Hujan turun deras saat Sasa berlari memasuki gerbang sekolah elit itu. Seragamnya sedikit basah dan napasnya terengah karena lagi-lagi terlambat. “Aduh… kalau sampai ketahuan Pak Damar aku bisa dihukum lagi…” gumamnya panik. Namun baru beberapa langkah di koridor utama, tubuhnya menabrak seseorang hingga buku-bukunya jatuh berserakan.
“Kalau jalan pakai mata.”
Suara dingin itu langsung membuat suasana sekitar mendadak hening. Sasa mendongak dan refleks memutar mata kesal. Leo Mahardika. Ketua geng Eleven Crown yang terkenal di seluruh sekolah. Cowok kaya raya, anak tunggal keluarga Mahardika, tampan, pintar, tapi sombong dan dingin setengah mati. Di belakang Leo berdiri sepuluh anggota gengnya yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi—Raka, Dean, Axel, Evan, Nino, Reza, Kai, Daren, Vino, dan Arsen. Total mereka sebelas orang, dan semua siswa takut pada mereka.
Berbeda dengan Sasa. Gadis itu hidup sederhana bersama keluarganya. Ayahnya seorang montir dan ibunya membuka warung kecil di rumah. Sebagai anak pertama, Sasa terbiasa membantu pekerjaan rumah sambil menjaga adik-adiknya. Untungnya ia punya empat sahabat yang selalu menemaninya: Mira yang cerewet, Reni si pemberani, Dita si jahil, dan Cila yang paling lembut.
“Maaf ya, Tuan Kaya Raya,” sindir Sasa sambil memungut bukunya.
Tatapan teman-teman Leo langsung berubah tegang. Tidak ada yang pernah berani bicara seperti itu pada Leo.
Namun Sasa malah berdiri tegak menatapnya. Leo menyipitkan mata. “Kalau miskin jangan ceroboh.”
Kalimat itu langsung membuat darah Sasa mendidih. Tanpa pikir panjang, ia melempar bukunya ke dada Leo. “Kalau kaya jangan sombong!”
Koridor langsung heboh. Semua orang membeku karena shock. Bahkan Dean sampai melongo melihat ada cewek yang berani melawan Leo. Sedangkan Leo sendiri hanya diam menatap Sasa yang pergi begitu saja sambil mendecih kesal.
Dan sejak hari itu, perang mereka dimulai.
Sasa selalu sengaja menyenggol Leo di koridor. Leo selalu membalas dengan sindiran dingin. Mereka bertengkar hampir setiap hari sampai seluruh sekolah hafal kalau keduanya memang musuh bebuyutan. Anehnya, semakin Leo kesal pada Sasa, semakin ia memperhatikan gadis itu.
Leo mulai sadar kalau Sasa berbeda dari perempuan lain yang selalu mendekatinya karena uang dan popularitas. Sasa tidak pernah takut padanya. Bahkan gadis itu sering menatap Leo seolah dirinya hanyalah manusia biasa, bukan orang paling berpengaruh di sekolah.
Suatu malam, Leo baru pulang dari balapan liar bersama gengnya saat mobilnya berhenti di lampu merah. Tanpa sengaja ia melihat Sasa duduk di depan warung kecil sambil menghitung uang receh. Gadis itu masih memakai seragam sekolah dengan wajah lelah.
“Itu warung keluarganya,” ucap Raka pelan.
Leo diam cukup lama. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain dari Sasa. Gadis yang selalu terlihat kuat itu ternyata hidup sekeras itu.
Sejak malam itu sikap Leo perlahan berubah. Diam-diam ia mulai membantu Sasa. Saat Sasa dihukum membersihkan aula sendirian, Leo datang tanpa bicara lalu ikut mengangkat kursi. Saat ban sepeda Sasa bocor, tiba-tiba sudah ada motor bengkel langganan keluarganya yang memperbaiki. Bahkan ketika beberapa siswi mulai menyebarkan rumor buruk tentang Sasa, Leo terang-terangan memperingatkan mereka agar berhenti.
Namun kedekatan mereka justru menimbulkan masalah baru.
“Lo berubah gara-gara cewek itu,” kata Dean suatu hari.
Leo menatap dingin. “Terus kenapa?”
“Dia beda dunia sama lo.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Leo. Dan ternyata Sasa juga memikirkan hal yang sama.
Suatu sore di rooftop sekolah, Sasa berdiri memandang langit yang mulai gelap. Leo datang menghampirinya. “Kenapa ngindarin aku?”
Sasa tersenyum tipis, tapi matanya terlihat sedih. “Karena aku capek dihina terus.”
“Aku bisa bikin mereka berhenti.”
“Gak semuanya bisa selesai pakai uang, Leo.” Sasa menunduk pelan. “Hidup kita beda.”
Entah kenapa kalimat itu terasa menusuk bagi Leo. Selama ini semua orang selalu melihat hartanya, keluarganya, kekuasaannya. Tapi Sasa… justru melihat dirinya sebagai manusia biasa.
Beberapa hari kemudian Sasa jatuh sakit dan tidak masuk sekolah. Leo yang biasanya cuek malah jadi gelisah sendiri. Ia akhirnya mencari alamat rumah Sasa dari Mira lalu datang malam-malam membawa makanan dan obat.
Saat pintu rumah kecil itu terbuka, Sasa langsung terdiam melihat Leo berdiri di depan rumahnya.
“Kamu ngapain ke sini?”
Leo mengangkat kantong plastik di tangannya. “Katanya kamu sakit.”
Sasa memandangnya lama. Untuk pertama kalinya ia melihat sisi lembut Leo yang selama ini disembunyikan di balik sifat dinginnya.
“Aku gak ngerti cara nenangin orang,” ucap Leo pelan, “tapi aku gak suka lihat kamu kenapa-kenapa.”
Jantung Sasa langsung berdebar kacau.
Sejak malam itu hubungan mereka berubah perlahan. Mereka mulai sering bersama. Sasa mulai terbiasa memarahi Leo saat berkelahi, sementara Leo mulai merasa tenang hanya dengan mendengar suara gadis itu. Bahkan anggota Eleven Crown dan sahabat Sasa akhirnya ikut akrab satu sama lain.
Hingga malam festival sekolah tiba.
Lampu-lampu menghiasi halaman sekolah dengan indah. Musik terdengar pelan di tengah keramaian siswa. Sasa sedang berdiri sendirian di taman belakang ketika Leo datang menghampirinya memakai jas hitam sederhana.
“Tumben rapi,” goda Sasa kecil.
Leo tersenyum tipis. “Karena mau nembak cewek.”
Sasa langsung salah tingkah. Leo berdiri tepat di depannya lalu menatap mata gadis itu dengan lembut. “Aku dulu benci banget sama kamu.”
“Aku juga.”
“Tapi ternyata… cewek yang paling sering bikin aku marah malah jadi alasan aku pulang.”
Mata Sasa perlahan memanas.
Leo menggenggam tangan gadis itu pelan. “Sasa, mau jadi pacar aku?”
Sasa menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil sambil mengangguk. “Iya.”
Dan di bawah lampu festival malam itu, dua orang yang awalnya saling membenci akhirnya jatuh cinta satu sama lain.