kejadian itu aku menjalani hari-hariku seperti biasanya bersama teman-teman dan juga Luca, aku dan Luca masih dalam pendekatan tetapi banyak yang mengira kami sudah berpacaran.
Perhatian yang Luca berikan padaku setiap hari seperti menjemput dan mengantarkan ku pulang ke rumah, dalam perjalanan aku hanya terdiam melihat ke arah luar jendela mobil Luca.
" Apa kamu lebih suka melihat kearah luar jendela dari pada melihatku" ucap Luca.
Aku berbalik dan mengikuti permintaan Luca dengan melihatnya terus-menerus sambil mendekatkan wajahnya ku dengan mata agak sedikit melotot hanya untuk mengejeknya, Luca tanpa aba-aba mendekatkan wajahnya padaku dan langsung mencium lembut bibirku lalu kembali fokus menyetir.
Aku yang sedari tadi mencerna ciuman Luca mulai memegangi bibir ku, rasanya senang,kaget, tidak percaya bercampur jadi satu.
" Karin, apa kamu ingin jadi pacarku?" Ucap Luca.
" Mauuu..." Kataku tanpa berfikir panjang."
Luka menggenggam tangan ku, aku terus menatap tangan Luca yang besar dan berurat. Sesekali aku memainkan jari jemarinya."
" Sebenarnya aku sudah menyukaimu sejak lama Karin" ucap Luca.
" Sejak kapan?" Tanyaku.
". Sejak aku mulai bekerja di sana hingga sekarang" jawabannya santai.
" Selama itu?" Tanyaku tidak percaya.
" Kamu bercanda kan, Kamu pasti hanya ingin menghibur ku karena habis mencium bibirku_ ucapku sedih.
" Aku serius dengan perkataanku" jawabannya menatap mataku sementara dan fokus ke jalan lagi.
" Tapi kenapa kamu berpacaran dengan Siti saat itu? Kamu bahkan menangis untuknya saat dia selingkuh dengan lelaki lain" tanyaku agak kesal.
" Aku hanya memanfaatkannya, Siti pernah bilang dia akan membantu ku untuk naik jabatan dengan cepat dan instan dengan bantuan ayahnya. Karena saat itu Siti sangat tergila-gila padaku, mungkin tidak ada salahnya memanfaatkannya" jawab Luca.
" Saat tau siti sedang berselingkuh aku memanfaatkan situasi itu agar bisa putus dengannya, sebenarnya selingkuhan Siti adalah orang suruhan ku, aku menyuruhnya untuk menggoda Siti saat itu" ucap Luca.
" Aku juga tau kamu sangat terobsesi dengan ku, saat mengetahui itu aku sangat senang. Aku juga tau cctv yang kamu pasang itu hanya untuk memperhatikan ku di tempat kerja, makanya aku selalu duduk di tempat yang sama setiap kali lembur" ucap Luca panjang lebar.
" Sudah...! Cukup, kamu membuat ku malu" ucapku dengan wajah memerah.
" Baiklah aku akan berhenti mengejek mu" ucap Luca.
Aku memeluk Yang Luca sambil menggenggam tangannya, Luca menyandarkan kepalanya di atas kepalaku, posisi kami tidak berubah hingga kami sampai di depan rumah ku.
" Mau menginap?" Tawar ku.
" Kalau di izinkan " ucap Luca.
" Kalau begitu parkir mobil mu dan kita masuk bersama" ucapku senang.
Kami saling bertatapan satu sama lain hingga kami kembali berciuman agak lama dalam mobil, Aku yang sedari tadi mendengarkan perkataannya Luca merasa sangat senang ( ternyata kami berdua sama gilanya) Fikir ku bahagia.
END...