Langit sore itu mulai meredup saat enam orang itu masih berjalan tanpa arah di tengah hutan lebat.
Nasya menggenggam tangan Melvin erat, napasnya mulai tak beraturan.
“Aku bilang juga jangan terlalu jauh masuk!” bentak Agnes sambil menepis ranting yang menghalangi jalannya.
“Loh, yang ngajak siapa?!” balas Gusti kesal.
Karan hanya diam, tapi wajahnya tegang. Sementara Karmel mencoba menenangkan suasana, meski suaranya sendiri gemetar.
Mereka adalah tiga pasangan yang awalnya ingin petualangan romantis. Tapi sekarang, hari ketiga di hutan itu, semuanya berubah jadi mimpi buruk.
Hari pertama mereka masih tertawa.
Hari kedua mulai panik.
Hari ketiga… mereka hampir putus asa.
Persediaan makanan menipis. Air hanya dari sungai kecil yang rasanya pahit. Kompas tak berfungsi. Sinyal? Tidak ada.
“Aku udah capek…” Nasya terduduk lemas.
Melvin mencoba kuat. “Kita pasti keluar. Harus.”
Tapi dalam hatinya, dia sendiri mulai ragu.
Saat matahari hampir tenggelam, mereka melihat sesuatu di kejauhan.
Sebuah rumah tua.
Kayunya hitam lapuk. Atapnya miring. Jendela pecah sebagian.
Seperti tidak pernah dihuni… tapi juga seperti tidak pernah kosong.
“Apa kita… nginep di situ?” tanya Karmel pelan.
Semua saling pandang.
Tak ada pilihan lain.
Begitu masuk, udara di dalam rumah itu dingin.
Bukan dingin biasa… tapi dingin yang menusuk tulang.
Lantai berderit setiap mereka melangkah.
Ada bau lembab… bercampur sesuatu yang amis.
“Kayak… bau darah,” bisik Agnes.
“Jangan aneh-aneh,” potong Karan cepat,
meski dia sendiri merinding.
Mereka memilih satu ruangan besar untuk berkumpul.
Lampu senter jadi satu-satunya penerangan.
Malam pun turun.
Sekitar pukul dua belas malam…
Tok… tok… tok…
Suara ketukan terdengar dari lantai.
Nasya langsung memeluk Melvin. “Kamu denger itu?”
Semua diam.
Tok… tok… tok…
Kali ini lebih keras.
“Dari bawah…” bisik Gusti.
Padahal… rumah itu tidak punya lantai bawah.
Tiba-tiba…
BRAK!
Pintu di ujung ruangan terbuka sendiri.
Angin dingin masuk, membawa suara… seperti orang menangis.
“Siapa di sana?!” teriak Karan, berusaha berani.
Tidak ada jawaban.
Hanya… suara langkah kaki.
Krek… krek… krek…
Mendekat.
Agnes menyorotkan senter ke arah pintu.
Dan saat cahaya menyentuh…
Mereka semua membeku.
Di sana berdiri sosok perempuan.
Rambutnya panjang menutupi wajah.
Bajunya putih… penuh noda hitam seperti darah kering.
Kepalanya miring… tidak normal.
Dan perlahan… dia mengangkat wajahnya.
Matanya kosong.
Hitam pekat.
Mulutnya tersenyum… terlalu lebar.
Nasya menjerit.
“LARI!!!” teriak Melvin.
Mereka semua panik.
Tapi saat berlari ke pintu keluar…
Pintu itu hilang.
Diganti dinding kayu tua.
“INI GAK MUNGKIN!!” Gusti memukul dinding itu.
Tangisan mulai pecah.
Suara perempuan itu kembali terdengar…
Dekat sekali.
“Kenapa… kalian masuk…?”
Tiba-tiba Karmel menjerit.
Semua menoleh.
Sosok itu… sudah berdiri di belakang Karmel.
Tangannya panjang… menyentuh bahu Karmel.
Kulitnya… hitam dan membusuk.
Karan mencoba menarik Karmel.
Tapi…
Karmel seperti membeku.
Matanya kosong.
Mulutnya bergerak pelan…
“Aku… gak mau keluar…”
“KARMEL!!” teriak mereka.
Tapi tiba-tiba…
Lampu senter mati.
Gelap total.
Dalam kegelapan, mereka mendengar suara lain…
Banyak suara.
Bisikan.
Tangisan.
Dan… tawa.
Ketika senter kembali menyala…
Karmel sudah tidak ada.
Hilang.
Begitu saja.
Malam itu jadi malam terpanjang dalam hidup mereka.
Agnes menyalahkan Gusti.
Gusti balik marah.
Nasya histeris.
Melvin hampir putus asa.
Karan… diam, tapi matanya kosong.
Dan dari sudut ruangan…
Kadang mereka melihat sosok itu.
Mengawasi.
Pagi akhirnya datang.
Dan… anehnya…
Pintu rumah itu kembali ada.
Mereka tidak berpikir dua kali.
Langsung lari keluar.
Hari itu mereka berjalan tanpa henti.
Meski lelah, meski lapar, meski trauma…
Mereka terus berjalan.
Tanpa Karmel.
Hari ketiga setelah keluar dari rumah itu…
Mereka akhirnya menemukan jalan keluar dari hutan.
Orang-orang desa menemukan mereka dalam keadaan kacau.
Saat ditanya apa yang terjadi…
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan jelas.
Hanya satu hal yang mereka sepakat:
Rumah itu tidak boleh ditemukan lagi.
Beberapa minggu kemudian…
Nasya mulai bermimpi.
Dalam mimpinya…
Dia berdiri di depan rumah itu lagi.
Dan di jendela…
Karmel berdiri di sana.
Tersenyum.
Dengan mata hitam… dan wajah yang bukan lagi miliknya.
Dan setiap kali Nasya bangun…
Dia selalu mendengar…
Tok… tok… tok…
Dari bawah tempat tidurnya.
selesai